
Melanjutkan balas dendam karena seseorang seseorang itu tak bisa lagi melakukannya? Apa maksud dari perkataan pria tua ini?! Apakah itu jangan-jangan ...
Batin Zen yang terlihat sedang berpikir keras, namun tiba-tiba sebuah pisau sudah sangat mendekati wajah tampannya. Sebuah pisau yang terbuat dari baja damaskus dengan pamor indah dan dikatakan memiliki efek magis. Lebih tajam dibanding pisau konvensional dan sekaligus elastis.
Sebuah pisauyang sering dijadikan pedang untuk bertarung. Yeap karena damaskus tidak terkalahkan! Hanya empu yang paling berpengalaman yang menguasai teknik pemakaiannya.
"Berhenti, Paman Luo Yan!" teriak kak Kai dengan cepat, dia juga membelalakkan sepasang matanya menyaksikan Zen yang sedang dalam bahaya.
Tiba-tiba saja pria yang dipanggil Luo Yan itu menghentikkan aksinya tepat saat ujung pisau itu mulai menyentuh wajah Zen. Pria itu tersenyum misterius menatap wajah datar dan tenang pemuda bernama Zen itu.
"Baiklah. Chen, Tao ... kalian bersenang-senanglah dulu!" perintah Luo Yan lalu mulai sedikit mundur dan kembali menyimpan pisau kesayangannya. Kemudian dia duduk di sebuah kursi tua.
Sementara kedua anak buahnya itu kini mulai melenggang mendekati Zen yang masih berdiri dengan tegap dan begitu gagah. Sementara wajah tampannya masih terlihat begitu tenang, namun sebenarnya dia selalu memperhatikan dan memperhitungkan setiap pergerakan lawan dengan sangat sampurna.
Bagus! Sekarang tidak ada yang menjaga Luo Kai! Aku akan segera membereskan mereka dan membawa Luo Kai pergi dari tempat ini!
Batin Zen yang masih mengekspos wajah tampannya yang kini mulai dihiasi dengan senyuman tipisnya dengan siasat manisnya.
Salah satu dari mereka kini mulai melakukan tendangan samping dengan cukup kuat, namun Zen segera menunduk dan menghindarinya dengan cepat. Lalu menyusul preman satunya dengan menyerang menggunakan tangan kuatnya untuk men-tackle tubuh ramping Zen.
Serangannya mengenai perut Zen dan mendorongnya dengan kuat hingga tubuk Zen sedikit terdorong perlahan ke belakang. Kakinya terseret beberapa meter hingga akhirnya Zen bisa menahan.
Serangan si botak lumayan kuat juga! Namun jangan panggil aku Kagami Jiro jika aku tidak bisa mematahkan dan menghentikkan serangan ini!
Batin Zen yang mulai mengeluarkan kekuatannya untuk menahan serangan dari si pria botak itu.
"Tackle milikmu cukup keren, Botak! Sebaiknya kau gunakan untuk bermain American football sebagai team penyerang. Karena akan sangat sia-sia jika kau gunakan kekuatan itu untukku!" kini Zen mulai meraih dan mencengkeram leher si pria botak dan mencekiknya lalu meremas tulang lehernya sambil menaikkan ke atas dengan begitu cepat.
__ADS_1
Wow!! Sungguh sebuah pertunjukan perdana yang begitu fantastis di dalam seumur hidup mereka menyaksikan semua ini. Zen sang idol yang berparas pria cantik bisa mengangkat tubuh besar si pria botak dengan begitu mudahnya. Padahal ukuran badan si pria botak adalah dua kali lebih besar dari tubuh Zen.
Sementara dari arah samping, pria satunya sudah bersiap untuk menyerang Zen kembali. Namun pergerakannya itu tentu saja terbaca dengan baik oleh Kagami Jiro, sepasang mata kebiruannya melirik tajam dan dia mulai menghempaskan tubuh si pria botak ke arah samping dan menghantam tubuh pria satunya hingga mereka berdua terajatuh dan terseret beberapa meter. Menakjubkan!
Raut wajah kak Kai masih terlihat begitu tidak tenang, dia terlihat begitu mengkhawatirkan Zen. Meskipun akhir-akhir ini Zen sangat ahli dalam bela diri, namun itu semua masih belum membuatnya cukup tenang.
Sementara Luo Yan memasang senyum kecut menyaksikan semua kejadian di hadapannya saat ini.
"Kau sangat ahli dalam bela diri dan cukup kuat ya. Benar-benar jauh sekali dari dugaanku!" gumam Luo Yang yang kini mulai beranjak dari tempat duduknya dan mulai berjalan beberapa langkah untuk menghampiri Zen. "Menarik ..." imbuhnya dengan seringai menakutkan.
Luo Yan mulai meraih dagu tirus Zen dan mendongakkannya ke atas.
"Singkirkan tangan kotormu dariku, Pria tua!" geram Zen dengan sorotan matanya yang begitu tajam menatap Luo Yan.
"Wah. Mulutmu cukup pedas ya! Sangat pantas menjadi anak dari ****** itu!" ucap Luo Yan dengan nada mengejek.
BUUAKK ...
"Perlu kau ketahui, Pria tua ... selain mulutku pedas, aku juga punya tempramen yang buruk. Jadi jangan membuat masalah denganku dan jangan memancingku, atau jangan salahkan aku jika aku tak bisa mengontrol diriku lagi dan akhirnya membuat cacat kalian semua!" ucap Zen dengan begitu santai sambil mengibas-ngibaskan tangan kanannya yang sudah dia gunakan untuk meninju pria bernama Luo Yan itu.
"Dan satu hal lagi! Ibuku telah menikah dengan ayahku. Dan aku hadir setelah pernikahan mereka! Jadi jangan sekali-kali kau memanggilnya dengan sebutan seperti itu! Dan lagi, ibuku juga berasal dari keluarga yang terpandang! Jadi jaga mulutmu, Pria tua!" tandas Zen dengan nada santai namun penuh penekanan dari setiap ucapannya.
"Cih! Dasar bocah tak tau diri! Aku lebih tua darimu, tapi kau sama sekali menghilangkan kesopananmu!" geram Luo Yan sambil mengusap darah di hidungnya.
"Cckk ... tua bukan berarti selalu dihormati! Namun perilakumu yang seperti ini memang sangat tidak pantas untuk dihormati!" celutuk Zen dengan entengnya.
"Dasar bocah tengik tak tau diri!!" geram Luo Yan sambil mengeluarkan pisau lipatnya dan bersiap untuk menyerang Zen kembali.
__ADS_1
"Hhiiaatthh ..."
GREEPP ...
Zen menangkap pergelangan tangan kanan Luo Yan dan langsung menendang perut pria itu dengan begitu santai. Pisau lipat itu terjatuh begitu saja tak jauh dari pria itu. Kini Zen mulai melenggang dan menendekati Luo Yan.
"Katakan dengan jelas! Sebernarnya siapa kamu?! Dan apa maksudmu dengan melanjukan balas dendam seseorang?!" ucap Zen sambil menginjak dada Luo Yan dan sedikit menekannya.
Luo Yan yang sedang terbaring di bawah pijakan kaki Zen menyeringai menakutkan menatap Zen dari bawah.
"Zen! Awas!" tiba-tiba kak Kai berteriak untuk memperingatkan Zen.
Namun bersamaan dengan itu, pukulan yang keras telah dirasakan pada bagian punggung Zen.
BRUUKK ...
Seorang pria botak rupanya memukul Zen dengan sebuah kursi kayu, hingga susunan kursi itu terlepas dan menjadi beberapa bagian.
"Zen!" teriak kak Kai begitu histeris dan terlihat sangat khawatir.
Pemuda tampan bermata biru itu kini berbalik dan menatap tajam si pria botak. Langkah kakinya dia langkahkan pelan namun pasti, hingga kini dia sudah berhadapan dengan pria botak itu.
"Karena kau main belakang disaat aku belum siap, maka aku tak akan lagi memberi toleransi padamu!" geramnya lalu mulai melayangkan super punch-nya dan tepat mendarat pada ulu hati si pria botak.
BUUGGHH ...
BRRUUGGHH ...
__ADS_1
Seketika si pria botak langsung terjatuh terkapar. Entah masih hidup atau tidak, tentu saja Kagami Jiro tidak akan peduli dengan hal itu! Mati pun akan lebih bagus!