Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Paparazi


__ADS_3

"Mengapa kamu memesan makanan dan minuman tanpa menawariku terlebih dahulu? Dan kamu memesan semua itu seolah-olah memang kamu sudah mengetahui semua kesukaanku. Sebenarnya darimana kamu mengetahuinya? Makanan dan minuman kesukaanku ... bagaimana kamu mengetahui semuai itu, Li Zeyan?" tanya Chistal yang sudah dipenuhi dengan rasa penasaran.


"Uhm ... begini, Chistal. Sebenarnya ... sebenarnya aku sudah sedikit mendengar tentangmu dari tuan Kagami Jiro, Christal." jawab Zen mencari alasan. "Maaf ya jika terkesan tidak sopan karena tidak menawari kamu terlebih dahulu. Aku benar-benar sangat buruk dalam berkencan rupanya ..." gumam Zen begitu pelan dan sedikit memijat keningnya sendiri.


Mendengar ucapan dari Zen membuat Christal tertawa renyah dan membuatnya begitu manis dan menggemaskan.


"Tidak aku sangka, padahal kamu sangat keren saat bermain drama dan bisa berakting begitu romantis dan membuat meleleh setiap gadis. Namun Li Zeyan yang sebenarnya rupanya seperti ini ya. Tidak romantis sama sekali ..." celutuk Christal masih dengan tawa renyah.


Zen yang mendengarkan ucapan dari Christal kini membulatkan sepasang mata birunya dan mulai mengangkat kedua alis tegasnya menatap Christal dengan gemas.


"Kau sungguh ingin yang romantis, Christal? Aku bisa, tapi aku sedang menahannya! Kalau tidak, tuan Kagami Jiro akan mematahkan semua tulang-tulangku." sahut Zen terkekeh menggoda Christal.


"Tapi aku rela jika harus patah tulang, asalkan kamu bahagia. Bagaimana kamu mau adegan yang seperti drama apa? Never Say Good Bye? Never Ends? The Goddess Of War? Untouchable? Casanova In Love? Virtua Cop Police Detective? Atau kamu mau yang mana ayo sebutkan saja ..." Zen tersenyum menggoda Christal dan menyebutkan semua drama yang pernah dibintanginya selama ini ( Reader setia, dilarang komen ya ... karena kalian semua pasti tau semua judul itu. Ahaha ...)


Christal yang mulai membayangkan semua adegan romantis dari beberapa drama yang diperankan oleh Zen, seketika menjadi merona. Dan Zen yang melihat perubahan ekspresi wajah Christal seketika tertawa lepas begitu saja.


Namun beruntung Christal, karena tiba-tiba saja sudah ada dua orang pelayan laki-laki mulai datang dengan membawakan beberapa makanan yang sudah dipesan oleh Zen. Ada beberapa jenis steak dan makanan ringan lainnya.


Setelah mengantarkan beberapa makanan dan minuman itu, kedua pelayan laki-laki itu mulai undur diri krmbali dan meninggalkan mereka berdua.


"Christal, kamu suka steak kan?" tanya Zen basa-basi dan mulai menyodorkan sebuah hot plate panas yang sudah berisikan dengan sepotong daging yang disajikan dengan beberapa sayuran seperti wortel, brokoli, dan kentang.


"Hhm. Aku sangat suka. Bagaimana denganmu?" Christal berbalik bertanya dan mulai mengambil sebuah garpu dan pisau untuk mulai menikmati steak tersebut.


"Hhm. Aku juga sangat menyukainya. Namun sebenarnya ada yang lebih aku sukai sih ..." Zen juga mulai mengambil sebuah garpu dan pisau yang sudah disiapkan oleh pelayan.

__ADS_1


"Hhm. Apa itu?" tanya Christal yang mulai memotong daging itu menjadi beberapa potongam yang kecil.


"Aku suka sekali masakan buatan ibuku. Dan terkadang aku sangat rindu masakan ibuku, Christal." jawab Zen yang tak terlihat sedih, atau lebih tepatnya sebenarnya Zen sedang menutupi kesedihannya karena mengingat sang ibu.


"Oh ... iya ... nasib kita sama. Ibuku juga tiada saat ini ..." sahut Christal dengan senyuman yang semakin memudar.


Zen yang menyadari jika Christal mulai bersedih kini segera mengjiburnya kembali.


"Uhm ... Christal, ayo segera habiskan makananmu. Nanti kalau sudah dingin akan berkurang kelezatannya."


"Uhm. Iya ... ayo makan!" sahut Christal mulai bersemangat kembali dan mulai menyantap makanan itu.


Setelah menghabiskan makan siangnya, mereka mulai berjalan-jalan kembali menyusuri pantai. Mereka berdua terlihat begitu menikmati suasana pantai hingga tak mereka sadari rupanya ada seorang gadis yang mulai memotret mereka berdua.


CEKREEKK ...


CEKREEKK ...


"Aku tidak menyangka, ternyata Li Zeyan memiliki seorang kekasih. Dia datang jauh-jauh ke Jepang untuk menemui kekasihnya rupanya ya. Wah ... berita besar! Hehe ..." gumam seorang gadis yang kembali melihat hasil fotonya saat mengambil foto Zen dan Christal.


Saat gadis itu berbalik masih dengan melihat ponselnya, tiba-tiba saja dia menabrak seseorang dengan cukup keras dan membuat ponselnya terjatuh.


"Akhh ..." gadis itu memegangi keningnya lalu mulai mengambil kembali ponselnya yang terjatuh di atas pasir putih.


Setelah mengambil ponselnya, gadis itu mulai mendongak menatap orang yang sedang ditabaraknya. Terlihat seorang pria dewasa dengan tubuh kekar dan kumis super tebal dan memiliki rambut sedikit gondrong dan diikat ke belakang.

__ADS_1


Pria dewasa itu menunduk lalumenyeringai menatap gadis itu dan berkacak pinggang. Wajah sangarnya dan badannya yang begitu tinggi, besar dan kekar membuat gadis itu mengkerut dan ketakutan saat menatapnya.


"Paman siapa? Jangan menculikku! Aku hanya anak orang biasa saja ..." ucap gadis itu begitu ketakutan. "Orang tuaku tak akan memiliki cukup banyak uang untuk menebusku! Lebih baik paman mencari target lain saja ..."


"Hapus semua foto yang sudah kamu ambil jika mau terlepas dariku, Bocah!" ucap pria berwajah sangar itu menandaskan dengan begitu tegas


Gadis itu membulatkan sepasang matanya mendengar ucapan dari pria berwajah sangar yang rupanya adalah salah satu pengawal keluarga besar Kagami.


Awalnya pengawal Yunxi yang mau membereskan gadis itu, namun pengawal keluarga besar Kagami itu menawarkan diri begitu saja, hingga akhirnya dialah yang akan menangani paparazi kecil itu.


Karena kalau dilihat soal kesangaran, pengawal-pengawal keluarga besar Kagami-lah yang lebih sangar jika dibanding dengan pengawal-pengawal Zen. Pengawal Zen masih terlihat tampan dan muda, dan tentunya kurang menakutkan. Meskipun sebenarnya bela diri para pengawal Zen juga sudah tidak diragukan lagi.


"Aku tidak mau menghapusnya!" gadis itu menyauti dengan berani dan memeluk ponselnya dengan erat, khawatir jika ponselnya akan direbut oleh paman yang menurutnya sangat sangar itu.


"Hapus atau aku sendiri yang akan menghancurkan ponsel mahalmu itu, Bocah pembuat masalah!" kali ini pengawal itu mulai meninggikan intonasinya satu oktaf dan rait wajahnya terlihat semakin menyeramkan dan begitu kelam.


"Aku tidak mau!" ucap gadis itu kekeh dan berusaha untuk segera melarikan diri.


Namun pengawal itu segera menarik kerah pakaian gadis itu sisi belakang dan membuatnya tertahan dan tidak bisa melarikan diri.


"Aku sudah mengingatkanmu baik-baik, maka jangan salahkan aku jika aku memakai cara yang kasar!" pengawal itu merebut ponsel mewah sang gadis dan segera menghempaskan dengan kekuatan supernya, hingga ponsel itu akhirnya mulai tercebur di dalam lautan luas itu.


Dan jarak lemparnya sunggu fantastis! Dan tentu saja gadis itu tak akan bisa mencari dan menemukan ponsel itu.


"Hwaaa ..." gadis itu menangis seketika dan memandangi lautan luas itu dengan wajahnya yang sudah beruraian dengan air mata.

__ADS_1


Sebelum pergi meninggalkan gadis itu, tak lupa pengawal itu memberikan beberapa lembar uang untuk ganti rugi yang nilainya lebih dari cukup.


...⚜⚜⚜...


__ADS_2