
Zen mulai melenggang untuk mendekati kak Kai. Kini dia berusaha untuk melepaskan kak Kai. Pandangan keduanya saling bertemu untuk beberapa saat, tatapan haru dan penuh dengan kerinduan tergambarkan dengan sangat jelas pada pandangan antara Zen dan kak Kai.
"Zen ..." ucap kak Kai begitu lirih. Meskipun tersembunyi dibalik sebuah kaca mata beningnya, namun sepasang matanya yang sudah berair sangat terlihat dengan sangat nyata.
Terlihat darah segar pada sudut bibir pemuda berkacamata itu, menandakan luka itu baru saja dia dapatkan.
Zen tersenyum begitu hangat menatap pemuda berkacamata itu dan meraih wajah bagian kanan kak Kai dan mengusapnya dengan lembut. Tak terasa sepasang mata kebiruan itu kini juga sudah menjadi seperti kristal yang begitu indah, berkaca-kaca karena haru.
Hal ini dilakukan dengan tulus oleh Kagami Jiro, dan sepertinya saat ini dia sedang mengingat salah satu adik kesayangannya, Kagami Yosuke. Adik yang saat ini berada jauh darinya.
"Zen ..." ucap kak Kai begitu lirih dan membuyarkan angan Zen.
Zen hanya tersenyum hangat lalu mengangguk pelan.
"Zen ... maafkan kakak ... seharusnya kamu tidak perlu datang kesini ... ini akan sangat membahayakanmu." ucap kak Kai begitu lirih dan terlihat begitu mengkhawatirkan Zen.
"Kakak selalu melindungi dan menjagaku selama ini. Lantas ... apakah bisa aku membiarkan kakak begitu saja? Aku tidak akan mungkin membiarkan kakak dalam keadaan bahaya. Tentu saja aku akan datang untuk menyelamatkan kakak." Zen menyauti dengan begitu hangat dan lembut, baik dari ucapan maupun tatapannya.
Mendengar ucapan dari Zen malah semakin membuat kak Kai semakin merasa bersedih dan dia sangat terlihat sedang menahan diri agar tidak sampai menitikkan air matanya.
"Jangan menangis, Kak! Kau adalah sosok seorang pria dewasa dan selalu tenang dalam menghadapi segala masalah apapun." ucap Zen berusaha untuk menghibur kak Kai.
Kak Kai mengangguk pelan dan terlihat masih menahan diri agar tidak menitikkan air mata harunya.
Kini Zen mulai melepaskan ikatan tali pada kaki kak Kai, selanjutnya Zen mulai melepaskan ikatan pada tangan kak Kai. Namun, tiba-tiba saja ada seseorang yang berusaha untuk menyerang Zen kembali.
"Zen! Awas!" teriak kak Kai sambil meraih kedua bahu Zen lalu memutarnya dengan celat untuk menjadikan dirinya sebagai tameng untuk Zen.
__ADS_1
PRRANGG ...
Seorang pria yang hendak memukul kepala Zen dengan sebuah botol kaca, kini mengenai kepala kak Kai. Zen yang berada dalam dekapan kak Kai terlihat begitu shock lalu segera melepaskan dirinya dan menatap kak Kai.
Darah segar kini mulai mengucur dari pelipis pemuda berkacamata itu. Kak Kai tersenyum begitu hangat menatap Zen, tersirat sebuah kebahagiaan setelah dia berhasil untuk melindungi Zen, adiknya.
Namun tiba-tiba saja tubuh kak Kai terjatuh terduduk dan mulai tergeletak begitu saja dengan sepasang matanya yang mulai terpejam.
Sirine mobil kepolisian mulai terdengar tak jauh dari tempat itu, entah siapa yang melaporkan semua kejadian ini kepada polisi. Ketiga preman itu dengan cepat mulai bergegas untuk meninggalkan rumah tua itu.
"Luo Kai!" teriak Zen lalu segera duduk bersimpuh dan meraih tubuh kak Kai. "Luo Kai! Jawab aku! Apa kakak bisa mendengarku?!" ucap Zen yang terdengar begitu parau dan sedikit mengguncang bahu kak Kai.
Perlahan kak Kai mulai membuka sepasang matanya kembali, menatap Zen dengan begitu hangatnya. Jemari kanannya juga meraih pelan sisi kiri wajah tampan Zen, dia mulai mengusapnya dengan lembut beberapa saat, hingga akhirnya jemari itu terjatuh saat kak Kai mulai memejamkan sepasang matanya kembali.
...⚜⚜⚜...
"Oh, baiklah. Apakah Igor akan ikut bersamamu, Yuna?" tanya seorang pria dewasa yang kini sedang duduk bersantai ditemani dengan secangkir Capucino coffe.
"Hhm. Dia akan ikut bersamaku kok. Bagaimana dengan beberapa perusahaan perhiasanmu, Sayang? Sepertinya kamu harus merekrut beberapa orang untuk membantu orang-orangmu." wanita cantik itu menyarankan sambil meraih sebuah liptint berwarna natural pink lalu memoleskan pada bibir mungilnya yang tipis.
"Iya, Yuna. Mereka mulai mempromosikan beberapa orang yang sesuai di bidangnya. Dan mereka diambil dari anggota klan Doragonshadou." jawab pemuda yang tak lain adalah Kagami Jiro.
"Hhm. Okay! Kalau begitu aku berangkat dulu." ucap Yuna sambil meraih salah satu tas faforitnya yang berwarna putih lalu segera mententengnya.
"Baiklah, hati-hati. Jangan pulang terlalu larut."
"Okay!" wanita dewasa itu kini telah melenggang dan meninggalkan kamar besar itu.
__ADS_1
Kagami Jiro mulai meraih sebuah benda pipih yang sedari tadi tergeletak di atas meja. Kini dia mulai berselancar di salah satu media sosial untuk mencari tau tentang raganya saat ini yang sedang berada di China.
Tentu saja untuk mencari tau berita tentang Li Zeyan akan terasa begitu mudah, karena dia adalah seorang idol. Dan hidupnya akan selalu terekspos oleh media, dan tentu saja kehidupannya akan sangat diketahui oleh semua orang.
Setelah beberapa saat berselancar di media sosial, Kagami Jiro yang berjiwa seorang Li Zeyan mulai membulatkan matanya menatap layar ponsel itu. Dengan cepat dia mulai meletakkan secangkir Capucino coffe yang masih begitu hangat itu di atas meja di hadapannya.
"Baru satu minggu tidak melihat infotaiment, namun sudah banyak sekali yang terjadi di kehidupan mereka..." guman Kagami Jiro yang mulai membaca beberapa artikel.
Mulai dari Amee yang mengundurkan diri dari dunia entertaiment hingga sebuah kecelakaan yang terjadi di Wan Chai University yang membuat kedua temannnya sekaligus raganya menjadi korban. Bahkan Kagami Jiro juga melihat ada sebuah berita tentang kak Kai yang sekarang sedang terbaring di rumah sakit karena berusaha untuk menyelamatkan Li Zeyan dari para berandalan.
Berita terakhir sangat membuat Kagami Jiro begitu shock, hingga akhirnya dia segera bergegas untuk meninggalkan kamarnya dan memutuskan untuk mencari Yukimura. Karena hanya Yukimura-lah satu-satunya orang yang bisa berkomunikasi dengan Li Zeyan saat ini.
Sebenarnya Kagami Jiro bisa saja menghubungi Li Zeyan, namun akan terkesan begitu canggung jika dia menanyakan beberapa hal terjadap Li Zeyan yang berjiwa seorang pemimpin Dorangonshadou itu.
Kagami Jiro mulai menyisiri beberapa tempat di rumah besar Kagami, namun dia masih belum menemukan Yukimura. Bahkan di kamarnya, dia juga tidak ada disana.
Di sebuah lorong panjang di sebelah ruang keluarga, tiba-tiba saja Kagami Jiro berpapasan dengan Kagami Yosuke.
"Kak Jiro mau kemana? Mengapa terlihat begitu terburu-buru?" tanya Kagami Yosuke dengan ramah.
"Aku sedang mencari Yukimura. Apa kau melihatnya, Yosuke?" sahut Kagami Jiro seadanya.
"Aku melihatnya di ruang latihan. Kak Jiro bisa menemuinya di sana."
"Oh, baiklah. Kalau begitu aku akan pergi ke ruang latihan."
"Baiklah."
__ADS_1
...⚜⚜⚜...