Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Gantungan Kunci Dan Xia Feii


__ADS_3

Kagami Jiro mulai meraih sebuah benda pipih di atas nakas dan melihat nama si pemanggil telpon saat ini alias si penggangu yang sudah dengan sukses menggagalkan waktu bercumbu dan berduaan bersama sang istri tercinta.


"Dasar bocah Li Zeyan ... beraninya kamu menghubungiku disaat yang tidak tepat seperti ini." geram Kagami Jiro segera menggeser sebuah tombol hijau untuk menganggkat panggilan itu. "Awas saja jika benar-benar tidak ada sesuatu yang penting, aku pastikan aku akan meghukummu!"


Yuna hanya tertawa kecil ketika melihat suaminya yang sedang marah-marah dan uring-uringan sendiri seperti itu.


"Hallo!!" sapa Kagami Jiro dengan suaranya yang begitu tegas dan besar. Dan satu lagi, nada bicaranya terdengar sedikit kesal.


"Halo, Tuan Kagami Jiro." sahut Zen dari seberang line.


"Ada apa, Bocah Li Zeyan? Jika kamu sedang mencari Christal, maka dia sedang tidak berada disini. Langsung saja hubungi ponselnya jika kamu mencari Christal!" ucap Kagami Jiro dengan nada sedikit ketus.


Dan lagi-lagi hal itu membuat Yuna sedikit tertawa karena merasa gemas melihat suaminya yang sedang merasa kesal.


"Bukan, Tuan Kagami Jiro. Aku tidak sedang mencari Christal kok. Tapi aku memang sedang ingin menghubungi tuan Kagami Jiro." sahut Zen lagi dengan nada bicara yang terdengar seperti biasanya, ramah dan sopan.


"Ada apa? Apa ada sesuatu yang sedang terjadi saat ini, Bocah Li Zeyan?" tanya Kagami Jiro mengkerutkan keningnya karena sedikit penasaran.


Karena selama ini Zen belum pernah sekalipun menghubungi Kagami Jiro melalui sebuah panggilan seperti ini, karena tentu saja Zen sangat merasa segan untuk melakukannya. Dan ini adalah pertama kalinya Zen menghubungi Kagami Jiro.


"Begini tuan, aku ingin menanyakan sesuatu." ucap Zen semakin memelankan suaranya. "Apakah malam itu, tuan Kagami Jiro yang membuat Lee menjadi cedera seumur hidup?" imbuh Zen dengan suaranya yang lebih lirih, dan mungkin agar tidak ada orang yang mendengarnya.


"Hhm? Soal itu ya. Yeap, aku yang melakukannya. Aku tak sanggup lagi melihat para cecunguk gila itu bertingkah sesuka hatinya sendiri. Bahkan kedua temanmu sudah menjadi korban saat itu dan terluka cukup parah. Jika tidak diberi pelajaran seperti itu, maka mereka tak akan pernah kapok dan akan terus berusaha untuk mencelakaimu!" ucap Kagami Jiro mulai berkacak pinggang dan merasa geram ketika mengingat tingkah Zhang Wei dan ketiga teman satu servernya.

__ADS_1


Dan satu hal lagi, Kagami Jiro terlalu terbawa suasana hingga melupakan sesuatu jika saat ini Yuna sedang berada bersamanya. Dan sebenarnya Yuna merasa kebingungan saat mendengarkan pembicaraan mereka.


Setelah menyadari semua itu, kini Kagami Jiro mulai meninggalkan kamar hotelnya dan mulai menuju balkon di sebelah kamarnya, agar Yuna tidak mendengar percakapannya dengan Zen lebih jauh lagi.


Dan kali ini Yuna juga tidak mau mengambil pusing, wanita berwajah cantik nan tegas itu mulai menghidupkan TV dan mulai menonton sesuatu.


"Tuan Kagami Jiro, masalahnya adalah ... sepertinya ada seseorang yang melihat semuanya malam itu." ucap Zen dengan hati-hati.


"Tidak mungkin, Li Zeyan! Jika malam itu memang ada seseorang yang melihatnya, maka mereka akan segera mengungkapnya saat itu juga. Kejadian itu sudah lama terjadi, bahkan sudah satu bulan lebih. Dan aku sangat yakin jika memang tidak akan ada yang mengetahuinya." ucap Kagami Jiro begitu yakin jika aksinya pada malam itu memang sangat aman dan mulus tanpa jejak.


"Tapi, Tuan ... ada seseorang yang menemukan sebuah bukti di lokasi kejadian." ucap Zen masih dengam berhati-hati.


"Bukti? Bukti apa?" tanya Kagami Jiro semakin penasaran.


Bagaimana mungkin seorang Kagami Jiro bisa bertindak dengan begitu ceroboh? Selama ini Kagami Jiro selalu melakukan sesuatu dengan penuh perimbangan dan perhitungan yang begitu akurat. Kagami Jiro tak pernah berbuat asal dan sembarangan. Dan ucapan dari Zen kali ini tentu saja membuat Kagami Jiro sedikit keheranan.


"Gantungan kunci seperti apa, Bocah Li Zeyan?" tanya Kagami Jiro mulai penasaran.


"Sebuah gitar berwarna hitam. Apa tuan Kagami Jiro pernah melihatnya?" tanya Zen sangat ingin tau.


Kagami Jiro terdiam selama beberapa saat untuk mengingat-ingat sesuatu. Karena sepertinya Kagami Jiro memang pernah melihat gantungan kunci seperti itu saat menempati raga Zen.


"Ya, aku pernah melihatnya, Bocah Li Zeyan." jawab Kagami Jiro sangat yakin.

__ADS_1


"Benarkah itu, Tuan? Apa tuan pernah membawa kunci itu keluar dari apartemen?" tanya Zen lagi.


"Tidak ... tidak. Aku tidak pernah membawanya pergi. Hhm ... tapi sebenarnya aku sudah memberikan gantungan kunci itu untuk seseorang." gumam Kagami Jiro mengusap dagunya dan memicingkan sepasang mata kecoklatannya.


"Tuan memberikan gangungan kunci itu untuk seseorang? Siapa?" tanya Zen sedikit tak percaya.


"Apa kau ingat, saat aku terkena racun mematikan dari pisau parysatis? Saat itu Xia Feii yang menolongku dan menyelamatkanku. Dia juga berulang kali datang ke apartemenmu untuk memeriksa dan memastikan jika aku benar-benar sudah sembuh saat itu. Dan disaat Xia Feii berada di apartemenmu, tak sengaja Xia melihat gantungan kunci itu. Dan dia terlihat begitu menyukainya. Jadi aku berikan saja untuknya. Sorry ya ... aku memberikan barangmu begitu saja." ucap Kagami Jiro dengan datar.


"Xia Feii ya? Hhm ... apakah itu artinya, malam itu Xia Feii melihat semuanya ya? Namun dia memutuskan untuk diam?" gumam Zen berusaha untuk menyimpulkan.


"Hhm. Bisa jadi, Bocah Li Zeyan! Kalaupun Xia Feii memang melihat aku saat itu, sudah pasti dia akan berada di pihak kita kok. Dan itu terbukti jika dalam satu bulan lebih ini dia lebih memilih untuk diam dan berpura-pura tidak tau. Sudahlah ... jangan terlalu kau pikirkan masalah ini lagi. Lebih baik kau pikirkan masa depanmu. Kapan kau akan menikahi Christal?"


Nah loh ... malah kemana berbincangan ini berlanjut? Dan sebenarnya kalimat pertanyaan itu hanyalah sebuah cara Kagami Jiro untuk menggoda calon adik iparnya yang masih begitu polos dan lugu.


"Ahaha ... mungkin setelah Christal menyelesaikan kuliahnya, Tuan Kagami Jiro." sahut Zen mengusap tengkuknya dan malu.


"Li Zeyan, bukankah aku sudah mengatakan kepadamu untuk memanggilku kakak? Karena cepat atau lambat kamu akan segera menjadi adik iparku." ucap Kagami Jiro yang mulai melenggang dan mendekati pagar pembatas balkon.


"Ahaha ... baiklah, Kakak. Terima kasih sudah memberikan ijin dan restu untukku mendekati Christal." ucap Zen dengan tulus.


"Hhm. Baiklah. Apakah ada sesuatu lagi yang ingin kamu sampaikan?"


"Ehm. Sepertinya tidak, Kakak."

__ADS_1


"Ya sudah. Kalau begitu aku akan beristirahat. Bye ..."


Setelah mengatakan itu, Kagami Jiro mulai mengakhiri panggilan itu dan mulai melenggang kembali untuk memasuki kamarnya.


__ADS_2