Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Penawaran Yang Membuat Xia Feii Dilema


__ADS_3

Terlihat seorang pria paruh baya dengan pakaian berkabung serba putih / blacu yang masih duduk bersimpuh di depan sebuah meja yang berisi sebuah guci putih dengan ukiran bunga teratai di bagian luarnya. Ada juga makanan, buah-buahan, dupa, lilin, uang akhirat di atas meja itu.


Sementara di sebelahnya ada seorang anak gadis yang kira-kira berusia 15 tahun yang juga sedang duduk bersimpuh dengan pakaian serba putih. Di sebelahnya lagi ada pemuda yang mungkin berusia 25 tahun juga dengan pakaian serba putih masih duduk bersimpuh, berdiam diri dan memejamkan kedua matanya dan mungkin sedang berdoa untuk ibunya yang sudah tiada.


Ya, mereka adalah keluarga baru dari ibu Xia Feii dengan suami barunya. Sementara Xia Feii juga terlihat sudah duduk bersimpuh tak jauh dari mereka.


Setelah beberapa saat akhirnya mereka mulai menyudahi ritual berdoa itu dan mulai sedikit berbincang.


"Xia Feii. Tinggallah bersama kami di Jepang!" ucap suami baru dari mendiang ibunya. "Bukankan kamu sudah tidak punya siapa-siapa lagi di China? Tinggallah bersama kami. Kami ini juga adalah keluargamu." imbuhnya yang terlihat begitu tulus, atau sebenarnya hanya modus. Entahlah!


Xia Feii yang masih terlihat begitu pucat hingga sepasang matanya menjadi begitu sayu masih terdiam tak bisa memberikan keputusan saat ini. Sebuah permintaan yang membuatnya begitu dilema.


Dia ingin sekali memafkan mereka dan memulai semuanya kembali dengan cinta dan kasih, namun bayangan ayahnya yang begitu menderita dan tersakiti di masa lalu tiba-tiba saja hadir dan membuatnya begitu ragu kembali.


"Maaf, Paman. Tapi aku tidak bisa." ucap Xia Feii begitu lirih. "Aku akan kembali ke China!" imbuhnya dengan mantap.


"Kak, tidak bisakah kita hidup bersama saja?" seorang gadis kecil meraih lengan Xia dengan begitu pelan. "Aku sudah kehilangan ibu, tak bisakah sekarang aku memiliki seorang kakak perempuan?"


"Benar sekali. Lebih baik tinggal bersama kami saja. Kita bisa menjadi saudara " sahut pemuda yang merupakan anak bawaan dari suami ibunya dengan ramah.


Xia Feii kembali mengerutkan keningnya dan sedikit menunduk. Dan sepertinya dokter cantik itu begitu kebingungan saat ini hingga akhirnya Yukimura yang menyadari semua itu mulai menghampiri mereka.

__ADS_1


"Xia Feii akan memikirkannya lagi nanti. Dan dia tak bisa memutuskannya sekarang. Dia begitu terpukul saat ini. Kami akan permisi dulu." ucap Yukimura dengan ramah. "Ayo, Xia Feii kita pergi." Yukimura mulai meraih kedua bahu Xia Feii dan mulai mengajaknya untuk meninggalkan rumah itu.


Sementara Zen, Amee dan kak Kai sudah menunggu di halaman luar rumah itu. Amee yang melihat Xia Feii dalam keadaan yang begitu terpuruk seperti itu kini segera berjalan cepat ke arah Xia Feii dan segera memeluknya.


Tentu saja Amee begitu merasakan kesedihan yang sedang dialami oleh Xia Feii saat ini. Sakit, perih dan begitu menyesakkan dada.


"Xia Feii, kamu harus tetap kuat! Karena selama ini aku mengenalmu adalah sebagai gadis yang begitu kuat!" hibur Amee sambil menepuk pelan dan mengusap punggung Xia Feii.


"Terima kasih, Amee ..." ucap Xia Feii dengan lirih.


...⚜⚜⚜...


"Mungkin saja aku memang tak ditakdirkan untuk menyatakan keinginan itu kepada Xia Feii. Dia sudah terlalu menderita selama ini, dan aku tidak mau menambah penderitaannya, Jiro. Di luar sana masih ada banyak pria yang lebih baik dariku. Dan tentunya pria itu akan lebih layak untuk bersanding bersama Xia Feii, dibandingkan denganku. Kau tau bukan ... aku adalah rumput liar yang tak berharga dan tak memiliki apa-apa pada diriku." ucap Yukimura begitu tak memiliki kepercayaan diri. "Sebaiknya aku tetap seorang diri saja!"


"Siapa yang bilang kamu tak memiliki apa-apa?! Kau adalah salah satu dari keluarga Doragonshadou dan sudah menjadi keluarga Kagami mulai saat kau keluar dari Death Eyes! Apapun yang kau inginkan, semua akan terwujud! Aku akan memberikannya untukmu, Yukimura!" tandas Kagami Jiro begitu tegas. "Jadi jangan bicara omong kosong lagi! Kaulah yang paling tepat untuk Xia Feii! Kalian sama-sama memiliki masa lalu yang begitu berat! Aku yakin sekali kalian akan saling memahami satu sama lain! Jangan menyerah dan cepat katakan semuanya kepada Xia Feii!"


Yukimura menatap lurus ke arah lantai dansa dan terlihat sedang melamun saja, sesekali dia mulai meneguk kembali segelas blue wine yang masih ada digenggamannya.


"Jiro-Jiro! Aku tidak tau bagaimana melakukannya. Melihat Xia Feii menangis saja aku sudah begitu kebingungan harus berbuat apa padanya." celutuk Yukimura dengan jujur. "Sudahlah! Mengapa kau terus-terusan memaksaku untuk segera menikah sih!" imbuh Yukimura yang terlihat sedikit kesal.


"Untuk membuktikan padaku!" sahut Zen dengan mengangkat kedua alisnya dan sedikit tersenyum misterius melirik Yukimura.

__ADS_1


"Membuktikan apa?" lagi-lagi Yukimura menuangkan segelas blue wine pada gelasnya yang sudah kosong dan mulai meneguknya kembali dalan sekali tegukan.


"Membuktikan jika senjatamu berfungsi dengan baik. Ahahaha ..." celutuk Zen dengan tawanya yang begitu menggelegar namun terdengar begitu menawan karena suaranya memang sangat merdu!


"Haishh!! Tentu saja ini masih berfungsi, Jiro! Mengapa kau selalu saja meragukan senjataku! Cciihh!" sungut Yukimura yang mulai menuangkan blue wine ke dalam gelasnya kembali.


Entah sudah berapa botol keduanya menghabkskan blue wine itu dalam waktu sekejap. Mereka menikmati blue wine bagaikan sedang menikmati air mineral saja.


"Tentu saja aku ragu! Kau saja tidak pernah mengujinya! Ahaha ..." lagi-lagi Zen mulai tertawa lepas dan terlihat begitu menikmati dirinya yang sedang menggoda Yukimura habis-habisan.


"Cciihh, dasar kau ini! Oya Jiro, kemarin saat aku dan bocah Li Zeyan mendatangi pesta ulang tahun putri pertama dari Kin Izumi dan Amane aku merasa sedikit ada yang aneh." ucap Yukimura yang mulai teringat dengan beberapa hal yang terjadi malam itu di rumah nesar Kin.


"Apanya yang aneh?" sahut Zen yang terlihat begitu cuek dan tak ingin tau sama sekali.


"Aku merasa jika putri pertama mereka yang bernama Rui itu ... uhm ... sedikit mirip denganmu, Jiro!" ucap Yukimura yang mulai terlihat begitu serius menatap Zen. "Dan lagi! Di umurnya yang masih 6 tahun saja, dia sudah begitu cerdas!" imbuh Yukimura yang kini memicingkan sepasang matanya menatap Zen.


"Hhm? Putri pertama mereka mirip denganku?" ucap Zen dengan datar.


"Ya! Apa kau yakin Amane tidak hamil saat itu, Jiro?" ucap Yukimura mulai memelankan suaranya dan sedikit menatap Zen lebih dekat, namun ini malah membuat Yukimura gagal fokus. "Oh, astaga! Mulus sekali wajah bocah bernama Li Zeyan ini! Mulus sekali seperti pantat bayi! Bahkan pori-porinya saja hampir tak terlihat sama sekali!"


Seketika Zen menghentikan aktifitas minumnya mendengar kicauan dari Yukimura yang begitu berlebihan dan membuatnya begitu geli.

__ADS_1


__ADS_2