
Kagami Jiro mulai mengemudikan mobilnya menuju sebuah tempat dan merupakan kota terpencil yang terletak di kaki barat daya gunung Fuji. Kota Fujinomiya, kota yang sedang digunakan untuk penyekapan Christal saat ini.
Sebuah kota yang merupakan rumah bagi Kuil Sengen. Kuil yang didedikasikan untuk Gunung Fuji dengan harapan gunung api tidak akan melepaskan letusan yang merusak.
Setelah melakukan perjalanan yang cukup panjang, akhirnya Kagami Jiro mulai tiba di kota itu pukul 5 Pm. Kota ini terasa begitu sejuk ketika musim dingin tiba. Yeap, kota Fujinomiya selalu diselimuti oleh iklim maritim yang begitu hangat. Dimana di dalamnya terdapat musim panas yang terik dan musim dingin yang sejuk.
Kagami Jiro terus saja mengemudikan mobilnya dan mulai memasuki sebuah jalanan yang lebih kecil dan sepi. Jalanannya adalah sebuah turunan yang landai. Tak banyak orang maupun mobil berlalu lalang disini. Sungguh suasananya begitu sepi dan mencekam! Atau mungkin ini memang adalah salah satu area dari si penculik yang mereka curigai adalah Death Eyes.
Pepohonan yang Kagami Jiro lihat di sepanjang perjalanan tumbuh tinggi dan besar dengan bertabur dengan kilauan salju yang sudah mengendap di sisi-sisinya menjadikan hawa terasa begitu dingin dan membeku.
Meski matahari sudah meninggi dan bersembunyi dibalik kabut putih karena tertutup salju, namun masih ada cahayanya yang membuat daun dari pepohonan meredam cahaya itu dan menciptakan bayangan yang cantik di hutan.
Kagami Jiro mulai mengedarkan pandangannya dan masih mengawasi sekitarnya. Hanya ada alam dan pepohonan yang berada di sekitarnya yamg dihiasi oleh kilauan salju. Namun tak menutup kemungkinan jika dia sedang tidak diawasi oleh beberapa orang di sekitarnya. Yeap, tentu saja Kagami Jiro pasti sedang diawasi oleh beberapa orang saat ini!
Hingga akhirnya Kagami Jiro mulai menemukan beberapa pria dengan pakaian panjang berwarna hitam dipadankan dengan memakai celana sedikit longgar dan bercorak army bersembunyi di beberapa titik.
Para berandalan itu juga memakai masker dengan corak tengkorak dengan membawa masing-masing senjata laras panjang. Mereka berjaga dan bersembunyi di balik beberapa pohon di beberapa titik tertentu. Dan salah satu dari mereka berada di atas pohon.
"Ada 3 orang pria penjaga disini dengan pakaian yang sama! Mereka ada di arah jam 1 sedang bersembuyi di balik sebuah pohon matsu ( pohon pinus Jepang), lalu salah satu dari mereka di arah jam 4 di balik pohon hinoki ( pohon cemara ), dan terakhir di arah jam 9, seorang pria sedang berada di atas sebuah pohon." ucap Kagami Jiro memberikan sedikit gambaran keadaan sekitar untuk Zen.
__ADS_1
"Yeap! Aku paham!" sahut Zen yang masih bersembunyi di bagasi belakang mobil.
Tiba-tiba saja ponsel Kagami Jiro kembali berdering dan rupanya sebuah nomor tak dikenal kembali menghubunginya. Kagami Jiro segera mengangkat panggilan itu dengan cepat dan dia sengaja mengaktifkan loud speaker agar Zen yang sedang berada di belakang juga mendengar percakapan mereka.
"Hallo ..." ucap Kagami Jiro setelah menempelkan benda pipih itu di dekat telinganya.
"Tuan Kagami Jiro. Turunlah dan berjalan sedikit ke depan, dan tuan akan melihat sebuah air terjun Shiraito no Taki. Di dekat sana akan ada sebuah danau kecil. Dari danau itu akan sebuah jalan setapak yang mengarah ke hutan. Ikuti jalan itu dan tuan akan menemukan sebuah rumah tua tunggal pada ujung jalan. Masuklah dan kau akan segera bertemu dengan adik tersayangmu." ucap pria penculik itu menjelaskan.
"Baiklah! Aku akan segera tiba disana!" sahut Kagami Jiro dengan suara besarnya yang terdengar begitu pelan namun tegas.
"Baiklah. Sampai jumpa kembali ..." sebuah tawa kecil terdengar sebelum pria penculik itu mengakhiri panggilan itu. Terdengar begitu menyebalkan dan membuat Zen kembali menahan emosinya.
Yeap, Zen menyarankan Kagami Jiro untuk memasang sebuah perangkat yang sering digunakan oleh Doragonshadou untuk menyadap ponsel dengan menggunakan Sting Ray. Sebuah perangkat khusus yang dapat berfungsi layaknya base tranciver system (BTS) palsu. Dengan kata lain, Sting Ray bisa menangkap frekuensi dari ponsel yang ada di sekitarnya.
Kagami Jiro mulai menyimpan ponselnya kembali dan sengaja menaruhnya di saku depan pakaiannya agar semua percakapan lebih terdengar dengan begitu jelas oleh alat penyadap suara itu.
"Hhm. Pergilah! Dan aku akan segera menyusulmu setelah membereskan mereka, Bocah!" Zen menyauti dengan begitu pelan.
"Dipahami, Tuan!" sahut Kagami Jiro dengan mantap lalu mulai membuka pintu dari mobilnya dan mulai turun dari mobil itu.
__ADS_1
Ketiga pria pengawas itu masih terlihat mengawasi Kagami Jiro dari tempatnya masing-masing.
Kagami Jiro mulai melenggang menyusuri sebuah jalan setapak yang sedikit menanjak dan dipenuhi dengan batu kerikil dan rerumputan. Setelah berjalan kurang lebih 100 meter, dibalik pepohonan mulai terlihat sebuah air terjun Shiraito no Taki.
Sebuah air terjun yang terbentuk dari lelehan bawah tanah es dari Gunung Fuji. Dengan bentuk seperti bahtera, banyak terdapat air terjun kecil lainnya di sekitarnya. Disekitarnya juga terdapat beberapa bekas toko cinderamata dan restoran yang sudah lama tak terpakai.
Kagami Jiro mulai melenggang kembali hingga akhirnya dia menemukan sebuah danau kecil. Dia melihat seorang pria penjaga lagi di balik sebuah tanaman Shibazakura sedang mengawasinya.
"Danau, arah jam 3 di balik tanaman Shibarazakura." ucap Kagami Jiro mendekatkan ke arah ponselnya dengan pelan sekali dan seperti sedang berbisik.
Sebuah jalan setapak mulai dilaluinya kembali dengan langkahnya yang lebar dan tegap, hanya saja lebih berirama dan cukup santai. Dan kali ini jalan setapak ini mengarah ke sebuah hutan yang dipenuhi dengan pohon pinus.
Kagami Jiro terus melenggang menyusuri jalan setapak itu, hingga akhirnya dia mulai melihat sebuah rumah tua tunggal yang berada di penghujung jalan setapak itu.
Rumah tua bergaya Eropa klasik yang masih berdiri dengan kokoh itu terlihat begitu gelap dan mencekam. Mungkin akan lebih mirip seperti rumah angker yang memberikan kesan horor dan begitu menakutkan.
Dan tentu saja suasana saat ini, ditambah lagi dengan hutan pinus yang begitu gelap karena cahaya matahari yang terhalang masuk, dan hawa yang begitu dingin dan membuat membeku, sukses membuat jiwa Li Zeyan sedikit bergidik ngeri.
Namun dia kembali teringat oleh sosok Christal yang saat ini sedang berada dalam keadaan bahaya dan tentunya sedang membutuhkannya saat ini.
__ADS_1
"Christal, bertahanlah! Aku akan datang untukmu!" gumam Kagami Jiro pelan dan tanpa sadar, sehingga ucapan itu terdengar oleh Zen yang masih bersembunyi di dalam mobil.