Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Keputusan Kakek Li Feng


__ADS_3

Sepasang mata yang masih terlihat begitu sayu terlihat mulai membuka matanya dan memperlihatkan sepasang pupil kecoklatannya yang begitu bening.


Wajah pucat itu masih terlihat begitu lemah dengan perban yang masih melilit dengan rapi pada bagian kepalanya. Pandangannya mulai dia kerahkan pelan untuk menatap sekelilingnya yang dipenuhi oleh nuansa putih.


Terlihat seorang gadis cantik dengan penampilannya yang selalu terlihat anggun dan memukau sedang duduk di sofa dan terlihat sedang sibuk melakukan sesuatu dengan laptopnya.


Pemuda yang masih lengkap dengan setelan pakaian rawat rumah sakit itu kini berusaha untuk duduk lalu mencari sesuatu dengan meraba-raba meja di sebelah brankarnya, karena pandangannya mungkin sedang kabur saat ini tanpa memakai kacamata minusnya.


Gadis berwajah ayu dan terlihat begitu dewasa itu menyadarinya dan dengan cepat segera mendatangi pemuda itu untuk membantunya.


"Kakak sudah sadar ..." ucapnya begitu lembut dan membantu pemuda itu untuk duduk kembali dengan benar.


"Amee, tolong bantu ambilkan kacamata kakak ..." ucapnya masih terdengar begitu lemah.


Amee segera meraih sesuatu di atas meja lalu membantu pemuda itu memakai kacamatanya kembali.


"Terima kasih, Amee." ucap pemuda yang tak lain adalah kak Kai.


"Hhm. Kakak masih pusing?"


"Tidak, sudah lebih baik kok. Terima kasih atas semuanya ..." ucap kak Kai dengan tulus.

__ADS_1


"Hhm. Kakak harus fokus untuk kesembuhan kakak dulu. Saat ini jangan pikirkan yang lain." ucap Amee dengan tulus. "Ada sesuatu yang sedang kakak inginkan saat ini? Aku akan pesankan ..." imbuh gadis itu menawari dengan bersemangat.


"Tidak, Amee. Terima kasih. Dimana Zen?"


"Zen akan segera datang, Kak. Dia baru saja melakukan pers agat tidak ada berita miring yang beredar semakin parah. Tadinya mau bersama kakak juga, tapi kakak masih harus memulihkan diri dulu. Jadi dia melakukannya sendiri."


DDRRRTT ...


Tiba-tiba terbuka begitu saja tanpa ada ketukan sebelumnya. Setelah beberapa saat, terlihat seorang pria paruh baya dengan setelan jaz abu-abu yang begitu mewah dan necis mulai melenggang dengan tegas memasuki ruangan.


Wajahnya yang sudah tidak muda lagi terlihat sedang menahan amarah saat ini, wajah yang sudah dipenuhi dengan kerutan halus itu terlihat begitu merah padam dan seakan benar-banar akan meledak dalam hitungan detik.


"Luo Kai!" tandasnya dengan suara yang begitu menggelegar dan menggema di seluruh penjuru ruangan.


"Ya, Tuan Li Feng." kak Kai masih menyauti dengan begitu pelan dan merendah.


"Aku sungguh tidak menyangka kau akan melakukan hal seperti ini! Kau tega menghancurkan hidup Zen, satu-satunya cucuku yang sangat aku sayangi dengan menyebarkan video yang sungguh merusak mentalnya. Padahal selama ini dia sudah bersusah payah untuk bangkit kembali dan tetap melangkah. Namun kau menghancurkan dunianya dalam sekejap saat itu, bahkan hingga dia nekat untuk mengakhiri hidupnya sendiri! Apa maumu sebenarnya?! Apa tujuanmu sebenarnya?! ucap kakek Li Feng dengan dadanya yang sudah naik turun dan begitu emosi.


"Katakan padaku! Apa maumu? Kau mau uang? Atau apa? Katakan semua padaku!" ucap kakek Li Feng begitu kalap. "Zen memafkanmu dan membebaskanmu dari penjara, karena pada dasarnya Zen memiliki hati yang begitu mulia dan pemaaf! Namun aku tidak akan pernah memaafkanmu, Luo Kai! Dan mulai sekarang aku sendiri yang memintamu mu untuk mengundurkan diri sebagai menjadi manager Zen! Dan aku tidak akan membiarkanmu bersama dengan Zen lagi! Jadi pergilah dari kehidupan Zen dan jangan sekali-kali kau menemui bahkan menyentuhnya lagi! Atau aku akan benar-benar menjebloskanmu ke dalam penjara lagi!" sepasang mata kakek Li Feng kini semakin merah dan membulat sempurna menatap kak Kai.


Kak Kai begitu terpukul mendengar ucapan dari kakek Li Feng, yang sebenarnya dia juga adalah kakeknya sendiri. Namun perbuatan dosa yang selama ini dilakukan kak Kai terhadap Zen memang harus ditebus sehingga kak Kai menyetujui permintaan dari kakek Li Feng, meskipun dengan hati yang berat.

__ADS_1


"Baiklah, Tuan. Aku akan pergi dari Beijing. Dan aku akan menjauhi Zen. Aku akan menebus semua dosa yang pernah aku perbuat selama ini terhadap Zen." jawab kak Kai begitu lirih dan membuat hati Amee menjadi sesak kembali.


"Kakek Li Feng ... kak Kai sudah sangat menyesali perbuatannya selama ini ... saat ini kak Kai sangat menyayangi Zen. Dia tidak akan melakukan hal seperti itu lagi, justru kali ini dia akan selalu menjaga dan melindungi Zen." sela Amee memberanikan diri untuk membela kak Kai.


"Amee, kamu harus berhati-hati dengan pria licik ini! Dia bisa saja juga hanya mempermainkanmu saja selama ini! Dia tega mendekati Zen hanya untuk mencelakainya saja. Dia berperan sebagai manager, padahal dia ingin menjatuhkan Zen dengan cara yang lebih mudah! Kau jangan terpengaruh olehnya, Amee! Dia sangat licik dan busuk!" tandas kakek Li Feng yang sudah mulai tidak bisa mengontrol emosinya lagi.


Selama ini kek Li Feng sangat ramah dan selalu bertutur kata dengan lembut, hampir tidak pernah dia mengeluarkan kata-kata kasar dan pedas seperti saat ini.


"Segera pergi tinggalkan Beijing! Atau kau akan kubuat mendekam di penjara selamanya!" tandas kakek Li Feng memperingatkan lagi dan menatap kak Kai dengan sangat tajam.


"Baiklah, Tuan. Aku akan pergi dan meninggalkan Beijing. Jangan khawatir ..." sahut kak Kai dengan begitu pelan.


"Hhm. Pilihan yang bagus! Amee, segera kemasi barang-barangmu dan juga tinggalkan tempat ini!" perintah kakek Li Feng sebelum dia melenggang dan meninggalkan tempat ini.


Amee menatap nanar kak Kai. Rasanya sakit sekali mengetahui kenyataan bahwa kak Kai harus meninggalkan Beijing lagi. Gadis cantik itu meremas dressnya dan menggigit bibir bawahnya, sementara sepasang mata beningnya sudah semakin berakaca-kaca menatap kak Kai yang kini berusaha melepas selang infusnya.


"Kak ..." ucap Amee begitu lirih.


Kak Kai mulai menatap Amee, dan dia masih berusaha untuk tersenyum meskipun suasana hatinya saat ini sedang sangat berantakan.


"Amee ... kamu harus lebih tegar dalam menjalani hidupmu kelak, kamu harus hidup dengan baik, kamu harus selalu kuat! Kamu juga akan sukses dengan Xmee! Dan kamu juga harus selalu bahagia, meskipun tidak ada lagi kakak. Tetaplah tersenyum dan menatap langit. Jalanmu masih panjang, lalui dengan lebih baik lagi. Meskipun kakak sudah tidak disini, bukan berarti kakak tidak akan mendoakanmu lagi. Doa kakak akan selalu menyertaimu dimanapun kamu berada." ucapan yang terdengar begitu hangat dan lembut itu kini malah semakin membuat Amee menumpahkan air matanya, hingga membasahi pipinya yang putih dan mulus itu.

__ADS_1


__ADS_2