Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Hasil Dari Tes DNA


__ADS_3

Seorang wanita dewasa dengan jas almamater putih kebanggaannya terlihat sedang duduk di ruangan kerjanya. Di hadapannya sudah ada seorang pria paruh baya bersama seorang pemuda yang masih mengenakan pakaian rawat dari rumah sakit Beijing United Family Hospital.


Pria paruh baya itu terlihat sedang memeriksa sebuah berkas dan catatan medis yang baru saja dikeluarkan oleh pihak rumah sakit setelah melakukan tes di sebuah labolatorium.


"Dokter Felly, bisa tolong jelaskan kepadaku hasil dari tes DNA ini?" pria paruh baya itu masih terlihat menatap berkas itu dan terlihat begitu bingung karena tidak mengerti meembaca laporan medis itu. Kemudian dia mulai memberikan laporan medis itu untuk dokter Felly yang kebetulan melakukan memeriksaan dan tes DNA terhadap Zen dan kak Kai.


Wanita dengan almamater putih itu tersenyum ramah dan segera menjelaskan hasil dari pencocokan dan tes DNA itu.


"Jadi begini, Tuan Li. Ada 23 pasang kromosom pada tubuh manusia. Yaitu kromosom nomor 1-22 dan satu pasang lagi kromosom ****. Pada tiap pasangnya satu kromosom diturunkan dari ayah dan satu lagi dari ibu. Laki-laki memiliki kromosom **** X dan Y, sementara perempuan X dan X. Kromosom Y pada laki-laki selalu didapat dari garis ayah dan hanya diturunkan pada anak-anak laki-laki mereka. Sedangkan profil dari kromosom Y dapat menentukan apakah dua orang atau lebih laki-laki memiliki ayah yang sama. Salah satu kromosom X pada perempuan berasal dari ayah. Sedangkan profil kromosom X dapat menentukan apakah dua orang atau lebih perempuan berasal dari ayah yang sama." ucap dokter Felly menjelaskan dengan begitu detail.


Pria paruh baya itu terlihat masih mendengarkannya dengan begitu seksama. Sementara seorang pemuda bermata kebiruan mendengarkannya dengan gaya duduk santainya, bersandar dengan melipat kedua tangannya di depan dada bidangnya.


"Berdasarkan dari tes DNA yang sudah kita lakukan, profil dari kromosom Y menyatakan jika Luo Kai dan Li Zeyan adalah berasal dari satu ayah. Mereka memiliki seorang ayah yang sama." imbuh dokter itu kembali menjelaskan.


Pria paruh baya yang tak lain adalah kakek Li Feng seketika tertegun setelah mendengar hasil dari tes itu, sementara Zen yang duduk di sebelahnya masih terlihat begitu biasa saja. Namun kemudian dia terlihat begitu khawatir setelah melihat kakek Li Feng yang terlihat memegang dadanya. Tentu saja Zen begitu khawatir, jika kenyataan itu akan mempengaruhi kesehatan kakek Li Feng yang sudah cukup tua.


"Kakek! Apa kamu baik-baik saja? Kakek tidak memiliki riwayat penyakit jantung bukan?" Zen meraih lengan kakek Li Feng dan menatapnya dengan khawatir.


"Tidak, Zen. Kakek baik-baik saja." kakek Li Feng menyauti dan mulai mengatur napasnya kembali. "Baik, Dokter Felly. Terima kasih sudah bekerja keras dan melakukan pemeriksaan ini dengan sangat baik." ucap kakek Li Feng yang beralih menatap dokter Felly.


"Sama-sama, Tuan Li." sahut dokter Felly dengan ramah.

__ADS_1


Setelah itu Zen dan kakek Li Feng segera pamit dan meninggalkan ruangan itu. Keduanya kini melenggang bersama menyusuri sebuah koridor panjang rumah sakit yang tidak terlalu ramai.


"Bagaimana? Apa sekarang kakek sudah percaya padaku?" celutuk Zen yang masih melenggang beriringan dengan kakek Li Feng dengan gaya santainya.


"Iya, Zen." suara lemah dan begitu pelan terucap dari bibir kakek Feng yang terdengar begitu dilema dan tidak bersemangat.


"Nah, sekarang temuilah dia, Kakek. Kak Kai juga sangat membutuhkan kasih sayang kakek. Dia begitu kesepian selama ini." ucap Zen dengan harapan kakek Li Feng mau menerima kak Kai dan mengakuinya sebagai cucunya.


"Apakah dia akan menerima kakek, Zen? Bagaimana jika dia begitu membenci kakek, Zen? Selama ini pasti Luo Kai sangat menderita dan kesepian. Bagaimana mungkin aku pantas disebut sebagai seorang kakek untuknya. Aku bahkan tidak pernah merawat, menimangnya saat dia masih bayi atau memberinya uang jajan untuknya saat sekolah." ucap kakek Li Feng yang terdengar begitu memilukan lalu menghentikkan langkah kakinya dan mulai duduk di sebuah bangku di lorong rumah sakit itu.


Kakek Li Feng menunduk dan sedikit memijat keningnya yang sedikit berkerut. Nuraninya tak tega mengingat dan membayangkan kehidupan yang dialami oleh Kai, cucunya yang bahkan selama ini tidak pernah diketahui olehnya. Hatinya begitu sakit jika membayangkan penderitaan yang dialami oleh kak Kai selama ini.


Andai waktu bisa terulang, mungkin saja kakek Li Feng tak akan membiarkan Luo Yixue dan Kai pergi begitu saja. Pasti dia juga akan menjamin keduanya untuk hidup yang layak dan bahagia, karena bagaimanapun Kai adalah putra dari Li Zhi.


Aku juga sangat berharap seperti itu untuk hubunganku bersama Yosuke. Aku harap hubunganku dengan Yosuke tidak pernah berubah. Yukimura, aku harap kau menemukan sesuatu yang bisa membuatku sedikit tenang.


Batin Zen yang mulai teringat dengan adik keduanya, Yosuke.


Sementara itu ...


"Hatching ..." Yukimura yang sedang menikmati ramen super pedasnya kini tiba-tiba bersin.

__ADS_1


"Yukimura, apa kau sedang sakit? Kita bisa mencari cincin berlian lain kali jika kamu sedang sakit. Karena jika kita asal membeli dan membelinya dengan terburu-buru, aku khawatir tidak akan bisa memilih dan melihat nilainya dengan baik." ucap Yuna yang kini sedang duduk di hadapannya sambil menikmati sushi-nya.


"Tidak, Yuna. Aku tidak sedang sakit kok. Mungkin saja ada yang sedang membicarakanku di luar sana. Haishhhh ..." celutuk Yukimura yang terlihat sedikit kesal lalu mulai menikmati ramennya kembali.


"Hhm? Siapa yang sedang membicarakanmu?"


"Entahlah. Mana aku tau soal itu."


"Tapi, Yukimura ... ngomong-ngomong kau membeli cincin berlian untuk siapa? Apa kau akan melamar seorang gadis? Siapa gadis itu? Wah akhirnya kau akan menikah juga. Aku ikut senang mengetahui ini, Yukimura. Kini kau tidak akan menjalani hidup sendirian lagi " ucap Yuna yang terlihat begitu bersemangat.


"Gyahahaha ... sebenarnya aku tidak tau apakah dia akan menerimaku atau tidak. Aku hanya akan mengandalkan keberuntunganku saja."


"Hhm aku juga akan mendoakanmu, semoga semua berjalan dengan lancar."


"Terima kasih, Yuna. Ternyata kau begitu baik sama seperti Jiro." ucap Yukimura dengan tulus.


"Memang kapan aku pernah tidak baik padamu?!"


"Gyahaha ... ya ya ya ... kau bahkan selaalu baik padaku."


"Cckk ... cepat habiskan makananmu dan kita akan segera membeli cincin berlian untuk gadismu!"

__ADS_1


...⚜⚜⚜...


__ADS_2