Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Pertemuan Pertama Dengan Ibu Kak Kai


__ADS_3

"Ah ... kamu harus lebih bersabar. Beri semangat untuknya terus. Kalau bisa kamu harus selalu menemaninya ... kebersamaan itu sangat berharga. Karena kenangan dan hal terindah bersama orang yang kita sayangi akan selalu kita rindukan kelak." ucap Zen tanpa sadar dan tiba-tiba juga teringat dengan sosok ibunya yang sudah meninggal 5 tahun yang lalu.


Kak Kai yang duduk di seberang Zen sempat mengkerutkan keningnya menatap Zen, namun kemudian dia tersenyum hangat.


"Kau benar sekali, Zen. Namun kakak tidak bisa selalu berada disini untuk menjaga dan menemani ibu. Karena kakak masih punya tanggung jawab terhadapmu."


"Kenapa tidak diajak ke Beijing saja?" usul Zen tiba-tiba.


"Sudah sering kakak mengajak ibu untuk pergi ke kota. Namun ibu bersikeras untuk tetap tinggal disini. Kembali ke kota itu hanya akan membuatnya bersedih. Dan ... sebenarnya saat itu ibu juga melarangku dengan keras agar tidak pergi ke kota." jawab kak Kai yang terdengar cukup pelan.


"Memang ada apa? Apa sesuatu yang buruk telah terjadi?" tanya Zen ingin tau.


Kak Kai terdiam menerawang beberapa saat, lalu tersenyum samar.


"Hhm. Kenangan pahit di masa lalu." jawab kak Kai pelan. "Sudahlah. Mengapa malah membahas ini ... kau pasti sangat lelah setelah menempuh perjalanan jauh. Setelah mandi dan makan malam segera istirahatlah!" ucap kak Kai begitu hangat.


"Tapi aku belum bertemu ibu kakak ..."


"Dia sudah tertidur. Besok saja bertemu dengannya."


"Ehm. Baiklah ..."


"Mereka sudah selesai." ucap kak Kai sambil melihat keempat pengawal yang mulai berjalan mendekat. "Mandilah dulu. Bibi sudah menyiapkan makan malam untuk kalian."


"Hhm ..." kini Zen segera bangkit dan mulai berjalan ke kamar mandi.


Keempat pengawal itu mulai bergabung bersama kak Kai dengan wajah sedikit menunduk karena merasa was-was dan takut akan mendapatkan omelan dari tuannya.


"Terima kasih sudah selalu menjaga Zen saat aku tidak ada." ucap kak Kai dengan ramah dan malah membuat terkejut keempat pengawalnya itu.


"Tidak perlu berterima kasih, Tuan. Ini adalah sudah menjadi kewajiban kami." jawab Vann tanpa mengurangi rasa hormat.


"Benar. Kami akan selalu melindungi tuan Zen." imbuh Yunxi.


"Benar sekali! Bahkan kami akan mempertaruhkan nyawa kami untuk melindunginya ..." imbuh Jin Heng.

__ADS_1


"Iya. Kami akan selalu menjaga tuan Zen." imbuh Nokto.


Kak Kai menatap satu persatu para pengawal itu lalu tersenyum samar.


"Kalian sudah bekerja keras dengan baik selama ini. Terima kasih." ucap kak Kai dengan tulus.


"Kalian bersiaplah. Kita akan makan malam bersama. Bibi sudah menyiapkan makan malam untuk kita."


"Baik, Tuan." sahut mereka bersamaan.


...⚜⚜⚜...


Setelah menikmati makan malam bersama Zen segera beristirahat dan tertidur begitu pulas. Yeap, mungkin dia terlalu lelah setelah melakukan perjalanan yang cukup panjang hari ini.


Tiba-tiba terdengar lantunan lagu yang berasal dari ponsel Zen. Kak Kai yang sedang yang masih terjaga meraih ponsel itu dan mengkerutkan keningnya setelah melihat nama si pemanggil. Terlihat nama si pemanggil adalahYukimura.


"Yukimura? Siapa dia?" gumam kak Kai pelan lalu perlahan dia mulai menggeser tombol hijau dan mulai menempelkan benda pipih itu pada telinganya.


"Hai, Jiro! Mengapa tidak mengangkat panggilanku seharian?! Sibuk syuting kah?" terdengar suara yang begitu besar seorang pria dari seberang.


"Ahhh ... masudku Zen! Dimana Zen? Dan siapa ini?" ucap Yukimura cepat-cepat.


"Ini managernya. Zen sedang beristirahat. Kalau boleh tau ini siapa dan ada keperluan apa dengan Zen? Akan aku sampaikan padanya saat dia bangun." jawab kak Kai seadanya.


"Oh. Maaf sudah menghubungi terlalu larut. Aku akan menghubungi besok saja. Selamat malam dan selamat beristirahat."


Tut ... tut ... tut ...


Ternyata Yukimura sudah mematikan panggilan itu begitu saja.


"Yukimura??" kak Kai bergumam pelan dan berusaha untuk mengingat sesuatu. "Sepertinya nama itu tidak asing ... aku pernah mendengar nama itu ... dan mengapa dia memanggil Zen dengan nama Jiro?"


Setelah beberapa saat akhirnya kak Kai meletakkan kembali ponsel itu di atas meja dan segera merebahkan tubuhnya di sebelah Zen.


Yeap, karena rumah masa kecil kak Kai termasuk rumah yang mungil dan hanya memiliki beberapa kamar saja. Akhirnya Zen tidur sekamar dengan kak Kai di kamar tamu. Sementara keempat pengawalnya berada di dalam satu kamar. Dan ibu kak Kai serta bibinya di dalam kamar utama.

__ADS_1


...⚜⚜⚜...


"Selamat pagi ..." pagi-pagi seorang wanita paruh baya sudah menyapa Zen yang baru saja keluar dari kamarnya seorang diri.


Entah ... pagi ini saat Zen terbangun, tiba-tiba saja kak Kai sudah tidak ada di kamar lagi. Mungkin dia sudah bangun lebih awal dan pergi ke suatu tempat.


"Uhm ... selamat pagi ..." sahut Zen sedikit kebingungan karena belum mengenali wanita itu.


"Kamu pasti Zen. Tampan sekali ternyata ya ..." ucap wanita paruh baya itu dengan senyum hangat menatap Zen.


"Uhm ... terima kasih. Apa bibi adalah ibu kak Kai?"


"Hhm. Kamu benar sekali. Apakah selama ini Kai bekerja untukmu dengan baik? Dia tidak sering menyusahkanmu bukan?" tanya ibu kak Kai sangat ingin tau dan begitu bersemangat.


"Hhm. Kak Kai adalah orang yang baik. Dia selalu menjagaku dengan baik seperti menjaga adiknya sendiri, Bibi." Zen menyauti dengan ramah dan tentu saja ini hanya akting sebagai seorang Li Zeyan. "Bagaimana kondisi bibi? Aku dengar kemarin sempat dirawat di rumah sakit?"


"Sudah membaik kok. Bibi hanya butuh istirahat saja ..." jawab ibu kak Kai dengan ramah.


Wanita paruh baya itu tersenyum begitu hangat dan masih menatap Zen dengan lekat. Bahkan sebenarnya dia menatap Zen cukup lama. Wajahnya yang sudah sedikit berkeriput namun masih terlihat begitu ayu secara alami menggambarkan kehangatan dan terlihat seperti sebuah kerinduan. Sepasang matanya bahkan bergetar dan sedikit berkaca-kaca saat melihat Zen.


Mengapa Zen sangat mirip dengan seseorang yang sangat aku kenal ya? Wah wah ... bisa dibilang sangat mirip. Apalagi saat anak ini sedang tersenyum seperti ini. Sangat mirip. Mengapa aku merasa Zen adalah seperti versi muda dari seorang Li Zhi. Mengapa mereka begitu mirip?


Batin wanita paruh baya itu tanpa sadar sudah tediam cukup lama menatap Zen.


"Bibi. Apa ada sesuatu di wajahku?" tanya Zen membuyarkan lamunan ibu kak Kai.


"Oh ... tidak. Bibi hanya sedang teringat dengan seseorang. Oh iya apa kau sudah mandi?"


"Iya. Baru saja aku selesai mandi."


"Bersiaplah untuk sarapan bersama. Bibi akan mencari Kai dulu karena sepertinya dia sedang berjalan-jalan di sekitar sini."


"Oh. Kalau begitu biar aku saja yang mencari dan menyusul kak Kai. Bibi tunggu di rumah saja." ucap Zen cepat-cepat.


"Apa tidak apa-apa? Sudah ... tidak apa-apa biar bibi saja yang menyusulnya."

__ADS_1


"Tidak. Biarkan aku saja, Bibi. Aku juga sedang ingin mencari udara segar kok. Desa Nahui Guizhou sungguh indah. Aku ingin melihat-lihat sebentar." ucap Zen kekeh dan akhirnya wanita paruh baya itu mengininkan Zen.


__ADS_2