Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Stay Longer In Japan?


__ADS_3

Setelah cukup membuat dokter gadungan itu pingsan tak berdaya. Kini beberapa pria dengan pakaian rapi mulai menghampiri Christal dan Zen.


"Nona Christal. Apa yang terjadi? Apa nona baik-baik saja?" pengawal Key kini mulai menghampiri Christal dan terlihat begitu khawatir.


Karena keteledorannya beberapa hari yang lalu, hingga Christal diculik begitu saja, Key hampir saja mendapatkan hukuman dari Kagami Jiro dan dia hampir kehilangan pekerjaannya.


Dan kali ini tiba-tiba saja ada yang berniat untuk mencelakai Christal kembali. Sebenarnya tadi, Key ingin mengantarkan Christal saat mau mengunjungi Zen, namun Christal bersikeras untuk pergi sendirian dan mengatakan jika ruangan rawat antara Li Zeyan dan Kagami Jiro hanya berselang beberapa kamar saja.


Tak ada pilihan lain selain menuruti Christal. Padahal keinginan Christal bisa begitu membahayakan dirinya sendiri dan pengawal Key, karena Kagami Jiro pastinya akan sangat marah jika mengetahui hal itu. Karena lagi-lagi Key membiarkan Christal pergi sendirian yang pada akhirnya hampir saja celaka lagi.


"Aku baik-baik saja, Key." sahut Christal yang masih mengawasi Zen dari kejauhan.


Sementara itu ...


"Tuan Zen ..." Vann terlihat begitu terkejut melihat Zen setengah jongkok dan menyerang seorang pria dengan seragam bak dokter. "Apa yang terjadi, Tuan? Siapa mereka dan bagaimana dengan luka kaki tuan?"


"Mereka adalah penyusup. Bereskan pria ini dan salah satu dari mereka sudah terjatuh di lantai dasar!" perintah Zen dengan cukup tegas lalu mulai dibantu berdiri kembali oleh Yunxi dan Vann.


"Baik, Tuan." Jin Heng mulai mendekati dokter gadungam yang sudah tak sadarkan diri itu lalu mulai mengurusnya.


Sementara Nokto mulai menghubungi keamanan rumah sakit.


"Li Zeyan!" Christal mulai mendekati Zen kembali dan merebut lengan kanan Zen dari Yunxi. "Biar aku saja yang membantu Li Zeyan!"


Akhirnya Yunxi mengalah dan sedikit mundur, dan Christal mulai memapah Zen dan mulai membantunya untuk duduk kembali di kursi rodanya.


"Aku akan mengantarmu untuk ke ruanganmu kembali agar dokter memeriksa luka pada kakimu. Khawatir akan semakin parah karena kejadian ini." ucap Christal lalu mendorong kursi roda itu dan mulai menyusuri sebuah koridor rumah sakit.


Para pengawal mulai mengikuti mereka berdua, hingga kini Zen dan Christal mulai memasuki ruangan rawat Zen, para pengawal itu menunggu di luar ruangan.

__ADS_1


"Christal. Aku tidak apa-apa. Aku sedang ingin menjenguk tuan Kagami Jiro. Biarkan aku pergi bersama denganmu." ucap Zen saat tiba di ruangannya yang sedang kosong.


Mungkin kak Kai, Amee atau Xia Feii sedang keluar sebentar. Atau pergi ke kantin.


"Jangan sekarang, Li Zeyan. Saat ini kamu harus melakukakan pemeriksaan terlebih dahulu. Takut cedera kakimu akan semakin parah. Sebentar lagi dokter akan segera datang. Aku janji, besok sepulang sekolah akan datang lagi dan menemanimu untuk melihat kak Jiro." ucap Christal begitu berbinar.


"Benarkah?" Li Zeyan tersenyum menatap Christal.


"Hhm. Tentu saja!" sahut Christal begitu mantap. "Oh iya, bagaimana kamu bisa tau jika kedua pria itu adalah orang jahat?"


"Hhm. Menurutku gerak gerik mereka sedikit aneh saja. Dan ternyata firasatku benar. Untung saja aku datang tepat waktu. Maaf ya, kamu hampir saja terluka lagi." ucap Zen terlihat begitu menyesal.


"Hhm. Bukan salahmu kok. Ya sudah. Yang penting sekarang semua baik-baik saja." ucap Christal dengan manis. "Oh iya, aku ke ruangan kak Jiro dulu ya. Bye ..."


"Bye ..."


Senyuman itu perlahan mulai memudar dan wajah Zen mulai terlihat begiti murung.


Kini jiwaku sudah kembali lagi. Aku akan kembali ke Beijing. Dan aku akan segera menjalani kehidupanku yang sebenarnya. Mengapa rasanya begitu sedih. Sebentar lagi aku akan segera kembali ke Beijing ... huft ... bahkan bisa saja tiba-tiba kak Kai akan mengajakku ke Beijing esok hari.


Batin Zen lalu sedikit menunduk dan memijat keningnya pelan. Setelah beberapa saat pintu mulai terbuka kembali. Terlihat seorang pria berkacamata yang datang bersama seorang dokter pria.


"Zen! Apa kau baik-baik saja?" ucap pria berkacamata itu terlihat begitu khawatir. "Kakak sudah mendengar semua dari Vann. Kakak khawatir sekali padamu." pria yang tak lain adalah kak Kai itu meraih bahu Zen dan memperhatikan Zen dari ujung kepala sampai ke ujung kaki.


Zen menanggapinya dengan senyuman begitu manis dan menyejukkan, "Aku baik-baik saja, Kak."


"Syukurlah. Kata Vann kau mengalahkan kedua penyusup itu sendirian? Itu sungguh keren, Zen! Namun sebenarnya itu cukup berbahaya. Mereka adalah Death eyes, mereka sangat kejam!"


"Hhm. Iya, Kak. Mungkin ini juga adalah sebuah keberuntungan untukku karena bisa mengalahkan mereke. Aku saja sampai tak habis pikir lo, Kak. Ahahaha ..." Zen mengusap tengkuknya dan tertawa renyah.

__ADS_1


"Baiklah. Mari kita mulai pemeriksaan, Tuan Li Zeyan." ucap dokter itu begitu ramah.


"Baik, Dokter." sahut Zen tak kalah ramah.


Kak Kai segera membantu Zen untuk berdiri dan segera berpindah ke brankarnya, agar dokter bisa segera memulai pemeriksaannya.


Kak Kai berdiri di sisi brankar, memperhatikan dokter itu yang sedang memeriksa keadaan kaki kiri Zen.


"Kondisi kakinya sudah menjadi lebih baik. Besok saya akan melepas gips ini." ujar dokter itu setelah menyelesaikan pemeriksaannya.


"Oh. Baik. Jadi kira-kira Zen harus menjalani rawat inap sampai kapan, Dokter?" tanya kak Kai mulai beralih menatap pria dengan almamater putih itu.


Lusa sudah bisa pulang. Namun harus rutin untuk melakukan kontrol." dokter itu menyauti dengan ramah.


"Bagaimana jika melakukan kontrol di rumah sakit Jepang, Dokter? Karena sebenarnya kita harus segera kembali ke Beijing." ucap kak Kai yang seketika membuat wajah Zen seketika membeku seperti musim saat ini.


"Sebenarnya itu bisa saja, Tuan. Namun akan lebih baik jika tuan Li Zeyan berada di Jepang dulu. Paling tidak 1 sampai 2 pekan lagi. Agar cedera pada kakinya benar-benar sudah membaik. Dan agar tuan Li Zeyan bisa fokus untuk kesembuhannya dulu. Jadi tuan Li Zeyan harus benar-benar cuti dari pekerjaannya untuk saat ini. Namun itu hanya saran dari saya, Tuan. Keputusannya tetap ada pada tuan." ucap dokter itu yang sesekali bergantian menatap Zen yang kini sudah merubah posisinya menjadi duduk.


"Aku setuju dengan dokter Lim!" Zen menyauti dengan begitu cepat dan sangat bersemangat. "Kak Kai! Sebaiknya kita tetap di Jepang dulu. Selain untuk pemulihanku, anggap saja kita sedang berlibur. Dan anggap saja kak Kai dan Amee sedang menjalani pra wedding. Kakak juga bisa melakukan pemotretan bersama Amee di Jepang jika kakak merasa bosan menungguku. Hehe ..."


"Lalu bagaimana dengan Xia Feii? Kasihan dia jika mengambil cuti dadakan terlalu banyak." sahut kak Kai mulai memikirkan ke arah sana.


"Soal ini kakak jangan khawatir. Sebenarnya Xia Feii sangat bahagia kok ketika berada di Jepang." ucap Zen dengan senyum misterius dan tentu saja senyuman misterius itu sukses membuat kak Kai begitu ingin tau dan penasaran.


"Apa hubungan perjodohan Xia Feii dan paman Yukimura berjalan dengan lancar?" tanya kak Kai ingin tau.


Zen hanya tersenyum menatap kak Kai dan mulai menceritakan sesuatu kepada kak Kai.


...⚜⚜⚜...

__ADS_1


__ADS_2