
Suatu hari kakek Li Feng terlihat sudah bersiap memasuki lokasi pembangunan untuk cabang kecil dari perusahaannya di suatu kawasan ( di luar kota) untuk melakukan pemantauan. Namun karena ada sebuah keteledoran keamanan kerja dalam partner kerjanya, tiba-tiba saja sebuah besi terjatuh dari atas dan mengenai bagian bahu kakek Li Feng dengan cukup keras.
BUGGHH ...
Biarpun besi berukuran lengan tangan itu tidak mengenai kepala kakek Li Feng dan masih cukup beruntung, namun hantaman pada bahunya sangatlah keras. Ditambah lagi tubuh kakek Li Feng terhuyung jatuh dan bagian dadanya terkena oleh sebuah benda tajam yang membuatnya terluka.
Beberapa orang yang sedang berada di lokasi konstruksi mulai berdatangan dan dengan cepat segera menolong kakek Li Feng dan membawanya ke rumah sakit terdekat.
Darah yang dikeluarkan melalui luka di dadanya cukup banyak, dan transfusi darah harus segera dilakukan. Namun stok infus darah darah di rumah sakit yang sedang menangani kakek Li Feng rupanya sedang kosong. Dan golongan darah kakek Li Feng terbilang cukup langka dan tidak bisa menerima sembarangan donor darah.
"Rumah sakit kami sedang kehabisa stok infus darah golongan darah A- dan O-. Sementara golongan darah tuan Li Feng adalah A-. Tidak adakah anggota keluarganya yang sedang berada disini?" seorang pria yang kira-kira berusia 29 tahun dengan jas almamater putih kebanggannya mulai menyampaikan sesuatu kepada seorang pria bergengsi yang bertanggung jawab atas kejadian itu. Dia adalah Miles Wei.
Golongan darah keluarga Li adalah A-. Dan golongan darah ini bisa mendonorkan darah dan plasmanya ke sembarang orang, tetapi darah A sangat berharga sebagai donor trombosit universal dan A- platelet dapat diberikan pada semua golongan darah.
Golongan darah juga A- bisa melakukan transfusi darah ke golongan darah A-, A+, AB-, dan AB+. Namun, golongan darah yang tersebar sekitar 1,99 persen dari populasi dunia ini hanya bisa menerima transfusi dari golongan darah A- dan O-. Jadi akan sedikit kesulitan saat rumah sakit sedang tidak memiliki stok infus darah tersebut.
"Tidak ada satupun anggota keluarga tuan besar Li Feng yang sedang berada di kota ini. Mereka semua sedang berada di Beijing." Miles Wei terlihat begitu cemas karena ini adalah tanggung jawabnya sebagai seorang project manager di dalam perusahaan China State Construction Engineering yang kebetulan hari ini juga sedang melakukan pemantauan di lapangan secara langsung. "Tidak bisakah kalian berusaha mencarinya lagi atau mendapatkannya darirumah sakit lain. Atau apapun itu!! Tolong carikan pendonor yang tepat! Aku akan membayarnya berlipat!" imbuh Miles Wei yang terlihat sangat mengkhawatirkan kakek Li Feng.
"Kami sudah menghubungi semua rumah sakit dan juga klinik terdekat, Tuan Miles Wei. Namun mereka juga tidak memiliki golongan darah itu." sahut sang dokter kembali dengan raut wajahnya yang terlihat begitu putus asa, seolah tak ada harapan untuk kakek Li Feng karena kehabisan darah.
Miles Wei memijat keningnya dan memejamkan sepasang matanya selama beberapa saat karena terlihat begitu pusing. Suasana terasa begitu tegang dan membuat semua orang yang sedang berada di tempat itu kebingungan. Namun tiba-tiba saja ...
__ADS_1
"Aku akan mendonorkan darahku. Kebetulan sekali golongan darahku adalah A-." tiba-tiba saja terdengar suara seorang pria dari arah samping.
Sang dokter dan Miles Wei kini mulai beralih untuk menatap ke arah asal suara itu. Seorang pria yang kira-kira berusia 46 tahun, dengan setelan kemeja berwarna kebiruan dipadankan dengan celana celana jeans sudah berdiri dengan tegap tak jauh dari mereka berdua.
"Wang Jun?" ucap Miles Wei dengan kening yang berkerut menatap Wang Jun. Antara rasa tak lercaya dan lega bercampur menjadi satu. "Benarkah itu? Benarkah kamu memiliki golongan darah A-, Wang Jun?" imbuh Miles Wei lagi.
"Benar, Tuan Miles Wei. Aku mengetahuinya sekitar hampir 3 bulan yang lalu dari seorang dokter. Karena saat itu adalah pertama kalinya aku masuk dan di rawat di rumah sakit. Hingga aku mengetahui golongan darahku sendiri." jelas Wang Jun dengan jujur.
"Baiklah. Jika memang begitu mari segera lakukan transfusi darah ini. Lebih cepat akan lebih baik." ucap sang dokter kembali.
"Baik, aku bersedia. Mari lakukan." sahut Wang Jun tanpa berpikir panjang lagi, dan hanya ingin membantu pria tua bernama Li Feng yang saat ini sedang kritis.
"Baik, Tuan."
Sang dokter mulai melenggang memasuki ruangan ICU dan diikuti oleh Wang Jun di belakangnya. Sementara Miles Wei mulai duduk di sebuah bangku panjang berwarna putih itu.
Persiapan untuk transfusi darah mulai dilakukan, Wang Jun juga sudah mulai berbaring di brankar samping kakek Li Feng berbaring. Namun kedua brankar itu dibatasi dengan sebuah kain putih, sehingga Wang Jun tak bisa melihat pasien yang saat ini akan mendapatkan transfusi darah darinya.
...⚜⚜⚜...
Seorang kakek tua yang sudah berbaring lebih dari 24 jam itu kini mulai membuka sepasang matanya kembali. Pandangannya masih begitu buram dan tidak jelas. Wajahnya juga masih terlihat begitu pucat.
__ADS_1
Beberapa bagian dari tubuhnya masih dipenuhi dengan perban yangbsudah telilit rapi. Seperti bagian pada punggung, bahu, dan juga dadanya kirinya. Tangan kirinya juga masih terlilit dengan selang infus.
Sementara di sebelahnya sudah ada seorang pemuda tampan yang sudah menunggunya sejak dini hari tadi, karena pemuda itu baru saja datang dari Beijing untuk melihat kondisi sang kakek.
Pemuda itu duduk dan menyibukkan dirinya dengan sebuah berkas yang digunakan untuk mencorat-coret sesuatu di dalamnya. Namun akhirnya pemuda bermata bak okavango blue diamond itu mulai menyadari jika sang kakek sudah tersadar kembali.
Wajah tampan itu mulai menyembulkan sebuah senyum penuh kelegaan karena sang kakek sudah kembali membuka matanya setelah sebuah kecelakaan yang cukup serius itu.
"Kakek ... kakek sudah sadar kembali." ucap pemuda itu penuh binar dan meraih jemari sang kakek yang sudah dipenuhi dengan guratan-guratan yang halus itu.
Bahkan tak rerasa sepasang mata dengan pupil kebiruan itu sudah menjadi berkaca-kava saking terharunya.
"Zen ..." ucap pria tua yang tak lain adalah kakek Li Feng itu.
Pemuda bernama Zen itu mengangguk pelan dan mulai menyeka air matanya yang rupanya sudah membasahi pipinya.
"Iya, Kakek. Ini aku ... Zen." ucap Zen bergetar dan masih begitu terharu.
Tentu saja Zen akan begitu mengkhawatirkan sang kakek. Karena bagi Zen, kakek Li Feng adalah segalanya untuknya. Sebagai seorang kakek yang merangkap sekaligus sebagai seorang ayah untuk Zen.
Zen tak bisa menahan air mata hangatnya hingga akhirnya pipinya kembali basah oleh air mata hangat itu, dan Zen juga segera memeluk tubuh kakek Li Feng yang masih terbaring begitu lemah di atas brankar.
__ADS_1