Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Keputusan Kak Kai


__ADS_3

Amee dan Zen mulai menyantap semua sajian itu bersama. Keduanya terlihat begitu menikmati makanan itu bahkan tak sering ada perbincangan saat itu. Hingga akhirnya Zen mulai meletakkan garpu dan pisaunya di atas meja dan mulai mengambil tisu untuk mengusap mulutnya.


"Aku sudah kenyang, kau lanjutkan saja makanmu! Tidak usah segan ..." ucap Zen begitu santai.


"Tumben sekali kau tidak menghabiskannya, Zen? Biasanya kau sangat menyukai semua masakan ini. Dan tentu saja kamu juga selalu menghabiskannya." Amee menyauti dengan senyum manis.


"Kak Kai bisa marah-marah nanti jika aku terlalu banyak makan sembarangan." ucap Zen mencari alasan, karena sebenarnya Kagami Jiro tidak begitu menyukai masakan sea food. Atau jika makan berlebihan maka alerginya akan kambuh.


"Hhm. Aku tidak akan bilang sama kak Kai kok. Tenang saja, Zen." ucap Amee setengah berbisik tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapi.


"Hhm. Iya. Terima kasih. Tapi aku benar-benar sudah kenyang. Ahahaha ..."


"Hhm ... baiklah." ucap Amee lalu kembali menyantap makanannya beberapa suap lalu meminun soft drinks in can miliknya.


Setelah itu Amee mengambil tisu dan mulai mengelap mulutnya. Sementara Zen duduk dengan tegap dan sedikit bersandar dengan kedua tangan saling dilipat di depan dada bidangnya sambil menatap Amee yang menyudahi makannya.


"Aku mengajakmu bertemu karena ingin melihat kabar dan kondisimu, Zen." ucap Amee memulai obrolannya kembali. "Kata kak Kai akhir-akhir ini kau terlihat begitu murung dan sering sekali melamun. Jangan lagi menyimpannya seorang diri, Zen. Kau bisa berbagi denganku atau dengan kak Kai. Kau tidak sendirian ... dan jangan pernah menganggap kau tidak punya siapa-siapa. Kak Kai sudah menganggapmu layaknya seorang adik kandung, dan ... bukankah aku adalah temanmu juga?" ucap Amee dengan pelan dan menatap sepasang mata bak okavango blue diamond yang begitu menawan itu.


Zen yang mendengarkan ucapan Amee tersenyum tipis dan mulai memalingkan wajahnya untuk menatap keindahan senja kala ini melalui kaca bening di sisi sampingnya.


"Aku baik-baik saja, Amee. Kalian jangan berlebihan mengkhawatirkan aku. Karena aku yang sekarang, bukanlah aku yang dulu." ucap Zen dengan begitu santai dan begitu tenang. "Dan aku yang sekarang tentu saja tidak akan pernah berusaha untuk melakukan hal bodoh lagi. Jangan khawatir."


"Syukurlah jika memang begitu, Zen. Aku merasa sedikit lega."


"Hhm. Lebih baik kau fokus dengan karirmu, Amee. Kamu harus meraih mimpimu dan membuktikan kepada semua orang yang selama ini meremehkanmu! Kau harus membuktikan kepada mereka dengan kerja keras dan hasil yang nyata. Karena dengan itulah, cara terbaik untuk membungkam mereka yang suka merendahkanmu di belakang. Jangan pernah kau dengar komentar miring dan negatif yang bisa merusak mental!"


"Tentu saja, Zen. Aku akan berusaha sebaik mungkin dan berusaha untuk melakukan yang terbaik." ucap Amee begitu lembut.


"Hhm. Bagus. Harus seperti itu."


Tiba-tiba terdengar alunan melodi yang begitu familiar yang berasal dari ponsel Zen. Zen mulai merogoh benda pipih itu dan melihat nama si pemanggil. Ternyata pengawal Vann yang menghubunginya.

__ADS_1


"Hallo, Vann. Ada apa?" sapa Zen setelah menggeser tombol hijau pada layar yang berukuran kecil itu dan mendekatkan pada telinganya.


"Tuan, Zen. Tuan Kai tiba-tiba saja akan melakukan penerbangan ke Shanghai." ucap Vann melaporkan.


"Shanghai?" ucap Zen begitu terkejut.


"Benar sekali, Tuan. Tuan Kai akan kembali ke desa Nahui Guizhou, dan baru saja berangkat ke Beijing Daxing Airport." jelas Vann begitu ketar-ketir.


"Apa dia tidak mengatakan sesuatu sebelum pergi, Vann?" tanya Zen dengan ekspresi yang begitu serius.


"Tidak, Tuan. Tuan Kai tidak mengatakan apa-apa. Tiba-tiba saja dia berkemas dan mengatakan akan pergi ke desa Nahui Guizhou." jelas Vann lagi.


"Jam berapa pesawatnya akan take off, Vann?"


"Satu jam lagi, Tuan."


"Baiklah. Aku akan menyusulnya."


Zen segera mematikan ponselnya dan segera memakai masker dan topinya kembali.


"Ada apa, Zen?" tanya Amee yang masih menatap Zen yang sedang terlihat begitu terburu-buru.


"Kak Kai akan melakukan penerbangan ke Shanghai. Dan aku akan menemuinya dulu di bandara."


"Bolehkah aku ikut?"


"Okay!"


Zen dan Amee bergegas untuk meninggalkan Cafe Cha - Shangri-La Beijing. Tak lupa dia juga merogoh dompetnya dan menyeluarkan beberapa lembar uang yang tentu saja nilainya lebih dari cukup dari semua harga makanan dan minuman yang sudah mereka pesan. Zen meninggalkan beberapa lembar uang itu di atas meja.


Setelah keluar dari Cafe Cha - Shangri-La Beijing, Zen segera menghadang sebuah taxi berwarna kuning cerah dan mulai memasukinya bersama Amee.

__ADS_1


"Pak, antar kita ke Beijing Daxing Airport secepat mungkin!" perintah Zen sambil melirik Patek Philippe Sky Moon Tourbillon seri blue miliknya yang melingkar manis pada pergelangan tangan kirinya.


"Baik, Tuan!" sopir taxi itu menyauti dengan ramah dan mulai melajukan taxinya dengan kecepatan standar.


Di sepanjang perjalanan Zen dan Amee terus berusaha untuk menghubungi kak Kai, namun ponsel kak Kai sudah tidak aktif.


"Amee, apa bisa terhubung?" tanya Zen yang melihat Amee juga berusaha untuk mebghubungi kak Kai.


"Tidak, Zen. Ponsel kak Kai bahkan tidak aktif." Amee menyauti dengan wajah murung.


Sebenarnya ada apa? Apa yang sudah terjadi dengan kak Kai? Mengapa tiba-tiba saja dia memutuskan untuk kembali ke desa Nahui Guizhou tanpa memberitahuku sama sekali? Apakah dia berniat untuk mengundurkan diri kembali sebagai managerku? Tapi mengapa?


Batin Zen mengkerutkan keningnya dan begitu tak mengerti dengan keputusan mendadak yang diambil oleh kak Kai.


"Pak, tolong lebih cepat sedikit!" ujar Zen tak sabaran.


"Tapi ini sudah mencapai batas maksimal untuk aturan lalu lintas, Tuan!" sahut sopir taxi itu masih dengan ramah.


Zen terlihat begitu kesal karena tak bisa membuat sopir taxi itu memenuhi perintahnya. Coba saja Igor asisten pribadinya Kagami Jiro yang menyetir saat ini, pasti dia sudah bisa membuat Igor melakukannya.


"Aku akan membayar berapapun! Tapi lebih cepatlah sedikit!" ucap Zen mulai emosi.


"Tidak bisa, Tuan. Polisi akan mengejar kita jika, kita melanggar aturan lalu lintas."


"Kau pikir aku tidak tau aturan lalu lintas? Aku akan membayarmu lebih untuk itu!"


"Sudah, Zen! Jangan seperti itu ..." ucap Amee berusaha untuk menenangkan Zen yang menurutnya sangat berbeda dari Zen yang dia kenal selama ini. "Pak, gunakan saja kecepatan standar ..." ucap Amee kepada sopir itu.


"Baik, Nona." sahut sopir itu.


Karena begitu kesal, Zen segera melengos dan hanya menatap sisi luar yang dilaluinya itu. Dia menutup mulutnya dengan punggung telapak tangan kanannya. Kedua alisnya berkerut berdekatan dan sangat terlihat jika dia sedang begitu kesal saat ini.

__ADS_1


...⚜⚜⚜...


__ADS_2