Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Perubahan Di Dalam Diri Li Zeyan


__ADS_3

Bukankah saat ini akulah yang sedang sakit dan akan segera melakukan sebuah pemeriksaan? Namun kenapa mereka harus membawa Christal ke suatu tempat? Ini tidak benar! Jangan-jangan mereka adalah anggota dari Death eyes tang masih berkeliaran? Aku harus menghentikkan semua ini! Aku tak akan membiarkan mereka berusaha untuk mencelakai Christal untuk kedua kalinya lagi!


Batin Zen yang mulai mencurigai kedua pria yang sedang menyandang seragam dokter itu.


"Tunggu sebentar!" sergah Zen menghentikkan pria dengan almamater putih yang sedang mendorong kursi rodanya.


Dengan patuh pria itu berhenti mendorong kursi roda Zen, namun rupanya pria itu sudah bersiap untuk menyerang Zen dari sisi belakang dengan berusaha untuk memukul tengkuk Zen.


Aksinya diketahui oleh Zen dan kali ini terbaca dengan mudah. Dengan cepat Zen segera mengangkat siku kanannya dan berhasil menghantam wajah pria itu.


BUAAGGHH ...


Zen segera memutar balikkan kursi rodanya dan melihat pria itu memegangi hidungnya yang sudah berdarah. Pria itu berusaha untuk meraih kursi roda Zen dan berniat untuk mencelakai Zen dengan mendorongnya ke sisi samping agar terjatuh melampaui pagar pembatas dan jatuh ke dasar bangunan, karena saat ini mereka sedang berada di lantai 7.


Sebelum mencapai pagar pembatas itu, dengan cepat Zen meraih kerah baju pria itu lalu mengangkat dan menghempaskannya hingga terjatuh melewati pagar pembatas itu.


"Huft, semoga saja aku tak akan masuk ke jeruji sel karena sudah melakukan hal seperti ini." Zen menghembuskan napas kasarnya lalu mulai memutar balik kursi rodanya dan segera mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menjalankan kursi roda itu secepat mungkin agar segera bisa menyusul Christal yang sedang bersama dokter gadungan itu.


"Christal. Aku mohon sadarlah ... jika yang sedang bersamamu itu adalah bukan tenaga medis. Mereka adalah salah satu komplotan Death eyes." gumam Zen mulai risau kembali karena begitu mengkhawatirkan Christal.


Sementara itu ...


"Dimana kak Yosuke? Dokter bilang kak Yosuke sedang menungguku karena mau menitipkan sesuatu untuk kak Jiro?" tanya Christal yang masih berjalan bersama dengan seorang pria yang saat ini menyandang pakaian seorang dokter.


Mereka berdua berjalan menyusuri sebuh koridor panjang di salah satu rumah sakit besar dan elit itu.

__ADS_1


"Sebentar lagi, Nona Christal. Tuan Yosuke sedang menunggu nona." ucap pria itu sambil merogoh sakunya untuk mencari sesuatu.


Setelah beberapa saat, pria itu mulai mengeluarkan sebuah sapu tangan yang sudah sengaja diberi dengan obat bius. Perlahan dia mulai melambatkan langkah kakinya lalu mendekati Christal dari sisi belakang.


Disaat pria itu sudah hampir berhasil menyekap Christal dengan menggunakan sapu tangan itu, tiba-tiba saja ada sesuatu yang melayang dan mengenai kepalanya.


BUUGGHH ...


Sebuah bola basket terlihat melayang dan mengenai kepala pria itu.


"Sial!" umpatnya lalu mulai menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang sudah melempar kepalanya dengan bola itu.


Terlihat seorang pemuda tampan tersenyum mengejek dan sedang duduk di atas kursi rodanya.


"Kau benar sekali, Christal. Dokter di sebelah kamulah yang akan membantuku melepas gips ini. Benar begitu, Dokter?" Zen menyeringai menatap dokter gadungan itu.


Pria itu sedikit tergagap saat Zen tiba-tiba saja memergoki aksinya. Kini pria itu berusaha untuk menangkap Christal kembali, namun disaat itulah Zen segera menendang sebuah ember yang masih berisi dengan air sisa pel yang kebetulan sedang berada tak jauh dari dirinya dengan kaki kanannya yang sangat sehat.


BRRAAKK ...


Ember yang berisi dengan sedikit air itu menabrak dokter abal-abal itu dan air di dalamnya tumpah begitu saja di atas lantai. Karena begitu licin, akhirnya dokter gadungan itu terpeleset dan jatuh begitu saja.


BBRRUUGGHH ...


Disaat itulah Christal mulai memanfaatkan keadaan dan segera berlari ke arah Zen. Tak puas dengan hal itu, kini Zen mulai menghempaskan sebuah bak sampah kecil yang berada di sisi kirinya ke arah preman itu dan berhasil mengenai preman itu.

__ADS_1


BRRAAKK ...


Bak sampah kecil itu menimpa dokter gadungan itu, hingga dia terlihat begitu marah atas perlakuan Zen. Kini dokter gadungan itu mulai bangkit dan bangun kembali. Dia mulai melenggang mendekati Zen untuk berusaha melakukan sesuatu.


"Christal, jangan pergi kemana-mana dan tetap di belakangku!" ucap Zen menandaskan.


"I-Iya, Zen. Tapi, siapa sebenarnya mereka? Mengapa mereka juga berusaha untuk mencelakai kita? Apa mereka salah juga salah satu dari Death eyes?" tanya Christal yang masih berada di belakang kursi roda Zen.


"Sepertinya seperti itu, Christal. Tunggu sebentar, aku akan menghadapinya." ucap Zen menatap tajam dokter gadungan itu.


Mendengar ucapan dari Zen, pria itu tertawa renyah karena begitu meremehkan Zen. "Gyahahah ... pria mulus yang sedang duduk di atas kursi roda sepertimu bisa apa? Bukankah kau selalu bersembunyi di belakang ketiak manager dan para pengawalmu?! Dan sekarang mau menjadi seorang pahlawan? Dasar tidak berguna. Cihhh ..."


Zen tak terlalu menanggapi ucapan itu, saat ini dia sedang menantikan pria itu untuk menjadi semakin dekat dengannya agar Zen bisa menyerang. Meskipun belum sempurna, namun latihan fisik dan otot yang dilakukan selama 4 bulan bersama Yukimura ini tentunya akan menjadikannya sedikit kuat dan terampil dalam bela diri.


Tepat saat pria itu sudah berada di hadapan Zen, Zen mulai menggerakkan kursi rodanya dengan cepat dan menabrakkannnya ke arah pria itu. Namun pria itu sempat menahannya dan rupanya begitu meremehkan Zen! Dia hanya sedikit mendorong kursi roda itu ke belakang sambil tersenyum meremehkan.


Zen yang sedang duduk di hadapannya kini mulai melayangkan serangannya untuk mencapai salah satu titik lemah lawan, dan kali ini Zen mengincar dagu dari pria itu.


BUUAAKK ...


Serangan kejutan dari Zen berhasil membuat pria itu sedikit terhentak ke bekalang dan melepaskan kursi roda Zen. Kini Zen mencoba untuk berdiri dan mencoba melangkah dengan hati-hati. Wow!! Bahkan kaki Zen masih di gips, apakah luka dalam pada tulang dan sarafnya sudah sembuh? Mungkin saja iya, hanya saja belum dilepas!


Zen segera meraih kerah baju pria itu dengan tangan kirinya, lalu menghujani pria itu dengan tinjunya. "Beraninya kau mau mencelakai Christal lagi! Bosmu sudah mendekam di penjara, seharuanya kau juga ikut bersamanya! Kalian begitu setia kepada Kin Izumi bukan?" sebuah kalimat pedas yang sangat tak terduga akan diucapkan oleh seorang Li Zeyan!


Berada 4 bulan di dalam raga seorang pemimpin utama Doragonshadou rupanya begitu memberikan perubahan sikap yang luar biasa untuk seorang Li Zeyan. Tak hanya menjadi lebih kuat secara fisik. Namun dia juga menjadi lebih kuat secara mental, dan semakin tegas!

__ADS_1


__ADS_2