
Dengan begitu terpaksa Amane mulai membawa Kagami Jiro menuju sebuah ruangan di lantai 2, sebuah ruangan medis dalam rumah besar keluarga Kin. Tak ada percakapan yang terjadi di antara keduanya selama mereka melenggang bersama. Hanya berteman dengan diam.
Wajah ayu Amane terlihat begitu tak nyaman saat ini, sementara raut wajah Kagami Jiro terlihat begitu biasa saja dan santai, karena sebenarnya jiwanya adalah seorang Li Zeyan. Dan jiwa itu tak begitu memahami dengan begitu detail masalah yang pernah terjadi diantara keduanya di masa lalu. Dan Zen hanya mengetahui jika wanita cantik bernama Amane itu pernah begitu dekat dengan Kagami Jiro.
"Duduklah ..." ucap Amane dengan nada seperti biasanya, begitu lembut dan hangat. Lalu Amane mulai mencari sesuatu di dalam laci meja.
Sementara Kagami Jiro hanya menurut dan segera duduk di salah satu sofa yang panjang berwarna merah maroon Setelah beberapa saat, Amane datang kembali dengan membawa sebuah kotak P3K putih kecil lalu mulai duduk di sebelah Kagami Jiro.
Amane terlihat begitu cuek, dan hanya fokus untuk melakukan perintah dari suaminya saja.
"Amane, aku bisa mengobatinya sendiri luka ini. Lebih baik kamu melayani tamu undangan lainnya saja." ucap Kagami Jiro dengan begitu ramah dan sebenarnya dia merasa sedikit tak enak, karena dia hanya mengalami luka kecil dan sampai diobati oleh nyonya rumah ini.
"Aku hanya menjalankan perintah dari suamiku saja. Jadi aku akan tetap mengobati lukamu." ucap Amane begitu datar dan mulai mengambil sebuah casa steril lalu mulai memberikan beberapa tetes dengan alkohol pada casa steril itu.
Perlahan Amane mulai membersihkan wajah bagian kanan Kagami Jiro yang sedikit berdarah karena terkena anak panah dart dari Sasaki, keponakannya.
"Amane ... melihat dari sikap dan perilakumu saat ini, sepertinya aku sudah mempunyai dosa dan kesalahan yang begitu besar kepadamu di masa lalu. Setelah mengalami kecelakaan dan koma, aku mengalami sedikit amnesia. Jadi aku tidak mengingat masa lalu kita." ucap Kagami Jiro begitu lirih.
Sesaat Amane terlihat menghentikkan aktifitasnya, namun setelah beberapa saat, dia kembali melanjutkan pengobatan itu dan tetap terlihat hanya fokus untuk mengobati Kagami Jiro.
__ADS_1
"Jika aku memang mempunyai kesalahan yang begitu fatal di masa lalu. Maka kali ini aku benar-benar meminta maaf padamu, Amane. Kamu tau kan hidup dalam dendam dan selalu berteman dengan kebencian akan sangat menyakitkan. Aku hanya berharap kamu memaafkanku, dan mengikhlaskanku, Amane." ucap Kagami Jiro dengan sangat berhati-hati.
Niat hati ingin memperbaiki hubungan di masa lalu Amane dan Kagami Jiro, agar ke depannya mereka tidak lagi menyimpan dendam dan benci satu sama lain. Namun sepertinya ini malah terdengar begitu konyol untuk Amane, sehingga Amane menghentikan aktifitasnya dan mendengus dalam tawa sesaat.
"Setelah 7 tahun berlalu kau baru mengingat kata maaf, Jiro?!" ucap Amane dengan ekspresi wajahnya yang sulit digambarkan. "Aku kira memang tidak ada kamus maaf di dalam kehidupan dan hatimu! Aku kira tak ada kamus maaf di dalam dirimu! Hebat sekali! Seorang Kagami Jiro kini meminta maaf." Amane tersenyum, namun senyuman itu terlihat begitu menyakitkan dan seakan masih menyimpan sebuah lara.
"Amane ... setiap manusia pasti pernah mempunyai kesalahan karena tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Namun hati yang bersih dan besar, akan selalu memafkan. Tidak baik menyimpan dendam."
Tampaknya Amane tak mau menanggapi Kagami Jiro lagi, baginya mengenal Kagami Jiro adalah sebuah kesalahan di dalam hidupnya. Apalagi sampai terjerat dalam cintanya!
"Sudah selesai! Aku akan kembali bersama tamu lainnya! Dan lebih baik kita berpura-pura saja tak pernah saling mengenal di masa lalu. Aku sudah bahagia dengan kehidupanku saat ini! Dan semoga kau juga bahagia dengan kehidupanmu, Tuan Kagami Jiro!" ucap Amane begitu pelan, lembut seperti biasanya namun penuh dengan penekanan.
Apa yang sudah tuan Kagami Jiro lakukan di masa lalu hingga wanita bernama Amane itu begitu marah seakan tak bisa memaafkannya lagi?
Batin Kagami Jiro yang masih terduduk di sofa dengan menautkan kedua jemarinya. Selama beberapa saat Kagami Jiro masih terdiam dan termenung di dalam ruangan itu, hingga akhirnya seseorang mulai mendatanginya.
"Jiro!" seorang pria dewasa yang tak lain adalah Yukimura kini mulai menghampiri Kagami Jiro.
"Semua baik-baik saja? Aku berpapasan dengan Amane, dan dia terlihat begitu kesal dan begitu dingin. Bahkan dia sampai tidak menyapaku. Apa yang kau katakan padanya? Kamu tidak melakukan hal aneh padanya kan?!" selidik Yukimura.
__ADS_1
"Tidak kok. Aku hanya berusaha untuk meminta maaf atas kesalahan yang aku perbuat di masa lalu padanya. Namun sepertinya dia masih belum bisa memaafkanku. Aku khawatir jika benci dan dendam di dalam hatinya akan begitu menyiksanya, Yukimura." Kagami Jiro termenung dan tiba-tiba melihat ke arah pintu. "Rui ..." ucap Kagami Jiro dengan seulas senyum.
Rui yang sedang berada di depan pintu langsung tersenyum lebar dan berlari ke arah Kagami Jiro.
"Paman, aku sudah membuka hadiah dari paman. Dan aku sungguh menyukainya. Terima kasih paman!" celutuk Rui dengan sumringah.
"Sama-sama, Rui!" Kagami Jiro menyauti dengan begitu lembut dan mengusap kepala Rui.
"Aku dengar paman terluka karena ulah kak Sasaki ya? Maaf ya, Paman. Dia memang sangat buruk saat bermain dart! Padahal aku sering mengatakan padanya jika mau melakukan lemparan maka posisi badan harus stabil. Tapi kak Sasaki selalu saja main asal lempar dan mencondongkan badan ke depan atau belakang. Huft ... hal ini akan membuat posisi menjadi kurang stabil dibanding posisi berdiri tegak. Dan lagi, kak Sasaki selalu menggunakan tangan kanannya, maka seharusnya menempatkan kaki kanan di depan juga. Karena sebagian besar berat badan sebaiknya bertumpu pada kaki kanan. Tapi dia malah menempatkan kaki kiri di depan. Dasar dia memang ceroboh!" celutuk Rui yang tentu saja membuat Yukimura dan Kagami Jiro sedikit terperanjat hingga melongo karena kepintaran Rui.
Rui, seorang gadis kecil yang masih berusia 6 tahun, bisa mengetahui hal sedetail itu soal permainan dart. Benar-benar sangat menakjubkan dan begitu genius.
"Rui, kamu bisa bermain dart?" ucap Kagami Jiro begitu takjub.
"Tentu saja, Paman. Aku sering bermain dart bersama papaku. Meskipun aku selalu mengalahkan papaku dalam permainan itu. Hehe ..." sahut Rui dengan senyum lebar, memperlihatkan deretan gigi susunya yang masih terlihat begitu rapi dan putih.
Dan apa kalian tau? Tentu saja seorang Kin Izumi, saat menjalankan karakternya sebagai seorang papa dari Rui, dia memang akan selalu mengalah. Namun, jika sedang melakukan perannya sebagai pemimpin Death Eyes, maka dia akan begitu teliti dan akurat. Bahkan dia bisa melakukannya tanpa melihat papan dart itu.
Yeap, instingnya sungguh hebat, begitu akurat dan sangat luar biasa!
__ADS_1
...⚜⚜⚜...