
Siang itu Bibi Rong meminta para pengawal untuk memindahkan beberapa furniture agar suasana menjadi sedikit berbeda dan tidak bosan.
Vann, Yunxi, Jin Heng, dan Nokto mulai mengangkat beberapa barang berat dan menggesernya ke tempat lain.
Tidak bisa berdiam diri saja, Zen juga melakukan angkat benda berat seperti meja, kursi sofa, lemari, dan masih banyak benda lainnya. Dan yang paling membuat semua orang terperanjat adalah Zen yang mengangkat sebuah lemari pakaian yang begitu berat seorang diri.
"Bagaimana kau melakukannya? Lemari ini sungguh sangat berat?" tanya Bibi Rong sangat kebingungan. "Kekuatanmu sungguh luar biasa!" imbuh bibi Rong sambil memijat kedua lengan Zen yang kini sudah semakin kekar dan kuat.
"Aku hanya sering melakukan olahraga dan menjaga kebugaran badanku saja, Bibi." jawab Zen seadanya.
"Luar biasa!" imbuh Yixue yang juga takjub karena melihat kekuatan Zen.
Keempat pengawal lainnya juga terlihat begitu kebingungan saat ini. Tentu saja! Bagaimana tidak keheranan. Zen bisa mengangkat benda-benda berat itu sendirian. Sementara pengawal-pengawal itu selalu melakukan berdua saat mengangkat benda-benda yang berat. Padahal keempat pengawal itu adalah pengawal yang sudah terlatih dan begitu kuat.
...⚜⚜⚜...
"Kai ... ibu akan baik-baik saja di sini. Sudah ada bibi Rong yang akan menjaga ibu dengan baik. Kembalilah ke Beijing bersama Zen ... biar bagaimanapun Zen sangat membutuhkan kamu saat ini." ucap Yixue menasehati kak Kai dengan begitu hangat. "Entah mengapa ... ibu merasa kau dan Zen ada sedikit kempiripan. Seperti seorang kakak beradik."
Jantung kak Kai seakan berhenti berdetak mendengar ibunya berkata seperti itu. Sepasang mata beningnya yang begitu menawan menatap nanar dibalik kacamata minus beningnya.
"Mungkin jika kamu memiliki seorang adik ... akankah dia akan seperti Zen?" ucap Yixue tiba-tiba.
"Ibu ..." ucap kak Kai dengan bergetar dan tiba-tiba saja kak Kai meraih kedua belah jemari ibunya. Matanya juga sudah sangat berkaca-kaca saat ini.
"Ada apa, Nak?" tanya Yixue menatap anak semata wayangnya dengan sangat kebingungan.
Kak Kai terdiam beberapa saat dan tidak bisa mengatakan sesuatu. Lidahnya terasa begitu kelu, dan hatinya terasa begitu sakit dan sesak saat ini. Hingga tak sadar kak Kai sudah menitikkan air matanya begitu saja.
"Ibu ... andai lelaki itu tidak meninggalkan kita. Semua tidak akan menjadi seperti ini. Kita pasti akan bahagia. Semua tidak akan menjadi serumit ini ..." ucap kak Kai begitu pelan dan menatap lekat wajah ibundanya.
"Aku tidak mau meninggalkan ibu. Aku mau bersama ibu. Aku mau menemani ibu ..." kini kak Kai segera memeluk tubuh ibunya dan menangis begitu saja.
__ADS_1
"Kai ... ibu berjanji akan baik-baik saja disini!" ucap Yixue sambil mengelus punggung kak Kai dengan lembut. "Dan kamu bisa pulang disaat senggang. Ibu akan selalu menunggumu. Kembalilah bersama Zen. Dia anak yang baik, dan dia juga sangat membutuhkanmu. Kalian akan saling membutuhkan satu sama lain. Percayalah kepada ibu ..."
"Tapi, Bu ..." sela kak Kai sambil melepas pelukannya.
"Percayalah ... kalian berdua akan saling membutuhkan satu sama lain. Jangan pernah berpisah dan saling meninggalkan ... ingat pesan ibu ..." Yixue tersenyum hangat dan mengusap lembut kedua pipi kak Kai.
Kak Kai tidak bisa berkata-kata lagi. Dia hanya menatap lekat wajah wanita yang paling disayanginya itu. Mengamati setiap detail wajah yang sudah tidak lagi muda itu. Wajah yang selalu tersenyum begitu hangat untuknya.
...⚜⚜⚜...
"Mengapa tiba-tiba saja berubah pikiran dan kembali ke Beijing bersamaku?" tanya Zen sambil mengutak-atik sebuah monitor kecil yang berada tepat di hadapannya.
"Hhm ... ibu yang memintaku untuk menjagamu." sahut kak Kai sambil mematikan ponselnya dan menyimpannya kembali.
Zen tersenyum lebar mendengar ucapan dari kak Kai yang menurutnya cukup konyol, "Aku bukan anak kecil yang harus selalu dijaga. Lagian aku bisa melawan 100 pria kuat hanya dalam waktu beberapa detik. Bisa kau bayangkan, aku akan menghabisi berapa ribu pria kuat hanya dalam satu menit?"
"Hhm ... iya ... iya ..." kak Kai menyauti dengan senyuman tipis lalu memejamkan matanya dan mulai mengistirahatkan tubuh dan otaknya.
Setelah menghidupkan kembali ponselnya, tiba-tiba ponsel kak Kai mulai berdering. Kak Kai melihat nama si pemanggil dan ternyata adalah manager dari Lu Yuan, Jihyun.
"Hallo. Ada apa, Jihyun?" sapa kak Kai setelah mengangkat panggilan itu.
"Kai mengapa nomormu tidak bisa dihubungi dua hari terakhir ini?" tanya Jihyun dari seberang.
"Ah iya. Aku pulang ke Shanghai untuk mengunjungi ibuku. Ada apa, Jinghyun?"
"Bisakah kita bertemu malam ini, Kai? Bersama Zen juga."
"Malam ini? Akan aku usahakan. Kirimkan saja alamatnya nanti."
"Baiklah."
__ADS_1
Setelah mengakhiri panggilan itu kak Kai kembali menyimpan ponselnya lagi ke dalam saku pakaiannya.
"Mau apa lagi mereka?" ucap Zen dengan sangat malas. "Malam ini aku mau beristirahat. Aku tidak bisa ikut."
"Tapi Zen. Barangkali ada sesuatu yang sangat penting ..." ucap kak Kai sambil menepikan mobilnya di depan sebuah appatemen dimana Zen tinggal.
"Paling-paling mereka tak terima karena aku juga bertindak. Tapi itu kan kesalahan Lu Yuan. Dia kan tersangka yang sedang berpura-pura menjadi korban. Cihh ... lagu lama!" gerutu Zen lalu melepas sabuk pengamannya.
"Setidaknya kita menemui mereka terlebih dahulu. Masih ada waktu beberapa jam kok jika kamu mau beristirahat dulu. Kakak akan menjemputmu lagi nanti malam."
"Hhm. Baiklah." jawab Zen dengan terpaksa.
"Pulang dan beristirahatlah dulu ..."
"Hhm ..." Zen segera turun dari ferrary merah menyala itu. Zen segera menyusuri jalan utama dari appartemen itu. Lalu dia menaiki lift dan turun di lantai lima.
Setelah sampai di appartemennya, Zen segera mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah beberapa saat menjalankan ritual mandinya, Zen segera kembali dan menghempaskan tubuhnya di atas pembaringan.
"Hah ... seluruh badanku rasanya sakit sekali. Itulah mengapa selama ini aku kurang berminat melakukan travelling. Kalau saja keinginan di dalam tubuh ini tidak begitu besar untuk menyusul kak Kai, sudah pasti aku akan lebih menikmati waktuku untuk pergi ke tempat gym." Zen menghembuskan nafas kasarnya ke udara dan terlihat mulai memejamkam matanya kembali.
"Apa yang sedang Yuna lakukan saat ini ya?" gumam Zen tiba-tiba. "Sudah tiga bulan lebih aku tidak bisa memcumbunya. Padahal aku adalah seorang laki-laki normal yang harus mengeluarkan hasratku. Haiishhh ..." Zen mulai membenamkan kepalanya di bawah bantalnya karena kesal sendiri.
Tak lama kemudian dia sudah tertidur begitu saja saking lelahnya.
...⚜⚜⚜...
Bonus foto kak Kai dulu ya ... biar tambah semangat nge-halunya. Ahahaha ...
__ADS_1