
"Kakak akan mengundurkan diri sebagai managermu." ucap kak Kai tiba-tiba dan tanpa sadar matanya kini sudah sedikit berkaca-kaca.
"Mengundurkan diri?" tanya Zen begitu terperanjat dan menatap pria berkacamata itu dengan bingung. "Tapi kenapa tiba-tiba mau mengundurkan diri begitu saja? Apa karena aku yang sudah salah menyebut nama bibi? Sorry deh ..."
Kak Kai terdiam beberapa saat lalu tersenyum samar, "Bukan, Zen ... tapi ini murni karena keinginanku sendiri. Kakak ingin sekali menemani ibu. Hanya dia yang kakak punya selama ini. Tidak ada yang lain. Apalagi saat ini dia sedang sakit ... dan hanya tinggal menunggu waktu saja. Umurnya tidak akan bertahan lama lagi, Zen. Kakak tidak ingin menyesalinya kelak." ucap kak Kai begitu lirih.
"Lalu bagaimana dengan Amee? Bukankah dia juga masa depan kakak? Dia juga akan sedih jika harus berpisah dengan kakak."
Kak Kai masih menatap lurus-lurus dengan tatapan nanar, lalu mengeraskan rahangnya.
"Umur adalah rahasia dari Sang Pencipta. Manusia hanya bisa memprediksi saja. Dan predeksi itu tidak sepenuhnya akan benar dan terjadi. Terkadang masih akan ada keajaiban di luar akal sehat. Dan semua adalah seperti sihir." imbuh Zen lagi.
Sebenarnya bukanlah itu alasan utamaku, Zen. Sebenarnya aku sudah merasa sangat lemah dan tidak berdaya untuk memenuhi janjiku pada diriku sendiri. Aku tidak sanggup lagi memenuhi janji itu ... aku ingin melupakan dan memulai lembaran baru bersamamu. Namun aku sangat merasa tidak pantas lagi untuk berada dekat denganmu. Sungguh aku merasa sangat buruk untukmu. Karena sebenarnya akulah duri yang selama ini selalu menyakitimu, seperti menusukmu secara perlahan. Duri kecil yang menusuk daging sehat dan mambuat nyeri secara perlahan.
Batin kak Kai dengan kedua tangan mengepal. Sepasang mata kak Kai terlihat sedikit berair dan juga terlihat begitu memerah saat ini.
"Maaf Zen. Ini adalah keputusanku. Untuk sementara waktu kakak akan meminta Vann untuk menjadi manager sementara untukmu sampai kamu menemukan orang yang tepat untuk menggantikan posisiku."
"Baiklah jika memang itu sudah menjadi keputusanmu ... aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Baik-baik di sini. Selalu jaga dan bahagiakan bibi Yi. Dan ukirlah kenangan terindah di akhir hidupnya."ucap Zen akhirnya.
"Hhm ... tentu saja." ucap kak Kai yang terdengar begitu rapuh. "Mari kita segera kembali." imbuhnya lalu bangkit untuk berdiri.
__ADS_1
Kak Kai mulai melenggang dan Zen mulai mengikutinya. Di sepanjang perjalanan menuju rumah, keduanya hanya saling terdiam tanpa ada perbincangan sama sekali. Bahkan hingga sampai di rumah keduanya masih saling terdiam.
"Kai, Zen ... kalian lama sekali. Darimana saja kalian?" semprot bibi Rong saat mereka berdua sampai di rumah.
"Kita hanya pergi untuk melihat sekitar, Bibi." jawab kak Kai dengan ramah.
"Benar, Bibi. Desa Nahui Guizhou bener-benar sangat indah." ucap Zen dengan senyum ramah.
Bibi Rong tersenyum mendengar ucapan dari mereka. Guratan halus pada wajahnya itu terlihat semakin jelas menghiasi senyumnya.
"Ya sudah. Mari kita sarapan bersama terlebih dulu. Bibi sudah menyiapkan makanan kesukaanmu lho. Zen pasti juga akan menyukainya. Karena masakan bibi pasti akan membuat semua orang ketagihan." ucap bibi Rong dengan tawa kecil.
"Bibi masak apa? Mapo doufu?" tanya kak Kai yang terlihat begitu bersemangat.
"Ya, tentu saja. Bibi memasak banyak sekali. Bibi memasak mapo doufu, wonton, chou mein dan bibi juga membuat cemilan nian gao, kue kesukaanmu saat kamu kecil, Kai!" jawab bibi Rong juga sangat bersemangat.
Bagaimana tidak? Kak Kai adalah keponakan satu-satunya yang dimiliki oleh bibi Rong. Keluarga satu-satunya yang bibi Rong dimiliki adalah kak Kai dan ibunya. Bibi Rong adalah seorang janda yang ditinggal olehbsuaminya suaminya 10 tahun yang lalu karena sakit, bahkan dia belum memiliki anak sama sekali.
Mapo doufu menjadi salah satu hidangan China tradisional yang sangat populer di China. Mapo doufu juga menjadi salah satu makanan terfavorit yang sebenarnya berasal dari provinsi Shincuan. Mapo doufu ini terdiri dari tahu yang di potong dadu lalu di masak dengan campuran daging giling, bubuk cabai, daun bawang, pasta kacang, dan bumbu lainnya yang membuat satu porsi mapo doufu ini memiliki rasa yang lembut, gurih, pedas, manis, dan lezat.
Sedangkan wonton adalah hidangan khas China yang mirip dengan siomay di Indonesia. Yang membedakan wonton dengan siomay adalah cara menghidangkannya. Jika wonton ini biasanya disajikan dengan sup, jika di Indonesia biasanya siomay disajikan dengan kuah kaldu. Wongton ini sebenarnya terdiri dari udang dan ikan yang di cincang lalu di rebus sampai matang. Satu wonton ini memang sangat nikmat, makanya tak salah jika hidangan yang satu ini sudah menjadi favorit sejak abad ke tujuh dan kini sudah bisa temukan di restoran-restoran besar di dunia.
__ADS_1
Sedangkan nian gao atau kue keranjang adalah salah satu makanan tradisional China yang selalu diburu saat tahun baru imlek. Kue keranjang ini terbuat dari ketan, gula, yang di bentuk bulat, lalu biasanya di potong-potong di goreng dengan telur yang sudah dikocok dengan gula, dan satu potong kue keranjang siap dilahap. Untuk rasanya manisnya, kenyal, dan enak.
"Wah ... sepertinya enak. Aku kangen sekali masakan bibi Rong!"
"Kali ini makanlah sepuasnya sebelum kamu kembali ke kota. Karena akan susah nanti jika kamu kangen masakan bibi saat sedang di kota." ucap bibi Rong menggoda kak Kai.
Wajah berseri kak Kai kini memudar perlahan dan menjadi sedikit murung kembali.
"Aku tidak akan kembali ke kota, Bibi. Aku akan tinggal di Nahui Guizhou mulai sekarang." ucap kak Kai pelan.
"Memang ada apa? Apa Zen memecatmu?" selidik bibi Rong menatap kak Kai dan Zen secara bergantian dengan penuh rasa curiga.
"Tidak, Bibi. Aku tidak pernah meminta kak Kai untuk berhenti." sela Zen dengan cepat.
"Lalu?" bibi Rong masih menatap mereka berdua secara bergantian dengan kening berkerut. "Apa kalian baru saja ada masalah? Jangan bilang kalian menyukai gadis yang sama hingga hubungan kalian berakhir seperti ini?!"
"Tentu saja tidak, Bibi." ucap Zen dengan cepat.
"Ya. Bukan seperti itu. Aku hanya ingin tinggal disini dan menjaga ibu saja, Bibi." jawab kak Kai.
"Ibumu kan sudah aku jaga! Tenang saja! Dia akan aku rawat dengan baik dan sepenuh hati. Ibumu adalah kakak bibi satu-satunya. Dia adalah satu-satunya saudari yang bibi miliki. Sudah sepatutnya saling menjaga bukan?"
__ADS_1