
"Membohongi soal apa, Sayang? Aku tak pernah berbohong soal apapun padamu. Aku selalu mengatakan semuanya kepadamu." ucap Kagami Jiro dengan jujur.
Pria dewasa itu kini mulai menyeka air mata Yuna dan terlihat begitu sakit saat melihat wanita yang sangat dicintainya menangis seperti itu.
"Yuna. Lihatlah aku ..." suara Kagami Jiro terdengar begitu berat namun terdengar begitu lembut. "Lihatlah aku, Sayang."
Yuna mendongak dan mulai menatap nanar Kagami Jiro. Namun lidahnya begitu kelu ketika harus mengutarakan perasannya saat ini. Terlebih hingga menyebut nama Amane dan putrinya.
"Yuna, aku tak pernah berbohong soal apapun kepadamu. Gadis yang aku cintai hanyalah kamu. Kamu adalah satu-satunya gadis yang bisa menerobos dan memasuki hatiku. Menembus dinding pertahanannku hingga berhasil meraih hati dan cintaku." Kagami Jiro mulai meraih jemari Yuna dan perlahan mengecupnya cukup lama.
"Saat itu ... bukannya aku sengaja karena menginginkannya. Namun, saat itu aku dijebak oleh Jessy. Jessy menghidupkan sebuah dupa pembangkit gairah saat itu, dan aku tak sengaja memasuki kamar itu. Seperti yang kau tau, dia selalu berusaha untuk menjeratku. Namun, aku bisa mengatasi semua itu, Yuna. Aku berhasil menghindarinya dan meninggalkan kamar itu. Namun kondisiku yang semakin parah karena pengaruh obat itu tak bisa lagi menahannya ketika tak sengaja aku memasuki kamar Amane. Dan akhirnya ... semua itu terjadi begitu saja. Maafkan aku, Yuna." ucap Kagami Jiro berkata begitu lirih dan menatap lekat Yuna yang masih terlihat begitu terpukul dan bersedih.
Sekuat apapun Yuna, setegar apapun Yuna, namun sebuah kenyataan itu begitu membuatnya terlihat begitu rapuh dan tak berdaya. Semua tubuhnya terasa lemas seakan tak bertulang hingga tak kuat lagi menopang tubuhnya.
"Setelah kejadian itu, aku hanya bertemu dua kali bersama dengannya. Dan itupun ketika dia melangsungkan pernikahannya. Yuna ... aku tak pernah menyangka jika Amane akan hamil saat itu. Aku tak pernah mengira jika semua ini akan menjadi begitu rumit seperti ini. Maafkan aku, Sayang."
"Jika saat itu kau mengetahuinya, apakah kau akan menikahinya?" ucap Yuna yang terdengar begitu bergetar, dan air mata hangat itu kembali membasahi pipinya.
DEGGHH ...
Sebuah pertanyaan yang sebenarnya cukup menyakitkan untuk Yuna lontarkan. Terlebih jika jawaban dari Kagami Jiro malah akan semakin menyakitinya.
Kagami Jiro terlihat mulai mengambil napas panjang lalu mengeluarkannya perlahan dan bersiap untuk menjawab pertanyaan dari Yuna.
"Yuna ... aku sudah berjanji kapada diriku sendiri. Aku akan menikahi seorang gadis yang menolakku. Dan gadia itu adalah kamu. Kamu begitu sulit untuk aku dapatkan saat itu. Namun aku sangat merasa sangat beruntung, ketika semua perjuanganku bisa membuka dan meluluhkan hatimu, hingga akhirnya kau bisa menerimaku dengan segala kekurangan di dalam diriku." sepasang mata kecoklatan itu terlihat berkaca-kaca dan bergetar menatap Yuna.
"Baik di masa lalu, masa kini, maupun hari esok ... hanya kamu yang aku mau! Aku ingin bersamamu hingga rambutku mulai memutih, menemani dan melihat tumbuh kembang putra kita bersama. Jangan pernah berpikiran yang tidak-tidak lagi, cukup percaya dan yakin padaku saja." Kagami Jiro mengecup kembali jemari Yuna dangan begitu hangat.
"Lalu bagaimana dengan putrimu? Rui adalah darah dagingmu?"
Kagami Jiro masih belum bisa memutuskan sesuatu, karena dia masih sangat menjaga perasaan Yuna dan tak ingin membuat hatinya sakit kembali.
__ADS_1
"Aku akan mengunjunginya dan aku juga akan bertanggung jawab untuk menafkahinya." ucap Kagami Jiro yang terdengar begitu lirih.
"Bawalah Rui bersama kita, Sayang!" ucap Yuna tiba-tiba dan mulai meraih lengan Kagami Jiro.
Dan tentu saja permintaan dari Yuna kali ini begitu membuat Kagami Jiro merasa sangat terkejut.
"Aku khawatir jika Kin Izumi atau keluarganya akan melakukan hal buruk untuk Rui. Doragonshadou dan Death eyes adalah seperti air dan minyak. Dua kubu yang tak akan pernah bisa bersatu dan bersama. Tolong jemput Rui, Sayang! Aku akan menganggapnya sebagai putriku sendiri. Aku akan menyayanginya seperti aku menyanyangi Kenzi dan kenzou. Aku akan merawatnya dengan baik." imbuh Yuna momohon.
Seakan bergetar jiwa Kagami Jiro karena mendengar ucapan dari Yuna yang begitu berbesar hati untuk menerima Rui, putri dari Kagami Jiro dan Amane. Sebuah senyuman hangat mulai tersembul dari wajah tegasnya.
"Terima kasih, Sayang." ucap Kagami Jiro begitu tulus. "Setelah aku keluar dari rumah sakit, kita akan mengunjunginya bersama. Bagaimana?" ucap Kagami Jiro mengusulkan.
"Hhm." Yuna mengangguk pelan dan mulai tersenyum kembali.
"Dan ... setelah aku pulih nanti ... aku juga mau sesuatu darimu." ucap Kagami Jiro tersenyum nakal menatap istrinya.
"Ya? Katakan saja." ucap Yuna yang terlihat sudah sedikit membaik suasana hatinya.
"Aku mau kamu melayaniku dengan baik. Dan aku rasa ... uhm ... sepertinya si kembar Kenzi dan Kenzou sudah bisa untuk memiliki seorang adik." ucap Kagami Jiro setengah berbisik.
"Kenzi dan Kenzou bahkan masih kecil, Sayang." ucap Yuna berkilah dan masih begitu merona.
"Namun aku sungguh sangat menginginkannya, Sayang. Setelah kita kembali ke rumah, kau harus bisa memuaskanku dengan baik. Jika tidak, maka aku tak akan melepaskanmu." Kagami Jiro berkata dengan nada jenaka lalu mengecup pipi Yuna dengan begitu cepat.
Hal itu membuat Yuna kembali tersipu malu dan sedikit menunduk.
"Hhm ... aku jadi tidak sabar ingin segera keluar dari rumah sakit." kini Kagami Jiro sedikit menarik lengan kanan Yuna dan semakin mendekatkan padanya.
Pandangannya mulai menatap setiap detail wajah ayu Yuna. Hingga pandangannya berakhir menatap bibir merah alami itu.
"Siang ini, yang ini saja juga boleh kok." gumamnya pelan dengan senyuman manisnya diiringi dengan jemarinya yang mengusap lembut bibir merah alami yang begitu mungil itu.
__ADS_1
Yuna semakin tersipu malu karena mendapatkan perlakuan yang begitu manis dari Kagami Jiro setelah sekian lama. Rasanya jantungnya kembali berdebar seperti drum setelah sekian lama. Bak seperti seseorang yang sedang dilanda kasmaran.
Perlahan Kagami Jiro mulai memiringkan wajahnya dan semakin mendekati wajah ayu Yuna. Dan Yuna juga mulai memejamkan matanya dan sudah bersiap untuk menyambut sesuatu dari suaminya. Hingga perlahan Kagami Jiro mulai mengecup bibir Yuna dengan begitu lembut.
Namun tiba-tiba saja pintu kamar rawat itu terbuka begitu saja tanpa ketukan ataupun permisi.
"Hentikkan semua ini!!
Bersambung ...
...⚜⚜⚜...
Hayo ... ada yang bisa menebak tidak siapa kira-kira yang datang dan berusaha menghentikkan mereka berdua ya?
Akhirnya, mereka berdua bisa berrukar tubuh kembali ya. Anezaki turut berbahagia melihat mereka. Rupanya sebuah kecelakaan yang disebabkan oleh salah satu anggota dari Death eyes membawa berkah untuk mereka.
Entah harus merasa senang atau sedih. Yang penting mereka selamat dan baik-baik saja.
Reader : Wah, bau-bau mau tamat nih. Benar begitu, Author?
Anezaki : Sepertinya akan ada konflik baru. Atau rencana mau membuat novel sesi ketiga. Kira-kira ada yang seruju nggak nih? Kalau ada aku buat deh ( nggak janji ya. Hehe ...)
Reader : Wah minta digethok nih author. Apakah Death Eyes benar-benar sudah berakhir, Author? Mengingat jumlah mereka yang cukup besar, kami sangat ragu mereka bisa semudah itu untuk dikalahkan.
Anezaki : Nah, itu salah satu yang sedang aku pertimbangkan untuk novel ketiga mereka. Jadi aku masih belum bisa menjawabnya ya. Masih rahasia.
Yukimura : Oiii author pilih kasih! Aku mau protes! Mengapa scene-ku bersama Xia Feii saat pergi ke Tokyo Skytre di skip gitu aja? Aku tidak terima!
Anezaki : Bukan di skip, Paman Yukimura. Tetap akan aku tampilkan nanti kok. Santai aja dong, Paman. Aku tak akan tega kok melihat paman sendirian seumur hidup.
Reader : Wah ... wah ... bau-bau lamaran diterima. Horee ... jangan lupa undang kami juga ya, Paman Yukimura!!
__ADS_1
Yukimura : Entah. Aku aja belum tau akan diterima apa ditolak. Author Anezaki selalu saja mempermainkan hidupku dan Jiro ... juga Zen ... kalian jangan percaya dengan janji manisnya itu!
Anezaki : 😅 Aku pamit deh kalau gitu. Mau nulis scene paman Yukimura untuk ditampilkan entah di bab berapa. Ahaha ... oh iya. Untuk reader tersayangku, jangan lupa untuk selalu mendukung Never Say Good Bye ya. Dukung dengan Like, Comment, Rate, Vote, and Gift. I love you, My belover reader.