Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Malam Pertama Bersama Yuna


__ADS_3

BBRRAAKK ...


"Arrgghh! Sial!" teriak Zen sambil menendang sebuah sebuah kotak kecil yang sedang berada tak jauh darinya. Entah kotak apa itu.


Isi dari kotak itu kini berserakan di lantai begitu saja. Terlihat beberapa barang, salah satunya adalah foto seorang pria dan wanita dengan pakaian pernikahan di sebuah altar yang begitu megah.


Zen yang melihat sekilas barang-barang yang sedang berserakan di atas lantai itu bersikap acuh tak acuh. Dia melenggang menuju dapur dan membiarkan semuanya masih dalam kondisi berantakan.


"Sial! Hanya ini yang bisa membuatku sedikit tenang." ucap Zen sambil mengambil beberapa botol baijiu dari lemari penyimpanan.


Dia segera menyeret sebuah kursi untuk dia duduk dan segera membuka sebotol dan langsung meneguknya begitu saja.


GLLUUKK ... GLLUUKK ... GLKUUKK


Botol demi botol dia buka begitu saja dan segera meminumnya. Saat ini Zen terlihat begitu frustasi, wajahnya sudah memerah karena terlalu banyak meminum baijiu itu.


Kini dia mulai bangkit dan berjalan sempoyongan menuju kamarnya. Namun dia menginjak beberapa barang saat berjalan ke kamarnya. Zen segera menunduk dan melihat apa yang sedang dia injak saat ini.


Dia melihat ada beberapa barang yang masih berserakan dan sebuah kotak kecil yang merupakan wadah dari barang-barang itu.


Zen mengkerutkan keningnya dan mulai jongkok untuk melihat benda-benda itu. Dan dia memungut beberapa.


"Kalung siapa ini?" gumamnya dengan mata yang sudah merem melek menatap sebuah kalung cantik dengan liontin berinisial HQ. "HQ?"


Zen kembali memungut beberapa benda lainnya, ada sebuah buku lama ber-cover dusty pink. Bisa dilihat dari fisiknya, kira-kira buku itu sudah berusia 15 tahun karena halaman-halamannya sudah terlihat sedikit menguning dan kecoklatan.


Lalu dia juga menemukan sebuah foto pernikahan. Seorang pria dan wanita yang masih cukup muda sedang berada berada di sebuah altar megah dengan pakaian pernikahan. Mereka terlihat sedang menjalankan prosesi pernikahan mereka dan terlihat begitu bahagia.


"Apakah ini orang tua Li Zeyan?" gumam Zen yang sudah semakin tak sadarkan diri. Zen segera bangkit dengan membawa foto dan kalung itu lalu menyimpannya di sakunya.


Zen menghempaskan dengan kasar tubuhnya di atas pembaringan. Kini sepasang mata bak okavango blue diamond itu terasa begitu berat dan semakin terpejam.


"Yuna ... aku merindukanmu ..." gumamnya pelan. "Jangan pernah kau mengkhianatiku. Uhm ..."

__ADS_1


...⚜⚜⚜...


Seorang wanita yang terlihat begitu cantik dan fresh dengan balutan handuk baju putih mulai melenggang meninggalkan kamar mandi. Langkahnya terlihat seperti menari-nari dan wajahnya terlihat begitu bersinar meski tanpa polesan make up.


Kulit wajahnya yang sering mendapatkan perawatan ekstra setiap harinya dengan biaya yang super wow juga terlihat begitu sehat dan bersih. Semakin bersinar saat senyumnya menghiasi wajah ayunya.


"Wah, si kembar sudah tertidur? Cepat sekali?" ucap Yuna saat melihat Kagami Jiro sedang menemani Kenzi dan Kenzou yang sudah tertidur di atas ranjang.


"Hhm. Iya ..." jawab Kagami Jiro menurunkan suaranya dengan senyum tipis. "Mungkin saja kecapekan."


"Oh iya. Mereka sangat aktif."


"Apa kau sudah mau tidur? Tidurlah bersama mereka. Aku akan tidur di sofa." ucap Kagami dengan begitu ramah dan segera bangkit berdiri.


"Tidur di sofa?" tanya Yuna begitu terkejut.


"Iya. Aku akan tidur di sofa. Kamu tidurlah bersama Kenzi san Kenzou." ulang Kagami Jiro lagi yang kini sudah berdiri tegap menatap Yuna yang berdiri kira-kira 5 meter darinya.


"Ranjang ini cukup luas dan besar. Kita bisa tidur bersama. Dan tentu saja kamu harus tidur dengan benar, Sayang. Kamu baru saja sembuh, dan harus benar-benar menjaga kesehatan. Tidur di sofa akan membuat badanmu sakit. Tidak! Kamu tidak boleh tidur di sofa!" ucap Yuna dengan kekeh.


Yuna mengkerutkan keningnya mendengar ucapan dari suaminya. Bagaimana pernyataan itu bisa terlontar begitu saja dari suaminya. Jelas-jelas Yuna akan sangat mengkhawatirkan untuk kesehatan Kagami Jiro, terlebih Kagami Jiro baru saja melewati maut dan koma.


Kini wanita cantik itu perlahan melenggang mendekati Kagami Jiro dengan masih menatapnya dengan lekat. Sementara Kagami Jiro terlihat sedikit kikuk menatap Yuna.


"Aku akan baik-baik saja. Tenang saja ... tidurlah. Aku juga akan tidur." Kagami Jiro mengucapkannya dengan begitu lembut dan berbalik hendak berjalan menuju sofa panjang yang berada di dalam kamar ini juga.


Namun tiba-tiba dengan cepat Yuna memeluk tubuh besar itu dari belakang. Dan dia malah terisak. Dan situasi ini sungguh sangat membuat Kagami Jiro semakin kebingungan.


"Mengapa kamu tidak mengerti betapa khawatirnya aku padamu? Hiks ... selama ini ... selama hampir 3 bulan ini ... aku selalu hidup dalam rasa gelisah. Aku begitu takut kamu tidak akan bangun lagi. Hiks ... aku begitu takut kehilanganmu. Aku takut kamu akan benar-benar pergi meninggalkanku. Aku takut sekali saat-saat itu. Hiks ..." ucap Yuna dalam isak tangisnya.


Sungguh Zen semakin merasa kebingungan saat ini. Namun dia berusaha untuk menghadapi Yuna yang saat ini berstatus sebagai istrinya.


"Maafkan aku ... maaf sudah membuatmu merasa seperti itu." Kagami Jiro melepas pelukan Yuna dan berbalik menatapnya. Dia melihat wajah cantik Yuna yang kini sudah beruraian air mata. "Jangan menangis lagi. Aku baik-baik saja." perlahan Kagami Jiro mengusap air mata Yuna lalu meraih dan memeluknya.

__ADS_1


Maafkan aku pemilik tubuh ini. Aku tidak bisa melihat seorang wanita menangis di hadapanku. Itu membuatku teringat dengan ibuku yang sudah tiada. Aku masih sangat mengingatnya, tepat sebelum kecelakaan itu terjadi ... aku melihat ibuku yang menangis semalaman. Ibu ... aku sangat merindukanmu. Aku juga merindukan ayah. Semoga kau dan ayah bahagia di sana.


Batin Kagami Jiro yang tanpa sadar matanya sudah sedikit berair.


"Aku sungguh senang kamu bisa bangun kembali. Aku sungguh merasa beruntung bisa hidup bersama denganmu lagi." ucap Yuna dengan lirih dan masih bersembunyi di dalam pelukan Kagami Jiro.


"Hhm. Ini adalah sebuah keajaiban. Ternyata takdir belum menginginkan kematianku. Dan aku berjanji akan hidup lebih baik lagi mulai sekarang." ucap Kagami Jiro seadanya dan sebenarnya dia benar-benar membicarakan tentang hidupnya sebagai seorang Idol Li Zeyan.


"Tentu saja kamu harus hidup lebih baik lagi! Namun kita juga harus menemukan pelaku penyerangan terhadapmu."


"Penyerangan terhadapku?"


"Ya. Kamu mengalami semua ini karena ada seseorang yang menyerangmu. Apa kau juga melupakan semua ini, Sayang?" kini Yuna melepas pelukan suaminya dan mendongak menatap Kagami Jiro.


"Benar. Aku tidak mengingat apapun. Maafkan aku ..." ucap Kagami Jiro seadanya.


"Tidak masalah. Ayah akan lebih memperketat keamanan dan memperluas pergerakan untuk menemukan pelaku itu. Dan Yukimura juga sudah berhasil memiliki sedikit petunjuk." ucap Yuna yang kini sedikit tersenyum.


"Ah ... iya. Semoga saja segera ditemukan. Dan mendapatkan hukuman yang setimpal." ucap Kagami Jiro dengan datar.


"Hhm. Iya." Yuna tersenyum begitu manis lalu mengalungkan kedua tangannya pada leher Kagami Jiro.


Jujur saja saat ini Kagami Jiro sedikit terperanjat dan begitu bingung. Namun dia hanya tersenyum tipis menatap wanita itu.


Kini Yuna sedikit berjinjit dan semakin mendekati wajah Kagami Jiro dan terlihat sedang menunggu dan menyambut sesuatu dari suaminya.


Aku sudah sering melakukannya, tapi itu semua hanya sebatas akting. Bagaimana ini? Apa aku juga harus melakukannya juga sekarang? Jika aku menolak, pasti Yuna akan sangat curiga padaku. Namun, jika aku melakukannya ... apakah itu benar? Aku merasa sudah sangat menipunya. Bagaimana ini?


Batin Kagami Jiro semakin kebingungan.


Namun kini wajah mereka sudah semakin berdekatan, bahkan nafas keduanya sudah berbaur menjadi satu.


Baiklah. Aku akan melakukannya. Kalau tidak Yuna akan curiga dan semuanya akan berantakan. Lagian ini hanya sekedar ciuman bukan? Semua masih bisa dikendalikan, selagi aku sadar.

__ADS_1


Batin Kagami Jiro yang kini mulai pasrah dengan keadaan. Kedua tanganya kini meraih pinggang ramping Yuna dan dia juga sedikit menunduk.


__ADS_2