Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Permintaan Christal


__ADS_3

Di malam hari di kediaman keluarga Li. Terlihat Zen, kakek Li Feng, dan Li Kai sedang berbincang bersama di ruang keluarga. Mereka terlihat cukup lelah setelah seharian bersibuk ria merayakan pesta pernikahan Li Kai.


"Lebih baik kakek istirahat saja. Kakek pasti sangat lelah saat ini." ucap Zen yang sebenarnya mengkhawatirkan kesehatan kakek Li Feng. Karena akhir-akhir kakek Li Feng sering mengeluh jika merasa sakit kepala.


"Hhm. Iya, Zen. Kakek akan beristirahat saja. Kalian juga segera beristirahatlah. Besok masih sudah harus kembali dengan kesibukan lagi kan kamu Zen?" ucap kakek Li Feng bertanya balik kepada Zen.


"Hhm. Iya, Kakek. Besok aku masih memiliki jadwal shooting, setelah itu ke kampus, dan malamnya latihan bersama Tiffany." jawab Zen mengingat jadwalnya besok yang sudah tersusun dengan rapi.


"Ya sudah segera istirahatlah. Jangam sampai kamu sakit karena kurang istirahat." ucap kakek Li Feng yang terlihat sangat mempedulikan dan mengkhawatirkan Zen.


Entah mengapa semua itu membuat kak Kai terdiam dan sedikit murung. Atau mungkin sedang ada ada yang dipikirkannya saat ini. Entahlah.


"Iya, Kakek. Aku akan segera tidur kok." jawab Zen dengan senyum lebar dan terihat begitu menyayangi kakeknya.


Sebenarnya waktu bertemu dan bersama dengan sang kakek saat ini sungguh sangat langka. Selama ini Zen selalu disibukkan dengan jadwal padatnya dan tinggal di apartemennya. Sedangkan kakek Li Feng selama masih sedikit muda sering disibukkan dengan beberapa pekerjaannya hingga terkadang mengharuskannya untuk pergi ke luar kota.


"Kai. Kamu juga segera temanilah Amee. Bukankah seharusnya malam ini kalian menghabiskan waktu bersama?" ucap kakek Li Feng menatap Li Kai yang sedari tadi terdiam dan terdiam sedikit murung. "Mungkin Amee belum terbiasa dengan rumah ini. Temanilah dia ..."


Kak Kai tersenyum tipis dan mengangguk pelan, "Baik, Kakek. Aku akan menemaninya."


Setelah mengucapkan itu, kakek Li Feng mulai bergegas untuk kembali ke kamarnya. Dan kini tinggal Zen bersama dengan Li Kai yang masih berada di ruang keluarga itu.


"Zen. Kamu juga tidur dan istirahatlah. Ini sudah larut malam. Kakak juga akan segera istirahat." ucap Li Kai mulai bangkit dari tempat duduknya.


Sementara Zen masih duduk di atas sofa dan masih sibuk dengan ponselnya. Dan sepertinya Zen sedang melakukan chatting dengan seseorang saat ini.

__ADS_1


"Iya, kak Kai. Sebentar lagi aku akan istirahat kok." Zen menyauti tanpa melihat kak Kai dan masih sibuk dengan benda pipih yang masih berada pada genggamannya. "Kakak juga berjuanglah!! Buatkan aku keponakan yang lucu-lucu ya! Hehe ..." imbuh Zen menggoda Li Kai.


Dan ucapan dari Zen sukses membuat wajah Li Kai sedikit tersipu malu. Namun Li Kai tak banyak menanggapi Zen dan langsung meninggalkan Zen begitu saja.


Zen masih saja sibuk melakukan senam untuk kedua ibu jarinya dengan cukup lincah dan cepat. Dan sesekali senyuman menawan itu kembali menghiasi wajah tampannya. Yeap, pemuda satu ini kini tengah sibuk saling mengirimkan pesan dengan sang kekasih hati.


Padahal saat ini Christal sedang berada di Beijing, namun untuk bertemu dan menghabiskaan waktu bersama terasa begitu sulit. Jadwal yang sangat padat membuat Zen tak bisa leluasa untuk bertemu dengan Christal.


Huft ... jika seperti ini sama saja seperti saat kita melakukan long distance relationship. Berada di tempat yang dekat namun terasa jauh. Tak bisa bertemu dan melihatnya.


Batin Zen yang mulai terlihat murung karena teringat dengan Christal yang saat ini sulit untuk ditemuinya. Namun angannya buyar seketika ketika sebuah melodi indah dari denting sebuah permainan piano yang saling bersautan dengan petikan gitar mulai terdengar dari ponselnya.


Dengan begitu bersemangat, kini Zen segera bangkit dari tempat duduknya untuk segera kembali ke kamarnya dan mulai mengangkat panggilan itu sambil berjalan.


"Aku belum mengantuk, Li Zeyan. Setelah pulang dari pesta pernikahan kak Kai tadi tak sengaja aku malah tertidur. Dan ini malah baru saja terbangun. Hiks ..." ucap Christal memelas.


"Ya sudah. Aku akan menemanimu kalau begitu." sahut Zen tanpa mikir panjang dan melupakan jadwal padatnya yang sudah menantinya esok hari.


"Memangnya besok kamu tidak ada pekerjaan ya, Li Zeyan?" tanya Christal sedikit kurang percaya.


"Uhm, sebenarnya ada. Tapi kamu tidak perlu khawatir. Aku besok hanya memiliki jadwal shooting, kuliah dan berlatih bersama Tiffany." jawab Zen dengan jujur.


"Tiffany? Tiffany dari Princess? " tanya Christal meninggikan intonasi bicaranya satu oktaf.


"I-iya, Christal." jawab Zen sedikit terbata karena sedikit merasa aneh.

__ADS_1


Ada apa dengan Christal? Mengapa nada bicaranya tiba-tiba saja berubah seperti ini? Apalah dia cemburu dengan Tiffany? Atau bagaimana?


Batin Zen mulai memikirkan apa yang sedang Christal fikirkan saat ini.


"Mengapa kamu bisa berlatih bersama Tiffany? Dan memgapa kamu tidak pernah memberitahukan semua itu padaku, Li Zeyan?" tanya Christal dengan nada tak sabaran.


"Uhm, sebenarnya aku dan Tiffany akan berkolaborasi. Dia membantuku untuk menyempurnakan lagu baruku dengan tariannya, Christal. Uhm ... maaf jika aku belum sempat mengatakan semua itu padamu. Aku kira kamu tidak akan peduli dan tertarik. Dan ... kami akan tampil bersama Beijing Hall Concert pekan depan." ucap Zen dengan jujur.


"Oh begitu ya ... uhm ... begini, Zen. Sebenarnya ada temanku yang sangat mengidolakan Tiffany. Apakah aku boleh minta tolong padamu?" tanya Christal yang terdengar sedikit ragu-ragu.


"Hhm. Tentu saja, Christal. Katakan saja padaku! Aku akan melakukannya untukmu." sahut Zen tanpa berfikir panjang.


"Jadi ... tolong mintakan foto dan tanda tangan Tiffany untuk temanku. Bisakah kau melakukan itu untukku, Li Zeyan?" sebenarnya Christal begitu segan bahkan sangat merasa tidak enak untuk meminta tolong kepada Li Zeyan. Namun tak ada pilihan lain lagi, dan ini adalah sebuah kesempatan emas untuk harus dimanfaatkan!


Zen terdiam beberapa saat dan malah terbayang wajah imut Christal ketika sedang berkata dan memohon hal itu kepada Zen dengan ekspresi yang memelas dan menuntukkan mata kucingnya, yang membuat semua orang tak akan bisa menolak permintaannya.


Begitu lucu dan menggemaskan! Dan membayangkannya saja sudah membuat Zen merasa gemas sendiri hingga Zen mulai tertawa kecil saat ini.


"Li Zeyan? Ada apa? Mengapa kamu malah tertawa seperti itu? Apakah permintaanku terdengar sangat konyol?" tanya Christal sedikit menurunkan intonasinya lagi.


"Bukan, Christal. Bukan seperti itu. Aku hanya sedang teringat sesuatu saja kok. Baiklah aku akan melakukan semua itu untukmu." jawab Zen yang mulai memasuki kamarnya selama di rumah besar keluarga Li yang merupakan kamar masa kecilnya.


Perlahan Zen mulai berbaring di atas pembaringannya dan masih menelpon Christal. Perbincangan mereka berdua terus berlanjut selama beberapa saat, hingga akhirnya tak sengaja Zen malah tertidur begitu saja saat berbincang dengan Christal.


Akankah Christal marah dan ngambek karena hal ini?? Hayo, coba tebak ... hehe

__ADS_1


__ADS_2