Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Like Father, Like Son


__ADS_3

"Gadis itu sudah dijebloskan ke dalam penjara karena penyerangan terhadapmu itu, Zen. Untung saja kamu baik-baik saja dan Vann bisa segera mengatasi pendarahanmu dengan begitu cepat dan tepat saat itu." ucap Li Kai melalui panggilan telpon, karena saat ini masih terlalu sibuk untuk menyusul Zen ke Shanghai.


"Hhm. Iya, Kak Kai. Vann begitu terampil saat itu. Bahkan tubuhku seketika mengalami syok saat itu. Namun Vann bisa mengatasinya dengan baik, Kak. Aku tidak tau bagaimana jika jadinya Vann tidak ada saat itu. Mungkin saja aku akan benar-benar kehabisan darah. Sementara perjalanan menuju ke rumah sakit saat itu cukup macet." ucap Zen yang masih terduduk di atas brankar dan memandangi ke arah jendela.


"Ya. Maaf ... kakak dan Amee tidak bisa menyusul dan menjengukmu, Zen. Ada beberapa pekerjaan yang tidak bisa kakak tinggalkan." ucap Li Kai yang terdengar begitu menyesal.


"Tidak masalah, Kak. Jangan khawatir. Aku sudah lebih baik kok saat ini." sahut Zen dengan sangar ramah.


"Tapi kakek Li Feng sudah berangkat sejak pagi tadi. Dan mungkin saat ini kakek sudah akan sampai disana."


"Kakek datang ke Shanghai?" ucap Zen hampir saja tak percaya. "Bukankah kakek sedang memiliki banyak pekerjaan saat ini, Kak?"


"Hhm. Kakek membatalkan semua janji bertemu kliennya. Karena kakek sangat ingin bertemu dan melihatmu." jelas Li Kai.


"Ahh ... padahal kakek tidak perlu repot-repot membataklan semua pekerjaan dan janji bertemu dengan klien. Aku baik-baik saja kok." ucap Zen yang mulai merasa tidak enak karena sudah membuat kakeknya repot dan membatalkan semua pekerjaannya kareja harus datang ke Shanghai.


"Kakek sangat mengkhawatirkan kamu, Zen. Tentu saja apapun akan kakek lakukan untukmu. Ya sudah. Kakak harus segera pergi ke suatu tempat. Kamu cepatlah sembuh dan segera kembali ke Beijing."


"Hhm. Iya, Kak." sahut Zen lalu mengakhiri panggilan itu dan menyimpan kembali ponsel itu di atas nakas.


Pandangannya masih menatap lurus ke arah jendela. Suasana kamar rawat Zen yang begitu luas dan mewah ini kini begitu hening karena hanya ada dirinya di dalam.

__ADS_1


Para pengawal berada di depan kamar rawat, dan sebagian dari mereka sedang menikmati makan malamnya. Sedangkan Christal sendiri baru saja keluar bersama dengan pengawal Key dan beberapa pengawal keluarga Kagami lainnya lagi untuk membeli sesuatu.


Karena merasa bosan, kini Zen mulai menghidupkan TV berukuran 72 inchi itu dengan sebuah remot yang berada di atas nakas. Beberapa saluran TV beberapa kali Zen ganti untuk mencari saluran TV yang sedang ingin dia tonton saat ini.


Hingga akhirnya Zen mulai melihat beberapa berita penyerangan dan penusukan terhadap dirinya pada beberapa saluran TV. Rupanya ada beberapa rekaman yang memperlihatkan wajah Christal.


Dan ini semakin membuat Zen merasa khawatir, khawatir jika media akan segera mengetahui semua tentang Christal. Dan yang lebih dikhawatirkan oleh Zen adalah jika kelak akan ada fans fanatik lagi yang akan berusaha untuk menyerang dan melukai Christal.


CEKLLEKK ...


Tiba-tiba saja pintu kamar rawat Zen mulai terbuka tanpa ada suara ketukan atau sebuah kata permisi lebih dulu. Seorang pria tua yang masih mengenakan setelan jas yang begitu rapi, kini mulai melenggang dan memasuki kamar rawat Zen.


"Kakek ..." ucap Zen begitu lirih dan penuh haru karena melihat sang kakek yang datang menyusulnya secara tiba-tiba.


Tanpa ada kata-kata lagi, sang kakek yang kini sudah berada tepat di ssebelah brankar segera meraih dan memeluk Zen begitu saja dengan penuh kasih dan keharuan.


"Zen ... mengapa hal seperti ini selalu saja terjadi padamu?" ucap kakek Li Feng begitu lirih. "Mengapa hidupmu selalu saja menderita seperti ini? Selalu saja ada orang yang berusaha untuk menjatuhkanmu dan juga mereka selalu saja ada orang yang berusaha untuk mencelakaimu. Tidak peduli saat kamu di bawah atau saat kamu di atas ... semua itu selalu saja terjadi." imbuh kakek Li Feng lirih dengan suara yang begitu bergetar dan menahan sakit dan sesak pada dadanya karena melihat takdir yang selalu dialami oleh Zen selalu saja miris.


"Kakek ... kakek jangan bersedih seperti ini. Aku tidak bisa melihat kakek seperti ini." ucap Zen begitu bergetar dan tak terasa air mata hangat sudah mulai jatuh dan membasahi pipinya. "Kakek adalah satu-satunya yang aku punya sebelum kehadiran kak Kai. Aku juga minta maaf, Kakek ... jika selama ini aku sudah begitu lemah dan pernah mengambil sebuah pilihan yang buruk tanpa berfikir panjang dan tanpa memikirkan perasaan kakek. Aku minta maaf kakek ..."


Air mata hangat itu semakin jatuh dan membasahi pipi Zen saat ini, karena tiba-tiba saja Zen teringat dengan aksi bodohnya saat mencoba dan berusaha untuk melakukan aksi bunuh diri saat itu.

__ADS_1


"Aku minta maaf jika selama menjadi cucu kakek, aku tidak pernah bisa membanggakan kakek dan tak pernah bisa membuat kakek bahagia. Aku hanya bisa membuat masalah untuk kakek. Maaf, Kakek ..." imbuh Zen lagi yang sudah begitu terisak dan menangis sesegukan di pelukan sang kakek yang selama ini sudah merawatnya seorang diri semenjak kedua orang tua Zen mengalami kecelakaan maut saat Zen masih kecil.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Zen. Selama ini kamu sudah menjadi seorang cucu yang baik untuk kakek. Kamu sangat mirip dengan Li Zhi. Begitu penurut, ramah dan baik. Bahkan kamu mewarisi parasnya dan kalian berdua sangat mirip!" kali ini kakek Li Feng melepas pelukannya dan menatap Zen dengan senyuman yang begitu hangat.


Jemari yang sudah berkeriput itu kini mulai menyeka air mata Zen dengan begitu hangat.


"Kamu membuatku selalu teringat dengan putraku Li Zhi, karena kalian berdua sangatlah mirip. Bahkan kamu terlihat seperti versi muda dari seorang Li Zhi." imbuh kakek Li Feng lagi mengusap kepala Zen. " Mulai sekarang tolong berjanjilah kepada kakek. Kelak kamu tidak boleh terluka lagi seperti ini! Jangan biarkan mereka selalu menyakitimu dan menyerangmu seperti ini!!"


Zen tersenyum tipis menatap kakek Li Feng dan mengangguk pelan, "Iya, Kakek. Kelak aku akan lebih baik lagi menjaga diriku sendiri."


...⚜⚜⚜...


Hallo, Anezaki promosi karya baru dulu ya, intip yuk ...


Ellios, seorang pemuda yang mendapatkan vonis dari seorang dokter karena memiliki sebuah penyakit yang mematikan. Dan umurnya tak akan bertahan lama lagi, bahkan hanya dalam hitungan bulan saja.


Tiba-tiba Ellios menemukan sebuah boneka. Boneka itu tiba-tiba saja hidup dan menawarkan beberapa misi sistem yang akan bisa memperpanjang umurnya jika bisa menyelesaikan misi demi misi.


Bisakah Ellios melawan takdirnya dari penyakit mematikan itu dengan bantuan sistem itu?


__ADS_1


__ADS_2