
Hari ini di lokasi shooting Zen terlihat begitu tegang ketika sutradara A Meng mengatakan jika tidak ada stunt man yang bekerja untuk membantu shooting. Bahkan sutradara A Meng mengatakan jika mulai hari ini Zen harus bisa menyelesaikan adegan demi adegan dengan baik tanpa seorang stunt man.
Bagaimana seorang aktor utama bisa mengambil sebuah resiko yang cukup besar seperti ini? Bahkan begitu banyak adegan berbahaya dan pertarungan dalam drama yang baru saja mau digarap oleh mereka.
Oh, tuan Kagami Jiro ... mengapa tuan membuat keputusan seperti ini? Lalu bagaimana kali ini aku harus mengatasi semua ini? Meskipun selama 4 bulan ini aku selalu berlatih bersama paman Yukimura dan melatih otot-ototku, namun tetap saja aku masih belum terbiasa dengan pertarungan. Terlebih dengan tubuh ini ...apakah kali ini aku bisa melakukan adegan action tanpa seorang stunt man?
Batin Zen terlihat begitu lesu dan menatap kedua jemarinya dan membolak-balikkannya. Dan Zen masih terlihat begitu ragu akan kemampuannya sendiri.
Saat di kota Fujinomiya kala itu, aku memang bisa melawan beberapa penjahat, namun saat itu aku masih memakai raga tuan Kagami Jiro yang memang pada dasarnya raga itu memang sangat kuat ... huft ... semoga kali ini aku juga bisa melakukannya dengan baik. Jika tidak ... paman Yukimura bisa sangat murka jika mengetahui aku sampai gagal. Ayolah, Zen! Kamu pasti bisa melakukannya dengan baik.
Batin Zen mulai meyakinkan dirinya sendiri dan memberikan semangat untuk dirinya sendiri.
"Zen! Apa kamu sudah siap? Apa kamu baik-baik saja?" tanya kak Kai yang terlihat sedikit mengkhawatirkan Zen, karena daritadi Zen hanya duduk terdiam dan membaca naskahnya saja.
Bahkan raut wajah terlihat begitu serius dan cukup tegang. Tidak seperti biasanya. Karena selama ini Zen selalu bisa melakukan semua pekerjaannya dengan baik dan sempurna, kecuali selama 4 bulan terakhir ini.
"Hhm. Aku baik-baik saja, Kak." Zen menyauti dan berusaha untuk bersikap tenang.
Pemuda tampan pemilik sepasang pupil indah bak okavango blue diamond itu, kini mulai mengambil nafas panjang lalu mengeluarkannya perlahan.
"Semua ayo bersiap!! Shooting akan akan segera kita mulai." ucap sutradara A Meng melalui toak kesayangannya.
Semua kru TV mulai bersiap, begitu juga dengan Zen yang mulai memasuki area shooting. Namun kali ini adegan dilakukan di atas sebuah atap gedung. Zen diharuskan melawan dan mengalahkan beberapa preman itu.
__ADS_1
"Action!!" teriak sutradara A Meng melalui toak kesayangannya.
Zen mulai memasang kuda-kuda dan sepasang pupil kebiruan itu masih selalu mengawasi kelima preman yang sudah mengepungnya saat ini.
Kamu harus bisa melawan dan mengalahkan mereka, Zen!!
Batin Zen kembalj menyemangati dirinya sendiri. Kini seorang preman mulai berlari mendekati Zen dan mulai mengayunkan tinjunya ke arah Zen. Zen berusaha untuk menghindarinya ke sisi samping, lalu dengan cepat menggerakkan lengan kanannya untuk manghantam dan menyikut kepala preman itu, hingga preman itu mulai terjatuh tersungkur membelakangi tubuh Zen.
Lalu seorang preman mulai menyerangang Zen dari arah samping kirinya. Sebuah bogem mulai dilayangkan oleh preman itu. Zen yang menyadarinya kini mulai melakukan kayang dengan cepat untuk menghidari bogem itu.
Badan Zen mulai telentang yang membentuk gerakan busur yang bertumpu pada kedua tangan dan dua kaki dengan siku-siku dan lutut lurus. Disaat tubuh sang preman mulai kehilangan keseimbangannya dan sudah terjatuh tersungkur ke depan karena terkena tubuh Zen, Zen mulai berdiri dengan tegap kembali.
Tepat disaat itu seorang preman lainnya mulai berlari dan sudan bersiap dengan sebuah tendangan putar. Zen menghindarinya dengan membungkukkan tubuh jangkungnya, lalu mulai melakukan pukulan lurus dan mengena perut pria itu dan serangan Zen kali ini cukul membuat tubuh preman itu sedikit tertentak ke atas, hingga akhirnya tubuh preman itu mulai terjatuh.
"Cut!!" teriak sutradara A Meng mulai menghentikan adegan itu. "Okay, semua beristirahat dulu!"
Semua pemain mulai bubar, mulai dari Zen hingga para preman itu. Beberapa kru juga terlihat mulai sibuk sendiri. Zen mulai mendekati seorang kru yang sedang memutar ulang hasil adegan yang baru saja Zen lakukan.
"Lumayan, namun aku merasa jika akting bertarungmu sedikit lebih berbeda dari biasanya, Zen!" celutuk sutradara A Meng yang juga sedang mengamati rekaman itu.
Zen mulai mengusap tengkuknya dan berusaha untuk mencari alasan yang tepat agar sutradara A Meng tidak mencurugainya.
"Uhm ... maaf, Sutradara A meng. Mungkin ini terjadi karena kondisi kakiku yang baru saja pulih setelah kecelakaan. Jadi ... mungkin saja aktingku dalam pertarungan sedikit kurang baik." kilah Zen mencari alasan.
__ADS_1
"Tidak masalah kok. Begini saja sudah bagus kok. Karena selama ini tidak semua aktor utama selalu melakukan semua adegan berbahaya seorang diri! Kebanyakan dari mereka akan memakai stunt man. Kau sudah cukup bagus karena melakukannya seorang diri. Itu artinya kamu juga berbakat dan profesional." ucap sutradara A Meng dengan jujur dan bangga dengan aktornya.
"Terima kasih, sutradara A Meng." ucap Zen dengan tulus.
"Hhm. Sama-sama. Kamu istirahatlah dulu, Zen! Setelah ini akan ada beberapa adegan lagi. Namun hanya adegan ringan kok." ucap sutradara A Meng tersenyum dan menepuk bahu Zen.
Setelah itu sutradara A Meng mulai meninggalkan lokasi shooting untuk beristirahat sejenak. Zen mulai menghampiri kak Kai yang terlihat sedang melakukan sebuah panggilan dengan seseorang. Tepat saat Zen sampai di hadapan kak Kai, kak Kai mulai mengakhiri panggilan itu.
"Zen, sepertinya kakak harus pergi sekarang." ucap kak Kai sambil menyimpan kembali ponselnya di dalam saku pakaiannya.
"Uhm, kakak mau kemana?" tanya Zen ingin tau.
"Amee menelpon kakak, dan dia sedang menunggu kakak datang untuk melakukan fitting pakaian pengantin." jelas kak Kai dengan jujur. "Vann akan menggantikan kakak. Sebentar lagi dia akan datang." imbuh kak Kai tersenyum hangat menatap Zen.
Zen juga tersenyum hangat menatap kak Kai, "Okay, Kak! Jangan khawatirkan aku, Kak! Lebih baik kakak fokus dengan pernikahan kakak dulu."
"Terima kasih, Zen! Semoga semua pekerjaanmu bisa kamu selesaikan semuanya dengan lancar! Maaf ya, kakak tidak bisa menemanimu dulu selama beberapa hari ini." ucap kak Kai dengan ekspresi begitu menyesal.
"Tidak masalah kok, Kak. Tenang saja ..." Zen tertawa renyah lalu mulai mendorong tubuh kak Kai pelan. "Sudah sana pergi! Calon kakak iparku sudah menunggu kakak lo!"
...⚜⚜⚜...
Sementara itu, saat Zen membicarakan Yukimura meskipun hanya di dalam hati ...
__ADS_1
"Hatching ..." seorang pria dewasa yang terlihat sedang sibuk melihat beberapa setelan jaz melalui ponselnya tiba-tiba bersin begitu saja. "Ada yang sedang menyebut namamu. Tapi siapa? Cih ... menyebalkan!!" gumam pria dewasa yang tak lain adalah Yukimura.