Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
A Warm Kiss ...


__ADS_3

Zen masih terlihat menggandeng Christal dan tak mau melepaskan tangan Christal meskipun hanya satu detik. Mereka berdua menyusuri sebuah koridor dan melewati beberapa ruangan yang berukuran cukup luas hingga akhirnya mereka berdua mulai keluar dari Star Entertaiment.


Sebuah van putih sudah disiapkan oleh pengawal Zen dan kini Zen mulai memasuki van putih itu bersama dengan Christal. Mereka duduk bersama kembali dan mulai menyalakan sebuah lagu milik Zen yang berjudul Never Say Good Bye. Dan itu adalah salah satu lagu kesukaan Christal dan Christal juga sering menyanyikannya.


"Christal. Aku akan ganti baju sebentar. Karena aku sedikit berkeringat karena latihan." ucap Zen lalu bangkit dari tempat duduknya.


"Hhm. Okay!!" sahut Christal seadanya.


Zen mulai mengambil sebuah T-shirt berwarna putih lalu mengenakannya. Setelah itu Zen mulai mengenakan sebuah sweater berwarna abu-abu muda. Pemuda pemilik sepasang pupil kebiruan ini kali ini terlihat berpenampilan sedikit kalem dan lembut.


Zen mulai menghampiri Christal dan duduk bergabung bersama Christal lagi untuk memanfaatkan waktu bersama dengan Christal kembali.


"Christal, terima kasih ya sudah menemaniku berlatih. Aku sungguh senang sekali hari ini dan aku juga lebih bersemangat karena ada kamu." ucap Zen dengan tulus dan mulai menyandarkan tubuhnya pada kursi sofa yang berwarna cream lembut yang empuk itu.


"Sama-sama, Li Zeyan. Aku juga senang sekali kok karena kamu mengajakku hari ini. Aku tak pernah menyangka jika aku bisa datang dan melihat Star Entertaiment secara langsung lo." sahut Christal yang masih terlihat berbinar.


"Uhm. Maaf ya jika kamu juga merasa bosan saat melihatku berlatih." kali ini Zen membuka tangan kirinya dan mendaratkannya di belakang sofa itu, tepat di belakang punggung Christal.


"Tidak kok. Kan ada Thunder yang menemaniku tadi ..." celutuk Christal tanpa sadar, dan tentu saja jika mengingat Thunder akan membuat Zen kembali kesal.


"Ahh jika mengingat Thunder aku menjadi sedikit kesal." sungut Zen menatap Christal dengan ekspresi wajahnya yang sedikit cemberut.


"Oh, maaf deh. Aku tidak bermaksud ..."

__ADS_1


GREEP ...


Belum sempat Christal menyelesaikan ucapannya, Zen sudah memeluknya begitu saja dengan hangat. Dan itu membuat Christal sedikit terkejut karena mendapakan sebuah pelukan tak terduga dari Zen hingga tak bisa membuat Chrisral berkata-kata lagi.


"Apalagi melihat Thunder memelukmu seperti tadi, itu membuatku merasa kesal, Christal." ucap Zen semaki kuat memelul Christal.


"Maaf deh, aku juga tidak tau. Tapi tiba-tiba saja Thunder melakukannya." ucap Christal yang terlhat sangat menyesal dan sudah cemberut saja.


"Sebemarnya Thunder anak yang baik dan sangat ceria, dan hal seperti ini sangat wajar terjadi sebelum-sebelumnya. Namun kali ini dia berbuat hal seperti ini terhadapmu, Christal. Dan aku tidak bisa diam saja. Aku tidak rela jika melihat kamu dipeluk olehnya atau pemuda lain."


"Lalu bagaimana saat aku melihatmu berpelukan dengan gadis lain seperti saat kamu sedang berpelukan dengan Tiffany tadi saat menari bersama?" tanya Christal tiba-tiba.


Pertanyaan dari Christal yang secara tiba-tiba cukup membuat Zen merasa terkejut dan hampir membuat Zen tak bisa berkata-kata dalam beberapa saat. Memang benar di dalam tarian lagu tetbaru, Zen dan Tiffany terlihat seperti seorang kekasih yang sangat serasi. Bahkan pada akhir tarian Zen dan Tiffany berpelukan dengan sangat manis dan mesra.


Cukup lama Christal hanya mendongak menatap Zen dengan ekspresi yang terlihat seperti seorang gadis yang sedang cemburu ketika melihat kekasihnya sedang kepergok bermesraan bersama gadis lainnya lagi.


Namun tiba-tiba saja Christal tertawa renyah karena sudah tidak tahan untuk berpura-pura marah dan kesal terhadap Zen. Yeap, sebenarnya Christal hanya sedanf bercanda dan tidak benar-benar sedang marah dan kesal dengan Zen.


"Li Zeyan ... ahaha ... wajahmu lucu sekali. Padahal aku hanya bercanda dan sedang mengodamu saja. Lucu sekali. Ahaha ..." Christal tertawa kecil dan sebenarnya cukup membuat Zen merasa sedikit kebingungan."Ternyata aku tidak berbakat berakting ya. Aku tidak tahan lagi dan malah tertawa ... ahaha ..."


Zen mulai merubah ekspresinya saat menatap Christal. Kali ini pemuda pemilik mata bak okavango blue diamond ini mulai memasang wajah sedikit kesal namun juga sedikit tersenyum tipis. Dengan cepat Zen mulai melingkarkan tangan kirinya melingkar pada pinggang Christal dan sedikit menarik tubuh Christal untuk menjadi semakin dekar dengannya.


GREEP ...

__ADS_1


Perlakuan dari Zen yang secara tiba-tiba yang mengakibatkan tubuh mereka berdua menjadi semakin dekat membuat Christal menghentikkan tawanya dan mulai berekspresi sedikit tegang saat menatap Zen.


"Christal, kamu sudah berani menggodaku ya." ucap Zen dengan ekspresi bak seorang guru tang sedang memarahi salah satu siswinya karena sang siswi sudah membuat sebuah kesalahan.


"Maaf, tapi aku tidak sengaja melakukannya. Aku tidak bermaksud untuk ..."


CUUPP ...


Belum sempat Christal melanjutkan kalimatnya dengan sempurna, tiba-tiba Zen sudah membungkam mulut Christal dengan sebuah ciuman yang begitu lembur.


Christal sempat membelalak karena terkejut, namun tubuh dan indranya tidak bisa menolak semua itu, malah tubuh dan indranya mulai mengikuti keadaan saat ini dengan begitu alami.


Sepasang mata Christal mulai terpejam, dan Christal tidak berusaha untuk menghentikkan Zen. Bahkan kedua tangan Christal mulai berlegangan dengan lembut pada kedua lengan Zen yang saat ini menjadi semakin kuat.


Mendapatkan respon dari Christal, kini Zen mulai meraih tengkuk Chistal dengan tangan kanannya untuk menahan tubuh Christal sedikit condong ke belakang.


Semua itu terjadi dengan begitu hangat dan sangat alami. Sebuah lagu terbaru Zen yang berjudul My Girl, My Velvet Sun yang sedang terputar dari sebuah kaset, kini mengiringi ciuman hangat antara Zen dan Christal. Menjadikan Zen dan Christal menjadi sedikit rileks saat melakukannya.


Kini hembusan nafas kasar Zen terasa menyapu wajah mungil Christal yang saat ini sudah menjadi sangat merah karena malu.


Kini nafas Zen dan Christal hanya dipisahkan oleh beberapa lembar jari saja. Mereka berbaur bersama dalam harmoni dan ritme yang sedikit tegas, seperti sedang menghasut mereka berdua untuk lebih dari berciuman.


Namun tidak! Tentu saja itu tak boleh Zen lakukan. Bisa bersama, memeluk dan mencium Christal saja itu sudah lebih dari cukup. Dan sebenarnya itu sudah sangat membuatnya tegang jika Zen kembali mengingat sosok Kagami Jiro.

__ADS_1


__ADS_2