Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Di Rumah Sakit


__ADS_3

"Pasca penjahitan luka, jika ada sedikit darah merembes pada kasa perban, maka hal tersebut adalah normal. Namun jika darah keluar secara aktif, maka kemungkinan ada sumber perdarahan yang belum terkontrol dengan baik. Pada kasus perdarahan aktif demikian, sebaiknya membawa pasien kembali periksa ke instalasi gawat darurat untuk memeriksakannya kembali. " jelas seorang dokter wanita yang memiliki sepasang mata yang begitu sipit, dan akan menjadi seperti mata kucing yang begitu indah saat dia sedang tersenyum. "Segera hubungi aku saja jika terjadi sesuatu."


"Baiklah, Xia Feii. Terima kasih ." sahut seorang pria berkaca mata yang tak lain adalah kak Kai.


"Terima kasih, Dokter Feii. Bolehkan aku melihat putraku, Dokter Feii?" tanya ibu Jancent dengan wajahnya yang terlihat begitu sembab karena sudah terlalu banyak menangis.


"Silakan. Tapi setelah pasien dipindahkan ke ruangan rawat. Tunggu sebentar lagi ya, Nyonya." ucap Xia Feii dengan begitu ramah. "Kai, aku ingin menjenguk Zen. Ada siapa di dalam?" tanya Xia Feii yang kini beralih menatap kak Kai.


"Ada Amee dan Bai Xi. Masuk saja ..."


Tiba-tiba terdengar sebuah molodi dari dentingan piano yang begitu indah dan begitu menenangkan hati. Alunan lembut itu berasal dari ponsel kak Kai, hingga dia mulai meraih benda pipih yang sedari tadi tersimpan rapi di balik saku jaz-nya.


"Masuk saja, Xia Feii. Aku akan mengangkat panggilan ini dulu." ucap kak Kai lalu menggeser tombol hijau itu.


"Hhm. Okay ..." Xia Feii menyauti dan segera melenggang memasuki kamar rawat Zen.


"Hallo, Tuan Li Feng!" sapa kak Kai ketika sudah mengangkat panggilan itu.


"Aku dengar ada kecelakaan di labolatorium Wan Chai University? Dan aku dengar Zen menjadi salah satu korbannya? Apa itu benar, Kai?" pertanyaan yang terdengar begitu tak sabaran dan begitu khawatir terdengar dari seorang pria dari seberang telpon.


"Benar sekali, Tuan. Dan sekarang Zen sedang dirawat di United Family Hospital Beijing. Namun tuan tenang saja. Tidak ada luka yang cukup serius." ucap kak Kai berusaha untuk menenangkan pria tua yang terlihat begitu mengkhawatirkan cucu satu-satunya itu.

__ADS_1


Hhm ... bukan! Andai saja kakek Li Feng tau, jika sebenarnya masih ada seorang lagi cucunya ... entah kapan kebenaran itu akan terungkap. Dan kak Kai juga tidak berniat untuk mengungkapkan semua itu. Dia berniat akan menguburnya rapat-rapat, dan hanya dia saja yang akan mengetahuinya. Karena baginya hanya dengan menjadi sosok manager untuk Zen, sudah lebih dari cukup untuk selalu bersama adiknya, satu-satunya saudara yang dia miliki. Satu-satu orang terkasih yang tersisa di dalam hidupnya.


"Tidak, Kai. Biar bagaimanapun aku akan tetap datang! Aku sudah dalam perjalanan ke rumah sakit. Aku harus melihat cucuku Zen. Zen adalah satu-satunya yang aku punya saat ini ..." ucap kakek Li Feng bersikeras untuk menyudahi segala kesibukan dan rutinitas pekerjaan yang seharusnya mengharuskan dia untuk pergi ke luar kota.


NNYYUUTT ...


Meskipun tak pernah mengharapkan lebih atau diakui sebagai cucu kakek Li Feng, namun mendengar ucapan kakek Li Feng barusan sempat membuat hati kak Kai merasa nyeri dan sakit.


"Baik, Tuan. Untuk alamat kamar rawatnya akan aku kirimkan melalui pesan." ucap kak Kai kembali berusaha untuk bersikap wajar seperti biasanya.


"Baiklah, Kai. Sampai jumpa di rumah sakit."


"Baik, Tuan. Sampai jumpa."


Apa yang sedang kau pikirkan saat ini, Kai?! Jangan pernah mimpi dan berharap kau akan menjadi salah satu bagian dari keluarga Li! Karena selamanya kau adalah bukan salah satu dari mereka! Kau selamanya adalah keluarga Luo! Sungguh tidak tau malu jika sampai kau berharap meskipun sekecil apapun harapan itu setelah apa yang kau lakukan terhadap Zen!


Caci kak Kai terhadap dirinya sendiri, hingga dia memejamkan matanya dan mengeraskan rahangnya lalu menunduk dan sedikit memijat keningnya.


"Kakak ... apa kakak sakit?" tiba-tiba terdengar suara yang begitu lembut dan membuat kak Kai mendongak kembali.


Terlihat seorang gadis yang begitu anggun dengan balutan seperti biasanya, sebuah dress setutut berwarna caramel. Karena memang gadis satu ini begitu menyukai mengenakan dress setutut. Dan penampilannya selalu membuat dirinya terlihat begitu dewasa dan ayu namun tetap kalem. Dialah Amee ... gadis manis dan selalu berperilaku lembut seperti kapas.

__ADS_1


"Oh, Amee ... kakak baik-baik saja." kak Kai menyauti dengan senyum tipis dan sedikit bergeser agar Amee duduk di sebelahnya. Dan Amee juga segera duduk di sebelah kak Kai. "Zen sedang apa?"


"Baru selesai makan dan minum obat. Sekarang masih asyik berbincang dengan dokter Xia Feii dan Bai Xi." jawab Amee dengan seulas senyum menatap hangat kak Kai. "Sekarang kakak juga harus makan siang dulu. Aku akan menemani kakak. Ayo kita ke kantin!"


"Tapi kakak tidak lapar, Amee. Melihat semua kejadian ini membuat kakak merasa kenyang. Zen, Jancent, bahkan Li Lian ... mereka terluka begitu parah."


"Mereka akan baik-baik saja. Sekarang lapar atau tidak lapar, pokoknya kakak harus makan. Kakak tidak mau kan magh-nya kambuh lagi." bujuk Amee lagi sambil menarik lengan kak Kai dan akhirnya mengajaknya ke kantin rumah sakit.


Setelah Amee benar-benar melupakan Zen (mungkin ya ...), dan membuka hatinya untuk kak Kai, kini dia terlihat begitu lebih ceria dan tidak tertekan seperti dulu. Bahkan kak Kai juga sudah mulai berubah menjadi lebih lembut dan menghargai Amee. Harapan author adalah mereka bisa bersmaa deh ... karena mereka juga sangat manis. Hehe ... semoga saja!


...⚜⚜⚜...


"Li Lian ... maafkan aku ..." seorang pemuda terlihat sudah hampir menangis dengan menggenggam jemari seorang gadis yang masih terbaring lemah di atas brankar. Pada bagian wajahnya dipenuhi dengan perban. Wajahnya juga masih terlihat begitu pucat menatap nanar pemuda itu.


"Hhm. Sudah puas kau sekarang, Zhang Wei membuatku seperti ini?" ucap gadis bernama Li Lian dengan begitu lirih dan sepasang matanya sudah sangat berair.


Pemuda bernama Zhang Wei menggeleng lemah beberapa kali dan semakin menggenggan erat jemari Li Lian.


"Maafkan aku, Li Lian ... maafkan aku ..." kini Zhang Wei sudah benar-benar menangis dan menunduk.


"Seberapa sering kau berusaha untuk mencelakai Zen, maka semua akan berbalik untukmu, bahkan akan berbalik untuk orang terdekatmu. Semua akan menjadi bumerang untukmu sendiri. Karena Zen yang sekarang, bukanlah Zen yang dulu." Li Lian berkata dengan begitu pelan dan lirih.

__ADS_1


Sungguh di dalam hatinya kali ini, dia sangat berharap agar Zhang Wei bisa jera dan tidak berusaha untuk mencelakai Zen lagi.


...⚜⚜⚜...


__ADS_2