Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Senjata Makan Tuan


__ADS_3

Kini hanya tersisa Sang Yuan Yi dan Zhang Wei. Mereka saling bertatapan dan membuat kontak mata untuk beberapa saat. Kemudian saling mengangguk pelan dan terlihat seperti sudah merencanakan sesuatu.


Apa yang sebenarnya bocah-bocah ini rencanakan? Sepertinya aku harus lebih berhati-hati.


Batin Zen yang masih tetap mengawasi gerak-gerik mereka berdua.


Bocah bernama Zhang Wei sepertinya menyembunyikan sesuatu di dalam saku coatnya. Tangan kanannya selalu dimasukkannya di dalam sana. Tapi apa itu?


Batin Zen lagi mengkerutkan keningnya mengawasi mereka berdua.


Kini Sang Yuan Yi yang mulai menyerang Zen, sedangkan Zhang Wei berjalan perlahan mendekati mereka berdua. Bahkan terlihat seperti sedang mengendap-endap.


Setelah Zhang Wei berjarak hanya kira-kira 1 meter dari Zen dan Sang Yuan Yi, dengan cepat Zhang Wei mengeluarkan sesuatu dari dalam saku coatnya. Berbentuk cairan bening di dalam sebuah botol kecil.


Dengan cepat Zhang Wei membuka botol itu dan melemparkannya ke arah wajah Zen.


Zen yang sedang mengunci tubuh Sang Yuan Yi dengan kedua tangannya ternyata menyadari semua itu. Dengan cepat Zen sedikit berputar bersama tubuh Sang Yuan Yi dan menjadikan tubuh Sang Yuan Yi untuk tamengnya.


BBYYUURR ...


Cairan yang bening yang ternyata adalah asam klorida ( HCI ) itu kini mengenai sebagian wajah Sang Yuan Yi. Sebuah cairan yang begitu beracun dan bisa menyebabkan kerusakan yang parah pada jaringan tubuh. Apabila terkena kulit, cairan asam klorida ini bisa membuat kulit melepuh, terbakar dan nyeri.


"Arrgghh ...." Sang Yuan Yi mengerang dan memegangi wajah bagian kanannya yang terkena semburan asam klorida itu.


Dengan cepat Zen segera membuka kuncinya dan melepaskan San Yuan Yi. Pria itu masih berteriak begitu histeris sambil meraba-raba wajahnya.


Sementara Zhang Wei terdiam mematung melihat temannya yang sedang menahan kesakitan karena ulahnya sendiri. Bahkan luka itu bisa saja akan menyebabkan wajah Sang Yuan Yi menjadi rusak.


"A yi ..." Zhang Wei kini mendekati Sang Yuan Yi yang sedang kesakitan. "A Yi! Kau baik-baik saja?" imbuhnya terlihat begitu khawatir.

__ADS_1


"Rasanya perih sekali ini! Aakkhh ..." rintih Sang Yuan Yi lagi.


"Zen! Urusanku padamu belum selesai! Aku akan pergi dan membawa A Yi ke rumah sakit dulu!" hardik Zhang Wei dengan sorotan mata yang tajam.


Zen menanggapinya dengan senyum meremehkan dengan kedua tangannya dimasukkan pada kantong hodie yang sedang dia kenakan, "Itu masalahmu ... Aku tidak peduli!" imbuhnya lalu melenggang meninggalkan Zhang Wei dan Sang Yuan Yi begitu saja.


Zhang Wei terlihat begitu kesal melihat tingkah Zen yang begitu menyebalkan. Dia terus menatap kepergian Zen dengan tatapan penuh amarah dan kebencian.


Zen melenggang dan kini berniat menemui Li Lian yang sudah menunggunya di kios belakang.


"Kau baik-baik saja kan, Zen?" tanya Li Lian yang dipenuhi rasa khawatir.


"Seperti yang kau lihat!" Zen menyauti dengan cuek . "Sekarang pulanglah! Dimana kau tinggal?"


"Aku tinggal di daerah sini kok." sahut Li Lian dengan senyum manis.


"Baiklah. Pulanglah! Berbahaya jika seorang gadis berkeliaran sendirian malam-malam."


"Hhm ..."


Bandar Udara Internasional Beijing Daxing (Hanzi)


Terlihat dua orang pria yang masih cukup muda berjalan bersama melalui jalur VIP. Di belakangnya sudah ada 4 body guard sangar yang selalu mengikutinya dengan setia.


Salah satu pria itu mengenakan setelan jaz abu-abu yang begitu rapi. Sedangkan pria satunya mengenakan pakaian casual yang terlihat begitu cool.


Yeap, kedua pria muda itu adalah Zen dan kak Kai. Mereka berdua terlihat begitu bersinar dan menawan. Dan meskipun mereka melalui jalur VIP, tentu saja Zen masih memakai topi dan masker untuk sedikit penyamaran. Agar orang-orang tidak mudah mengenali dia.


"Kak ..." tiba-tiba dari arah samping sudah ada seorang gadis yang begitu cantik dan anggun memakai dress selutut berwarna peach. Dia adalah gadis yang bernama Amee, gadis yang bertikai dengan kak Kai tadi malam. Amee terlihat sudah menantikan mereka.

__ADS_1


Zen dan kak Kai menghentikkan langkahnya seketika dan menoleh ke arah gadis itu.


"Amee ..." ucap kak Kai sedikit terkejut. "Kenapa tetap datang kemari?"


"Maaf, Kak. Tapi aku hanya ingin mengantar saja." Amee menyauti dengan pelan dan sedikit ditahan. Dan dia juga sedikit berjalan mendekati kak Kai.


"Hmp ... Ya sudah. Tidak apa-apa." sahut kak Kai dengan begitu lembut lalu mengusap kepala gadis itu. "Kakak akan segera kembali dalam 3 hari. Jaga dirimu baik-baik ya. Kakak akan belikan oleh-oleh untukmu ..." imbuh kak Kai dengan manis.


Zen melirik kak Kai dan Amee dengan tatapan aneh, seperti ada yang sedang dia difikirkan saat ini.


"Hhm. Terima kasih kak." Amee tersenyum tulus menatap kak Kai, selanjutnya pandangannya kini beralih menatap Zen.


"Zen ... Tetap jaga pola makanmu. Jangan karena terlalu sibuk, kau sampai tidak makan." ucap Amee dengan begitu lembut, dia juga tersenyum manis menatap Zen.


"Hhm ... Iya ... Aku juga butuh banyak energi tentunya kok!" sahut Zen dengan asal dan dingin.


Gaya Zen? Tentu saja dia bergaya santai dan berwibawa seperti semenjak jiwa Kagami Jiro menempati raga Zen. Kedua tangan dimasukkan pada saku coat super mewahnya, dengan dada membusung.


"Baguslah kalau begitu ..." Amee menyauti dengan senyum manis. Entah kenapa senyuman untuk Zen terlihat begitu berbeda, lebih hangat dan begitu tulus. Berbeda saat dia bersama kak Kai seperti kemarin malam. Bahkan dia terlihat begitu tertekan kemarin malam.


"Hhm ..." sahut Zen cuek.


"Zen akan selalu kakak awasi kok. Tidak usah mengkhawatirkan Idol besar yang satu ini." kak Kai menyela dengan diiringi nada jenaka. "Kalau begitu kita akan segera memasuki pesawat. Kau pulanglah. Atau masih ada pekerjaan?"


"Masih ada pemotretan untuk sebuah majalah, Kak." sahut Amee dengan hati-hati.


"Baiklah. Berhati-hatilah di jalan. Hubungi kakak jika terjadi sesuatu! Kakak akan mengirimkan orang untukmu."


"Hhm ..." Amee hanya mengangguk pelan dan tersenyum tipis.

__ADS_1


Xiang Mee atau lebih dikenal dengan Amee adalah seorang gadis yang begitu cantik dan anggun. Sikap dan tutur katanya juga begitu lemah lembut dan halus. Dia juga menekuni dunia entertaiment, namun namanya belum terlalu melejit seperti Jia Li, Huanran bahkan Li Zeyan.


Sebenarnya Amee adalah teman kecil Zen. Mereka sangat dekat dan akrab sejak kecil. Bahkan Amee juga begitu tulus berteman dengan Zen. Saat Zen menghadapi masa kelam di masa lalunya yang begitu berat, Amee selalu ada dan menemani Zen dengan tulus dan setia. Dia begitu tulus berteman dengan Zen tanpa melihat Zen yang saat itu sering mendapatkan ketidak adilan bahkan menderita karena penampilannya dan berakhir pada pembulian.


__ADS_2