Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
An Unexpected Kiss


__ADS_3

"Lihat saja! Kau akan segera habis ditangan suamiku dan Yukimura!" geram Yuna begitu menakutkan.


"Benarkah? Aku tak sabar menantikannya ..." tantang Zen dengan senyum manis dan semakin mendetkan wajahnya hingga mengecup leher Yuna.


Lagi-lagi Yuna terlihat begitu shock mendengarkan ucapan dan tingkahnya yang semakin nekat dari pemuda tampan itu dan wajahnya kembali memanas karena amarah yang semakin memuncak. Kini Yuna berusaha untuk bangun, namun seberapapun dia berusaha, dia tidak bisa bergerak sama sekali dan masih terhimpit oleh tubuh Zen.


"Aku sudah melalui masa yang begitu sulit selama ini, Yuna. Aku sungguh hampir saja pergi untuk selamanya dan meninggalkan orang-orang yang sangat aku sayangi ..." ucap Zen dengan lirih.


Kini Zen sedikit mengangkat tubuh dan kepalanya, dia tersenyum begitu hangat menatap Yuna yang masih terbaring tepat di bawahnya. Jemarinya mulai menyibak anak rambut Yuna ke belakang. Dan perlahan Zen mulai mendekati wajah Yuna yang kini sudah hanya beberapa inchi saja darinya.


"Kau mau apa?!" mata Yuna semakin membelalak dan Yuna berusaha untuk menghindarinya, namun dia tak bisa berbuat apa-apa. Entah mengapa Zen semakin menjadi kuat saat ini, bahkan dia sudah mencengkeram kedua tangan Yuna begitu saja.


"Aku sangat merindukanmu ....dan itu sungguh membuatku gila! Kau juga begitu merindukan suamimu yang bahkan kini tak bisa kau sentuh dan sangat berubah bukan? Yuna, anggap saja aku adalah dia."


"Dasar bocah tak tau malu!! Kau sungguh otak mesum, Li Zeyan! Bagaimana mungkin orang sepertimu menjadi idol nomor 1?! " ketus Yuna penuh amarah. "Cepat menyingkirlah dari hadapanku!"


Zen tak menanggapi umpatan-umpatan Yuna lagi, kini dia benar-benar mulai mendaratkan bibirnya dan mengecup bibir Yuna yang tentu saja membuat Yuna semakin membelalak karena mendapatkan ciuman tak terduga itu.


Zen tidak mempedulikan semua itu, bahkan dia semakin agresif dan terlihat begitu menikmati setiap sudut bibir Yuna, meskipun Yuna selalu berusaha untuk mengakhiri ciuman itu. Semakin Yuna berusaha melepaskan diri, maka semakin kuat Zen mencengkeramnya. Bahkan ikatan tali handuk pakaian Yuna kini sudah sedikit melonggar begitu saja karena ulahnya.


Kini ciuman itu menuruni pada leher dan bahu Yuna yang sudah sedikit terbuka, bahkan Zen juga meninggalkan beberapa kiss mark di sana.


"Bocah! Aku benar-benar akan membuat perhitungan padamu! Emhh ..." ucapan Yuna kini sedikit menurun intonasinya ketika Zen mulai menyerang titik-titik sensitif pada tubuh Yuna.


"Aku tak sabar menantikannya ... lakukan saja semuanya semaumu!" tantangnya yang masih terus menciumi bahu Yuna lalu menaiki hingga daun telinga Yuna. "Sayang, aku rindu si kembar mochi." bisiknya dengan nakal sambil meluncurkan jemari pengembaranya yang perlahan meraih dada Yuna.

__ADS_1


Yuna semakin shock dengan perkataan dari Zen. Sebuah kata-kata yang hanya diketahui olehnya dan suaminya saja.


Yuna segera mengangkat lutut kanannya ketika mendapat sebuah kesempatan dan dia berhasil menendang bagian vital Zen.


"Aargghh ..." rintih Zen pelan.


Serangan dari Yuna kini berhasil membuat Zen sedikit melepaskan cengkeramannya terhadap Yuna. Dan kesempatan baik itu, Yuna gunakan untuk segera bangkit lalu mendorong tubuh Zen dan segera melarikan diri.


Yuna segera berlari mendekati pintu dan membuka pintu itu, disaat bersamaan bersamaan ternyata Yukimura sudah mau mengetuk pintu kamar itu. Dan ternyata Yukimura datang bersama Christal.


"Yukimura! Untung kau disini!" ucap Yuna begitu terburu-buru dan segera mengikat handuk bajunya kembali.


"Yuna, apa yang sudah terjadi, mengapa lehermu merah?"


"Bocah?" ucap Yukimura kebingungan dan mengkerutkan keningnya.


"Ya. Bocah aneh yang menyebalkan itu! Cepat kau beri dia pelajaran! Dia sudah sangat kurang ajar padaku! Jika perlu habisi saja dia! Aku tak mau melihatnya lagi! Aku akan pergi ke kamar Christal dulu." kini Yuna segera menggandeng Christal dan bersiap untuk pergi.


Sementara itu Yukimura mulai memasuki kamar itu. Yuna dan Christal yang masih berada di luar, kini sedikit mendengar teriakan dari Zen yang mungkin saja orang mendengarnya akan mengira Yukimura sedang menyiksa Zen.


"Aarrgghh ... ampuni aku, Paman! Aku sungguh sangat menyesal, Paman! Tulang-tulangku akan patah semua!" rintih Zen dengan setengah berteriak yang membuat Yuna sangat puas mendengarnya.


Kini Yuna segera menarik Christal untuk memasuki kamar sebelah. Dan perasaannya sudah sedikit lebih tenang setelah Yukimura memberikan pelajaran untuk Zen.


"Siapa pria itu, Kakak ipar?" tanya Christal begitu ingin tau. "Sepertinya suaranya sangat familiar. Apa aku mengenalinya?"

__ADS_1


"Dia adalah pria mesum dan sangat aneh. Kau tidak perlu mengenalinya!" tandas Yuna begitu tegas. "Bagaimana saunanya? Maaf ya kakak tidak bisa menyusulmu tadi." imbuh Yuna terlihat begitu menyesal.


"Oh, tidak apa-apa, Kak." sahut Christal dengan seulas senyum.


Mengapa bocah itu mengatakan hal itu padaku tadi? Kata-kata yang sering diucapkan oleh suamiku ketika kita sedang bercinta. Uggh ... benar-benar bocah yang aneh dan sangat menakutkan! Semoga saja Yukimura berhasil memberinya pelajaran.


Batin Yuna sambil mengacak-acak rambutnya karena begitu kesal.


Sementara itu ...


"Argghh ... tolong ampuni aku, Paman! Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi! Tolong jangan bunuh aku, Paman! Aku bahkan masih belum menikah! Ampuni aku, Paman! Aku khilaf! Dan aku sedikit mabuk ... maafkan aku, Paman! Aku mohon!" teriak Zen semakin mengencangkan suaranya dan melirik ke arah pintu, sementara dirinya sedang berbaring santai di atas ranjang dengan kedua tangan saling ditekuk dan dia gunakan sebagauli bantalan kepalanya. Sementara kaki satunya ditekuk dan kaki satunya diangkat di atas kaki lainnya.


"Sudahlah, Jiro! Yuna dan Chistal sudah pergi. Kau tidak perlu berakting lagi ..." celutuk Yukimura dengan malas.


"Hhm. Benarkah? Ahahaha ..." Zen menyauti dengan tawa renyah sambil menggoyang-goyangkan salah satu telapak kakinya yang diangkat.


"Kau nekat sekali sampai melakukan hal mesum dengan menggunakan tubuh Zen? Bagaimana jika media sampai tau dan men-judge Li Zeyan sebagai seorang idol mesum yang menggoda istri orang? Hidup Li Zeyan sudah cukup berat, Jiro. Kasihan dia. Jangan kau tambah beban untuknya lagi. Dan lagi ... apa kau tidak takut Yuna jadi ilfil padamu?" cerocos Yukimura.


"Aku sudah tidak tahan, Yukimura! Aku ini pria dewasa yang sangat normal dan sehat! Kau tau, aku sangat membutuhkannya!" celutuk Zen sedikit kesal.


"Hhm. Ya, tentu saja saja aku sangat tau! Namun, situasi saat ini sangat tidak memungkinkan. Bersabarlah dulu sampai kalian benar-benar bertukar tubuh kembali."


"Yukimura, apa kau tau ... aku hampir saja mati untuk yang kedua kalinya! Aku hampir saja tidak bisa bertemu dengan istriku lagi ..."


"Apa maksudmu, Jiro?"

__ADS_1


__ADS_2