Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Drunken Zen


__ADS_3

"Zen ..." teriak kak Kai sambil mencari Zen di seluruh kamar mewah itu. Bahkan di pembaringan juga kak Kai tidak bisa menemukan sosok Zen.


Kak Kai terus menyisiri seluruh ruangan Zen hingga akhirnya dia dikejutkan oleh sesuatu.


Tiba-tiba saja kak Kai sangat terkejut ketika melihat apa yang sudah terjadi saat ini. Dia begitu terkejut melihat apa yang ada di hadapannya saat ini. Langkahnya dipercepat dan raut wajahnya terlihat begitu khawatir.


Kak Kai begitu terkejut ketika melihat Zen yang tergeletak begitu saja di atas karpet lantai.


"Zen ..." teriak kak Kai begitu histeris lalu menghampiri tubuh Zen yang kini tergeletak begitu saja di atas karpet lantai. "Zen ... ada apa denganmu?!" kini kak Kai meraih tubuh Zen dan sedikit mengguncangnya.


Kak Kai melihat sekitarnya dan melihat beberapa benda yang sangat membuatnya begitu khawatir. Ada pisau lipat, sebotol obat aneh, dan tali besar.


Mata kak Kai membelalak menyaksikan semua benda-benda yang dia fikir sangat berbahaya untuk Zen. Tentu saja kak Kai akan sangat khawatir, jika tiba-tiba saja Zen akan melakukan percobaan bunuh diri lagi.


"Bangun, Zen! Bangunlah!" ucap kak Kai begitu khawatir. "Jangan pernah kau melakukan hal buruk lagi! Jangan pernah kau bertindak bodoh lagi!" imbuh kak Kai yang kini mengguncang badan Zen dengan lebih kuat.


"Bangun, Bocah bodoh!" teriak kak Zen yang terlihat sangat gusar.


Kini mata kak Kai terlihat sedikit berair melihat tubuh Zen tidak memberikan respon dan tidak menanggapinya sama sekali. Matanya masih terpejam dengan sangat rapat, wajah tampannya terlihat seperti sedang tertidur pulas.


"Zen! Bangun!" teriakan kak Kai yang begitu melengking kali ini kini mengundang keempat pengawalnya segera mendatanginya.


"Ada apa, Tuan Kai? Apa yang terjadi dengan Tuan Zen?" tanya Vann salah satu pengawal setianya yang terlihat begitu khawatir.


"Panggil dokter!" perintah kak Kai dengan cepat.


Namun, belum sempat Vann mengundurkan diri tiba-tiba terdengar rintihan pelan dari Zen.


"Eemmhh ..." rintih Zen pelan tanpa membuka matanya. Badannya hanya sedikit menggeliat dalam pangkuan kak Kai.


"Zen ..." ucap kak Kai pelan. Kak Kai mulai menyadari sesuatu dan dia mulai mencium bau yang sangat tidak asing untuknya. Aroma itu begitu menusuk indra penciumannya saat ini.


"Zen ... Apa kau semalam mabuk?" kak Kai sedikit mengendus dan mencium bau alkohol pada tubuh Zen. "Astaga! Aku kira kamu kenapa? Ternyata hanya mabuk ya ... cckk ... kenapa aku baru menyadarinya sekarang?" imbuh kak Kai sedikit mendengus kesal.


"Siapa yang memberinya alkohol semalam?" tanya kak Kai mengintrogasi keempat pengawalnya itu. Tatapan matanya begitu tajam dan menusuk di balik kacamata beningnya itu. Satu persatu pengawal itu dia tatap dengan dingin.


"Maaf, Tuan Kai ..." jawab seorang pengawal berambut sedikit pelontos memberanikan diri dan sedikit ketar ketir. Tubuhnya sedikit gemetaran dan dia tidak berani memandang kak Kai dengan tegas. "Maaf, Tuan Kai. Tapi kemarin malam ... tuan Zen berkata dia sedang pusing karena sedang memiliki banyak masalah. Dia meminta saya untuk membelikian baijiu untuknya. Maaf ... sepenuhnya ini adalah kesalahan saya ..."

__ADS_1


Kak Kai sedikit melengos dengan tatapan kesal. Dia mengeraskan rahangnya lalu bersiap menggendong tubuh Zen.


"Bantu aku mengangkat Zen!" perintahnya dengan tegas dan tajam.


"Ba-baik, Tuan."


Mereka berempat kini membantu mengangkat tubuh Zen untuk memindahkannya pada pembaringan.


"Lain kali kejadian seperti ini tidak boleh terulang lagi!" tandas kak Kai begitu tegas memperingatkan keempat pengawalnya. "Nasib baik kita masih sedang berlibur saat ini. Bagaimana jika pagi ini Zen harus melakukan syuting atau melakukan photo shoot? Apa kalian lupa siapa yang saat ini sedang kalian jaga? Dia adalah artis besar dan penuh dengan kesibukan!" kak Kai menatap tajam keempat pengawal setianya itu. Sementara yang ditatap dan diceramahi hanya menunduk saja.


"Siapapun yang tidak bisa mengikuti perintah dan aturan dariku, aku akan menghukumnya! Atau kalian bisa mengundurkan diri! Apa kalian mengerti?!" imbuh kak Zen begitu menggelegar seisi ruangan ini.


"Kak Kai ..." terdengar suara rendah dari Zen yang kini sudah duduk dengan sesekali mengerjapkan matanya. "Jangan salahkan mereka! Aku yang bersikeras meminta dibelikan ... hoaaamm ..." imbuh Zen dengan santai lalu menguap panjang.


"Kau sama saja! Semenjak terbangun dari kecelakaan itu kini menjadi urakan dan bandel!" tandas kak Kai. "Sepertinya kau mulai melupakan jati dirimu, Zen!"


"Jati diri yang ingin bunuh diri? Hhmmpp ..." kini Zen sedikit tertawa mengejek.


"Bocah! Sekarang mandilah agar kamu cepat sadar!" perintah kak Kai kepada Zen. "Haru, pergi ke bagian dapur dan minta buatkan sup pereda mabuk kepada chef!" perintah kak Kai kepada salah satu pengawalnya.


"Kalian bertiga bisa keluar!" perintah kak Kai sedikit menurunkan intonasinya.


"Baik, Tuan." ketiga pengawal itu menjawab dengan serempak lalu segera meninggalkan ruangan.


Kak Kai segera menarik paksa Zen untuk pergi ke kamar mandi, sementara tubuh Zen masih berjalan dengan sempoyongan.


"Kau minum berapa botol semalam?"


"Aku lupa. Tujuh mungkin ..." sahut Zen masih dengan nada ngelantur dan mata yang sedikit terpejam dan sedikit terbuka.


"Kita akan membicarakannya lagi nanti. Sekarang mandilah dulu!" kini kak Zen sedikit mendorong tubuh Zen untuk memasuki kamar mandi dan segera menutupnya kembali.


.


.


.

__ADS_1


.


.


Setelah beberapa saat akhirnya Zen segera keluar dari kamar mandi. Dia hanya mengenakan handuk untuk melilit tubuh bagian bawahnya. Seketika kak Kai yang melihat sedikit perubahan pada badan Zen yang kini sudah mulai sedikit kekar dan lebih berotot membuatnya melongo karena bingung.


"Zen ... kenapa tubuhmu berubah?"


Zen yang masih mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil kini sedikit menunduk dan memperhatikan tubuhnya.


"Benar. Sangat berubah ... sangat ramping dan mulus." sahutnya dengan santai dan cuek.


Kak Kai semakin melongo setelah mendengar perkataan Zen.


"Tidak Zen! Tubuhmu semakin kekar dan berotot. Kapan kau melakukan semua pelatihan ini? Kakak tidak pernah melihat kau gym."


"Aku melakukannya saat malam dengan latihan ringan kok." sahut Zen dengan santai dan mulai mengambil pakaiannya. "Bolehkah aku memakai setelan jaz hari ini?"


"Setelan jaz?" tanya kak Kai sedikit bingung.


"Benar. Mumpung aku libur, biarkan aku memakai pakaian sesuai keinginanku."


"Ya sudah. Terserah kamu saja deh. Tapi saat kembali ke Beijing kau harus berpakaian seperti biasanya!"


"Okay! Deal!" sahut Zen dengan senyum lebar dan penuh kemenangan.


Dengan bersemangat Zen segera mengenakan setelan Dormeuil Vanquish. Sebuah kemeja mewah berwarna navy mulai dia kenakan, lalu memadukan dengan sebuah dasi dengan motif line cross soft gray kombinsi biru. Kemudian dia mulai memakai sebuah jaz hitam bergaris.


Bagi para pecinta jas seperti Kagami Jiro, mungkin sudah tidak asing lagi dengan brand Dormeuil. Yeap, Dormeuil adalah merek fashion setelan jas pria legendaris asal Perancis dan Inggris. Target pasar perusahaan ini juga mayoritas adalah selebritis papan atas dan pejabat kelas tinggi.


Salah satu setelan jas karya perusahaan ini adalah Dormeuil Vanquish yang dibuat khusus untuk seorang pelanggan saja. Dibuat dengan menggunakan 6 jenis kain yang langka.


Dalam kehidupan seorang Kagami Jiro, tentu saja pakaian seperti ini sudah begitu banyak tertata dengan rapi dan memenuhi lemari pakaiannya.


Setelan jas memang identik sebagai produk fashion mewah dan dapat membuat siapa saja yang memakainya nampak elegan. Memiliki tampilan yang modis dan necis, setelan jas pria seolah mampu mengumbar status sosial yang dimiliki oleh pemakainya. Dengan alasan tersebut, tak ayal kebanyakan orang menganggap pria yang memakai setelan jas mempunyai pamor yang tinggi dan terhormat.


...⚜⚜⚜...

__ADS_1


__ADS_2