
Pagi hari di sebuah appartement elite di Beijing, terlihat seorang pria tampan yang memiliki kaki yang begitu panjang melenggang dengan langkah lebar dan terlihat sudah tak sabaran. Raut wajahnya terlihat begitu dingin dan sangat menakutkan.
Pria itu mulai menaiki lift dan menekan tombol di angka 5. Di sepanjang di dalam lift, sorot matanya selalu menatap lurus pintu lift itu dengan begitu tajam. Seakan sudah tidak sabar untuk menantikan pintu lift itu terbuka.
TRRIING ...
Pintu lift itu kini perlahan mulai terbuka, pria tampan dengan memakai atasan hodie hitam dan bawahan celana jeans yang tidak terlalu ketat, namun juga tidak terlalu longgar itu kini mulai melenggang meninggalkan lift.
Langkah kakinya semakin dia percepat dan berjalan menuju sebuah kamar yang berada di paling ujung kedua. Setelah berdiri di depan kamar itu, kini dia segera menekan bel kamar itu dengan tidak sabaran. Bahkan dia menekan berkali-kali.
Dua orang pria dengan pakaian rapi yang sedang berjalan dari koridor ujung menuju ke arah pria tampan itu ini sedikit berlari kecil untuk segera mendatangi pria tampan itu.
"Dimana Zen?!" ucap pria tampan itu yang dipenuhi oleh amarah.
Kedua pria berpakaian rapi yang tak lain adalah Vann dan Yunxi kini berusaha berdiri di depan pintu dan menghalangi pria tampan yang kini sudah semakin memerah wajahnya.
"Tolong tenang sedikit, Tuan Lu Yuan! Jangan membuat kericuhan di sini!" ucap Vann berusaha menenangkan pria tampan yang tak lain adalah Lu Yuan.
"Minggir! Aku mau bertemu dengan Zen!" Lu Yuan mengibaskan tangan Vann dengan sangat kasar. "Suruh dia keluar menemuiku jika masih punya keberanian!" imbuh Lu Yuan dengan emosi yang semakin memuncak.
"Maaf. Tapi tuan Zen sedang tidak ingin menerima tamu. Lebih baik tuan Lu Yuan datang kembali besok saja!" ucap Yunxi dengan ramah.
"Suruh dia keluar atau aku benar-benar akan membuat perhitungan dengannya dan menuntutnya!" ancam Lu Yuan dengan aura yang sungguh menakutkan.
Tak lama kemudian pintu terbuka. Terlihat seorang pria tampan dengan mata kebiruan yang masih mengenakan baju tidur menguap lebar dan menutupi dengan punggung telapak tangannya.
"Siapa yang sudah berani mengganggu tidurku di pagi buta seperti ini?! Siapa yang sudah membuat keributan?" ucap pria tampan bermata kebiruan itu sambil mencari sosok itu yang sedikit terhalang oleh Yunxi dan Vann.
"Maaf, Tuan. Kami sudah berusaha memperingatkannya." ucap Yunxi dengan sedikit menunduk.
"Li Zeyan!" seru Lu Yuan lalu berjalan dua langkah mendekati Zen.
"Ah ... aku kedatangan idol yang saat ini sedang menjadi tranding topic rupanya. Aku merasa sangat terhormat ..." Zen tersenyum lebar dan memperlihatkan deretan giginya yang begitu rapi dan putih.
__ADS_1
"Kau! Tidak tau malu!" geram Lu Yuan mulai emosi kembali dan segera meraih kerah baju Zen dan sedikit menariknya.
"Siapa yang tidak tau malu? Apa kau sedang membicarakan tentang dirimu sendiri, Lu Yuan?" pertanyaan yang terlontar dari bibir manis Zen disertai sebuah senyuman menawannya, kini semakin membuat Lu Yuan naik pitam.
"Dasar brengsek kau Zen!" Lu Yuan hendak melayangkan tinjunya dan menjadikan wajah Zen sebagai targetnya. Namun dengan cepat Vann segera berdiri diantara mereka dan segera menangkap tangan Lu Yuan.
"Tolong jaga sikap anda, Tuan Lu Yuan!" ucap Vann memperingatkan dengan sopan.
Lu Yuan merasa begitu kesal dan segera menepis dengan kasar tangan Vann. Sementara Zen terlihat sedang membenarkan pakaiannya yang sedikit kusut karena ulah dari Lu Yuan.
"Mengapa kau begitu licik?! Aku tau kau sedang mabuk saat itu! Dan kau tidur bersama gadis itu di hotel! Ternyata kau hanya berpura-pura dan malah menjebakku begitu saja?" geram Lu Yuan masih dengan sorot mata yang begitu menakutkan menatap Zen.
"Lalu apa sebutan yang tepat untukmu? Kau sengaja membuatku mabuk dan menggiringku bersama para pengawalmu untuk memasuki hotel itu? Sebenarnya siapa yang menjebak siapa? Semua itu adalah siasat burukmu bukan? Aku hanya mengikuti permainanmu, Lu Yuan." Zen berkata dengan nada rendah dan menyilangkan kedua tangannya sambil bersandar di dinding dengan seringai manis bak setan.
"Kau!! Beraninya kau menuduhku seperti itu!! Apa kau punya bukti jika aku yang melakukan semua itu?" tantang Lu Yuan dengan penuh percaya diri.
Tentu saja Lu Yuan sangat merasa percaya diri, karena dia sudah menyuap divisi keamanan dan menghapus rekaman CCTV saat para pengawalnya membawa Zen memasuki kamar hotel itu.
Zen mulai menghempaskan tubuhnya di atas sebuah sofa tunggal berwarna cream. Begitu juga dengan Lu Yuan yang mulai duduk di sisi samping Zen.
Sementara Yunxi terlihat sedang mencolokkan sebuah USB flash drive pada sebuah laptop yang sudah dia siapkan di atas meja.
Beberapa saat, sebuah rekaman video mulai dimainkan dan mereka menyaksikan bersama. Terlihat di dalam rekaman itu ketika dua orang pengawal dari Lu Yuan memapah Zen yang sedang tak sadarkan diri memasuki kamar hotel itu. Lalu diikuti oleh Lu Yuan yang menyusulnya masuk.
"Pengawalmu memang berhasil menghapus rekaman CCTV di hotel saat itu. Namun, sepertinya pergerakan pengawalku lebih cepat dibanding dengan pengawalmu. Vann sudah berhasil menyalin rekaman itu sebelum pengawalmu menghapusnya." Zen menyeringai manis lalu meneguk teh hangatnya yang sudah disediakan oleh asisten rumah tangganya.
Wajah Lu Yuan kembali memanas, dia mengeraskan rahangnya dan mengepalkan kedua tangannya.
Mata Lu Yuan membelalak menyaksikan rekaman itu dan wajahnya kini menjadi pucat seketika.
"Bagaimana? Apa aku juga harus menyerahkan rekaman ini kepada polisi dan menuntutmu?" Zen menyeringai menatap Lu Yuan dan masih duduk dengan santai. "Apa tidak cukup sudah menjadi tranding topic karena meniduri seorang gadis saja?" imbuh Zen memojokkan Lu Yuan dengan nada meremehkan.
"Jangan ..." ucap Lu Yuan pelan dan masih pucat.
__ADS_1
"Apa? Aku tidak dengar!" ucap Zen cuek dan terlihat begitu sengaja.
"Jangan serahkan video ini!" gumam Lu Yuan pelan sekali.
"Bicara yang keras dan jelas seperti saat kau sedang melabrakku!" tandas Zen dengan tegas.
"Kumohon jangan serahkan video itu kepada polisi! Ayahku akan benar-benar akan marah padaku! Aku mohon, Zen! Cukup skandal ini saja sudah sangat membuat kedua orang tuaku begitu kecewa padaku!" kini Lu Yuan memohon-mohon kepada Zen.
"Mau sampai kapan kau berusaha untuk mencelakaiku?!"
"Ma ... maaf, Zen! Aku memang sangat buruk dah jahat! Aku tidak akan mengulanginya lagi ... aku berjanji padamu!"
"Apa kau bisa memegang ucapanmu?"
"Aku ... aku akan menepatinya, Zen!" jawab Lu Yuan sedikit menunduk dan masih mengepalkan kedua tangannya.
"Baiklah. Kali ini aku akan melepaskanmu! Tapi jika selanjutnya kau membuat masalah lagi ... aku tak akan segan lagi padamu. Dan aku akan membeberkan video ini kepada dunia! Bahkan semua riwayat obrolan kalian juga ada disini!" ucap Zen dengan senyuman manisnya menatap Lu Yuan.
"Terima kasih, Zen ..." ucap Lu Yuan masih dengan pelan sekali dan menunduk.
"Hhm. Kau boleh pulang! Aku harus segera pergi untuk shooting."
"Baik ... aku akan pulang. Terima kasih!" ucap Lu Yuan lalu segera bangkit dan meninggalkan appartment Zen.
Hentakan kaki dari Lu Yuan terasa begitu keras. Sangat terlihat suasana hatinya sedang sangat buruk saat ini. Langkah demi langkah kini membawanya hingga di depan appartement itu dan dia segera memasuki mobil sportnya kembali. Wajah tampannya terlihat memancarkan aura yang begitu menyeramkan dan sangat gelap.
"Li Zeyan! Aku tidak akan berhenti sampai disini! Aku akan menghancurkanmu! Sekalipun dengan tangan orang lain!" geram Lu Yuan dengan tatapan tajamnya menatap lurus ke depan.
...⚜⚜⚜...
Bonus kali ini adalah foto dari Lu Yuan ya ... hayo kita lihat seberapa tampan dia ... check this out ...
__ADS_1