Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Amee's Dream


__ADS_3

Seorang pria tampan terlihat sedang menunggu seseorang di sebuah bangku taman kota senja ini. Terlihat dia yang selalu melihat jam tangannya yang melingkar manis pada tangan kirinya.


Beberapa saat seorang gadis yang sangat cantik dan anggun terlihat mulai berjalan menghampirinya. Wajahnya begitu berseri saat itu. Menandakan dia sedang dalam keadaan hati yang berbahagia.


"Hai, Zen ... sudah lama menunggu?" tanya gadis cantik yang memiliki rambut panjang bergelombang kecoklatan itu. Senyumnya bagitu manis dan menyejukkan.


Pria yang dipanggil Zen itu segera mendongak menatap ke arah gadis itu dengan senyumnya yang begitu menawan.


"Tidak, Amee. Aku baru saja sampai kok." jawab Zen begitu lembut. "Kita berangkat sekarang?"


"Baik! Ayo!" sahut gadis bernama Amee itu dengan begitu bersemangat.


Keduanya mulai berjalan beriringan menyusuri taman kota kala senja itu. Raut wajah keduanya terlihat begitu berseri dan sangat bersinar. Terlihat begitu berbahagia.


"Amee ... terima kasih selalu ada untukku hingga saat ini ..." ucap Zen begitu lirih. Dan dari intonasi bicaranya terdengar begitu sedih dan terharu. "Kamu adalah salah satu alasan untukku tetap melangkah dan bangkit kembali! Hingga aku sampai pada titik ini, ini semua adalah karenamu!" imbuh Zen begitu lirih dan tersenyum hangat.


Amee tersenyum manis lalu meraih kedua belah tangan Zen dan membuatnya saling berhadapan.


"Karena aku tau kamu adalah orang yang baik, Zen. Dan aku selalu nyaman saat bersama denganmu. Bahkan saat di masa lalu, aku sudah sangat nyaman saat menjadi temanmu." ucap Amee dengan tulus.


Yeap, selama ini hanya Amee yang dengan tulus mau berteman dengan Zen. Bahkan saat di masa kelam Zen. Hanya Amee yang selalu ada untuknya.


"Teman?" ucap Zen begitu lirih. Dan terdengar ada sedikit kekecewaan dari ucapannya.


Amee tersenyum manis dan mengangguk pelan, "Kita masih bisa bersama ketika berteman, Zen. Karirmu juga lebih utama! Kamu sudah banyak melewati jalanan berliku selama ini! Dan kini saatnya kamu terus melangkah tanpa ada yang menghalangi kamu lagi. Termasuk aku ..."

__ADS_1


Tak terlihat kesedihan sedikitpun pada raut wajah gadis cantik bernama Amee itu. Namun sebaliknya, kini wajah Zen terlihat begitu murung setelah mendengar ucapan Amee.


Ucapan penyemangat dari Amee seakan menjadi seperti sebuah duri kecil yang menusuk perlahan diri Zen, terasa begitu menyakitkan dan tiada akhir. Gadis yang selama ini selalu membersamainya bahkan dari masa kelam seorang Li Zeyan, ternyata hanya menganggapnya sebagai seorang teman. Harapan Li Zeyan untuk lebih dari itu pupus seketika.


Apa selama ini kau hanya kasihan padaku, Amee? Batin Zen yang menatap Amee dengan nanar.


"Amee ... tapi ..." ucap Zen begitu berat.


"Jangan mengecewakan aku! Aku ingin kamu berhasil dan membuktikan kepada mereka yang selama ini pernah menyakiti dan meremahkanmu! Bahwa kamu bisa menjadi lebih baik, bahkan lebih baik dari mereka! Ayo buktikan, Zen!" ucap Amee begitu bersemangat disertai senyum lebar.


"Amee ..." sepasang mata biru bak kristal okavango blue diamond itu kini sudah menjadi sedikit berkaca-kaca.


"Maaf, Zen. Tapi mulai sekarang kita juga harus mengurangi pertemuan kita. Atau kalau tidak, akan menimbulkan masalah untukmu." ucap Amee begitu lirih. "Aku tidak ingin menyusahkanmu ..."


Zen mengeraskan rahangnya, tak tau harus berkata apa lagi kepada gadis yang sedang berdiri di hadapannya itu. Gadis yang pertama kali bisa merebut hatinya itu.


"Amee ..." ucap Zen setengah berteriak, namun Amee terus melenggang meninggalkannya tanpa menghiraukannya sama sekali.


Sejak saat itu hubungan keduanya semakin merenggang dan menjauh. Kesalahpahaman terus terjadi dan menjadikan mereka semakin jauh dan berjalan pada jalannya masing-masing.


Amee yang terus melenggang kini tak bisa lagi menyembunyikan tangis dan kesedihannya. Dia bisa membohongi Zen, namun tentu saja dia tak bisa membohongi hatinya sendiri, bahwa sebenarnya dia juga menyukai Zen.


"Maaf Zen ... Walaupun aku juga sangat berat melakukannya, namun ini yang terbaik untukmu ..." ucap Amee dalam tangisnya. "Semoga kamu bisa terus melangkah. Dan sesuai permintaan kak Kai ... aku sudah berusaha melakukan yang terbaik untukmu."


"Jangan khawatir, Amee." ucap seorang pria berkacamata tiba-tiba yang datang membuat Amee mendongak menatapnya. "Zen akan baik-baik saja. Dan kau sudah membuat keputusan yang tepat."

__ADS_1


"Kak Kai ..." Amee kembali terisak dan seketika kak Kai meraih dan memeluk Amee.


"Kakak akan selalu menjaga Zen. Dan kakak juga akan selalu menjagamu ..." ucap kak Kai dengan hangat.


"Apa maksud kakak?" Amee sedikit mendongak dan menatap Kak Kai.


"Kakak akan selalu ada untukmu untuk menjagamu ... menggantikan Zen ..." perlahan kak Kai mulai memiringkan wajahnya dan mendekati Amee. Hingga tiba-tiba saja kak Kai sudah mendaratkan dan mengecupkan bibirnya pada bibir Amee.


Tak sengaja Zen melihat semua itu dengan mata kepalanya sendiri dan terlihat begitu shock. Namun dia tak bisa berbuat apa-apa. Kini Zen melihat dua orang yang sangat disayanginya sedang bersama. Rasa di hatinya berkecamuk menjadi satu, antara marah, kesal, benci, sedih, kecewa ... namun ... Amee dan kak Kai adalah orang yang sangat Zen sayangi.


"Zen ..." dengan cepat Amee sedikit mendorong tubuh kak Kai, namun Zen sudah pergi meninggalkan mereka begitu saja.


"Zen!!" Amee masih berusaha mengejar Zen, namun percuma saja. Zen dengan langkah cepatnya sudah berlalu meninggalkannya dan meninggalkannya.


"Zen ... Zen!!!" kini Amee sudah membuka matanya dan ternyata dia sedang bermimpi tentang masa lalunya. Gadis cantik itu kini meringkuk di atas pembaringannya dan mulai menangis memecah keheningan malam ini.


"Zen ..." ucapnya begitu lirih dan sudah beruraian air mata. "Zen ... aku sungguh merindukanmu ... hiks ... selama ini apakah kau hidup dengan baik disana? Sejak saat itu, kita tak pernah lagi saling memberi kabar ... bahkan saat kecelakaan itu menimpamu, aku tak juga mengunjungimu sama sekali. Maafkan aku, Zen! Maaf ..." Amee kembali meringkuk dalam tangisnya.


"Apa yang harus aku lakukan? Selama 2 tahun aku bahkan belum bisa melupakanmu dan belum benar-benar membuka hati untuk kak Kai ... Hiks ..."


Amee meraih sebuah figura kecil yang berada di atas meja di samping ranjangnya. Terlihat seorang pria tampan dengan seorang gadis sedang tersenyum lebar seakan tidak ada beban dan sangat berbahagia. Mereka berdua saling bergandengan tangan di dalam figura itu.


Tatapannya penuh kerinduan dan perlahan Amee mengusap figura itu dengan pelan dan lembut.


"Ini adalah foto bersama yang terakhir kali kita ambil di hari itu ..." ucapnya begitu lirih dan masih beruraian air mata. "Aku masih ingat hari itu ... adalah hari terakhir melihatmu sebelum kamu mengalami kecelakaan ..."

__ADS_1


"Semoga kamu baik-baik saja saat ini, Zen. Dengan begitu aku akan menjadi lebih tenang ..." Amee memeluk figura itu dan kembali berbaring, hingga akhirnya dia tertidur.


...⚜⚜⚜...


__ADS_2