
Di malam yang begitu dingin dan suasana yang sedikit mencekam, terlihat seorang pemuda bertopi dan bermasker mulai turun dari sebuah taxi berwarna kuning cerah di gang kecil di distrik Xuanwu.
Dia mengenakan sebuah hodie hitam dipadukan dengan celana jeans yang tidak terlalu longgar dan juga tidak terlalu ketat, agar mempermudah dia bergerak lebih leluasa dalam beraksi dan bertarung. Dia juga mengenakan sebuah mantel karena salju sedang turun.
Dengan langkah lebarnya yang begitu gagah, pemuda itu terus melenggang menyusuri gang ujung dari sebuah komplek perumahan yang sedikit sempit dan menanjak.
Salju tipis yang sedang turun di malam itu terlihat sedikit membasahi sebagian anggota tubuhnya, namun dia terus melangkah dengan pasti hingga kini dia mulai berhenti di sebuah rumah tingkat bergaya eropa namun begitu mungil.
"King of War, Hwang Jeon. Harusnya kamu disini!" gumam pemuda itu lalu segera menekan tombol bel rumah minimalis bergaya Eropa itu.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya terlihat seorang pemuda berkacamata bulat seperti harry potter dengan pakaian super santai mulai membukakan pintu. Pemuda itu menatap pria bertopi dengan memicingkan sepasang matanya dan terlihat mulai waspada. Mungkin dia berpikir bahwa dirinya akan dirampok.
Coba saja bayangkan, jika kita kedatangan tamu saat malam yang bersalju seperti ini. Dan penampilan dari si tamu mengenakan pakaian serba hitam, jubah hitam, memakai masker lengkap dengan topi. Pasti kedatangan tamu seperti itu di malam hari akan membuat kita sedikit bergidik ngeri.
"King of War, Hwang Jeon! Apa kabar?" sapa pemuda bertopi itu sambil menurunkan masker hitamnya dan menyeringai manis bak setan menatap pemuda berkaca mata bulat itu.
Pemuda berkacamata itu membelalak menatap tamu tak diundang itu.
"Hhm. Kau tidak melupakanku bukan?" ucap pemuda bertopi itu yang masih menyeringai tajam.
"Ba-bagaimana kau bisa mengetahui tempat ini?" ucap pemuda berkacamata bulat itu terlihat begitu kebingungan.
"Cckk ... itu sangat mudah bagiku, Bocah King of War Hwang Jeon! Karena aku adalah orang yang sama seperti dirimu ... dengan mudah aku akan mendapatkan semua tentangmu yang sudah menyebarkan rekaman video itu." ucap pemuda bertopi dengan sepasang pupil kebiruan yang begitu indah itu.
__ADS_1
Kalian pasti tau siapa pemuda bertopi itu. Yeap, siapa lagi kalau bukan idol Li Zeyan!
"Tapi ... bagaimana bisa kau melakukan semua itu dan dengan mudah menemukanku" ucap pemuda berkacamata bulat itu masih terlihat begitu tak percaya.
Zen tersenyum misterius lalu mulai melenggang dengan keren memasuki rumah mungil bergaya Eropa itu meski sang tuan rumah tidak mempersilakannya untuk masuk.
"Kau tidak bisa bersembunyi di ruang digital, Bocah! Pelaku cyber crime sepertimu sangat mudah untuk aku temukan! Sebaik apapun kau bersembunyi, pasti aku akan segera menemukan keberadanmu! Bahkan, meski kau telah berupaya untuk menghilangkan jejak digital dengan menghapus konten atau postingan yang telah kau unggah di media sosial, kau tidak akan bisa lari dariku, Bocah! Aku akan tetap bisa menemukanmu di dalam ruang digital. Dan kau tidak akan bisa bersembunyi lagi dariku, Bocah!" ucap Zen dengan begitu santai namun terlihat begitu keren.
Meskipun kau memakai nama palsu dan foto palsu, namun setiap akun palsumu tetap akan terasosiasi. Akun-akun itu akan tetap terhubung dengan akun asli pemilknya. Bagaimana?" Zen kembali menyeringai menatap pemuda berkacamata bulat itu.
"Lalu ... mengapa kau baru menemukanku setelah 4 bulan jika kau memang hebat?" ucap pemuda berkacamata bulat itu dengan nada yang begitu menyebalkan.
"Kau tau bukan? Aku orang sibuk dan memiliki jadwal yang begitu padat. Masih banyak yang lebih penting yang harus aku lakukan dibanding dengan menemukan bocah sepertimu!" kini Zen menghempaskan tubuhnya di atas sofa dan bersandar dengan membuka kedua tangannya lebar-lebar. Sementara salah satu kakinya diangkat di atas kakinya yang lain.
"Hhm ... tenanglah! Mari kita berbincang sebentar." ucap Zen yang terdengar begitu santai. "Duduklah, Bocah!" perintah Zen kepada pemuda itu yang masih cukup muda. Kira-kira dia masih berumur 19 tahun dan masih kuliah.
Pemuda bernama Hwang Jeon itu kini duduk berseberangan dengan Zen, dan masih menatap Zen dengan begitu serius dan terlihat begitu berwaspada.
"Kau masih cukup muda. Kemampuanmu di dunia cyber juga cukup keren. Namun ... mengapa kau melakukan semua itu, Bocah? Siapa yang membayarmu untuk melakukan semua itu?" selidik Zen. "Atau ... apakah kau memiliki dendam padaku?"
"Apa keuntungan yang aku dapat jika aku mengatakan semuanya padamu?!" ucap pemuda itu balik bertanya.
"Salah satunya adalah kau tidak akan mendekam di penjara! Kau tau bukan, tindakanmu itu adalah salah satu pencemaran nama baik! Dan aku bisa saja menuntutmu, Bocah!"
__ADS_1
"Huft ... apakah hanya itu yang akan aku dapatkan?! Berikan aku 100 ribu yen ( kira-kira 115 juta ruliah)! Maka aku akan katakan semuanya kepadamu tanpa ada yang terlewat!" celutuk Hwang Jeon masih dengan gaya songongnya yang terdengar begitu menyebalkan.
Mendengar ucapan dari Hwang Jeon, membuat jiwa seorang Kagami Jiro menjadi naik darah. Bocah yang menyebalkan bahkan tak ada rasa sopan santun dan etika terhadap orang yang lebih tua darinya. Namun, Kagami Jiro berusaha untuk menahan diri agar segera menuntaskan dan menjawab dari misteri kali ini.
"Aku akan memberimu 200 ribu yen ( kira-kira 230 juta rupiah )! Jadi cepat katakan padaku semuanya sebelum aku berubah pikiran, Bocah!" tandas Zen dengan sangat tegas dan terlihat begitu serius.
Mendengar nominal yang disebutkan oleh Zen membuat Hwang Jeon sedikit membelalak dan terlihat begitu tergiur. Wajahnya yang sedari tadi memperlihatkan ekspresi jutek dan begitu menyebalkan seketika kini memperlihatkan senyuman.
"Baiklah ... aku akan memberitahumu semuanya. Sekarang kirimkan dulu uang itu padaku! Dan aku akan jamin, kau akan mendapatkan sebuah informasi dan kebenaran yang begitu besar dan mengejutkan dariku!" ucap Hwang Jeon dengan senyuman misteriusnya lalu mengambil ponselnya dari saku pakaiannya.
Setelah beberapa saat dia mulai memperlihatkannya kepada Zen, "Kirimkan uang itu ke rekening ini!"
Zen menatap kesal Hwang Jeon, si bocah dengan etika yang begitu buruk. Kemudian Zen mulai merogoh ponselnya dan mulai membuka sebuah aplikasi untuk mentransfer sejumlah uang yang telah mereka sepakati bersama.
Setelah beberapa saat Zen mulai menyimpan kembali ponselnya di dalam saku hodienya.
"Periksalah! Apakah jumlahnya sudah sesuai?" perintah Zen.
"Yeap! Ini sudah sesuai! Terima kasih ..." sahut Hwang Jeon setelah memeriksa ponselnya.
"Sekarang cepat katakan padaku semuanya!" perintah Zen dengan cukup tegas dan sudah bersiap untuk mendengarkan Hwang Jeon menceritakan semuanya.
...⚜⚜⚜...
__ADS_1