
Sepanjang perjalanan di dalam mobil polisi Zen hanya terdiam dengan wajah yang begitu tegas dan terlihat begitu dingin.
Siapa yang berani membuat masalah denganku kali ini? Berani-beraninya dia menyeretku begitu saja bahkan melibatkan polisi! Akan kuhancurkan kau setelah ini!
Batin Zen yang masih menatap tajam lurus-lurus.
...⚜⚜⚜...
Seorang pria berkacamata yang masih terlihat begitu muda dan cukup tampan terlihat sedang menikmati sarapan paginya bersama seorang gadis yang begitu cantik. Wajahnya terlihat begitu berseri dan terlihat sangat bercahaya saat ini. Sesekali dia terlihat sedang bercanda gurau dengan obrolan-obrolan ringan bersama gadis itu.
Yeap. Siapa lagi kalau bukan kak Kai dan Amee? Mereka terlihat begitu menikmati sarapan buatan Amee saat ini. Pagi yang begitu hangat untuk mereka berdua.
"Darimana kamu belajar memasak makanan seenak ini, Amee?" tanya kak Kai dengan wajahnya yang begitu berseri.
"Tante Huang Qiao yang mengajariku dulu, Kak."
Mendengar Amee menyebut nama itu, seketika membuat kak Kai membeku seketika. Bahkan senyuman hangatnya juga seketika membeku saat ini.
"Ada apa, Kak? Kakak baik-baik saja? Kakak tiba-tiba terlihat begitu pucat ..." tanya Amee begitu khawatir.
"Uhm. Iya ... kepalaku masih terasa sedikit pusing." jawab kak Kai dengan senyum tipis, namun tiba-tiba senyum itu kembali memudar dan dia segera meletakkan sendok dan sumpitnya lalu meraih secangkir teh hangat di hadapannya dan meneguknya. "Kakak sudah kenyang, Amee." imbuhnya tiba-tiba.
"Eh? Tapi kakak baru memakannya sedikit saja ..."
Kak Kai hanya tersenyum tipis. Belum sempat dia menjawab ucapan Amee tiba-tiba ponselnya kini berdering. Kak Kai segera meraih ponsel yang tadi tergeletak di atas meja lalu mengangkatnya.
"Apa apa, Yunxi?" tanya kak Kai setelah ponsel itu menempel pada telinganya.
"Tuan Zen dijemput oleh dua orang polisi. Dan sekarang mereka membawa Tuan Zen ke kantor polisi pusat Beijing." Yunxi mulai melaporkan dengan ketar-ketir.
"Apa?" tanya kak Kai begitu terkejut. Keningnya berkerut, bahkan kedua alis tegasnya saling berkerut berdekatan.
"Katakan dengan jelas apa yang sebenarnya sudah terjadi!" ucap kak Kai dengan menaikkan intonasinya satu oktaf.
"Kami belum mengetahui pasti masalahnya. Mereka akan menjelaskan semuanya di kantor polisi."
__ADS_1
"Baiklah. Aku akan segera kesana! Kalian tetaplah awasi dan jaga Zen!"
"Baik, Tuan."
Kak Kai segera mengakhiri panggilan itu. Dan raut wajahnya terlihat begitu khawatir saat ini.
"Ada apa, Kak? Apa yang terjadi dengan Zen?" tanya Amee yang mulai terlihat begitu khawatir dan panik.
Kak Kai melirik Amee masih dengan ekspresi yang sama, "Sedang terjadi masalah. Sepertinya ada kesalahpahaman. Kakak akan pergi ke kantor polisi dulu. Kamu bisa tetep disini atau pulang ..." ucapnya lalu bergegas dan meraih kunci mobil yang tadi tergeletak di atas meja.
...⚜⚜⚜...
"Ada laporan dari beberapa mahasiswa, jika anda sudah melukai Sang Yuan Yi dengan cairan beracun asam klorida." ucap salah satu polisi yang sedang duduk berhadapan dengan Zen dengan hanya ada pembatas sebuah meja saja.
"Hhm? Siapa yang memberi laporan palsu seperti itu?" tanya Zen dengan begitu santai. Kedua tangannya disilangkan di depan dadanya dan dia bersandar santai di kursi itu.
"Ada 3 orang saksi malam itu. Kamu bahkan membeli baijiu malam itu. Apa kamu sedang dalam keadaan tidak sadar malam itu?" selidik polisi saat itu.
"Cckk ..." Zen tersenyum sinis mendengar ucapan dari polisi yang sedang mengintrogasinya saat ini. "Aku sangat sadar malam itu. Mungkin otak mereka bertiga yang sudah rusak karena tiba-tiba membuat rangkaian cerita palsu ini."
"Yeap."
"Namun korban juga mengatakan jika pelakunya adalah kamu. Dan dia sedang menjalani operasi di Korea saat ini." ucap polisi itu sambil membuka lembaran-lembaran di hadapannya.
"Pak. Seharusnya anda berhati-hati. Jangan main tangkap orang sembarangan padahal tidak memiliki bukti yang kuat! Aku bisa saja mengangkat kasus ini dan kembali menuntut mereka semua atas pencemaran nama baik." ucap Zen sedikit kesal.
"Bukan seperti itu, Zen. Kita hanya memanggilmu untuk meminta pernyataan darimu. Karena mereka berempat sudah memberikan sebuah laporan dan kesaksian untuk kasus ini."
Zen mulai mengambil nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan. Lalu dia mengambil sebuah kancing yang berukuran lumayan besar pada coatnya dengan paksa.
Kemudian Zen menyerahkannya kepada polisi yang sedang duduk di hadapannya.
"Periksa semua yang ada di dalam sini! Semua terekam di dalamnya. Kejadian dalam waktu satu bulan ini ... semua masih ada di dalamnya." ucap Zen dengan begitu santai.
Polisi itu menerima kancing yang sudah diselipkan sebuah mini camera di dalamnya dan mulai mengambil sebuah memory card di dalamnya. Kemudian polisi itu segera memasukkan memory card itu di dalam sebuah card reader dan segera mencolokkannya di laptopnya.
__ADS_1
Jemarinya mulai menari dengan lincah di atas keyboard, sementara sepasang matanya mulai melihat dengan sangat serius monitor di hadapannya itu.
Setelah menunggu kira-kira 10 menit Zen mulai merasa sangat bosan, dia memanggil seorang office boy yang kebetulan sedang lewat tak jauh darinya.
"Permisi, Pak!" Zen memanggil office boy tadi dengan mengangkat tangan kanannya. Pria itu segera mendatangi Zen dengan ramah.
"Ya ... Li ... Li ... Li ..." ucapnya begitu tergagap setelah melihat wajah Zen dari dekat.
"Li Zeyan!" pangkas Zen dengan santai. "Tolong buatkan aku secangkir kopi!"
"Baik. Tunggu sebentar!" sahut office boy itu dengan sangat bersemangat lalu undur diri. Sementara polisi di hadapan Zen masih terlihat begitu serius mencari dan mengamati video rekaman itu.
"Masih belum menemukan rekaman malam itu, Pak Polisi?" tanya Zen dengan nada cuek.
"Sudah. Itu artinya mereka berempat sudah memberikan pernyataan palsu kepada kami. Maafkan kami." ucap polisi itu yang kini menghentikkan aktifitasnya.
"Tidak masalah. Tapi aku akan menggugat mereka! Mungkin saja seorang penguntit sedang berada di luar dan mulai mencari berita tentang aku yang sudah kalian seret ke tempat ini. Aku tidak bisa membiarkan semua ini begitu saja!" ucap Zen dengan cukup tegas.
"Baiklah. Saya ijin meng-copy rekaman ini."
"Silakan ..." sahut Zen dengan tersenyum dan mengangkat satu alisnya.
Beberapa saat seorang office boy datang dan membawakan secangkir Americano coffe untuk Zen.
"Silakan, Kak Li Zeyan." ucap office boy itu dengan senyum sumringah. Mungkin saja selama ini dia begitu mengidolakan Zen.
"Thanks!" sahut Zen lalu mulai meraih secangkir kopi itu dan mulai menyeduhnya.
Setelah beberapa saat akhirnya datanglah seorang pria berkacamata ya g mulai menghampiri Zen. Raut wajahnya terlihat begitu khawatir saat ini.
"Pak. Ada apa ini?" tanya pria berkacamata itu kepada polisi yang sedang terduduk itu. Siapa lagi kalau bukan kak Kai, seseorang yang terlihat selalu mengkhawatirkan Zen di setiap waktu.
Polisi itu mendongak dan tersenyum ramah menatap kak Kai, "Maaf, Tuan. Tapi Zen memang terbukti tidak bersalah. Sekali lagi maafkan kami yang kurang teliti dan seharusnya kami menyelidiki kasus ini terlebih dahulu sebelum membuat kesalahan seperti ini."
"Hhm. Tidak apa-apa! Kalau begitu kita akan pergi." jawab Zen dengan santai lalu bangkit dari duduknya dan mulai melenggang menuju pintu keluar. "Ayo kak kita pergi!"
__ADS_1
...⚜⚜⚜...