Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Bertemu Dengan Amee


__ADS_3

Setelah keluar dari kantor polisi, Zen menghadang sebuah taxi dan mulai memasuki taxi berwarna kuning cerah itu.


"Antarkan ke Oakwood Residence Damei, Pak!" perintah Zen kepada sopir taxi itu sambil membenarkan topinya yang sedikit miring.


"Baik, Tuan." sopir taxi itu menyauti dengan begitu ramah dan segera melajukan taxinya kembali dengan kecepatan laju yang begitu teratur.


Namun, tiba-tiba terdengar alunan melodi yang berasal dari ponsel Zen. Zen segera meraih benda pipih itu dari dalam saku pakaiannya dan melihat nama si pemanggil. Membaca nama si pemanggil membuat Zen sedikit berfikir.


"Amee?" gumam Zen mengkerutkan keningnya dan membuat sepasang alis tegasnya saling berkerut.


Tak biasanya Amee menghubungiku. Apa sudah terjadi sesuatu padanya?


Batin Zen menerka-nerka.


Akhirnya panggilan itu segera diangkat oleh Zen setelah menggeser tombol hijau ke samping. Serelah beberapa saat mulai terdengar suara seorang gadis dari seberang line.


"Hallo, Zen ..." terdengar suara seorang gadis yang begitu lembut dari seberang line.


"Amee, ada apa?" tanya Zen to the point.


"Zen, apakah kau punya waktu luang? Ehm ... bisakah kita bertemu?" ucap Amee dengan suara khasnya yang sangat lemah lembut.


"Kebetulan sekali aku sedang berada di luar. Okay, bertemu dimana?" ujar Zen sambil melihat sisi luar melalui jendela taxi.


"Bagaimana jika bertemu di Cafe Cha - Shangri-La Beijing? Kau sangat menyukai masakan lobster disana bukan?" Amee mengusulkan dan terlihat begitu memahami Zen dengan baik, bahkan tentang makanan kesukaannya dan tempat makan kesukaannya yang sering Zen kunjungi.


"Ahhh ... iya. Okay. Aku akan segera tiba disana!" jawab Zen seadanya, khawatir jika Zen menolaknya, maka Amee akan mencurigainya.


"Okay, sampai jumpa disana. Bye, Zen."


"Hhm ... okay!"

__ADS_1


Zen segera mengakhiri panggilan itu dan segera memerintahkan sopir taxi untuk merubah tujuan.


"Pak, kita ke Cafe Cha - Shangri-La Beijing!" perintah Zen sambil menyimpan kembali ponselnya di dalam saku pakaiannya.


"Baik, Tuan." sahut sopir taxi itu dengan cepat dan segera merubah arah laju taxi yang sedang dia kemudikan.


Zen terlihat sedikit termenung memandangi bangunan-bangunan yang menjulang dengan tinggi dan begitu kokoh yang dilaluinya sepanjang perjalanannya. Dia duduk bersandar santai dengan kedua tangannya saling disilangkannya di depan dada bidangnya.


Setelah beberapa saat taxi itu mulai menepi di depan sebuah restaurant yang cukup besar dan terlihat begitu menakjubkan. Dengan design yang dipenuhi dengan kaca-kaca bening yang tentunya sangat tebal, membuat pengunjung bisa menyaksikan keindahan luar kota Beijing dari dalam restaurant itu ketika pagi, siang, ataupun malam.


Zen mulai melenggang dengan begitu gagahnya memasuki Cafe Cha - Shangri-La Beijing masih lengkap dengan mengenakan topi dan masker hitamnya. Seorang pelayan restaurant mulai menyambutnya ketika dia datang.


"Apakah sudah melakukan reservasi sebelumnya, Tuan?" tanya pelayan wanita itu dengan sangat ramah dan senyum yang selalu menghiasi wajahnya.


"Ya, temanku bernama Xiang Mee sepertinya sudah melakukan reservasi." ucap Zen sambil menebarkan pandangannya untuk mencari sosok Amee, kedua tangannya masih dimasukkan di dalam saku saku hodie-nya.


Seperti biasa, Kagami Jiro sudah terbiasa akan kebiasaan satu ini! Bahkan jika tidak disengaja pun, kedua tangannya akan selalu reflek masuk ke dalam saku kantong coat, hodie, ataupun celananya. Kalian bisa ingat itu.


"Baiklah, terima kasih!" Zen menyauti lalu mulai melenggang untuk menuju ruangan VIP yang berada di ruangan sebelah.


Zen mulai mencari sosok Amee kembali di ruangan VIP yang berukuran lebih kecil jika dibandingkan dengan ruangan lainnya ini. Dan tentu saja ruangan ini lebih spesial jika dibandingkan dengan ruangan lainnya.


Zen terus melenggang dengan langkah lebarnya, hingga akhirnya langkah kakinya mulai membawanya menuju sebuah meja yang berada di paling ujung pojok, di samping sebuah kaca transparan yang bisa menyaksikan keindahan senja dari dalam restaurant. Sungguh sangat menakjubkan dan begitu indah!



"Hallo. Sudah lama menunggu, Amee?" sapa Zen yang baru saja datang lalu segera duduk di depan Amee dan mulai melepas masker dan topinya.


"Hhm. Tidak kok. Aku juga baru saja sampai, Zen." sahut Amee dengam senyuman khasnya yang begitu manis.


"Oh, okay. Mari memesan makanan dulu. Kau belum makan kan?" ucap Zen yang berniat untuk memanggil seorang waitress, namun dengan cepat Amee segera menghentikannya.

__ADS_1


"Zen, sebenarnya aku sudah memesannya ketika baru sampai. Dan aku pesankan sesuai dengan makanan faforitmu saat di restorant ini." ucap Amee sedikit meringis menatap Zen.


"Oh, baiklah. Tidak masalah. Terima kasih ya ..."


"Sama-sama, Zen. Ehm ... bagaimana kabarmu, Zen?" ucap Amee mulai menaikkan kedua tangannya di atas meja dengan kedua tangannya saling dilipat dan ditumpuk. Sementara senyum manisnya selalu terukir dengan indah di wajah ayunya.


"Aku baik-baik saja kok. Bagaiamana denganmu?" ucap Zen menanggapi dengan seadanya.


"Aku juga sangat baik. Aku dengar kamu cuti selama satu minggu karena terkena racun mematikan. Dan semua itu adalah perbuatan dari Lu Yuan dengan menyewa pembunuh bayaran. Aku sangat khawatir mendengarnya, namun ... maaf aku tidak sempat untuk mengunjungimu saat itu, Zen. Maafkan aku ..."


Zen tersenyum tipis menanggapi ucapan Amee, "Tidak masalah kok. Aku tau kau sangat sibuk."


"Dan kata kak Kai kau baru saja mengalamai cedera pada tangan kananmu bukan? Apakah sekarang sudah sembuh?" ucap Amee sedikit melirik tangan Zen yang sudah terlihat begitu sehat.


"Sudah lebih baik kok. Aku baru saja melepas gipsnya tadi pagi." jelas Zen asal.


"Oh, syukurlah ..." ucap Amee yang terlihat begitu lega.


"Amee, sebenarnya ada apa? Tidak seperti biasanya kau mengajakku bertemu?" selidik Zen yang mulai menatap serius Amee.


Belum sempat Amee menjawab pertanyaan dari Zen, seorang waitress sudah datang membawakan beberapa makanan dan minuman untuk mereka. Satu persatu makanan dan minuman mulai di sajikannya di atas meja berbentuk oval memanjang itu.


"Silakan ..." ucap waitress itu lalu mulai undur diri kembali.


"Zen, kita makan dulu. Setelah makan baru berbincang kembali." ucap Amee sambil menyodorkan beberapa piring untuk Zen.


"Aku memesan Deep Fried Shrimp, Ginger Beef, Barbeque Pork and Vegetable, Spareribs in Salt and Paper, Soft dinks in can. Semua ini adalah makanan faforit kamu ketika kita makan disini." ucap Amee terlihat begitu ceria.


"Terima kasih, Amee. Tapi bagaimana aku menghabiskan semua ini? Kamu memesan terlalu banyak ..." Zen menatap kebingungan hidangan yang sudah tersaji di hadapannya.


"Makan saja sesukamu mau yang mana. Aku akan memakan Ginger Beef-nya saja." celutuk Amee lalu mendekatkan sepiring hidangan Ginger Beef.

__ADS_1


__ADS_2