
Seorang pria muda yang terlihat begitu bersinar dan berpenampilan begitu stylish dan super cool mulai melenggang bersama seorang pria muda berkacamata yang tak kalah menawan dan juga bersinar.
Pemuda dengan gaya super cool itu terlihat sedang memakai gips pada tangan kanannya. Menandakan tangan kanannya sedang mengalami cedera saat ini. Senyumnya begitu mengembang setelah dia melihat dua orang gadis cantik yang masih terlihat begitu sibuk melihat-lihat special marchandise dari Koi to producer.
"Zen, apa tidak sebaiknya kamu beristirahat dulu saja? Tangan kananmu sedang mengalami cedera saat ini, namun kau bersikeras ingin menghadiri acara ini. Kembalilah ke appartementmu saja, katakan saja pada kakak, kali ini kau menginginkan marchandise yang mana? Biar kakak yang akan membelikannya untukmu." ucap pria berkacamata yang tak lain adalah kak Kai.
Zen masih tidak bisa menyembunyikan senyuman manisnya ketika melihat kedua gadis cantik itu dari kejauhan. Entah apa yang sedang dia pikirkan saat ini, bahkan ucapan dari kak Kai tidak dia dengar sama sekali.
"Zen! Kamu tidak mendengarkan ucapan kakak?" ucap kak Kai yang terlihat sedikit kesal.
"Ah ... iya. Kakak bicara apa tadi?" ucap Zen sedikit tergagap dan beralih menatap kak Kai.
"Lebih baik kau kembali saja dan beristirahat di appartementmu. Biarkan kakak saja yang membelikan souvenir yang kau inginkan kali ini." ucap kak Kai masih begitu sabar.
"Terima kasih, Kak. Tapi aku bosan jika di appartement terus. Hanya sebentar saja kok disini. Nanti kita segera kembali lagi." ucap Zen dengan seulas senyum dan terlihat begitu berbahagia.
"Ya sudah. Terserah kamu saja deh." ucap kak Kai pasrah. "Kalau sudah berhubungan dengan game dan anime faforit kau memang selalu bersikeras dan tidak bisa dilawan!" keluh kak Kai.
Zen tertawa kecil mendengar celoteh dari kak Kai, karena terdengar begitu lucu. Padahal Zen bersikeras menghadiri acara ini karena agar bisa bertemu dengan Yuna dan Christal, 2 gadis yang sangat disayanginya.
Sebenarnya kak Kai begitu mengkhawatirkan Zen. Zen baru saja pulih dari racun parysatis yang begitu mematikan, kemarin malah terjatuh dari tangga dan membuat tangan kanan Zen cedera. Sebenarnya ini adalah sebuah kebohongan Zen untuk mengelabuhi kak Kai. Dia hanya sedang berpura-pura cedera di depan Yuna, agar Yuna percaya jika Yukimura yang sudah memberinya pelajaran. Konyol!
"Oh iya, Kak. Kak Kai yang tampan, sekarang tolong belikan aku marchandise yang itu, itu, itu, itu, dan itu ..." ucap Zen sambil menunjuk beberapa marchandise dari kejauhan.
"Jangan berlebihan, Zen! Meskipun kau tidak mengatakan dan memuji kakak seperti itu, kakak akan tetap membelikannya untukmu. Kamu tunggu saja disini. Kakak akan membelinya sebentar." ucap kak Kai lalu melenggang meninggalkan Zen.
__ADS_1
"Hhm ..."
Zen mulai memperhatikan salah satu rombongan, lalu melenggang untuk menghampiri mereka yang berada tak jauh darinya.
"Hallo, selamat pagi." sapa Zen dengan senyum lebar menyapa 2 orang gadis cantik.
Kedua gadis cantik itu kini menoleh ke arah pemuda tampan itu. Gadis manis berambut sebahu silver itu membulatkan matanya sempurna melihat kehadiran Zen, seakan tidak percaya dengan apa yang ada di hadapannya saat ini. Sedangkan gadis satunya menatap Zen dengan aneh dan begitu tajam. Sorot matanya dipenuhi dengan kebencian dan amarah.
"Li Zeyan!!" ucap gadis manis berambut sebahu itu begitu bersemangat dan hendak melangkah lebih dekat lagi, namun gadis di sebelahnya segera meraih lengannya dan menahannya.
"Kakak ipar Yuna, ada apa?" tanya Christal kebingungan.
"Christal! Berhati-hatilah dengan orang asing! Kau tidak tau seberapa berbahayanya dia!" celutuk gadis berpenampilan super rapi dan elegan itu.
"Memang apa yang bisa dilakukan seorang pria yang sedang cedera sepertiku? Aku tak akan bisa mencelakai kalian. Body guard kalian juga pastinya begitu kuat. Aku tak akan mampu mengalahkan mereka. Tenang saja." Zen menyauti dengan nada jenaka dan tersenyum tipis menatap gadis dewasa yang begitu cantik itu.
"Christal!" ucap gadis dewasa itu hampir saja tak percaya jika Christal sudah mengabaikan ucapannya. Sedangkan Christal hanya sedikit menoleh ke arah gadis dewasa itu dan nyengir lebar.
"Li Zeyan! Benarkah ini kamu? Aku sungguh tidak menyangka bisa bertemu denganmu disini! Aku begitu mengidolakanmu!" ucap Christal begitu bersemangat dan jingkrak-jingkrak di depan tubuh Zen yang berjiwa Kagami Jiro itu, membuat Zen semakin tersenyum lebar karena begitu gemas melihat adik tersayangnya.
Selama hampir 4 bulan dia tidak bertemu dengan Christal, adik kesayangannya. Rasanya pasti begitu rindu. Sehingga Zen terus menatap Christal dengan begitu hangat dan terlihat begitu berbahagia saat ini.
"Yeap. Ini aku, Li Zeyan. Dan aku memang tinggal di appartement ini." jawab Zen dengan senyum lebar dan kelepasan mengusap kepala Christal.
"Meskipun aku begitu mengidolakanmu, tapi jika kamu sembarangan menyentuhku maka kak Jiro akan membuat perhitungan denganmu! Dia begitu tegas dan kejam, tapi sesungguhnya dia sangat baik." bisik Christal lalu celingak-celinguk mencari keberadaan Kagami Jiro tetapi dia tidak menemukan sosok Kagami Jiro di sekitar sini.
__ADS_1
Lagi-lagi Zen dibuat tertawa renyah oleh ucapan Christal, "Benarkah? Pasti dia sangat menyayangimu."
"Hhm. Begitulah kak Jiro!" ucap Christal begitu tegas. "Oh iya, aku sudah menyaksikan berita pagi ini. Bagaimana keadaanmu sekarang? Apakah racun mematikan itu juga bisa membuat seseorang patah tulang?" ucap Christal yang terdengar begitu konyol untuk Zen.
Dan lagi-lagi Zen dibuat tertawa renyah oleh pertanyaan lucu dari Christal.
"Dia begitu karena perbuatannya sendiri!" tandas Yuna yang tiba-tiba menarik lengan Christal untuk sedikit menjauh dari Zen.
"Maksud kakak ipar apa?" tanya Christal menatap Yuna kebingungan.
"Ehm ... maksud kak Yuna adalah aku yang kurang berhati-hati sehingga jatuh dari tangga dan luka cedera. Begitu ..." ucap Zen dengan cepat, karena khawatir Yuna akan berbicara hal yang kurang pantas di depan Christal.
"Oh, begitu ya ..." sahut Christal tanpa curiga sama sekali.
"Tentu saja!" Zen menyauti dengan senyum lebar menatap Christal.
"Ternyata kau memang sangat ramah ya! Semua rumor tentangmu adalah benar." ucap Christal menatap Zen dengan begitu takjub.
"Ehem ..." tiba-tiba Yumimura mulai mendatangi mereka. "Selamat Li Zeyan, kamu sudah berhasil membuktikan semua kejahatan Lu Yuan. Dan selamat kamu juga bisa melewati maut itu. Kau sungguh sangat beruntung." imbuh Yukimura.
"Ah ... itu hanya keberuntungan saja, Paman." jawab Zen dengan seulas senyum.
BRUUGHH ...
Tiba-tiba tubuh besar Yukimura sedikit bergetar karena ada seseorang yang tidak sengaja menabraknya dari sisi belakang.
__ADS_1
"Sorry ... aku tidak sengaja. Aku sedang terburu-buru." terdengar ucapan seorang gadis.