Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Masalah Baru


__ADS_3

Zen mulai terlihat sangat serius mengerjakan sebuah soal dihadapannya. Jemari kanannya menjepit sebuah pena berwarna abu-abu sementara tangan kirinya menopang kepalanya.


Dengan lincah jemarinya menari di atas lembaran putih yang merupakan lembar jawab itu. Wajahnya kini terlihat begitu tenang bahkan sudut-sudut bibirnya mulai menyembulkan sebuah senyuman yang begitu hangat dan menawan. Siapapun yang menatapnya akan merasa begitu teduh dan sejuk.


"Hello, Brother!" sapa seseorang yang tiba-tiba datang dan menepuk bahu Zen lalu mulai duduk di sebelah Zen.


Zen segera melengos dengan tenang untuk mencari tau siapa pria yang baru saja datang menghampirinya itu.


"Bai Xi ..." ucap Zen lalu mulai fokus mengerjakan tugas kalkulus itu kembali.


Bai Xi tersenyum lebar lalu melirik lembaran-lembaran yang sedang dikerjakan oleh Zen.


"Wah ... wah ... wah ... kau sangat cerdas ya sekarang. Bahkan nilaimu mulai meningkat drastis setelah kecelakaan itu!" celutuk Bai Xi memuji Zen sambil bertopang dagu menatap Zen.


Zen tersenyum lebar menanggapi ucapan dari Bai Xi dan jemarinya masih menari-nari di atas lembaran putih itu dan meninggalkan beberapa coretan di atasnya.


"Benarkah itu? Itu berarti kecelakaan itu membawa anugrah untukku." ucap Zen dengan santai dan senyum tipis.


"Benar. Aku saja terkadang sampai keheranan. Setelah kecelakaan itu terjadi, kamu memang sedikit berubah, Zen." gumam Bai Xi sambil mengernyitkan keningnya kebingungan.


"Ckk ..." Zen tersenyum tipis lalu meletakkan penanya karena sudah menyelesaikan tugasnya.


"Akhir-akhir ini aku tak melihat Sang Yuan Yi. Biasanya mereka selalu bersama 4 sekawan. Tapi akhir-akhir ini kenapa hanya bertiga?" gumam Bai Xi sambil menatap lurus tempat duduk di pojokan kanan belakang yang sudah ditempati oleh Zhang Wei dan teman-temannya.


"Mengapa tidak kau tanyakan sendiri langsung pada rombongan mereka?" kini Zen menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan menyandarkan tubuhnya pada kursinya. Zen juga menatap Bai Xi dengan senyum tipis.


"Ah! Tidak! Malas sekali jika harus berurusan dengan 4 sekawan pembuat onar di kampus itu." celutuk Bai Xi sambil mengeluarkan sebuah buku bercover putih dari dalam ranselnya.


"Pilihan yang bagus! Jangan berteman dengan bocah-bocah berandalan seperti mereka! Sangat berbahaya!" celutuk Zen yang lebih terlihat seperti seorang om-om yang sedang menceramahi keponakan laki-lakinya.


"Kau benar, Zen! Mereka sangat berbahaya dan suka membuat rusuh saja!" Bai Xi menyauti dengan santai dan mulai membuka bukunya.


"Tapi aku dengar Sang Yuan Yi sedang melakukan operasi plastik pada wajahnya." bisik seorang mahasiswa yang tiba-tiba menyembulkan kepalanya diantara Zen dan Bai Xi.


Sontak saja Zen dan Bai Xi segera menoleh ke arah mahasiswa yang tiba-tiba ikut bergabung bersama mereka.


"Darimana kau tau itu, Jancent?" tanya Bai Xi sangat ingin tau.

__ADS_1


"Aku dengar wajah Sang Yuan Yi tiba-tiba rusak. Dan saat ini dia sedang ke Korea untuk melakukan operasi plastik terbaik." bisik mahasiswa yang dipanggil Jancent itu.


"Operasi plastik ke Korea?" ucap Bai Xi sangat terkejut.


"Yeap. Aku dengar itu karena perbuatan teman kuliahnya sendiri. Dan keluarganya akan menuntutnya." ucap Jancent yang semakin memelankan suaranya.


Zen yang masih menyimak percakapan mereka tiba-tiba mengkerutkan keningnya lalu tersenyum tipis.


"Apa dia serius untuk menuntut pelaku?" tanya Zen dengan ragu-ragu.


"Yeap. Aku dengar sendiri dari Zhang Wei!" sahut Jancent dengan yakin.


"Itu berarti mereka akan berperang ya?" gumam Zen yang semakin membuat Bai Xi dan Jancent kebingungan.


"Apa maksudmu, Zen?" tanya Bai Xi akhirnya.


"Hhm. Sebenarnya ..." ucapan Zen terpotong, karena tiba-tiba saja ada 2 orang aparat polisi yang mulai mendatangi ruang kuliah dan mulai menghampiri Zen.


"Li Zeyan. Apakah itu kamu?" tanya salah satu dari mereka sambil menatap Zen dengan tegas.


"Mari ikut ke kantor polisi dan jelaskan semuanya disana!" ucap salah satu polisi itu dengan sangat tegas.


"Haishh ... ada masalah apa apa lagi? Jelaskan saja disini!" celutuk Zen dengan sangat kesal.


"Maaf. Sebaiknya ikut saja ke kantor polisi, Tuan Zen." celutuk salah satu dari polisi itu.


Seisi ruang kuliah kini menjadi sangat ricuh dan para mahasiswa dan mahasiswi mulai saling berbisik.


"Ada apa ini, apa Zen membuat masalah? Apa dia terjerat dengan obat-obatan terlarang?" bisik salah satu mahasiswa.


"Apakah ini soal video masa lalunya yang dianggap penipuan?" bisik mahasiswa lainnya lagi.


"Atau apakah dia sudah mencabuli gadis di bawah umur?" imbuh mahasiswa lainnya lagi.


"Meskipun dia punya hidup yang sempurna, bukan berarti dia bisa melakukan semua hal dengan mudah dong! Harusnya dia tau itu! celutuk seorang mahasiswa.


Dan masih banyak lagi pembicaraan para mahasiswa dan mahasiswi tentang Zen yang tentu saja membuat kuping panas.

__ADS_1


Zen hanya bisa terdiam dan mengerasakan rahangnya. Sementara kedua tangannya mulai mengepal.


"Sebenarnya ada apa ini, Pak?" tanya Bai Xi kepada para polisi itu.


Tiba-tiba terlihat Vann dan ketiga pengawal lainnya berlarian kecil ke dalam ruang kuliah dan segera menghampiri Zen.


"Ada apa ini sebenarnya, Pak? Mengapa Zen harus ikut ke kantor polisi?" tanya Vann sedikit tak terima.


"Benar! Jika memiliki sebuah tuduhan seharusnya selidiki terlebih dulu! Tuan Zen adalah seorang Idol besar. Jangan sembarangan terhadapnya!" tampik Yunxi dengan wajah yang begitu garang.


"Selama ini kita sangat menjaga Tuan Zen. Dan dia tidak pernah berbuat kesalaahan!" imbuh Nokto, pengawal Zen.


"Itu semua benar sekali! Ini sudah termasuk pencemaran nama baik! Katakan siapa yang ada dibalik semua ini?" imbuh Jin Heng, pengawal keempat Zen.


"Semua akan dijelaskan di kantor polisi. Sebaiknya Zen ikut dengan kami!" ucap salah satu aparat polisi itu lagi dengan sangat tegas.


Zen mulai mengambil nafas panjang dan mulai mengeluarkannya perlahan, "Baiklah! Ayo pergi!"


"Tapi, Tuan ..." sergah Vann dengan sangat keberatan.


"Tenang saja, Vann. Aku ingin tau siapa yang sedang ingin membuat masalah denganku!" Zen menyauti dengan seringai manis bak setan. "Yunxi, rapikan barang-barangku dan bawakan tasku!" perintah Zen menatap Yunxi dan mulai bangkit dari duduknya.


"Baik, Tuan!" sahut Yunxi lalu mulai merapikan buku-buku Zen dan memasukkannya ke dalam tas itu.


"Ayo, Pak Polisi kita berangkat!" ucap Zen lalu mulai melenggang meninggalkan mereka semua dengan langkah lebar dan begitu gagah.


Kedua polisi itu segera mengikuti Zen, begitu juga keempat pengawal Zen.


Suasana ruang kuliah kini semakin ricuh oleh pertanyaan dan pernyataan tak masuk akal yang terus terlontar oleh para mahasiswa dan mahasiswi.


"Kalian jangan terus bergosip! Aku tau Zen tidak salah apa-apa?!" ucap Bai Xi setengah berteriak di dalam kelas. Pandangannya bergantian menatap para mahasiswa itu.


"Tau apa kau soal Zen? Kau hanya bertemu dia saat di kampus bukan?" celutuk seorang mahasiswa.


"Aku memang hanya bertemu dia saat di kampus! Tapi aku sangat yakin dia orang yang baik!" bela Bai Xi lagi.


"Gyahahaha ... jangan naif! Kau bahkan tidak tau bukan jika dia sering keluyuran saat malam hanya untuk membeli arak dan rokok?!" timpal Zhang Wei tiba-tiba.

__ADS_1


__ADS_2