
Thunder masih saja terlihat begitu kebingungan saat ini. Wajah manis dan imutnya kini sudah berubah menjadi begitu ketakutan dan sudah menjadi sedikit pucat begitu saja. Bibirnya terlihat bergetar, lidahnya terasa kelu seakan begitu ragu dan berat untuk menjawab Kagami Jiro.
"Jangan hanya diam saja!! Apa kamu bemar-benar seorang pria?! Katakan sesuatu padaku!!" hardik Kagami Jiro mulai naik darah karena merasa diabaikan oleh Thunder.
Kini Kagami Jiro mulai berkacak pinggang dan menatap tajam pemuda bernama Thunder itu.
"Sayang, jangan keras-keras padanya. Lihatlah dia sudah hampir mau menangis." ucap Yuna setengau berbisik.
"Ma-maaf, Kakak sulungnya Christal. Ta-tapi aku tidak bisa bela diri."bucap Thunder memberanikan diri untuk tetap berkata dengan jujur meskipun saat ini Thunder benar-benar takut luar biasa.
"Bararti kamu tidak boleh berteman dekat dengan Christal! Cukup menjadi biasa saja, dan jangan pernah berharap lebih! Karena aku sudah memilihkan calon suami untuk Christal!" ucap Kagami Jiro menandaskan dengan sangat tegas.
Christal sudah punya calon suami? Siapa? Mengaoa begitu cepat sekali? Sungguh dunia ini sangat tidak adil. Padahal aku ingin menjadi lebih dekat dengan Christal.
Batin Thunder dengan raut wajahnya yang terlihat kebingungan.
"Jangan pernah berharap lebih dari itu!! Apa kamu paham, Thunder?!" tanya Kagami Jiro dengan suaranya yang sangat menggelegar seisi ruangan ini. "Jaga sikapmu jika masih ingin berteman biasa dengan Chistal!"
"Ba-baik, Kakak sulungnya Christal. Ak-aku mengerti." sahut Thunder masih dengan terbata. "Ka-lau begitu ... aku ingin berpamitan. Ma-masih ada beberapa jadwal pemotretan dan berlatih hari ini."
Kali ini Thunder memutuskan untuk berpamitan dan pulang lebih awal karena sungguh ketakutan saat menghadapi Kagami Jiri yang kelam dan menakutkan.
"Hhm. Silakan ..." jawab Kagami Jiro dengan mudahnya.
"Baik. Kalau begitu permisi semuanya." Thunder membungkukkan badannya dengan penuh rasa hormat hingga akhirnya, Thunder mulai melenggang dan meninggalkan kamar ini.
Sebenarnya Zen masih begitu terkejut dengan keputusan dari Thunder, namun sebenarnya Zen juga merasa bahagia karena Thunder yang sudah mengundurkab diri untuk dekat dengan Chirstal
__ADS_1
Setelah beberapa saat akhirnya Christal mulai datang dengan membawakan beberapa jus plum dan mulai meletakkannya di atas meja.
"Ayo Li Zeyan! Minumlah jus buatanku sendiri ini. Aku sudah berusaha keras lo." canda Christal dengan senyum lebar yang begitu manis.
"Terima kasih, Christal. Aku akan meminumnya kok." sahut Zen yang mulai menggendong si kembar Kenzi dan Kenzou dan mengajaknya duduk di pangkuannya saat duduk ke atas sebuah sofa yang memanjang.
"Sama-sama." sahut Christal dengan ramah, namun tiba-tiba Christal mulai celingukan dan terlihat sedang mencari seseorang, atau mungkin Christal sedang mencari sosok Thunder. "Oh iya, dimana.Thunder ya?"
"Thunder sudah pulang lebih awal karena dia masih memiliki kesibukan lainnya lagi." sahut Kagami Jiro mulai duduk di sebuah sofa bersama Yuna.
"Tapi wajah Thunder seperti sangat tidak asing ya? Apa aku pernah bertemu dengan dia sebelumnya ya?" gumam Yuna mulai mengingat-ingat sesuatu.
"Tentu saja kakak ipar Yuna merasa sangat tidak asing dengan Thunder. Karena Thunder sering muncul di TV, Kakak ipar. Thunder sering membintangi beberapa drama dan menjadi model iklan." jawab Christal yang mulai duduk di sebuah sofa tunggal.
"Wah wah ... jadi pekerjaan Thunder sama seperti Li Zeyan rupanya ya? Hhm ... pantas saja dia juga cantik dan mulus sekali." gumam Kagami Jiro mulai meminum jus plum buatan Yuna.
"Menurutku istriku yang paling cantik di dunia ini dimata kakak, Christal. Kamu mau membawakan wanita manapun, seberapa banyakpun. Kakak hanya akan melihat kakak iparmu." sahut Kagami Jiro dengan senyum lebar dan menggoda Yuna.
"Apaan sih kamu, Sayang. Lihatlah sedang ada Li Zeyan disini. Apa kamu tidak malu sudah bertingkah seperti ini di depan mereka?" sungut Yuna yang sebenarnya sudah sedikit tersipu karena malu.
Mendengar ucapan dari Yuna membuat Kagami Jiro tertawa renyah dan malah merangkul Yuna, "Mengapa harus malu. Toh cepat apa lambat Li Zeyan akan segera menjadi adik iparku."
"Uhukkk ..." Zen yang sedang menikmati jus plum itu tersedak saat mendengarkan ucapan dari Kagamj Jiro.
Bahkan jus plum itu tumpah dan membasahi pakaiannya hingga meninggalkan noda berwarna plum pada T-Shirt berwarna cerah yang sedang Zen kenakan saat ini.
"Li Zeyan. Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Christal yang terlihat begitu khawatir terhadap Zen.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja, Christal." sahut Zen sambil membersihkan pakaiannya dengan jemarinya.
"Tapi pakaianmu kotor. Bagaimana ini?" ucap Christal yang terlihat begitu kebingungan.
"Uhm ... kamu bisa memakai pakaianku, Li Zeyan. Christal ambilkan pakaian kakak. Dan carikan size terkecil untuk Li Zeyan!" ucap Kagami Jiro memerintahkan Christal.
Namun belum sempat Christal beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan tempat duduknya, tiba-tiba saja Yuna mulai mengatakan sesuatu dengan cepat.
"Biar aku saja yang mengambilkan. Kalian tunggu saja disini." ucap Yuna sambil beranjak dari tempat duduknya dan mulai melenggang meninggalkan tempat itu.
"Wah gara-gara kak Jiro nih pakaian Zen jadi kotor karena terkena jus plum." celutuk Christal malah menyalahkan Kagami Jiro.
"Ahaha ... itu karena Li Zeyan yang tersedak dan minum tidak berhati-hati. Mengapa jadi menyalahkan kakak? Huft ... ternyata kamu sekarang lebih membela pemuda ini dibanding dengan kakakmu sendiri ya, Christal. Cckk ...." sungut Kagami Jiro mulai tidak terima karena Li Zeyan lebih dibela oleh Christal dibanding dirinya sendiri.
Karena selama ini pria yang benar-benar disayangi dan selalu berada dalah hati Christal hanya ada 3. Papa sekaligus kedua kakak laki-lakinya.
"Huft ... jadi posisi kakak di dalam hatimu akan tergeser secepat itu ya. Rasanya sedih sekali ..." ucap Kagami Jiro lagi dengan nada yang begitu sedih.
"Apaan sih kakak ini. Papa, kak Jiro dan kak Yosuke tentu saja akan selalu ada di dalam hatiku donk!" sahut Christal yang masih berusaha untuk membersihkan pakaian Zen dengan menggunakan sapu tangan.
"Ah adikku yang manis sungguh adalah cinta keduaku untuk saat ini ..." celutuk Kagami Jiro menggoda Christal.
"Hei Kenzi, Kenzou ... lihatlah papa kalian! Selalu pandai merayu wanita. Jika kalian sudah besar nanti jangan seperti itu ya. Hehe ..." bisik Christal kepada si kembar Kenzi dan Kenzou.
"Hei, Christal! Jangan berbicara omong kosong kepada kedua putraku ..." ucap Kagami Jiro yang sepertinya sedikit mendengar bisikan Christal untuk kedua putra kembarnya.
Mendengarkan semua itu sebenarnya masih cukup membuat Zen merasa begitu kikuk dan malu karena belum terbiasa dan masih canggung untuk bersenda gurau bersama seorang petinggi dari Doragonshadou.
__ADS_1