Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Melawan Pengawal Sendiri


__ADS_3

"Kalau aku jujur padamu, pasti kau akan menganggapku gila." ucap Zen sedikit lembut dan tersenyum samar. "Jadi ... aku ini adalah ..."


"Siapa dia, Nyonya?" potong seorang pengawal rumah yang tiba-tiba mendatangi mereka berdua dengan sedikit menampakkan raut wajah waspada. Pengawal kebulean itu segera berdiri di hadapan Yuna karena takut Zen adalah orang asing yang berbahaya. "Apa Nyonya baik-baik saja?" imbuhnya sambil sedikit menoleh ke arah Yuna yang berdiri di belakangnya.


"Aku baik-baik saja, Igor! Tapi bocah ini sudah berani kurang ajar terhadapku!" Yuna menyauti dengan begitu tegas. Sepasang matanya menyorot dan menatap Zen dengan begitu tajam.


"Yuna ... Kau salah paham! Bukan seperti itu ..." sanggah Zen berusaha membela diri.


"Beraninya kau memanggil Nyonya dengan nama begitu saja, Bocah tiang listrik!" pengawal itu menggeram dan bahkan sedikit berteriak.


"Beraninya kau berteriak kepadaku, Sialan!" tandas Zen tak terima. Zen masih merasa kalau dirinya adalah tuan rumah disini. Dan Igor adalah salah satu bawahannya yang bekerja sebagai pengawal dari keluarga Kagami.


"Memang kau pikir kau ini siapa, Bocah tiang listrik?!" timpal pengawal yang bernama Igor itu yang terlihat sedikit kesal.


"Tentu saja aku aku adalah Bossmu!" sahut Zen begitu dipenuhi oleh amarah yang membara. Sepasang matanya menunjukkan bahwa dia sangat ingin membantai seseorang saat ini.


"Mimpi kau, Bocah! Sejak kapan kau jadi boss-ku?" Igor segera melayangkan tinjunya karena emosinya kini juga sudah terpancing.


Zen menunduk dan segera melayangkan super punchnya pada perut Igor.


BBUUAAGGHH ...


Tubuh Igor terhentak seketika lalu Zen menarik kerah baju pengawal yang memiliki postur tubuh yang sedikit lebih besar dan kekar dari Zen itu. Kemudian dia menghempaskan tubuh Igor ke arah timbunan sampah.


BBRRUUGGHH ...


Yuna yang menyaksikan semua itu seketika matanya membelalak begitu saja. Bahkan mulutnya terbuka cukup lebar.


"Siapa sebenarnya kamu, Bocah?!" ucap Yuna mulai waspada.


Selama ini tidak mudah untuk mereka mengalahkan pengawalnya. Karena pengawal-pengawal keluarga Kagami adalah sangat kuat dan begitu terampil. Tentu saja! Kagami Jiro tidak akan sembarangan merekrut mereka. Banyak berbagai tes yang sudah mereka lalui.


"Aku adalah suamimu ..." ucap Zen yang kini mulai berjalan mendekati Yuna.


"Jangan mendekat atau aku yang akan menghabisimu!" ancam Yuna dengan sorotan matanya yang begitu tajam. "Dan satu hal lagi ... suamiku itu bukan seorang pria cantik! Dia sangat macho, tegas dan berwibawa!"

__ADS_1


Seketika Zen menghentikkan langkah kakinya dan sedikit mendengus lalu tersenyum samar. Dia memegangi keningnya karena merasa sedikit pusing. Dia juga merasa sedikit kesal namun juga merasa gemas melihat tingkah istrinya.


"Bolehkah aku bertemu dengan si kembar?" tanya Zen akhirnya.


"Kau seorang penguntit ya?! Mengapa begitu banyak mengetahui tentang keluargaku?! Bahkan aku saja tidak mengenalmu!" ucap Yuna begitu menggelegar.


"Tidak, Sayang ..."


"Kau bilang apa barusan?! Sayang?" hardik Yuna mulai emosi tingkat tinggi.


"Bukan ... bukan ... tenanglah dulu! Kita bisa bicara baik-baik. Mari masuk ke dalam bersama dulu ..."


"Dan sekarang seorang pria asing sedang mengajakku untuk pergi bersama ke rumahku sendiri?" ucap Yuna dengan nada tinggi. "Sekarang hadapi aku dan akan kubuat kau segera sadar dari mimpimu!"


"Sayang ... tunggu ..."


"Kau sungguh tak tau malu ya!"


Kini Yuna bersiap untuk menyerang Zen. Wanita cantik itu kini memasang kuda-kuda. Dia mulai melayangkan tinju demi tinju untuk mencapai bagian wajah dan tubuh Zen. Namun Zen selalu saja menghindari tanpa melawan serangan dari Yuna sedikitpun.


"Diam dan jangan pernah meremehkan aku!" hardik Yuna yang kini melayangkan tendangannya.


Masih sama, lagi-lagi Zen hanya menghindarinya saja. Hingga akhirnya Zen mengunci tubuh Yuna dengan memeluknya dari belakang.


Yuna berusaha untuk melepaskan diri dari dekapan Zen, namun sekuat apapun dia berusaha, tetap saja dia tidak bisa terlepas. Padahal Zen hanya mengunci tubuh Yuna tanpa mengeluarkan keahliannya sama sekali. Dia memeluknya dengan begitu santai.


"Lepaskan aku, Bocah tengik! Beraninya kau menyentuhku!" Yuna masih berusaha untuk melepaskan diri.


"Dengarkan aku, Yuna ... aku tidak datang untuk membuat masalah. Aku bukan pria jahat ..."


"Seorang pria asing dan aneh tiba-tiba datang menemuiku dan memelukku ... bahkan berani memanggilku sayang. Dan kau masih bilang itu bukan kejahatan?! Mati saja, Kau!" kini Yuna menggigit pergelangan tangan Zen dengan sekuat tenaga.


Hingga akhirnya Zen melepaskan Yuna karena tangannya mulai berdarah.


Mampus! Kai akan membunuhku jika merusak tubuh bocah ini!!

__ADS_1


Batin Zen yang sedang menatap tangannya yang kini berdarah.


Tiba-tiba beberapa penggawal mulai datang dari arah dalam rumah. Mereka ada bertiga dan mulai menghampiri Yuna dan Zen.


"Anda baik-baik saja, Nyonya?" tanya salah satu pengawal kepada Yuna.


"Aku baik-baik saja! Sekarang beri pelajaran bocah kurang ajar ini dulu! Aku akan masuk ke dalam!" ucap Yuna lalu mulai melengang meninggalkan mereka semua.


"Haishh ... Yuna! Tunggu!" sergah Zen, namun Yuna tak menghiraukan teriakannya kali ini. "Yuna. Aku akan menemuimu kembali besok!" imbuh Zen berteriak.


"Jangan kurang ajar kepada Nyonya! Atau aku jamin hidupmu tidak akan lama lagi!" tandas seorang pengawal rumah keluarga Kagami.


"Aku juga tidak akan menjamin hidup kalian bisa lebih lama lagi jika kalian bersikeras melawanku!" tandas Zen dengan tajam.


"Dasar bocah ingusan!" geram pengawal yang lainnya lagi yang mulai menyerang Zen dari sisi kanan.


BBUUAAKK ...


Dengan santai Zen menghantam wajah pengawal itu dengan siku kanannya tanpa menatapnya sama sekali.


Seorang pengawal lainnya mulai menyerang dari sisi depan. Dengan santai Zen hanya sedikit memiringkan kepalanya ke kanan untuk menghindar, lalu menyikutnya dengan lengan kiri.


Seorang pengawal lagi berusaha menyerang dari sisi kiri Zen. Zen dengan cepat sedikit berputar menghadapnya lalu menendang perut pengawal itu dan membuatnya terjatuh begitu saja.


"Sudah cukup! Aku tak mau banyak melukai kalian!" tandas Zen dengan tegas. "Sekarang aku harus segera kembali dulu! Jaga keluarga Kagami baik-baik! Dan perbaiki cara bertarung kalian lagi!" ucap Zen dengan begitu tegas lalu dia segera berbalik dan melambaikan tangannya. "Ja matte ne (sampai jumpa)"


Ketiga pengawal itu hanya menatap punggung Zen yang berjalan semakin menjauh dengan tatapan begitu kebingungan.


"Siapa bocah tengik itu?" tanya salah satu pengawal.


"Entahlah. Tapi sepertinya wajahnya begitu familiar." sahut pengawal yang lainnya lagi.


"Benar sekali. Rasanya aku pernah melihat dia ... Tapi dimana ya? Hmm ..." pengawal yang satu lagi menyauti.


"Kita sungguh memalukan sekali! Kalah telak menghadapi satu bocah saja! Haishhh ... Tuan Jiro pasti akan sangat marah jika mengetahui semua ini! Terlebih istrinya sedang digoda ..." ucap pengawal yang satunya.

__ADS_1


...⚜⚜⚜...


__ADS_2