
Kala senja itu, langit terlihat menjadi semakin kemerahan. Angin mulai berhembus dan menyapu dengan dingin menusuk hingga ke tulang. Daun mapel dan ginko yang sudah berwarna kuning dan kemerahan mulai menari di udara terkena terpaan angin yang cukup kencang.
"Li Zhi!" teriak seorang wanita yang masih cukup muda, kira-kira berumur 22 tahun. Dia juga menggendong seorang anak laki-laki yang kira-kira berumur 4 tahun. Seorang anak laki-laki yang terlihat begitu lucu dan sangat menggemaskan. Tawa bahagianya terlihat begitu hangat dan membuat siapa saja yang melihatnya seakan-akan ikut merasakan kebahagiaan.
"Luo Yixue ... kaukah itu?" ucap pria bernama Li Zhi itu begitu terkejut melihat kehadiran wanita itu.
"Benar. Ini adalah aku. Maaf selama ini aku tidak memberi kabar padamu sama sekali. Karena aku harus ikut bersama kedua orang tuaku untuk kembali ke desa karena perekonomian keluargaku sedang di ujung tanduk." ucap wanita itu dengan lirih.
Pria yang dipanggil Li Zhi itu menatap gadis yang baru saja menemuinya itu. Rasa bahagia, haru, sedih bercampur menjadi satu. Setelah sekian lama mereka tidak bertemu bahkan tidak saling berkomunikasi. Sekian lama kedua insan yang saling mencintai ini terpisah begitu saja.
Li Zhi berjalan beberapa langkah mendekati wanita itu. Keempat mata itu saling bertemu beberapa saat, saling melepas kerinduan yang begitu mendalam. Tak bisa dipungkiri, keduanya sudah sangat merindukan satu sama lain. Namun, sepertinya takdir berkata lain ...
"Siapa anak ini?" pria itu menatap seorang anak laki-laki yang begitu lucu dan menggemaskan itu.
"Dia adalah anakmu. Saat kita berpisah 5 tahun yang lalu, aku sedang mengandung anakmu." wanita itu kini menatap lekat kembali pria yang pernah menjadi kekasihnya itu.
"Tidak mungkin! Itu tidak mungkin!" ucap Li Zhi yang tentu saja sangat membuat Luo Yixue sedikit terkejut.
"Ini adalah anakmu, Li Zhi. Aku tak pernah berhubungan dengan pria lain selain denganmu." ucap Luo Yixue sedikit sesak, karena pria yang sangat dicintainya tiba-tiba menyangkalnya.
"Tidak, Yixue! Aku akan segera menikah! Pekan depan aku akan menikah dengan wanita pilihan ayahku. Maafkan aku, Yixue ..." ucap Li Zhi dengan begitu berat.
"Apa? Kini kau akan membuangku dan anak ini begitu saja?" ucap Luo Yixue hampir tidak percaya dan sangat shock.
"Maafkan aku ... tapi aku benar-benar tidak bisa menikahimu. Pernikahan di dalam keluarga Li tidak bisa dilakukan dengan sembarangan. Dan juga pernikahan ini untuk menjaga kekerabatan dan bisnis antara keluarga kami. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Tolong mengertilah ..." Li Zhi menatap nanar Yixue dan berharap wanita itu mau memahami situasi saat ini.
"Aku tidak mengira kau akan melakukan semua ini padaku, Li Zhi!" ucapan dari wanita itu kini terdengar cukup parau. Bahkan dia sudah mulai menangis saat ini.
__ADS_1
"Tapi jangan khawatir ... aku akan membantu perekonomian kalian ... aku akan menafkahi kalian. Aku akan mengurus semua biaya anak kita."
"Aku tidak butuh uangmu!" tandas Luo Yixue cukup tajam. Sepasang matanya menatap tajam Li Zhi dan sudah memerah karena menangis.
"Yixue ... dengarkan aku ... ini juga bukan sepenuhnya salahku. Lima tahun kau bahkan menghilang dari hidupku begitu saja. Aku sudah mencarimu kemana-mana, dan aku tak pernah menemukanmu."
"Sudahlah! Ternyata selama ini yang aku lakukan sia-sia saja ... tetap mempercayaimu dan menunggumu adalah sebuah kesalahan di dalam hidupku." ucap Luo Yixue sambil menyeka air matanya. "Jangan pernah menyesali perbuatanmu!Kau tak hanya kehilangan aku dan anakmu, namun juga hatimu. Jangan pernah kau mencariku lagi! Aku tak mau mengenalmu lagi!" imbuh Luo Yixue lalu berbalik dan mulai melangkahkan kakinya meninggalkan pria yang sangat dicintainya itu sekaligus pria yang kini sangat dibencinya.
"Yixue ..." Li Zhi berteriak dan mulai mengejar wanita itu, namun percuma saja. Luo Xixue sudah menghadang sebuah taxi dan pergi begitu saja.
"Yixue!!"
"Ibu!!" seorang pria muda tiba-tiba terbangun dari mimpinya dan terlihat sudah berkeringat dan begitu resah karena mimpi yang baru saja dialaminya itu.
"Ibu ..." rintihnya pelan dan tanpa sadar dia sudah menitikkan air mata.
"Dulu ibu selalu mengatakan jika ayah sudah meninggal. Dan pernyataan itu sengaja ibu katakan padaku agar aku tak mencari tau keberadaan ayah lagi. Tapi aku sangat mengingat semua itu, Bu. Saat ayah memutuskan untuk menikah dan membuang kita ... aku sangat mengingatnya ... meskipun saat itu aku masih begitu kecil ..." ucap pria muda itu begitu parau. Pria yang tak lain adalah kak Kai itu perlahan memeluk figura itu.
"Aku harap ibu baik-baik saja di desa Nahui Guizhou. Aku akan segera mengunjungi, Ibu." gumamnya pelan
...⚜⚜⚜...
"Berdasarkan dari tes forensik, kerangka itu adalah benar mahasiswi yang menghilang dua tahun lalu. Dan pihak keluarga juga sudah menyetujui untuk menutup kasus ini." ucap profesor Wu.
"Mengapa mereka menyetujui kasus ini ditutup begitu saja?" tanya Zen tak mengerti.
"Kasus ini sudah cukup lama. Dan mereka sudah mengikhlaskan putrinya. Kita juga tak bisa berbuat apa-apa. Ini adalah sebuah kecelakaan dan mahasisiwi itu tersesat hingga meninggal di dalam hutan." jawab profesor Wu dengan tenang.
__ADS_1
"Bukan. Ini bukan kecelakaan! Tapi ini adalah sebuah pembunuhan! Aku ... "ucap Zen tiba-tiba tak melanjutkan ucapannya.
Tidak mungkin saat ini aku mengatakan jika sebenarnya itu adalah sebuah pembunuhan. Dan saat itu aku melihatnya sendiri. Mereka pasti akan bingung jika aku mengatakan seperti itu. Mengapa saat itu Zen tidak mengungkapnya? Padahal kalau dia mengungkapnya saat itu, pelaku akan mudah sekali ditangkap! Hhm ... aku harus mencari bukti lain, karena name tag dan kalung yang aku temukan sepertinya masih belum cukup.
Batin Zen dengan raut wajah yang begitu serius.
"Pembunuhan? Mengapa kau bisa mengatakan hal seperti itu, Zen?" tanya profesor Wu mengkerutkan keningnya.
"Beri saya waktu satu minggu. Saya akan berusaha mencari tau tentang kejadian itu. Karena saya sangat yakin, itu adalah pembunuhan."
"Baiklah. Tapi apa tidak merepotkan dan mengganggu jadwalmu?"
"Tenang saja. Akan kulakukan saat aku tidak sibuk ..." jawab Zen dengan santai.
"Hhm ... baiklah ..."
"Kalau boleh tau ... apakah di sini ada dosen atau penjaga kampus bernama Xu Han?"
"Xu Han? Sepertinya tidak ada ..." jawab profesor Wu sambil berusaha mengingat-ingat sesuatu.
"Bagaimana dengan dua tahun yang lalu? Apakah ada?" selidik Zen lagi.
"Maaf tapi saya tidak begitu hafal. Kamu bisa cek bagian arsip data, Zen. Semua ada di sana. Namun, mengapa tiba-tiba kamu mencari orang bernama Xu Han?"
"Tidak ada, Profesor. Kalau begitu saya akan ke ruangan arsip data sekarang." ucap Zen lalu undur diri.
...⚜⚜⚜...
__ADS_1