Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Rencana Yang Berantakan


__ADS_3

TRRIINGG ...


Setelah beberapa saat akhirnya pintu lift itu mulai terbuka sedikit demi sedikit. Preman itu terlihat masih mengawasi dari dalam lift dan memastikan keadaan di luar aman dan tidak ada seorangpun yang sedang menghalangi dan menunggunya di luar lift.


Setelah memastikan keadaan cukup aman, akhirnya preman itu mulai membawa Xia Feii keluar dari dalam lift. Namun baru melangkah 2 langkah dari dalam lift, tiba-tiba ada yang menarik lengan kanan preman itu dan membuat tangan kanan preman itu sedikit terbuka.


GRREEPP ...


Di saat itulah Xia Feii segera menginjak kaki kanan preman itu dengan cukup keras dengan sepatu bootnya.


DDUUKK ...


"Arrghh ..." erang preman itu menahan rasa sakit hingga reflek preman itu melepaskan Xia Feii begitu saja.


Xia Feii segera menggunanak kesempatan itu dengan baik untuk berlari menjauh dari preman itu, bersama Zen yang ternyata sudah di depan tak jauh dari lift itu. Sementara seseorang yang menarik lengan kanan preman itu yang tak lain adalah Yukimura, kini mulai menghempaskan tubuh preman itu berputar ke depan lalu terjatuh di dekat kaki Xia Feii dan Zen.


BRRUUGGHH ...


Pria itu terjatuh tengkurap dan pisau itu masih digenggamnya dengan manis, dan dia masih berusaha untuk menghunuskannya ke arah kaki Xia Feii. Namun serangan itu dengan cepat digagalkan oleh Zen dengan menginjak pergelangan tangannya hingga terkunci di atas lantai yang berkilauan itu.


GGRREEPP ...


Namun rupanya bertepatan dengan itu, Xia Feii yang sedang begitu terkejut dan panik menutup wajahnya dengan kedua tangannya, dan dengan cepat segera menjejakkan kaki kanannya hingga akhirnya dia menendang kepala pria itu dengan cukup keras.


DUUAKK ...


"Argghh ... dasar wanita sialan!" rintih preman itu sambil memegangi kepalanya yang sedikit berdarah yang terkena tendangan dari Xia Feii dengan tangan kirinya. Sementara tangan kanannya masih terinjak oleh kaki Zen.

__ADS_1


Perlahan Xia Feii mulai menurunkan kembali kedua tangannya dan melihat apa yang sudah terjadi.


"Terima kasih, Zen." ucap Xia Feii yang menyadari Zen sudah menyelamatkannya kali ini.


Zen hanya menghembuskan napas kasarnya ke udara, dan terlihat sedikit pusing.


Haiishh ... seharusnya aku tidak datang, atau paling tidak sebaiknya aku bersembunyi saja tadi! Cckk!! Maafkan aku, Yukimura! Seharusnya kamulah yang mendapatkan peran keren ini untuk menyelamatkan Xia Feii.


Batin Zen sedikit menunduk dan memijat keningnya, "Ahh iya ... aku akan segera membawa berandalan ini kepada petugas keamanan disini! Kau bersama saja dengan Yukimura! Kau akan aman saat bersama dengannya, Xia Feii." ucap Zen lalu memaksa preman itu untuk segera berdiri kembali. "Jangan pergi jauh-jauh dari Yukimura! Tidak menutup kemungkinan jika akan ada berandalan lagi yang tiba-tiba saja menyerang kembali." kini Zen mulai melenggang dengan menggiring preman itu.


"Hhm ..." Xia Feii menjawab pelan dan hanya menatap kepergian Zen, hingga punggung pemuda tampan itu menghilang dari pelupuk matanya dan meninggalkan tempat ini.


Yukimura mulai melenggang dan menghampiri Xia Feii, "Xia Feii, kamu baik-baik saja kan? Tidak ada yang terluka kan?" ucap Yukimura yang terlihat begitu khawatir.


Xia Feii menggeleng pelan dan tersenyum tipis, "Aku baik-baik saja, Tuan Yukimura."


"Syukurlah. Uhm, sorry ya makan malam kali ini menjadi begitu berantakan seperti ini." ucap Yukimura yang terlihat begitu tak enak kepada Xia Feii.


"Tidak masalah,Tuan. Tidak ada kejadian di masa depan yang selalu kita ketahui. Manusia hanya bisa merencanakan, namun Tuhanlah yang berkehendak. Setidaknya aku baik-baik saja dan tidak terluka." ucap Xia Feii dengan seulas senyum.


Ucapan Xia Feii memang benar sekali. Namun biar bagaimanapun Yukimura masih tetap merasa begitu bersalah saat ini kepada dokter cantik itu, "Mari aku antarkan pulang saja. Hari sudah semakin larut." ucap Yukimura tiba-tiba dan mulai melenggang mendahului Xia Feii dengan langkahnya yang begitu berat.


Pasti Xia Feii masih begitu shock dan ketakutan atas kejadian di Manhattan Bar and Restaurant tadi. Sebaiknya aku mengantarnya pulang saja. Yeap, sebaiknya dia pulang dan beristirahat saja. Kasihan sekali dia.


Batin Yukimura dengan tatapan datar dan dinginnya menatap malam yang sedikit dihiasi dengan kepingan-kepingan salju itu. Sementara Xia Feii masih berjalan mengikuti Yukimura di sisi belakangnya.


Dokter cantik itu juga terdiam saja dan tak membuka obrolan kembali. Wajah ayunya terlihat sedikit murung, entah apa yang sedang dia pikirkan saat ini.

__ADS_1


"Kamu menginap di Richmond Hotel bukan, Xia Feii?" tanya Yukimura yang mulai berhenti di sebuah halte.


"Ya. Aku menginap disana, Tuan" jawab Xia Feii seadanya.


PLEETAKK ...


Tiba-tiba sebuah kotak kecil berwarna merah maroon terjatuh di atas lantai begitu saja dari saku jaz hujan Yukimura, tanpa dia menyadarinya. Xia Feii yang menyadarinya kini mulai memungut kotak kecil berwarna merah maroon itu.


"Tuan Yukimura, kau menjatuhkan sesuatu." ucap Xia Feii sambil menyodorkan sebuah kotak kemerahan itu untuk Yukimura.


Yukimura sempat terdiam beberapa saat karena bingung. Yeap, dia bingung karena dia tidak sadar saat menjatuhkan kotak kecil yang berisi sebuah cincin berlian yang sebenarnya akan dia gunakan untuk melamar Xia Fei.


"Tuan Yukimura ..." ucap Xia Feii yang sukses membuyarkan lamunan Yukimura.


"Oh, iya. Teima kasih, Xia Feii!" sahut Yukimura lalu menerima kotak kemerahan kecil itu.


"Tuan Yukimura, kau berniat untuk melamar seorang gadis ya?" ucap Xia Feii tiba-tiba dengan seulas senyum menatap Yukimura.


"Oh, sebenarnya itu ... sebenarnya ..." ucap Yukimura begitu bingung harus menjawab apa saat ini, dia juga terlihat mengusap pelan tengkuknya.


"Semoga sukses ya! Aku doakan gadis itu menerima tuan ya!" ucap Xia Feii begitu bersemangat lalu berusaha untuk menghadang sebuah taxi.


Sementara Yukimura hanya bisa tercengang dan tak bisa menjawab ucapan penyemangat dai Xia Feii. Bahkan Yukimura begitu berat untuk menjelaskan kepada Xia Feii, jika gadis yang hendak dilamarnya sebenarnya adalah dia.


Taxi itu kini mulai berhenti di hadapan mereka berdua dan keduanya mulai memasuki taxi berwarna putih itu.


"Antar kami ke Richmond Hotel ya, Pak!" perintah Xia Feii kepada sopir taxi itu.

__ADS_1


"Baik, Nona." sahut sopir taxi itu dengan ramah.


Kini taxi itu mulai melaju dan menyusuri jalanan kota Tokyo di malam hari yang begitu indah namun dingin ini. Di sepanjang perjalanan, Xia Feii terlihat begitu menikmati panorama yang dilaluinya di sisi jalan.


__ADS_2