
Akhir pekan yang sedikit mendung menghiasi hari ini. Bahkan sang mentari juga belum memperlihatkan sinar hangatnya hari ini. Suasana ini membuat Zen sangat malas untuk melakukan kegiatan apapun. Apalagi jika harus beraktifitas di luar appartementnya.
Zen hanya menghabiskan akhir pekan tanpa ada schedule di appartementnya saja dengan bersenang-senang dengan barbel dan latihan ototnya. Hanya kegiatan-kegiatan itulah yang bisa menghibur dan menemani hari-harinya.
Apalagi setelah kak Kai tidak ada lagi bersamanya. Rasanya sangat kesepian dan begitu merindukan sosok kak Kai, sosok hangat dan dewasa seorang manager sekaligus kakak.
Zen mulai berjalan beberapa langkah menatap sebuah cermin di hadapannya.
"Huft ... badan ini sudah semakin terbentuk. Kau harus berterima kasih kepadaku suatu saat nanti, Bocah!" celutuk Zen yang kini berkaca dan melihat tubuhnya sendiri yang sedang bertelanjang dada.
Memang benar, tubuh Zen yang sekarang sudah sangat berbeda dari yang dulu. Dan tentunya tubuhnya yang sekarang lebih kuat dan begitu atletis karena setiap hari sudah dilatih dengan beberapa olahraga otot oleh Kagami Jiro.
"Apa aku buat tato di tubuh ini saja ya?" gumam Zen sambil berkacak pinggang dan memperhatikan tubuh itu melalui cermin.
Kedua alisnya berkerut saling berdekatan, menandakan dia sedang berpikir keras saat ini.
"Hhm ... namun pasti managerku akan mengomeliku jika aku membuat tato di tubuhku Tidak boleh! Aku tidak boleh melakulannya! Atau bocah bernama Li Zeyan akan mendapat masalah lagi. huft ..." Zen mendengus dan membuat napas kasarnya ke udara.
Namun tiba-tiba saja terdengar suara derap langkah kaki yang terdengar seperti sedang berlari kecil. Suara derap langkah itu kini semakin mendekat dan mendekat, hingga akhirnya sosok Vann mulai terlihat.
"Tuan, Zen ... tuan Zen ...!" ucap Vann tiba-tiba yang datang dengan begitu tergesa-gesa dan berusaha untuk mengatur napasnya kembali.
"Ada apa?" tanya Zen begitu penasaran, karena Vann tidak akan bertindak sampai seperti ini jika benar-benar tidak ada yang terjadi dengan serius.
"Tuan Kai ... tuan kai ... bibi Yixue ..." ucap Vann yang masih terpotong karena napasnya masih tersenggal.
__ADS_1
"Duduk dan minumlah dulu!" kini Zen melemparkan sekaleng minuman dingin untuk Vann.
Vann menangkapnya dengan sempurna, lalu mulai membuka dan meminum minuman kaleng itu. Setelah beberapa saat Vann kembali melaporkan sesuatu untuk Zen.
"Tuan Zen ..."
"Ya, ada apa?"
"Tuan Kai kembali ke desa Nahui Guizhou karena bibi Yixue sedang sakit kritis saat itu. Dan ... baru saja aku mendengar kabar dari bibi Rong ... kalau bibi Yixue baru saja meninggal dua hari yang lalu, Tuan." ucap Vann yang masih terlihat begitu resah.
Zen yang mendengarkan ucapan Vann seketika terdiam membeku beberapa saat dan tidak bisa mengatakan apa-apa. Entah mengapa, ada rasa begitu kehilangan ketika mendengarkan berita itu. Padahal Kagami Jiro baru sekali saja bertemu dengan ibu kak Kai, tapi rasanya bisa begitu dekat dan nyaman ketika bersama bibi Yixue.
Apakah sebenarnya si bocah Li Zeyan juga memiliki hubungan dengan bibi Yixue? Mengapa rasanya seperti kehilangan seorang ibu? Rasanya begitu sakit, seperti saat 2 tahun yang lalu saat aku kehilangan ibuku sendiri ...
Batin Kagami Jiro yang tanpa sadar sepasang mata bak okavango blue diamond itu sudah sedikit berkaca-kaca.
"Baik, Tuan Zen!" Vann menyauti dan segera undur diri. Lalu Vann segera mencari 5 buah tiket untuk penerbangan ke Shanghai melalui aplikasi di ponselnya.
...⚜⚜⚜...
Zen, Vann, Yunxi, Nokto dan Jin Heng segera mendatangi Beijing Daxing Airport siang hari ini. Mereka akan menaiki maskapai China Southern Airlines kelas VIP untuk menuju ke KWE Guiyang Airport.
Perjalanan udara yang ditempuh hampir 3 jam ini membuat Zen tertidur terlelap di sepanjang perjalanan. Mungkin Zen merasa bosan, atau memang sudah mengantuk. Entahlah ...
Setelah sampai di KWE Guiyang Airport, kini mereka menghadang sebuah taxi berwarna kuning cerah dan mulai melakukan perjalanan darat menuju desa Nahui di provinsu Guizhou. Hingga akhirnya setelah beberapa saat, mereka sudah sampai di depan sebuah gang kecil.
__ADS_1
Kini mereka kembali mendatangi sebuah desa kecil Nahui yang berada di provinsi Guizhou yang begitu indah. Masih sama saat pertama kali datang untuk melihat desa indah ini. Desa Nahui ini masih terlihat begitu asri dan sejuk.
Zen segera turun dari taxi berwarna kuning cerah itu dan diikuti oleh keempat pengawal setianya. Kini mereka mulai berjalan di gang sempit yang sedikit menanjak itu bersama-sama.
Tidak banyak perbincangan diantara mereka berlima. Malah sebenarnya sama sekali tidak ada perbincangan apapun. Semuanya terlihat begitu bersedih karena berduka. Mungkin yang meninggal adalah bibi Yixue, ibu dari kak Kai. Namun, kelima pria ini rasanya seperti sudah kehilangan seorang ibu sendiri.
Terlebih bibi Yixue selalu berbuat baik dan ramah kepada Zen maupun Vann, Yunxi, Nokto, maupun Jin Heng.
Setelah beberapa saat, akhirnya mereka telah sampai di depan sebuah rumah yang berada di ujung gang. Sebuah kain putih masih tergantung di luar pintu depan rumah untuk mengumumkan bahwa keluarga tersebut sedang berkabung. Putih juga merupakan warna yang melambangkan kemurnian, keberanian, kekuatan namun juga kerap digunakan saat berkabung di China.
Dengan hati-hati Zen mulai mengetuk pintu itu. Setelah beberapa saat akhirnya pintu terbuka, terlihat seorang wanita paruh baya yang masih lengkap dengan memakai pakaian serba putih. Matanya begitu sayu, menandakan dia sudah banyak menangis.
Setelah melihat sosok Zen, wanita paruh baya itu malah semakin menangis dan langsung memeluk Zen.
"Bibi Rong ..." ucap Zen yang berusaha untuk menenangkan bibi Rong dengan mengusap punggungngnya pelan. "Tenanglah, jangan terus bersedih. Nanti bibi Rong bisa sakit."
Akhirnya karena merasa sedikit tak enak dan merasa segan karena Zen yang baru saja datang setelah menempuh perjalanan jauh, bibi Rong segera menghentikkan tangisnya dan melepas pelukannya.
"Maaf, Zen. Bibi masih begitu terpukul dengan kepergian Yixue."
"Hhm. Aku paham, Bibi ... tidak masalah." jawab Zen dengan begitu ramah.
"Ayo, masuklah. Kai ada di dalam." ucap bibi Rong lalu bergegas memasuki rumah kuno itu dan diikuti oleh Zen dan keempat pengawalnya
Terlihat seorang pemuda berkacamata dengan pakaian berkabung serba putih/blacu yang masih duduk bersimpuh di depan sebuah meja yang berisi sebuah guci putih dengan ukiran bunga teratai di bagian luarnya. Ada juga makanan, buah-buahan, dupa, lilin, uang akhirat di atas meja itu.
__ADS_1
Kak Kai berdiam diri dan memejamkan kedua matanya dan mungkin sedang berdoa untuk ibunya yang sudah tiada.