Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Kejahatan Lee


__ADS_3

Zen, kak Kai dan Bai Xi mulai memasuki sebuah kamar rawat yang terletak tak jauh dari kamar rawat Zen. Zen masih lengkap mengenakan setelan pakaian rawat dari rumah sakit, karena memang dia masih dirawat dan belum diperbolehkan untuk pulang.


Terlihat seorang pemuda yang masih terbaring melamun menatap langit-langit dengan salah satu matanya. Sementara mata kirinya masih diperban dengan rapi. Dan juga pada bagian lengan kanannya masih terlilit dengan perban, lengannya melepuh kerena terkena zat asam klorida yang saat itu mengenai lengannya.


Pandangannya terlihat begitu kosong dan hampa. Seakan seperti antara mati atau tidak. Begitu mengambang, hidup namun seperti mati karena sebuah harapan seakan sirna begitu saja. Yeap, Jancent pasti begitu terpukul dengan kejadian yang saat ini sedang dialaminya.


"Jancent ..." ucap Bai Xi begitu lirih dan bergetar. Dia mulai mendatangi Jancent dan mulai duduk di sebelah brankar.


Jancent masih terdiam dan menatap langit-langit dengan tatapan yang kosong.


"Jancent! Kamu harus tetap kuat! Kamu pasti bisa sembuh kembali!" ucap Bai Xi menyemangati Jancent yang terlihat begitu down saat ini.


"Aku akan menjadi cacat, Bai Xi. Mata kiriku akan menjadi cacat ..." ucap Jancent begitu lirih dan mata kanannya terlihat sudah semakin memerah karena menahan tangis.


"Setidaknya kamu masih memiliki salah satu untuk tetap bisa melihat, Jancent. Aku mohon jangan menyerah! Duniamu belum berakhir, Jancent! Kamu harus tetap kuat!" kini Bai Xi sudah tidak bisa lagi menahan tangisnya, dan dia mulai memeluk tubuh Jancent dan menangis begitu saja.


"Apa kalian tidak malu berteman dengan orang cacat sepertiku? Apalagi kau, Zen ... pergilah ... anggap saja kita tidak pernah kenal. Aku tidak mau menjadi kotoran untukmu yang mungkin akan merusak reputasimu. Reputasimu bisa hancur karena media mengetahui kau mempedulikan orang sepertiku ... seseorang yang cacat ..." Jancent sudah tidak bisa membendung lagi air matanya.


"Cacat fisik lebih baik jika dibandingkan dengan cacat hati!" Zen menyauti dengan begitu serius namun terdengar begitu hangat. "Cacat fisik masih bisa diperbaiki dan bukanlah kekurangan yang fatal. Namun cacat hati akan sulit sekali untuk merubahnya. Karena untuk merubah hati yang cacat harus sesuai dengan kemauan si empu. Kau memiliki hati yang baik, Jancent! Mengapa aku harus menjauhimu? Aku tidak mau! Dan mulai sekarang dan selamanya kau adalah teman sekaligus saudaraku! Jika kejadian yang terjadi di labolatorium adalah karena sebuah rencana jahat seseorang, maka aku akan membuat mereka membayar semuanya!!" tandas Zen begitu tegas dan mengepalkan kedua tangannya.


"Zen ... kau baik sekali ... hiks ... mengapa aku baru menyadari hatimu yang begitu bersih dan menyilaukan seperti ini ... hatimu sungguh luar biasa. Hiks ..." kini Bai Xi beralih memeluk Zen dan masih menangis sesegukan.


"Bocah, apa yang sedang kau lakukan?! Jangan memelukku sembarangan!" dengus Zen yang terlihat begitu risih dan berusaha untuk mendorong tubuh Bai Xi.


"Woaa, Zen. Tubuhmu sekarang mengapa ada petakannya?" ucap Bai Xi begitu konyol sambil memegang kembali dada dan perut Zen dan sedikit menekannya.


"Bocah! Singkirkan tanganmu dari tubuhku!" ucap Zen begitu melengking.


Sementara kak Kai dan Jancent kini sedikit tersenyum melihat tingakh Bai Xi dan Zen yang sedikit konyol.

__ADS_1


Huft, syukurlah Jancent sedikit terhibur oleh tingkah konyol mereka.


Batin kak Kai yang terlihat sedikit lega.


...⚜⚜⚜...


Setelah beberapa hari akhirnya Zen keluar dari rumah sakit lebih awal, karena memang lukanya tidak separah Li Lian dan juga Jancent.


Suatu hari sepulang kuliah, Zen memutuskan untuk menjenguk kedua temannya itu. Namun saat dia mau memasuki ruangan rawat Jancent, tak sengaja dia melihat Lee yang sedang berada di dalam dan tak sengaja Zen mendengar sedikit pembicaraan mereka.


"Jika masih ingin ibumu tetap bekerja di restaurant, maka jaga mulutmu baik-baik! Kunci mulutmu baik-baik! Atau kalau tidak aku juga bisa merobeknya sekalian agar kau tak bisa berbicara lagi!" ucap Lee yang terdengar seperti sedang mengancam Jancent.


"Jangan sekali-kali kau mengusik ibuku! Aku bahkan tidak punya salah padamu! Tapi kau tega melakukan semua ini padaku dan membuatku cacat seumur hidup!" ucap Jancent yang terlihat begitu marah.


"Semua itu terjadi karena kamu yang begitu bodoh! Jelas-jelas suhu destilasi hanya boleh 60-70 derajat celcius! Mengapa kau begitu mudah dibodohi?! Dasar idiot!" hardik Lee dengan nada yang begitu merendahkan dan terdengar begitu menyebalkan.


"Aku tidak akan membiarkanmu begitu saja Lee! Kau akan menerima hukuman dari perbuatanmu! Karena kau yang meminta suhu destilasi dinaikkan hingga 100 derajat celcius! Ini semua karena kamu yang mau mencelakai kita semua kan?!" kini Jancent sudah terlihat semakin emosi dan menarik kerah baju Lee.


PLUUKK ...


"Mampus kau! Dasar cacat belagu! Cuihh ..." maki Lee yang semakin berperilaku kurang ajar.


Jiwa seorang Kagami Jiro kini tak sanggup lagi menahan dirinya agar tetap tenang. Dengan langkah yang begitu cepat dan lebar, dia mulai menghampiri Lee dan memukul kepalanya dengan cukup kerasa dari belakang.


PPLLUUKK ...


"Dasar brengsek!" maki Lee sambil berbalik untuk melihat siapa yang sudah berani memukul kepalanya.


"Hei bocah tak tau diri! Mulutmu begitu pedas! Dan tingkah lakumu tak bisa ditoleransi lagi!" sungut Zen yang terlihat sudah begitu muak.

__ADS_1


PPLLAAKK ...


Zen sangat emosi dan kembali menampar Lee. Sepasang mata Lee membelalak lebar melihat apa yang sudah dilakukan oleh Zen, seakan dia tak bisa mempercayainya jika seorang Li Zeyan bisa melakukan hal semacam itu.


"Zen! Apa yang sudah kau lakukan padaku?!" hardik Lee tak terima.


"Apa yang sudah aku lakukan? Ini tak sebanding oleh rasa sakit yang dirasakan oleh Jancent dan juga Li Lian!"


PPLLAAKK ...


Lagi-lagi Zen menampar wajah Lee, tapi dengan menggunakan tenaganya yang paling rendah. Namun itu sudah membuat Lee merasa sedikit kesakitan.


"Dasar brengsek kau, Zen!" sungut Lee semakin emosi.


PPLLAAKK ...


Lagi-lagi Zen terlihat menampar wajar Lee lagi.


"Jika aku brengsek, maka apa sebutan yang tepat untukmu? Pecundang? Sampah? Hah??"


"Awas saja kau, Zen! Aku akan melaporkan perbuatanmu ini sebagai kekerasan! Agar dunia mengetahui bagaimana dirimu yang sebenarnya! Bahwa kau adalah sampah yang sangat kasar!"


PPLLAAKK ...


Lagi-lagi Zen menampar pipi kiri Lee, dan kini pipi kirinya sudah semakin memanas karena tamparan bertubi dari Zen.


"Lakukan saja semua yang kau mau! Maka aku akan lakukan sesuai yang aku mau juga! Aku akan membongkar semua kejahatanmu dan menjebloskanmu ke dalam penjara!" ucap Zen dengan seringai manis menatap Lee yang terlihat mulai ketar-ketir menatap dirinya.


"Kau bisa apa? Kau bahkan tak punya bukti apapun!!"

__ADS_1


"Kau tak perlu repot-repot memikirkan itu semua, Bocah sampah! Aku akan menemukan apapun yang aku mau! Semua yang aku inginkan, akan aku dapatkan dengan mudah! Bukti di labolatorium itu sangat kecil untuk aku dapatkan! Persiapkan saja dirimu untuk mendekam di penjara lagi!"


...⚜⚜⚜...


__ADS_2