
Tiffany mengambil nafas panjang lalu mulai mengeluarkannya perlahan. Kemudian gadis cantik yang sedikit tomnboy ini mulai melakukan salto depan sesuai dengan instruksi dari Zen.
Tiffany menngunakan kedua tangannya sebagai tumpuan dan mulai menghempaskan tubuhnya ke depan, dimana Zen sudah bersiap untuk menangkapnya.
Satu persatu kaki Tiffany kini mulai mendarat dengan sempurna pada bahu lebar Zen, kemudian Tiffany melanjutkan salto depannya dengan menghempaskan tubuhnya ke atas. Disaat itulah Zen mulai menangkap pinggang ramping Tiffany dan membantunya untuk melakukan pendaratan dengan memprosotkan tubuhnya ke bawah hingga Tiffany bisa berdiri dengan sempurna di hadapan Zen.
"Sempurna! Gerakan yang bagus, Tiffany!" puji Zen setelah Tiffany menyelesaikannya dengan sempurna.
"Ahaha ... tidak kok. Sebenarnya aku sangat gugup melakukannya. Baru kali ini aku berduet dengan idol pria, dan idol itu adalah senior Li Zeyan. Aku masih kurang percaya jika ini adalah bukan mimpi. Ahaha ..." Tiffany tertawa renyah dan menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
"Hhm. Kamu adalah rekomendasi dari managerku. Semoga pada konser nanti kita bisa melakukannya dengan baik." ucap Zen penuh harap.
"Hhm, iya senior." sahut Tiffany dengan senyuman manisnya.
"Baiklah sekarang kita berlatih dari awal. Musik akan diputar. Dan aku akan mengikutimu menari." ucap Zen lagi.
"Hhm. Okay!!" sahut Tiffany dengan bersemangat.
"Tolong putar musiknya ..." perintah Zen kepada seorang pria yang bertugas untuk memutarkan musik latihan.
Akhirnya Zen dan Tiffany mulai berlatih bersama kembali. Tiffany menari sesuai dengan koreografi awal dan Zen yang disebelahnya juga mulai mengikutinya dengan baik.
Namum gerakan mereka tidak sama persis. Terkadang seperti kita yang sedang berhadapan dengan sebuah cermin. Gerakannya saling berlawanan.
Benar-benar terlihat begitu kompak dan tepat. Di hari pertama latihan bersama saja mereka berdua sudah bisa melakukannya dengan baik. Bahkan Zen yang baru saja melihat tarian dari Tiffany bisa mengimbangi koreografi itu dengan begitu cepat.
Setelah beberapa saat, akhirnya mereka berdua menyudahi latihan hari ini. Zen dan Tiffany mulai duduk bersama di pinggiran ruang latihan tari. Tak beberapa lama Vann sudah datang kembali dan memberikan minuman dingin untuk mereka berdua
__ADS_1
"Terima kasih, Vann." ucap Zen lalu mulai membukan sebotol minuman dingin itu.
"Terima kasih, Kak Vann." ucap Tiffany dengan ramah dan tersenyum lebar menatap Vann hingga lesung pipinya yang dalam mulai terlihat.
"Sama-sama. Kalau begitu aku akan menunggu di luar ruang latihan lagi. Permisi." ucap Vann lalu meninggalkan ruang latihan ini.
"Tumben sekali ruang latihan tari sepi seperti ini?" gumam Zen kebingungan. Biasanya akan ada beberapa orang trainee yang akan berlatih dan memakai tempat ini.
"Sebentar lagi juga akan ramai kok. Super Girls Group akan segera datang untuk berlatih. Dan akan ada beberapa grup lainnya lagi biasanya, Senior." Tiffany menyauti sesuai dengan apa yang dia tau.
Karena akhir-akhir ini Zen memang sudah cukup jarang berlatih di tempat latihan menari ini. Karena kesibukannya saat ini bukan hanya menari saja, melainkan bermain drama, melakukan pemotretan, dan masih banyak lagi.
Namun di perusahaan inilah mereka membesarkan nama Zen, hingga sekarang Zen menjadi nomor 1. Dan sesekali Zen masih datang ke tempat ini.
Kini beberapa gadis mulai memasuki ruangan tari ini, mereka yang menyadari sedang ada Zen di tempat ini segera mendatangi Zen dengan begitu bersemangat.
"Oh, hai ... kalian apa kabar?" sapa Zen dengan ramah saat bertemu dengan para juniornya.
"Kabar kami sangat baik, Senior Li Zeyan!!" sahut salah satu dari mereka. "Aku dengar senior akan melakukan kolaborasi dengan Tiffany ya? Kenapa harus dia, Senior? Padahal dia masih sangat junior! Masih banyak yang lebih baik dari dia loh."
"Benar sekali. Bahkan Tiffany hanya butuh waktu selama 4 tahun untuk dia debut. Sungguh aneh!! Jangan-jangan kamu bermain di belakang layar atau menyogok agar cepat debut ya?! Cih ..." salah satu dari mereka mulai memperolok Tiffany.
Dan sepertinya kelima gadis itu memang iri dan tidak menyukai Tiffany. Tiffany hanya terdiam, karena kelima gadis itu tak memberi kesempatan Tiffany untuk berkata dan menjelaskan.
"Benar sekali!! Bahkan aku harus menjadi trainee selama 6 tahun baru aku bisa debut!" timpal gadis lainnya yang memiliki rambut warna kemerahan.
"Kau masih mending, Flo! Aku bahkan menghabiskan waktuku selama 7 tahun untuk menjadi seorang trainee." imbuh gadis lainnya lagi yang memiliki rambut sebahu berwarna peach.
__ADS_1
"Ehem ... maaf menyela." ucap Zen berdehem dan membuat para gadis itu terdiam seketika. "Sebuah tujuan pasti suatu saat akan tercapai jika kita fokus dan memiliki niat yang begitu kuat. Tiffany menjalani masa trainee yang lebih singkat dan berhasil debut dengan waktu yang lebih cepat, itu artinya dia memang layak. Semua butuh perjuangan keras. Bahkan Tiffany seringkali berlatih hampir 24 jam selama ini di ruangan ini juga, ruangan yang sering kalian gunakan untuk berlatih. Usaha tak akan pernah menghkianati hasil. Jadi, jika kalian ingin sukses dengan cepat, maka kalian harus bersungguh-sungguh melakukannya. Hanya fokus pada tujuan utama, dan jangan menyibukkan diri dengan iri terhadap teman kalian. Kita semua disini adalah keluarga. Harus saling mendukung. Dan jangan malah saling menjatuhkan ... apa kalian mengerti, Juniorku yang cantik?" kicau Zen panjang lebar dengan nada bicara yang terdengar begitu manis dan malah sudah terlihat seperti sosok seorang Kagami Jiro saja.
Jika saja saat ini yang berada di dalan raga Zen adalah Kagami Jiro, maka pasti Kagami Jiro akan mengatakan hal yang sama seperti itu, karena memang pemikirannya sudah dewasa.
"Hehe iya, Senior Li Zeyan. Maafkan kami." ucap salah satu dari gadis itu meringis dan mengusap tengkuknya.
"Iya, senior Li Zeyan sangat benar. Maafkan kami, Tiffany karena selama ini kami selalu memusuhimu." ucap gadis yang nemiliki rambut berwarna kemerahan.
"Iya ... maaf ya ..." sahut kedua gadis lainnya lagi bersamaan.
"Aku sudah memaafkan kalian sejak awal kok. Lagipula aku tak pernah memasukkannya dengan serius ke dalam hatiku." sahut Tiffany dengan ramah dan tulus.
"Baiklah. Aku akan pergi dulu. Masih ada pekerjaan yang sedang menungguku. Kalian berlatihlah bersama dengan baik dan kompak." ucap Zen lalu bangkit dari duduknya dan berdiri.
"Yah ... cepat sekali sudah mau pergi. Padahal baru bertemu." sungut seorang gadis berambut peach yang juga ikut berdiri. "Kalau begitu mari berfoto bersama dulu!! Hehe ..." gadis itu mulai mengambil ponselnya dan bersiap untuk mengambil sebuah foto setelah menarik lengan Zen.
CEKREKK ...
"Baiklah aku pergi dulu. Dan jangan lupa akhir pekan kita berlatih kembali ya, Tiffany!" ucap Zen beralih menatap Tiffany yang juga mulai bediri.
"Baik, Senior!" sahut Tiffany dengan ramah.
Zen mengangguk pelan lalu mulai meninggalkan para juniornya.
"Terima kasih, Senior! Hati-hati di jalan!!" teriak gadis berambut peach itu.
...⚜⚜⚜...
__ADS_1