
Saat itu menunjukkan pukul 10 Pm di Beijing. Kak Kai dan Zen mulai melewati jalur VIP dan menuju pintu keluar diikuti oleh keempat body guardnya.
Di ujung lorong terlihat seorang gadis cantik berambut coklat panjang dan bergelombang sedang menunggu. Dia memakai kemeja panjang dusty pink dan celana jeans navy press body dengan design yang sedikit mengembang di bagian bawahnya. Lalu dia juga memakai coat rose wood yang begitu manis.
Kak Kai dan Zen menghentikkan langkah kakinya saat sudah di hadapan gadis itu.
"Apa yang sedang kau lakukan disini, Amee?" tanya kak Kai yang terdengar begitu terkejut.
"Aku hanya ingin menyambut kedatangan kakak ..." jawab Amee dengan lembut dan tersenyum tipis. Namun dari raut wajahnya terlihat sedikit ketakutan saat menatap kak Kai. Mungkin dia sedang khawatir jika kak Kai akan memarahinya karena tidak memberitahukan sebelumnya.
"Ini sudah sangat larut. Sangat berbahaya untukmu! Sekarang pulanglah! Yunxi akan mengantarmu." ucap kak Kai yang terdengar sedikit memaksa.
"Tapi kak ..." sergah Amee yang terlihat sedikit keberatan.
"Ehm. Begini saja. Kakak antar Amee saja dulu. Aku bisa pulang bersama Vann, dan Yunxi. Sementara Nokto dan Jin Heng biar mengawal kalian." ucap Zen tiba-tiba.
"Tapi Zen ..." sela kak Kai yang terlihat begitu keberatan karena membiarkan Zen pulang tanpa dirinya. Tentu saja kak Kai akan sangat khawatir.
Sementara Amee terlihat sedikit memberanikan diri untuk menatap Zen. Raut wajahnya terlihat begitu sedih, dan dia terlihat sedikit kurang beristirahat karena mata pandanya kini sedikit terlihat.
"Tenang saja, Kak. Vann dan Yunxi akan melindungiku dengan baik. Jangan khawatirkan aku!" ucap Zen dengan senyum tipis dan menepuk bahu kak Kai.
Kak Kai hanya menatap Zen dan berfikir sejenak sebelum dia menjawab saran dari Zen, "Baiklah! Pulang dan istirahatlah! Dini hari kakak akan datang ke appartementmu."
"Setuju!" lagi-lagi Zen menepuk-nepuk bahu kak Kai dan tersenyum lebar. Kini Zen mulai beralih menatap Amee dan Zen hanya tersenyum dan melambaikan tangan untuk Amee. Berbeda dengan Amee yang hanya memasang wajah yang sedikit cemberut dan tidak tersenyum.
Zen mulai melenggang meninggalkan semua orang. Namun dia masih mendengar ucapan kak Kai kepada Vann dan Yunxi.
"Pastikan Zen segera beristirahat! Jangan berikan dia alkohol ataupun kopi malam ini! Besok dia harus bangun pagi. Apa kalian mengerti?" ujar kak Kai begitu serius.
"Baik, Tuan Kai. Mengerti!" sahut Vann dan Yunxi bersamaan. Setelah beberapa saat kedua pengawal itu segera mengikuti Zen yang sudah melenggang cukup jauhmeninggalkan mereka.
...⚜⚜⚜...
"Amee ... mengapa kau selalu datang tiba-tiba tanpa memberitahu dulu?! Kau sudah berani melawanku ya?!" ucap kak Kai yang sudah terlihat begitu lelah. Dia mengemudikan mobilnya untuk menuju appartement Amee.
"Bukan begitu, Kak." jawab Amee begitu pelan dan menunduk. "Nomor ponsel kakak selalu saja tidak bisa dihubungi. Dan aku bertanya kepada Vann tentang jadwal penerbangan kalian. Dan aku berinisiatif untuk menjemput kakak. Maaf ..."
"Hhm ... ya sudah tidak apa-apa kok. Tapi lain kali jangan pernah lakukan hal seperti itu lagi! Itu sangat berbahaya. Apalagi kau hanya pergi seorang diri." kata kak Kai yang masih fokus menyetir.
__ADS_1
"Iya, Kak. Maaf ..."
"Bagaimana pekerjaanmu? Apa ada perkembangan?"
"Iya. Aku memberikan proposal pada sebuah agency besar. Dan besok aku akan diuji coba untuk photo shoot bersama model mereka."
"Ehm. Baguslah! Semoga lancar ya ... Agency mana itu?"
"YF Entertaiment, kak."
"Wah. Kakak juga sering pergi ke sana karena harus menemani Zen. Apa kau tau nama model yang akan melakukan photo shoot bersamamu besok?" tanya kak Kai yang masih fokus mengemudikan mobil mewah itu.
"Mereka tidak memberitahuku sebelumnya, Kak." jawab Amee seadanya.
"Semoga lancar ya ... dan namamu bisa segera melambung juga."
"Terima kasih, Kak." jawab Amee pelan. "Bagaimana di Jepang? Apakah sangat menyenangkan?"
"Tidak. Kita tidak pergi ke tempat wisata."
"Kenapa? Apa Zen membuat masalah?" tanya Amee yang terlihat sedikit lebih bersemangat dan menatap kak Kai.
Amee yang mendengar ucapan dari kak Kai seketika memalingkan wajahnya dan menatap lurus ke depan kembali.
"Apa itu benar?" tanya kak Kai lagi.
"Tidak, Kak ..." ucap Amee begitu pelan dan terihat seperti ragu-ragu. "Maaf jika selalu membuat kakak berfikiran seperti itu ..."
"Saat ini kau adalah milikku, Amee." ucap kak Kai yang sesekali melirik Amee.
"Maaf ..." ucap Amee begitu lirih dan menunduk.
Kak Kai segera memarkir mobil itu di basemant sebuah gedung appartement. Dia mulai turun dari mobil bersama Amee dan mulai menaiki lift untuk menuju lantai 7.
Mereka menyusuri sebuah lorong dan berhenti di depan sebuah kamar. Amee mulai menempelkan sebuah card keemasan dan mulai memasukkan sebuah pasword kemudian membuka kamar itu.
Keduanya mulai memasuki kamar bersama dan kak Kai mulai menghempaskan dirinya di atas sofa.
"Malam ini kakak akan menginap, karena ini sudah terlalu larut. Dini hari kakak harus menjemput Zen." ucap kak Kai sambil sedikit memperosotkan badannya dan menyandarkan kepalanya di sofa. Wajahnya sudah terlihat begitu lelah.
__ADS_1
"Iya. Kakak mau mandi? Akan kusiapkan pakaian ganti."
"Iya. Tolong siapkan ..."
"Baik, Kak."
Setelah beberapa saat kak Kai mulai melenggang menuju kamar mandi dan melakukan ritual mandinya. Sementara Amee menyiapkan pakaian ganti dan susu hangat untuk kak Kai.
Beberapa saat Kak Kai sudah menyesaikan ritual mandinya dan segera menyusul Amee yang sedang menonton TV.
"Kak. Aku sudah buatkan susu hangat. Minumlah ..." ucap Amee sambil mengambilkan secangkir susu hangat itu dan memberikannya untuk kak Kai.
"Ehm. Terima kasih ..." sahut kak Kai lalu meminumnya sedikit dan meletakkan kembali di atas meja.
"Amee ..."
"Ya ..."
"Kakak akan selalu menjagamu ... sebagai kakak dan juga sebagai kekasihmu."
"Hhm ... i-iya ..."
"Jadi tolong jangan pernah kamu menghancurkan kepercayaan kakak ... karena kakak sangat benci orang yang suka berbohong dan berkhianat." ucap kak Kai sedikit memiringnya badan dan wajahnya untuk menatap Amee. "Jika sampai kakak melihat kamu berbohong ... kakak benar-benar tidak tau harus menghukummu seperti apa. Kakak sangat benci orang yang tidak bisa dipercaya." ucap kak Kai yang mulai menurunkan intonasinya.
Amee hanya terdiam dan masih mendengarkan kak Kai menyelesaikan ucapannya.
"Ayahku telah membuang ibuku saat itu, saat itu dia sedang mengandungku. Aku tumbuh tanpa seorang ayah. Aku dan ibu harus berjuang berdua, bahkan ibuku mati-matian bekerja demi aku untuk hidup layak. Sedangkan pria itu malah hidup enak dan bahagia bersama keluarga barunya." ucap kak Kai begitu lirih. "Aku sangat membenci dia dan semua anggota keluarganya!" geram kak Kai sambil mengepalkan kedua tangannya.
Aku sangat membenci pria tua itu! Dan seluruh anggota keluarganya! Bahkan aku pernah berjanji kepada ibuku untuk membalaskan sakit hati yang telah dia goreskan untuk ibuku! Aku pernah berjanji akan membuat dia dan seluruh anggota keluarganya menderita.
Batin kak Kai sambil mengepalkan kedua tangannya dan mengeraskan rahangnya.
"Kak ... dendam hanyalah akan membuat kita sengsara dan lelah. Lebih baik memaafkan ... Maka hati kakak akan menjadi damai. Aku tau kakak adalah orang yang sangat baik. Jangan biarkan dendam menghancurkan hati kakak." ucap Amee dengan lembut dan sangat berhati-hati.
Kak Kai terdiam dan menatap Amee lurus-lurus. Matanya kini sudah sedikit berair. Sangat terlihat memukau saat dirinya melepas kacamata beningnya.
Tidak, Amee. Kamu tidak tau siapa aku yang sebenarnya. Aku adalah salah satu orang asing dan tidak kamu ketahui tujuan datang di kehidupanmu. Suatu saat mungkin kau juga akan meninggalkaku sendirian ... Karena begitulah takdir hidupku. Selalu ditinggalkan dan dibuang! Bahkan oleh ayahku sendiri!
Batin kak Kai dengan tatapan nanar menatap Amee.
__ADS_1