
Seorang pemuda tampan berambut silver terlihat sedang melakukan beberapa olahraga ringan di dalam appartemennya. Dia bertelanjang dada, dan hanya mengenakan celana training hitam panjangnya saja.
Beberapa saat terdengar lantunan melody yang berasal dari poselnya. Pemuda itu kini meletakkan barbelnya lalu meraih benda pipih di sebelahnya. Setelah melihat nama si pemanggil, dia terlihat terdiam dan berfikir sejenak, terlihat begitu ragu antara mau menerima panggilan itu, atau menolaknya. Karena terlalu lama, akhirnya panggilan itu sudah berakhir begitu saja.
Namun ternyata, si penelpon tak juga jera. Kini si penelpon berusaha untuk menghubungi pemuda itu kembali. Kini pemuda itu segera menggeser tombol hijau dan men-loudspeaker panggilan itu.
"Jiro! Kau disana? Apa kau bisa mendengarku?" terdengar suara yang begitu berat dan besar seorang pria dari seberang telepon.
Yeap, siapa lagi pria si penelpon itu kalau bukan Yukimura. Satu-satunya orang yang memanggil seorang Li Zeyan dengan nama Jiro!
"Jiro! Katakan sesuatu!" ucap Yukimura lagi terlihat tak sabaran dan begitu khawatir.
Zen mengambil napas panjang lalu mengeluarkannya secara perlahan, "Aku mendengarnya! Jangan berteriak seakan-akan aku ini tuli!" geram Zen sedikit kesal.
"Ahh ... syukurlah jika kau ada disana ... kau kemana saja? Sudah satu minggu kau menghilang begitu saja, tanpa kabar, bahkan tak bisa dihubungi sama sekali!" todong Yukimura begitu penasaran.
"Ah ... aku hanya ingin berlibur dan beristirahat saja kok." jawab Zen dengan santai sambil mengangkat kembali barbelnya.
"Kau sedang berbohong! Tidak mungkin jika hanya beristirahat sampai satu minggu tidak bisa dihubungi. Katakan padaku! Sebenarnya ada apa? Apa yang sudah terjadi?!" ucap Yukimura yang masih tak puas mendengar jawaban dari Zen.
"Cckk ... begini saja. Aku akan memberitahukan semuanya kepadamu saat kita bertemu nanti! Hari ini kau berangkat ke Beijing bukan?"
"Hhm. Siang ini kita akan melakukan penerbangan. Besok aku akan ada waktu, jadi aku akan menemuimu."
"Baiklah! Aku juga membutuhkanmu untuk melakukan sebuah pekerjaan di Beijing." ucap Zen dengan seringai manis khasnya.
"Pekerjaan apa?" tanya Yukimura begitu penasaran.
"Kau akan segera mengetahuinya, dan pasti kau akan menyukai pekerjaan ini ..." ucap Zen penuh keyakinan.
"Hhm. Baiklah. Kau mau aku bawakan sesuatu dari Jepang?"
"Tidak usah. Aku tidak menginginkan apapun! Aku hanya ingin bertemu dengan istriku. Dan juga Christal."
__ADS_1
"Christal?"
"Yeap. Aku sangat merindukan mereka ... kedua wanita yang sangat aku sayangi saat ini ..." ucap Zen yang mulai merendahkan intonasinya.
"Bagaimana kalau kau mengatur waktu dan bertemu dengan mereka?" ucap Yukimura menyarankan.
"Akan aku usahakan. Beritahu alamat hotel kalian saja, maka aku akan mampir jika senggang."
"Begitu juga boleh ..."
Tiba-tiba mulai terdengar seperti ada seseorang yang datang dan memasuki appartemen Zen.
"Yukimura. Nanti akan aku hubungi lagi, karena ada seseorang yang datang saat ini." ucap Zen.
"Baiklah. Sampai berjuma nanti ..."
"Okay!"
Setelah mengakhiri panggilan itu , kini mulai terdengar derap kaki yang begitu teratur dan mulai terdengar semakin dekat dan nyata.
Sepasang matanya menatap Zen begitu lekat dan seperti tergambarkan seakan-akan dia terheran-heran tingkat dewa. Namun, tak bisa dipungkiri jika wajahnya juga terlukiskan dengan begitu nyata sebuah kebahagiaan tak terkira, setelah melihat cucu satu-satunya baik-baik saja.
"Zen ..." Ucapnya dengan haru.
"Kakek ..." kini Zen meletakkan barbelnya kembali, lalu bangkit dan menyambut kakek Li Feng.
"Bagaimana kabarmu" ucap kakek Li Feng penuh kerinduan dan menatap bagian perut Zen yang masih terlilit dengan perban. "Maafkan kakek karena baru bisa pulang ke Beijing ..." imbuhnya penuh dengan rasa sesal.
"Tidak apa-apa, Kakek Feng. Aku baik-baik saja ..." Zen menyauti dengan senyum ramahnya.
"Apanya yang baik-baik saja?! Kau bahkan sekarat saat itu! Kai sudah menceritakan semuanya padaku!" tandas kakek Li Feng dengan sedikit tegas, namun akhirnya dia tersenyum kembali dan berjalan dua langkah mendekati Zen. "Kakek akan menemukan mereka! Kakek tidak akan membiarkan mereka lari begitu saja!" imbuhnya yang seketika menjadi serius.
"Kakek Feng! Kakek tidak perlu khawatir lagi, aku sudah tau siapa orang-orang itu. Kakek tidak perlu khawatir ... dan aku juga akan meminta seseorang untuk mengurusnya kali ini." sahut Zen dengan ramah.
__ADS_1
"Siapa mereka?! Katakan kepada kakek! Mereka hampir saja membuatmu kehilangan nyawa. Kakek harus menuntutnya! Dan mereka harus diintrogasi dan mendapat hukuman yang setimpal!" tandas kakek Li Feng penuh amarah.
Yeap, di China masa introgasi adalah masa paling menyiksa untuk para tersangka. Masa-masa itu terasa lebih menyiksa jika dibandingkan dengan masa hukuman. Maka dari itu, kebanyakan kriminal biasanya lebih menyukai mendapatkan hukuman secara langsung jika dibandingkan dengan harus melewati masa introgasi yang cukup lama.
"Kakek tenang saja. Tidak perlu khawatir mengenai hal ini. Orang yang aku percaya untuk menangani kasus ini dan menangkap mereka adalah orang yang sangat handal dan ahli. Jangan cemas lagi." ucap Zen dengan seulas senyum menatap kalek Li Feng.
"Baiklah. Lain kali kau harus lebih berhati-hati! Atau apa perlu kakek merekrut pengawal tambahan untukmu?" ucap kakek Li Feng memberikan sarannya karena begitu khawatir jika Zen akan mendapatkan serangan tak terduga seperti ini lagi.
"Tidak perlu, Kakek Feng. Vann, Yunxi, Nokto dan Jin Heng adalah sudah lebih dari cukup. Mereka sudah sangat cukup untuk menjagaku." ucap Zen.
Benar. itu sudah lebih dari cukup. Karena semakin banyak pengawal, maka akan semakin sulit untukku bergerak dengan bebas. Huft ...
Batin Zen sedikit mendengus.
"Baiklah. Tapi kejadian seperti ini, tak boleh terulang lagi! Atau kakek akan memecat mereka semua."
"Baiklah ... aku paham. "
"Hhm. Kau memang cucuku yang cerdas!" kini kakek Li Feng tersenyum lebar dan menepuk-nepuk bahu Zen. "Tapi ngomong-omong ... sejak kapan kau menyukai olahraga, Zen?" imbuh kakek Li Feng yang kini mulai mengkerutkan menatap Zen dari dekat.
"Ahhahaha ... sejak hari aku terbangun dari koma. Hehehe ..."
"Dan lihatlah ... tubuhmu sudah semakin kekar dan berotot saja. Padahal baru 2 bulan kakek tidak melihatmu. Tapi kau sudah sangat berubah, Zen!" ucap Kakek Feng begitu takjub.
"Ahaha ... itu karena akhir-akhir ini aku sering melakukan beberapa olahraga ringan." ucap Zen dengan tawa kecil.
"Baiklah. Apakah kau sudah makan? Ayo makan bersama! Kakek sudah memesan banyak makanan tadi!"
"Baiklah. Aku juga bulum makan kok." jawab Zen seadanya.
"Pakai pakaianmu dulu, Zen!"
"Oh ... iya, Kakek."
__ADS_1
Kini Zen mulai mengenakan pakaiannya kembali, sementara kakek Li Feng masih terlihat dengan sabar menunggunya. Setelah selesai berpakaian, Zen dan kakek Feng bergegas untuk duduk bersama si ruang utama dan menikmati makan siang mereka yang sudah tersaji.
...⚜⚜⚜...