Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Pengorbanan Kak Kai


__ADS_3

"Zen, kakek ... awas!!" seorang pemuda dengan cepat berlari ke arah Zen dan kakek Li Feng, lalu segera memeluk Zen dan kakek Li Feng dan sedikit memutar tubuhnya untuk melindungi keduanya dari sebuah serangan yang tiba-tiba saja Luo Yan lakukan.


Ternyata Luo Yan masih sadar dan dia meraih sebuah senjata api yang terjatuh tak jauh darinya.


Tar ... tar ... tar ...


Tiga peluru melesat dengan cepat dari sebuah senjata api dan berhasil melukai seseorang. Darah segar mulai merembes dan membasahi pakaian abu-abu itu.


"Luo Kai ..." ucap Zen setelah menyadari pemuda yang baru saja datang dan menjadi tameng untuknya dan kakek Li Feng ternyata adalah kak Kai.


Kak Kai hanya tersenyum hangat menatap Zen, hingga akhirnya pelukannya mulai terlepas begitu saja dan tubuhnya ambruk begitu saja.


BRRUUKK ...


"Luo Kai!!" teriakan histeris dari Zen begitu menggelegar dan dia segera duduk bersimpuh meraih tubuh kak Kai.


Sementara kakek Li Feng terlihat masih berdiri mematung menatap keduanya. Jujur saja masih ada rasa kecewa dan marah terhadap Luo Kai yang sudah berusaha untuk mencelakai dan menghancurkan Zen, cucunya.


Pemuda berkacamata itu terlihat masih begitu pucat, perlahan tangan kanannya meraih sisi wajah bagian kiri Zen dan tersenyum begitu hangat meski manik-manik indah itu sudah sedikit berair.


"Zen, apa kamu baik-baik saja?" ucapan yang begitu lemah dan lirih terdengar dari pria berkacamata itu.


"Pertanyaan bodoh apa ini? Jelas-jelas kakak yang terluka! Masih juga mengkhawatirkan aku! Kau membuatku terlihat buruk, Luo Kai!" timpal Zen sedikit kesal.


Kak Kai yang mendengar ucapan dari Zen, kini semakin tersenyum dan terlihat begitu menyejukkan hati.


"Zen ... kamu harus tetap kuat, bersinar dan menjadi nomor satu!" ucap kak Kai begitu lirih. "Jagalah Amee ... dia butuh seseoraang untuk selalu melindunginya."


"Jangan bicara omong kosong! Kamulah yang seharusnya menjaga Amee! Maka dari itu kamu harus tetap hidup dan melewati ini semua, Luo Kai!" tandas Zen dengan penuh penekanan.


Kak Kai telihat terdiam dengan senyum hangatnya menatap Zen, seakan sedang memperhatikan setiap detail wajah Zen, berharap akan selalu mengingatnya meskipun kelak dia akan pergi selamanya dari dunia ini.


"Zen ..." ucap kak Kai begitu lirih dan mulai memejamkan sepasang matanya, tangan dingin yang meraih wajah kiri Zen itu kini juga mulai terkulai dengan begitu lengah.

__ADS_1


"Luo Kai! Bangunlah! Kamu harus bertahan!" Zen mengguncang pelan tubuh kak Kai, namun kak Kai masih memejamkan matanya.


Dengan cepat Zen segera memeriksa denyut nadi kak Kai, dan setelah memastikan sesuatu wajah tampan itu mulai memperlihatkan wajah yang sedikit lega.


"Kakek Li Feng! Cepat hubungi ambulance atau pengawalku! Kak Kai harus segera dibawa ke rumah sakit! Peluru-peluru ini harus segera diambil." perintah Zen dengan tegas dan sebenarnya ucapan itu membuat kakek Li Feng sedikit terkejut dan merasa Zen agak sedikit berbeda.


Namun akhirnya kakek Li Feng segera mencari benda pipih di dalam semua saku pakaiannya namun dia tidak menemukan ponselnya.


"Ponsel kakek hilang, Zen." ucap pria paruh baya itu.


"Haishh ..." sungut Zen lalu meraih ponselnya dan berusaha untuk menghubungi Vann.


Namun tiba-tiba terdengar suara tembakan yang berasal dari sebuah senjata api lagi.


Tar ...


"Zen!! Apa kau baik-baik saja?" ujar kakek Li Feng yang semakin khawatir karena melihat lengan Zen kini berdarah karena terkena tembakan dari senapan api itu.


"Haishh keparat sialan!" umpat Zen yang semakin membuat kakek Li Feng melongo karena tiba-tiba saja cucunya menjadi bermulut pedas.


Batin kakek Li Feng semakin ternganga.


Zen yang menyadari tembakan itu kini mengenai lengan kirinya segera meletakkan kak Kai dengan hati-hati. Lalu melempar ponselnya untuk kakek Li Feng.


"Kakek, tolong hubungi salah satu pengawalku!" perintah Zen lalu melenggang untuk mendekati Luo Yan.


Di saat Luo Yan mau menarik pelatuk senjata apinya kembali, Zen menendang sebuah kursi kayu ke arahnya dan akhirnya menabrak Luo Yan dan senjata api itu terhempas dari tangannya.


BRAAKK ...


Beberapa saat Vann, Yunxi, Jin Heng dan Nokto sudah datang, karena sebenarnya Zen sudah mengirimkan titik lokasi yang sedang dia datangi saat ini kepada Vann untuk antisipasi.


"Nokto, Jin Heng, dan Yunxi... kalian urus ketiga berandalan ini! Vann siapkan mobil untuk kita! perintah Zen dengan sigap.

__ADS_1


"Tapi tuan Zen juga sedang terluka, biarkan aku dan Nokto yang mengangkat tuan Kai ke dalam mobil." sela Yunxi.


"Tidak. Aku baik-baik saja. Aku yang akan membawa kakakku." ucap Zen dengan kekeh.


"Ba-baik, Tuan!" sahut mereka berempat begitu terpaksa.


Zen segera mendekati tubuh kak Kai lalu mulai membopongnya. Dan semua itu semakin membuat kakek Li Feng mengkerutkan keningnya.


"Zen. Lenganmu sedang terluka karena terkena tembakan. Kau juga harus segera mendapat pertolongan. Biarkan para pengawalmu yang membawa Luo Kai." ucap kakek Li Feng yang terlihat begitu mengkhawatirkan Zen.


"Aku baik-baik saja, Kakek." sahut Zen dengan seulas senyum dan mulai melenggang. "Ayo kita ke rumah sakit, Kakek. Vann sudah menyiapkan mobilnya."


Sejak kapan Zen cucuku menjadi begitu kuat dan sangat tegas seperti ini. Apakah aku yang sudah pikun selama ini?


Batin kakek Li Feng yang mulai berjalan mengikuti Zen yang sedang membopong kak Kai untuk segera keluar dari tempat ini dan mulai memasuki sebuah mobil BMW hitam metalik.


"Pergi ke rumah sakit terdekat secepatnya! Gunakan kecepatan penuh!" perintah Zen yang membaringkan kak Kai di pangkuannya. Sedangkan kakek Li Feng duduk di kursi depan sebelah Vann yang sedang mengemudikan mobil ini.


"Zen. Bagaimana lukamu? Apa terasa sangat sakit?" kakek Li Feng sesekali menoleh ke belakang yang masih terlihat begitu khawatir.


"Aku baik-baik saja, Kakek Li Feng. Jangan khawatir." sahut Zen dengan seulas senyum. "Kakek Li Feng. Ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan dengan kakek. Namun sekarang kita harus membawa kak Kai ke rumah sakit untuk menyelamatkannya. Setelah itu aku akan mengatakan semuanya."


"Hhm. Vann, tambah kecepatan lajunya!" perintah kakek Li Feng.


"Baik, Tuan besar Li." sahut Vann lalu menambah kecepatan laju dari BMW hitam metalik itu.


...⚜⚜⚜...


Di luar ruangan UGD Kakek Li Feng terlihat sedang duduk menunduk dan memegangi keningnya, sedangkan Vann, Yunxi, Nokto, dan Jin Heng berdiri dan berjalan mondar-mandir mengkhawatirkan sosok dari Luo Kai dan Zen. Karena ketiga peluru itu, salah satunya hampir saja mengenai jantung kak Kai.


Luo Kai! Kamu harus kuat dan bertahan! Kamu harus bisa melewati semua ini! Semoga oprasi pengambilan peluru berjalan dengan lancar. Huftt ... mengapa lagi-lagi kamu berusaha melindungiku? Akan lebih baik jika aku saja yang menerima semua tembakan itu. Karena aku adalah Kagami Jiro, dan aku akan tetap bisa bertahan hanya dengan luka seperti itu! Kau membuatku merasa bersalah dan berhutang padamu, Luo Kai! Haisshh ...


Batin Zen yang sedang menjalani pengambilan peluru di ruangan lainnya.

__ADS_1


...⚜⚜⚜...


__ADS_2