
Di sebuah gedung bekas perusahaan perhiasan yang sudah tak terpakai yang berlokasi di dekat stadion Fengtai, distrik Fengtai, terlihat seorang pemuda yang terduduk di atas sebuah kursi kayu dengan posisi yang masih terikat. Mulutnya juga dibungkam.
Sementara tak jauh darinya, juga ada seorang pria paruh baya yang juga terduduk di atas kursi dengan keadaan terikat. Pria paruh baya itu terlihat masih belum sadarkan diri.
Sementara pemuda yang sedang terikat itu kini mulai membuka matanya kembali. Dia mulai menebarkan pandangannya untuk mengamati sekitarnya dan mencari tau sesuatu.
Sial! Mengapa aku bisa lengah begitu saja. Bahkan dengan sekali pukulan mereka membuatku pingsan dengan memukul tengkukku. Kelengahanku sangat mempermudahkan pergerakan mereka?! Ckk, Jiro-Jiro! Tingkat kewaspadaanmu sungguh menurun akhir-akhir ini. Apakah karena aku yang memakai tubuh bocah ini. Sial!!
Batin Zen yang mulai merasa kesal dengan dirinya sendiri dan berusaha untuk melepas ikatan tali itu.
Beberapa saat mulai terlihat 3 orang pria mulai memasuki ruangan yang cukup pengap dan kotor ini. Ternyata mereka adalah Luo Yan dan kedua anak buahnya. Mereka bertiga melenggang dengan diiringi tawa canda dan sesekali meneguk baijiu langsung dari botol yang sudah mereka tenteng.
Luo Yan yang menyadari Zen sudah sadar, kini mulai berjalan menghampirinya dan membuka penutup mulut Zen. Sepasang mata kebiruan itu masih menatap tajam Luo Yan seakan sudah bersiap untuk menerkamnya.
Zen yang sudah berhasil melepas ikatan tangannya masih berpura-pura seakan masih terikat. Apakah kalian bingung bagaimana cara Zen melepaskan ikatan tali itu? Tidak perlu bingung, karena Kagami Jiro adalah orang yang begitu kuat. Meskipun diborgol-pun, Kagami Jiro akan bisa melepaskan diri dan merusak borgol itu dengan begitu mudahnya. Karena kekuatan yang dimiliki oleh seorang Kagami Jiro begitu luar biasa!
"Pria tua!! Kau mau apa lagi sekarang? Mengapa tiba-tiba menculikku seperti ini, hah?? Bahkan kau sampai melibatkan kakek Li Feng juga. Sebenarnya apa maumu dan apa tujuanmu?!" tanya Zen sudah tak sabaran dan terlihat begitu emosi.
"Kau dan Li Feng pantas mendapatkan semua ini! Aku akan melenyapkan kalian berdua malam ini!" Luo Yan menyauti dengan begitu tajam dan auranya sungguh menakutkan.
"Memang siapa kau? Aku bahkan tidak mengenalmu, Si tua!!" timpal Zen dengan begitu muak.
"Benar-benar tidak punya sopan santun ya kau, Bocah!" ucap Luo Yan mulai semakin emosi.
"Cckk ... orang sepertimu mana pantas dihormati! Mengapa harus bersikap sopan di hadapanmu?!" sahut Zen seenak jidatnya sendiiri.
__ADS_1
"Dasar bocak tengik tak punya aturan dan etika sopan santun! Kau sangat berbeda dengan Luo Kai! Padahal kau tumbuh di dalam keluarga berada, namun sopan santunmu nol besar! Lihatlah Luo Kai, meskipun dibesarkan tanpa kehangatan seorang ayah dan harta melimpah, namun dia begitu memiliki sopan santun dan etika. Memang benar ya, anak dari perempuan mana juga akan mempengaruhi. Benar-benar rusak ...!"
"Mulutmu yang rusak! Dasar pria tua tak tau diri!" timpal Zen sambil menghantamkan kepalanya dengan keras untuk menghantam kepala Luo Yan.
"Arrghh ... bocah gila!! Selain mulutmu pedas, kau kasar ya ..." Luo Yan begitu kesal dan berjalan mendekati Zen lagi lalu melayangkan tinjunya untuk memberikan hantaman pada wajah Zen, namun dengan cepat Zen menahannya dengan tangan kirinya.
Luo Yan terlihat begitu terkejut dan seakan tak percaya dengan apa yang sudah dia lihat, "Ba-bagaimana mungkin kau bisa melepaskan ikatan tali itu begitu saja."
"Ini belum seberapa, Si tua! Bahkan aku bisa mengalahkanmu dengan mata terpejam. Kau jangan berani bermain-main denganku. Temperamenku sungguh tidak baik. Dan aku ini berdarah dingin." kini Zen mulai melepaskan ikatan pada talinya dengan sekali peregangan lalu bangkit dan berdiri berhadapan dengan Luo Yan dengan berkacak pinggang dan memperlihatkan ekspresi wajah yang menantang.
Luo Yan dibuat semakin menganga karena aksi keren dan begitu kuat oleh pemuda yang sedang berada di hadapannya saat ini.
"Sial! Percaya diri sekali bocah ini!!" Luo Yan kembali melayangkan tendangannya, namun Zen segera menunduk dan menghindarinya.
Kini kedua anak buahnya mulai berdatangan dan bersiap untuk menyerang Zen. Salah satu dari mereka melmparkan botol baijiu kosong ke arah Zen. Namun Zen dengan gerakan yang begitu gesit bisa menghindarinya dengan baik.
Selanjutnya Zen menendang sebuah tong besar ke arah kedua pria itu hingga menabrak keduanya dan membuat mereka terjatuh menabrak beberapa barang.
BRRAKK ...
Lalu Zen mulai mengambil sebuah benda berat yang berada tak jauh dari dirinya lalu menghempaskan ke arah lampu besar di atas yang masih tergantung namun sudah tidak terlalu kuat lagi.
Rantai lampu raksasa itu mulai berlepas hingga akhirnya terjatuh menimpa kedua bawahan dari Luo Yan.
"Aarggg ...." erang mereka berdua yang sepertinya terluka karena beberapa desain tajam dari lampu itu yang menusuk beberapa anggota tubuh mereka.
__ADS_1
Kakek Li Feng mulai sadar dan membuka matanya. Dia melihat ketiga preman yang sudah terkapar tak berdaya itu dengan begitu terkejut. Karena di tempat ini hanya ada dirinya, Zen dan ketiga preman itu. Dan tentu saja kakek Li Feng tidak mengetahui jika Zen yang sekarang sangat ahli bela diri.
Zen segera bergegas untuk melepaskan bungkaman dan ikatan tali yang mengikat tangan dan kali kakek Li Feng.
"Zen ... siapa yang mengalahkan mereka semua? Apakah itu kamu?" tanya kakek Li Feng setelah dia terbangun dan menyadari semua preman itu kini telah tumbang.
"Tentu saja bukan, Kakek. Aku tidak sekuat itu. Aku hanya bisa berakting dan menyanyi, Kakek. Bukankah kakek tau semua itu? Ahahaha ..." Zen tertawa dan menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
"Benar juga ya. Kau mana bisa berkelahi. Hhm ... sedangkan karena digigit nyamuk saja kau sampai minta ijin tidak masuk kuliah." gumam kakek Li Feng sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
Hhm ... itu adalah bocah ini, Kakek tua! Bukan aku ya!
Batin Zen dengan menunjukkan wajah sedikit malas dan kesal.
Sementara itu, tiba-tiba saja terdengar suara teriakan dari seorang pria yang baru datang.
"Zen, kakek ... awas!!" seorang pemuda dengan cepat berlari ke arah Zen dan kakek Li Feng, lalu segera memeluk Zen dan kakek Li Feng dan sedikit memutar tubuhnya untuk melindungi keduanya dari sebuah serangan yang tiba-tiba saja Luo Yan lakukan.
Ternyata Luo Yan masih sadar dan dia meraih sebuah senjata api yang terjatuh tak jauh darinya.
Tar ... tar ... tar ...
Tiga peluru melesat dengan cepat dan berhasil melukai seseorang. Darah segar mulai merembes dan membasahi pakaian abu-abu itu.
BRRUUKK ...
__ADS_1