Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Pertemuan Dengan Xia Feii


__ADS_3

Tiba-tiba tubuh besar Yukimura sedikit bergetar karena ada seseorang yang tidak sengaja menabraknya dari sisi belakang.


"Sorry ... aku tidak sengaja. Aku sedang terburu-buru." terdengar ucapan dari seorang gadis.


Kini Yukimura sedikit berbalik untuk melihat siapa gadis yang baru saja menabraknya dari belakang. Terlihat seorang gadis bermata sangat sipit dan berambut kecoklatan sebahu dengan pakaian formal yang begitu rapi sudah berdiri di belakang Yukimura.


"Aku sungguh minta maaf, Tuan. Aku tidak sengaja." ucap gadis bermata sipit itu lagi dengan ekspresi meminta maaf.


"Ah ... tidak masalah. Kau tidak perlu meminta maaf, Nona. Sangat wajar jika di tempat seperti ini kita akan bertabrakan dengan orang lain." Yukimura menyauti dengan begitu ramah.


"Terima kasih, Tuan." sahut gadis itu lagi sambil sedikit membungkukkan badannya.


"Xia Feii?" ucap Zen tiba-tiba yang kini menyadari jika gadis yang menabrak Yukimura adalah Xia Feii. "Kau menghadiri acara ini juga ternyata ya." imbuh Zen dengan senyum tipis.


"Ah ... hallo, Zen! Apa kabar? Aku dengar tangan kananmu patah?" ucap Xia Feii yang kini beralih menatap Zen.


"Ahaha ... iya. Hanya sedikit cedera kok. Tidak masalah!" Zen menyauti dengan tawa kecil.


"Kau selalu saja menganggap remeh luka-lukamu ya. Bahkan saat terkena racun mematikan itu, kau juga bersikeras untuk segera pulang. Padahal saat itu kau sedang menjalani masa pemulihan di bawah pengawasanku di rumahku!" celutuk Xia Feii yang terlihat sedikit cemberut.


"Jangan berlebihan, Xia Feii. Pada akhirnya kau tetap menahanku di rumahmu saat itu bukan?" sahut Zen.


"Itu karena kau harus meminum obat-obatan herbal yang sudah aku racik sendiri!" ucap Xia Feii tak mau kalah.


Yukimura, Yuna, Christal, dan Igor hanya terdiam mendengar perbincangan antara Zen dan Xia Feii.


"Jadi ... nona Xia Feii inilah yang sudah menyelamatkan Zen dari racun pisau parysatis yang begitu mematikan itu? Dan nona Xia Feii ini yang menarik semua racun itu dengan menggunakan jarum-jarum dan teknik akupunturnya?" ucap Yukimura menyimpulkan dan mengerutkan keningnya menatap Zen dan Xia Feii secara bergantian.

__ADS_1


"Benar sekali! Xia Feii yang sudah menyelamatkan hidupku, Paman. Sehingga aku masih bisa berada bersama kalian seperti saat ini." Zen menyauti dengan seulas senyum menatap Xia Feii dan Yukimura secara bergantian.


"Nona Xia Feii, aku sungguh sangat berterima kasih kepadamu karena sudah sukarela menyelamatkan Zen." ucap Yukimura dengan begitu tulus. "Entah bagaimana jika saja nona tidak ada saat itu, mungkin saja Zen sudah tiada. Aku sungguh berterima kasih!" imbuhnya menatap lekat gadis bernama Xia Feii itu.


"Jangan berlebihan, Tuan. Sebenarnya Zen lebih dulu menyelamatkanku 3 bulan yang lalu dari seorang preman. Dan aku juga merasa akan berakhir di malam itu kalau saja Zen tidak datang." ucap Xia Feii dengan ramah.


"Hhm. Ternyata Li Zeyan memang benar-benar baik ya." Yukimura sedikit melirik Zen dan tersenyum tipis.


"Ehem ... tapi meskipun begitu masih ada juga yang selalu membenciku dan mencurigaiku, Paman." sahut Zen sambil sedikit melirik Yuna.


Yuna yang mendengar ucapan dari Zen kini sedikit membelalak tak percaya dan seperti tak terima dan tidak sependapat dengan semua perkataan Zen


"Wah ... wah ... wah ... apakah kau merasa menjadi makhluk yang harus selalu dicintai oleh semua orang? Hhm?" celutuk Yuna dengan nada sedikit tidak suka dan senyum meremehkan.


"Lihatlah, Paman, Christal! Kak Yuna sangat tidak menyukaiku!" ujar Zen mengadu.


"Sudahlah, Yuna. Jangan membuat kericuhan disini, atau kau akan mempermalukan keluarga besar Kagami. Lihatlah bocah itu sudah cedera tangannya, apa kau masih belum tidak puas?" ucap Yukimura berusaha untuk menenagkan Yuna.


"Christal, ajak kakak iparmu dulu agar dia lebih tenang!" ucap Yukimura lagi memerintahkan Christal.


"Hhm. Baiklah, Paman." sahut Christal dengan patuh. "Bye, Li Zeyan! Sebelum pergi bolehkah aku berfoto denganmu?" imbuh Christal dengan wajah berbinar menatap idola kesayangannya itu.


"Tentu saja, gadis manis!" Zen menyauti dengan senyuman manis lalu sedikit mendekatkan dirinya pada Christal karena Christal sudah bersiap dengan ponselnya. "Terima kasih! Dan aku punya sesuatu yang sangat berharga untukmu. Aku ingin kau menyimpannya!" Christal mulai melepas sebuah gantungan kunci yang merupakan limited marchandise dari anime lainnya. "Aku tau kau sangat menyukai anime itu. Terimalah!"


Christal mengukurkan gantungan kunci yang begitu manis itu untuk Zen.


"Terima kasih, Christal. Benar itu kan namamu?" sahut Zen sambil menerima gantungan kunci itu.

__ADS_1


"Sama-sama! Kalau begitu aku pergi. Bye ..." ucap Christal lalu menarik lengan Yuna untuk menjauh dari mereka.


Kini Zen, Yukimura dan Xia Feii kembali berbincang bersama lagi. Namun diam-diam Yukimura sudah mengirimkan sebuah pesan melalui ponselnya unyuk Zen.


TRIINGG ...


Terdengar bunyi notifikasi dari ponsel Zen, dan dia segera merogoh benda pipih itu dari saku pakaiannya.


Li Zeyan sedang menuju ke appartemetmu untuk menemuimu. Temuilah dia dan berbincanglah dengannya. Aku akan menahan managermu disini. Yukimura.


Begitulah pesan yang dikirimkan oleh Yukimura. Zen segera menyimpan ponselnya kembali dan segera undur diri.


"Paman Yukimura, Xia Feii ... aku akan mengambil sesuatu yang tertinggal di kamarku dulu. Kalian berbincanglah dulu. Aku akan kembali lagi nanti." ucap Zen berpamitan.


"Aku akan mengantarmu kalau kau mau Zen. Tangan kananmu sedang terluka, pasti kau sedikit kesulitan." ucap Xia Feii menawarkan diri.


"Oh ... tidak perlu, Xia Feii. Aku bisa sendiri kok. Temani saja Paman Yukimura disini. Dan aku hanya sebentar kok." tolak Zen dengan ramah.


"Benar sekali. Sebaiknya kita berbincang bersama saja, Nona Xia Feii." ucap Yukimura dengan ramah.


"Baiklah. Aku pergi dulu. Kalian berbincanglah ..." ucap Zen lalu mulai melenggang dengan langkahnya yang begitu lebar dan gagah meninggalkan aula utama Oakwood Residence Damei.


Kini dia melewati sebuah lorong yang terkesan begitu elegan. Sepanjang lorong ini dipenuhi dengan lampu gantung berwarna kekuningan, dindingnya dipenuhi dengan ukiran keemasan bergaris horizontal dan beberapa ukiran bunga edelweiss keemasan. Karpet kecoklatan roll witon dengan ukiran beberapa bunga juga sudah tergelar memanjang di koridor ini.


Zen menghentikkan langakahnya di depan sebuah lift untuk menunggu lift itu terbuka. Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya lift itu terbuka. Zen segera memasuki lift itu dan menekan tombol 5. Pintu lift kini mulai tertutup kembali. Ada sedikit perasaan tak menentu di dalam hatinya saat ini, tak sabar karena ingin melihat raganya saat ini, kerinduan akan raga itu, dan sedikir berdebar.


"Apa yang akan terjadi jika bertemu? Apakah kita bisa saling bertukar tubuh kembali?" gumam Zen yang berjiwa Kagami Jiro itu dengan sedikit melamun dan pandangannya selalu menatap pintu lift itu. Berharap pintu lift akan segera terbuka.

__ADS_1


__ADS_2