
Kak Kai dan Amee mulai menikmati sweet potatoes dan capucino hangat itu sambil menatap Danau Houhai yang terbentang di hadapan mereka dengan begitu indah dan memukau.
"Maaf, kakak tidak begitu tau tempat yang kau sukai." ucap kak Kai yang masih menatap lurus Danau Houhai di hadapannya itu. "Lain kali katakan saja jika kau ingin mengunjungi suatu tempat. Maka kakak akan mengantarnya." imbuhnya dengan senyum hangat dan menatap Amee yang sedang meminum capucino hangat miliknya.
"Hhm ... tempat ini ... aku juga sangat menyukainya kok, Kak. Terima kasih sudah membawaku untuk melihat Danau Haohai yang begitu memukau malam ini." Amee menyauti dengan begitu tulus dan terdengar begitu lembut seperti biasanya.
"Kau menyukainya, Amee?"
"Tentu saja, Kak! Begitu memukau dan menenangkan hati saat melihat keindahannya." kini Amee sedikit tersenyum lebar dan menatap kak Kai.
Keduanya kini saling bertatapan beberapa saat, membuat Amee menjadi sedikit gugup dan senyumnya juga seakan membeku seketika seperti malam yang begitu dingin saat ini ketika kak Kai menatapnya cukup lama.
Namun berbeda dengan kak Kai, tatapan kak Kai terlihat sedikit berbeda. Dia menatap gadis cantik di hadapannya itu dengan sedikit gemas. Perlalan wajah kak Kai sedikit mendekat dan tentu saja ini membuat Amee menjadi semakin gugup.
Kak Kai mulai menatap bibir kemerahan Amee, dan perlahan mengusap lembut sudut bibir Amee dengan jemarinya.
"Sudah. Tadi ada cream capucino yang menempel." ucap kak Kai lalu sedikit mundur kembali dan kembali menikmati sweet potato miliknya.
"Ahh ... iya. Terima kasih, Kak." ucap Amee yang kini bisa sedikit bernapas lega.
"Pekan depan kakak akan ke Jepang bersama Zen. Kali ini kita akan di Jepang selama 5 hari. Kakak akan mengirimkan pengawal untukmu. Karena sangat berbahaya jika kamu selalu kemana-mana seorang diri."
"Baiklah ..." ucap Amee tanpa melawan.
"Amee, bisakah kau membantu kakak?" ucap kak Kai yang kini menjadi lebih serius.
__ADS_1
"Membantu soal apa, Kak?" tanya Amee begitu penasaran.
"Soal Zen." ucap kak Kai tiba-tiba yang membuat Amee sedikit terkejut. " Tolong kau ajak Zen bertemu dan berbincang mengenai masalahnya saat ini. Kakak khawatir dia akan melakukan hal tak terduga lagi." imbuhnya yang masih menatap lurus Danau Houhai di hadapannya itu.
Amee masih terdiam karena begitu bingung. Biasanya kak Kai selalu tidak memberikan ijin untuk bertemu dengan Zen, namun sekarang dia malah memintanya untuk menemui Zen dan menenangkannya.
"Apa kau bisa melakukannya, Amee? Orang yang paling dia dengar adalah kamu. Tolong lakukan untuk kebaikan Zen. Mulai sekarang kakak tidak akan pernah melarangmu untuk menemuinya lagi. Kalian bisa bersama lagi." ucap kak Kai begitu lirih namun dia segera tersenyum tipis.
Lagi-lagi Amee hanya bisa terdiam setelah mendengar ucapan dan permintaan dari kak Kai yang tidak seperti biasanya. Dan ini sungguh membuatnya sedikit bingung.
"Amee ..." alunan lembut dari kak Kai kini membuyarkan lamunan Amee yang daritadi membuatnya terdiam saja tanpa mengatakan sepatah kata apapun.
"Oh ... i-iya, Kak. Aku akan mencoba berbicara dengan Zen." ucap Amee sedikit tergagap.
"Hhm. Terima kasih. Mau mencoba naik perahu bersama?" ucap kak Kai yang terlihat begitu bersemangat kembali.
"Hhm. Boleh ..." Amee menjawab pelan disertai dengan anggukan pelan.
Kini kak Kai dan Amee mulai melenggang bersama dan mendekati danau itu. Setelah seseorang menyiapkan perahu untuk mereka, kak Kai segera melangkah memasuki perahu yang berukuran tak terlalu besar itu. Kak Kai mengulurkan tangannya untuk membantu Amee melangkah ke dalam perahu.
Seseorang mulai mendayung perahu untuk mereka, sementara kak Kai dan Amee terlihat begitu menikmati pemandang yang begitu memukau malam ini.
Lampu warna-warni yang menerangi sepanjang jalan Danau Houhai dan menerangi beberapa bangunan lainnya terlihat begitu indah saat disaksikan dari atas perahu. Keindahan ini terpantul juga di genangan air Danau Houhai.
...⚜⚜⚜...
__ADS_1
Seorang pemuda yang begitu tinggi dengan pakaian dan hodie serba hitam dan lengkap dengan memakai masker dan topi hitam terlihat mendatangi sebuah kepolisian di Beijing sore hari ini.
Setelah menunggu beberapa saat untuk menemui salah satu nara pidana, akhirnya nara pidana itu mulai menemuinya dan dikawal oleh salah satu petugas polisi. Kini mereka sudah duduk saling berhadapan dan hanya ada pembatas kaaca bening dan sedikit berlubang pada bagian wajah.
Sepasang mata kebiruan milik pemuda itu menyorot dengan begitu tajam menatap nara pidana berwajah tampan di hadapannya itu. Kini pemuda itu mulai menurunkan maskernya dan memperlihatkan wajah sinisnya.
"Untuk apa lagi kau datang kesini?!" ucap nara pidana berwajah tampan itu terlihat sedikit dingin.
"Lu Yuan! Bocah tengik ter-brengsek yang pernah aku temui selama ini!" geram pemuda bermata kebiruan itu. "Seharusnya aku benar-benar memberimu pelajaran saat itu ya hingga kau tak bisa menggerakkan kedua tangan dan kakimu sekaligus. Aku sungguh menyesal telah memberimu kesempatan saat itu!" imbuhnya dengan sinis.
Lu Yuan mengeraskan rahangnya dan sedikit menunduk untuk menghindari pemuda yang sedang duduk di seberangnya saat ini. Kedua tangannya mengepal dan meremas pakaiannya.
"Kenapa sekarang hanya bisa diam saja? Apa kau sudah tak punya nyali lagi untuk menghadapiku saat ini?" ucap pemuda bermata biru itu lagi.
"Terserah kau Zen mau berkata dan menilaiku bagaimana lagi ... aku benar-benar sudah hancur saat ini. Rasanya aku ingin mati saja ..." ucap Lu Yuan begitu lirih dan semakin meremas pakaiannya.
"Cckk ... kau pikir dengan mati semua akan berakhir begitu saja, Bocah? Hidup itu begitu berharga! Kau sungguh bodoh jika berniat untuk mengakhiri hidupmu! Meskipun aku sangat membenci sikapmu yang begitu buruk, namun aku tidak akan pernah memberikan saran yang buruk." ucap pemuda bernama Zen itu.
"Jika kau masih memiliki sebuah kesempatan, seharusnya kau menggunakan kesempatan itu dengan sebaik mungkin! Kehidupan yang selalu mewujudkan semua keinginanmu tanpa mengeluarkan keringat dan tanpa jerih payahmu sendiri telah membuatmu menjadi manusia yang begitu kejam, menghalakan segala cara untuk mewujudkan semua keinginanmu. Ingat, kamu tidak akan pernah sukses jika kamu selalu hidup seperti ini, mengandalkan kekuasaan kedua orang tuamu dan berorientasi pada reputasi dan sifat picikmu." ucap Zen yang sungguh membuat Lu Yuan begitu terkejut.
Benarkah dia adalah Li Zeyan? Bocah lemah yang bahkan hanya selalu mengandalkan dan bergantung kepada managernya itu? Benarkah dia bocah yang begitu lemah dan rapuh itu? Mengapa tiba-tiba dia menjadi seperti ini? Terlihat begitu cerdas dan kuat!
Batin Lu Yuan yang sedikit kebingungan melihat Zen yang sungguh berbeda dari Zen yang selama ini dia kenal.
...⚜⚜⚜...
__ADS_1