
Setelah beberapa saat, akhirnya taxi berwarna kuning lembut itu mulai berhenti di kawasan Greenland Garden. Terlihat sebuah rumah yang cukup besar dan megah dengan nuansa cream dan putih.
Beberapa pepohonan juga terlihat tumbuh menghiasi halaman rumah besar itu. Menjadikannya terlihat semakin sejuk dan tenang.
"Terima kasih, Pak." ucap Wang Jun memberikan beberapa lembar uang kepada sopir taxi itu lalu mulai turun begitu saja.
Wang Jun mulai melangkahkan kakinya dan berniat untuk mulai memasuki halaman rumah besar yang begitu megah dan kokoh itu. Namun belum sempat memasuki gerbang itu, tiba-tiba saja Wang Jun mulai menghentikan langkah kakinya ketika menatap sabuah rumah besar di hadapannya yang sangat tidak asing itu
Seakan Wang Jun pernah melihat rumah itu sebelumnya. Namun semakin Wang Jun berusaha untuk mengingatnya, maka kepalanya semakin terasa pusing dan sakit.
"Argh ... kepalaku pusing sekali." rintih Wang Jun memegangi keepalanya yang sudah terasa semakin berat dan pusing.
Hingga akhirnya sebuah pengendara yang sedang melaju dengan cukup kencang dan ugal-ugalan tak sengaja menyerempet Wang Jun dan membuat tubuh Wang Jun terhempas cukup keras hingga tubuhnya menghantam aspal.
BRRUUGGHH ...
Tubuh Wang Jun yang sudah tak berdaya dan berlumuran dengan darah itu seketika tak sadarkan diri begitu saja dan masih tergeletak di atas aspal. Semua menjadi menjadi gelap, dan Wang Jun pingsan begitu saja.
...⚜⚜⚜...
__ADS_1
Wang Jun terlihat sudah berbaring di atas brankar dan masih tak sadarkan diri. Beberapa bagian pada tubuhnya sudah terlilit dengan perban. Pergelangan tangan kirinya juga sudah terlilit dengan selang infus.
Di sebelahnya sudah ada seorang kakek yang selalu saja menemaninya dan tak pernah mau meninggalkannya sama sekali. Dari sejak pemindahan ruangan ruangan rawat dari ruangan ICU, kakek itu masih dengan sabar berada di dalam ruangan rawat ini, untuk menjaga dan menemani Wang Jun.
Sepasang mata kakek yang tak lain adalah kakek Li Feng itu terlihat begitu merah karena menahan tangis selama beberapa saat yang lalu. Raut wajahnya begitu penuh dengan haru, sedih, namun juga bahagia.
Tak bisa digambarkannya lagi, bagaimana suasana hatinya saat ini. Anak yang selama 15 tahun yang lalu dikiranya sudah meninggal akibat kecelakaan maut, kini hadir di hadapannya begitu saja seperti permainan sebuah sihir dan takdir.
Bahkan anak itu beberapa hari yang lalu datang begitu saja dan sudah menyelamatkan hidupnya dengan mendonorkan darahnya. Rasa haru, sesak, bahagia ... rasanya sudah berkecamuk menjadi satu pada diri pria tua itu.
Tangisnya kini mulai pecah begitu saja saat kakek Li Feng mulai mengingat laporan hasil pemeriksaan yang menyatakan bahwa putranya Li Zhi atau Wang Jun, telah mengalami amnesia selama 15 tahun.
Terlebih saat kakek Li Feng mendengarkan sedikit kisah Wang Jun melalui Miles Wei, yang mengatakan jika Wang Jun datang dari sebuah desa terpencil. Dia datang ke kota untuk mencari uang dan membayar segala hutang yang dimiliki oleh ibu angkatnya. Hutang itu digunakan untuk operasi Wang Jun ketika mengalami kecelakaan.
Dan tentu saja semua itu membuat kakek Li Feng begitu sesak, terpukul dan merasa bersalah karena membayangkan betapa menderitanya putranya saat itu.
"Li Zhi ... maafkan ayah. Seharusnya saat itu ayah mencarimu lebih ekstra lagi. Ini salah ayah ... seharusnya ayah mencarimu lagi. Dan kamu tak akan menderita seperti itu. Maafkaan ayah, Li Zhi." ucap kakek Li Feng terisak dan masih memegangi jemari putranya.
"Kakek ..." Li Kai yang berdiri di belakang kakek Li Feng yang terduduk mengusap pelan kedua bahu kakek Li Feng dan pandangannya menatap nanar Li Zhi atau Wang Jun yang masih belum tak sadarkan diri.
__ADS_1
Selama ini aku selalu membenci ayah. Karena aku yang merasa dunia ini begitu tidak tidak adil. Bahkan aku merasa ayah sudah begitu jahat kepadaku dan juga ibu. Tapi, kini ayah sudah kembali. Dan rupanya ayah masih hidup. Meskipun aku pernah sangat membenci ayah, namun aku tak pernah berharap ayah mengalami hal seperti ini. Bangunlah, Ayah ... dan mari memulai hidup bersama kembali.
Batin Li Kai yang juga sudah tak bisa menahan tangisnya, hingga air mata hangat itu mulai terjatuh dan membasahi pipinya begitu saja.
Suasana di dalam kamar rawat ini begitu hening dan penuh dengan rasa haru. Hanya ada Wang Jun / Li Zhi, Li Kai dan juga kakek Li Feng. Sementara Zen masih dalam perjalanan menuju rumah sakit, karena sejak tadi pagi Zen masih memiliki pekerjaan yang sama sekali tidak bisa dia tunda.
Bahkan mereka semua sengaja tak memberitahu Zen jika Li Zhi masih hidup. Li Kai hanya memberikan kabar, jika Li Kai dan kakek Li Feng sedang menunggunya di rumah sakit dan sedang menjenguk rekan kerja kakek Li Feng. Karena khawatir Zen tidak akan bisa berkonsentrasi sepenuhnya saat kerja jika mengetahui semua ini.
Setelah beberapa saat akhirnya mulai terlihat jemari Wang Jun yang mulai mengalami pergerakan pelan. Dan sepasang mata kebiruannya itu kini mulai terbuka dengan begitu pelan dan lemah.
Bibirnya bergeming pelan seolah ingin mengatakan sesuatu, namun tak terdengar suara apapun. Namun Wang Jun masih terus berusaha untuk mengatakan sesuatu, hingga akhirnya mulai terdengar sebuah nama, "Zen ..."
Jujur saja ucapan pertama yang diucapkan dari Li Zhi itu sempat membuat Li Kai merasa sedikit kecewa, namun Li Kai segera menepis perasaan itu agar tidak menimbulkan penyakit hati untuknya.
Baginya bisa berkumpul bertemu dan berkumpul bersama dengan mereka saja sudah membuatnya merasa begitu bahagia dan sempurna. Dan sampai ada lagi perasaan iri yang akan menghancurkan hubungannya dengan Zen, satu-satunya saudara yang Li Kai miliki.
"Li Zhi ... putraku ..." ucap kakek Li Feng yang terdengar begitu bergetar dan memilukan.
Wang Jun mulai menatap kakek Li Feng dan Li Kai secara bergantian dengan tatapan yang penuh dengan rasa bingung dan tidak mengerti. Namun Wang Jun berusaha untuk mengingat sesuatu, hingga akhirnya mulai mengingat kakek Li Feng, disaat Li Zhi sedang meninggalkan Zen di rumah besar bersama kakek Li Feng 15 tahun yang lalu.
__ADS_1
"Ayah?" gumam Wang Jun penuh haru seakan tak percaya jika pria tua yang sedang duduk di samping brankarnya adalah ayahnya, Li Feng.
Li Feng mengangguk pelan dengan haru. Wajahnya yang sudah dipenuhi dengan guratan-guratan nyata itu terlihat mulai basah kembali karena air mata hangat itu.