
Kipas angin di dalam ruangan itu terus berputar dan berputar. Angin sejuk dari kipas itu terus meniup panas dan sedikit pengap dalam ruangan ini. Dan suasana terasa begitu tenang saat ini.
Sebuah foto dengan figura berukuran kecil terpajang di atas meja. Bingkai foto itu berisikan seorang wanita yang masih terlihat cukup muda menggendong seorang anak laki-laki yang kira-kira berusia 5 tahun.
Wajah keduanya terlihat begitu ceria. Senyuman mereka terlihat begitu hangat.
Terlihat seorang pria berkacamata yang tak lain asalah kak Kai sedang duduk di meja kerjanya dan terlihat fokus membaca sebuah buku tua. Halaman demi halaman dia buka satu persatu. Keningnya selalu berkerut, dan sesekali terlihat dia mengeraskan rahangnya.
Sebuah buku diary tua itu sukses membuat pria itu duduk termenung sepanjang malam ini. Hingga akhirnya dia tertidur di meja kerjanya.
...⚜⚜⚜...
Di sebuah kamar appartement elite di Beijing, terlihat seorang pemuda mulai menyibukkan dirinya di hadapan laptopnya. Jemarinya menari dengan sangat lincah di atas keybord. Sementara wajahnya terlihat begitu serius menatap layar monitor itu.
Beberapa saat dia mulai mengistirahatkan jemarinya dan mulai memfokuskan diri menyaksikan sebuah film pendek, atau lebih tepatnya adalah video pembulian terhadap Zen di masa lalu.
"Hhm ... benar-benar keterlaluan!" guman pria yang memiliki sepasang pupil biru yang indah itu. "Warung internet itu sudah ditemukan lama oleh hacker bayaran kak Kai. Namun anehnya kenapa belum berhasil menemukan pelaku? Haishhh ... dasar hacker kelas teri!" celutuknya sedikit mendengus kesal dan memijat keningnya.
"Mereka tidak bisa bersembunyi di ruang digital! Pelaku cyber crime itu akan segera kutemukan sebaik apapun kalian bersembunyi. Bahkan, meski mereka telah berupaya untuk menghilangkan jejak digital dengan cara menghapus konten atau postingan yang telah diunggah di media sosial, mereka tetap dapat aku buru." gumam Zen menyeringai manis.
"Di dalam ruang digital kau tidak akan bisa bersembunyi. Sekalipun mau pakai nama palsu dan foto palsu. Namun setiap akun palsu pasti terasosiasi. Mereka akan terhubung dengan akun asli pemiliknya. Bahkan bila digunakan di satu komputer, biasanya menggunakan on-click login yang cukup menekan foto profile. IP asli juga akan tercatat. Bahkan bila pemilik mengelola akun-akun palsunya menggunakan social media management tool seperti hootsuite yang bisa menggabungkan banyak akun ke dalam satu dashboard. Jadi bila ada 1 akun palsu yang sedang diburu, aku hanya tinggal menfilter nama-nama akun yang menggunakan IP yang sama dengan IP akun palsu tersebut." guman Zen dengan jemari yang mulai menari dengan lincah di atas keybord itu.
TIIKK ... TIIKK ... TIIKK ...
Suara dari hentakan jemari lentiknya mulai menemani dirinya di sepanjang malam yang sunyi ini.
"Akun yang bercorak organik adalah tersangka pertama yang dicurigai sebagai pemilik akun palsu. Hehe ... ketemu!" ucap Zen tersenyum puas lalu menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Akun asli pelaku sudah berhasil ditemukan. Besok lagi deh aku kerjakan sisanya. Aku harus segera tidur. Besok masih ada jadwal yang begitu padat. Hoaaamm ..." Zen menguap, mengangkat dan membuka kedua tangannya lebar dan meregangkan otot-ototnya.
Zen segera mematikan laptopnya dan beranjak untuk berpindah ke pembaringan. Namun tiba-tiba saja ponselnya berdering. Dengan cepat Zen segera meraih benda pipih itu dari saku pakaiannya.
__ADS_1
"Hallo. Kenapa ponselmu tidak aktif seharian?! Dan kenapa baru menghubungiku selarut ini?!" semprot Zen terlihat begitu kesal.
"Sorry. Ponselku tertinggal di rumah saat aku mengikuti tubuhmu menemui Ley Bixing." ucap seorang pria dari seberang. Yeap, siapa lagi kalau bukan Yukimura.
"Jadi? Apa yang diinginkan oleh Ley Bixing? Mengapa tiba-tiba dia ingin bertemu denganku?" selidik Zen.
"Sepertinya sudah lama dia ingin bertemu denganmu, Jiro! Hanya saja tubuh itu baru tersadar dari koma."
"Lalu? Apa yang dia inginkan?"
"Dia hanya mengatakan dia mengundangmu karena ingin mengatakan sebuah kebenaran kepadamu."
"Kebenaran apa?!" potong Zen terlihat begitu serius dan mengkerutkan keningnya.
"Dia menyangkal kalau dia telah berkhianat kepada Doragonshadou. Dan malah mengataiku sebagai pengkhianat Doragonshadou yang sesungguhnya! Sungguh aku tak tau mengapa dia bisa berkata seperti itu." celoteh Yukimura dengan nada begitu kesal.
Zen semakin mengkerutkan keningnya dan terlihat begitu kebingungan juga.
"Aku hanya mendengar media mengatakan telah ada perpecahan dari Doragonshadou. Dan Ley Bixing lah yang memimpin pecahan kecilnya itu. Namun aku tidak tau alasan dari Ley Bixing melakukan semua itu."
"Selidiki hal ini, Yumimura! Aku juga masih begitu khawatir ... jika memang masih ada musuh lain di dalam selimut. Selama ini Ley Bixing sangat setia terhadapku. Jujur saja aku sedikit meragukan berita yang media kabarkan." ucap Zen menurunkan intonasinya.
"Baiklah, Jiro!" Tapi mengapa kau tidak mencurigaiku?" tanya Yukimura tiba-tiba.
"Perpecahan itu terjadi sebelum semua orang mengetahui keberadaanmu sebagai senjata rahasia Doragonshadou. Dan lagi ... aku tak yakin kau bisa melakukan hal itu untuk menghancurkan gangsterku."
Yukimura tertawa renyah mendengar ucapan dari Kagami Jiro, "Baiklah ... baiklah ... sekarang beristirahatlah! Bukankah menjadi seorang idol sungguh memiliki jadwal yang begitu padat, Wahai sahabatku Jiro?" ucap Yukimura dengan nada jenaka menggoda sahabatnya.
"Terus saja menggodaku! Aku akan menendangmu kelak jika kita bertemu! Lihat saja saat kita bertemu nanti ..." gerutu Zen kesal.
"Ahahaha ... kudengar bulan depan kau akan konser tour ke Jepang. Benar begitu, Jiro?"
__ADS_1
"Apa? Aku tidak tau soal itu! Kai sialan benar-benar membuatku kesal! Banyak sekali schedule yang dia buat untukku!" sungut Zen semakin kesal.
"Hhm. Christal merengek menginginkan tiket VIP untuk bertemu idolanya Li Zeyan."
"Christal mengidolakan Li Zeyan?" tanya Zen seperti tidak percaya.
"Hhm. Dia begitu mengidolakan Li Zeyan. Masa kau sebagai seorang kakak tidak menyadari hal itu?"
"Tidak. Aku tidak tau. Cckk ... anak muda jaman sekarang mengapa begitu menyukai pria cantik? Padahal mereka tidak bisa diandalkan untuk melindungi dari bahaya!" lagi-lagi Zen mulai menggerutu lagi.
"Gyahahaha ..." Yukimura tertawa lepas mendengar ucapan dari Kagami Jiro. "Jiro, apa kau tau ... siapa yang menempati ragamu saat ini?" imbuh Yukimura setelah tawanya mereda.
"Siapa? Apakah dia Li Zeyan?"
"Benar sekali! Kalian benar-benar sedang bertukar tubuh!"
"Ah. Ini sungguh konyol sekali! Aku ingin segera kembali ke tubuhku!"
"Hmm. Aku rasa juga sebaiknya kalian bertukar tubuh kembali sih. Tapi aku juga tidak tau bagaimana caranya? Apakah sebuah kecelakaan di waktu bersamaan membuat kalian saling bertukar jiwa? Hhm ..."
"Cari tau juga soal ini!"
"Baiklah ... baiklah."
"Sekarang dimana ragaku? Apa malam ini dia tidur bersamamu lagi?"
"Hhm. Dia sudah tidur. Kau juga beristirahatlah. Besok aku akan menghubungimu lagi, Jiro."
"Okay!"
Setelah mengakhiri panggilan itu, Kagami Jiro segera menghempaskan tubuhnya di atas ranjangnya begitu saja. Perlahan dia mulai memejamkan matanya dan tak lama dia sudah tertidur begitu saja.
__ADS_1
...⚜⚜⚜...