
"Apa??!! Ada yang menusukku lagi??!!" suara begitu menggelegar dari Zen ketika menerima panggilan dari Yukimura saat mengetahui raganya mendapatkan serangan kembali memenuhi dan menggema seisi kamar, bahkan Zen hampir saja melupakan jika dia masih di kamar bersama kak Kai.
"Hah? Siapa yang menusukmu, Zen?" tiba-tiba kak Kai segera menghampiri Zen yang masih berada di balkon kamar hotel.
Dengan cepat Zen berbalik menghadap kak Kai dan segera mengakhiri panggilan itu lalu menyimpan ponselnya di saku celana di bagian belakang.
"Uhm ... itu ... aku ... aku sedang berlatih untuk menghapalkan naskahku untuk shooting. Hehe ..." kilah Zen sambil meringis lebar.
"Ah ... kakak kira ada apa?" sahut kak Kai yang terlihat begitu lega.
"Kakak ngapain masih berada disini? Sana ajak Amee untuk melihat pantai! Besok kita harus segera kembali ke kota lo." ucap Zen menyarankan kal Kai untuk berkencan kembali dengan Amee.
"Angin laut di musim dingin akan terasa begitu dingin. Kasihan Amee, Zen. Nanti dia bisa sakit." jawab kak Kai seadanya.
"Nah. Justru itu bisa jadi kesempatan untuk kakak ... kesempatan untuk me-me-luk-nya." celutuk Zen dengan nada jenaka dan terdengar begitu nakal. "Seketika itu akan membuatnya luluh nanti lo ..."
Ucapan dari Zen kini sukses membuat wajah kak Kai tersipu karena malu dan sedikit menunduk.
"Mengapa wajah kakak begitu merah? Apa jangan-jangan kakak belum pernah berpelukan dengan Amee?" Zen semakin menggoda kak Kai, dan itu semakin membuat wajah kak Kai begitu merah.
"Haishh ... baru membayangkan pelukan saja wajah kakak sudah begitu merah seperti ini. Lalu bagaimana dengan malam pertama kalian nanti?!" ucap Zen yang terdengar begitu konyol.
__ADS_1
"Apa yang kau bicarakan, Zen?!" ucap Kak Kai yang kali ini wajahnya sudah benar-benar merah seperti tomat.
"Ahahaha ... kakak lucu sekali! Sini kak aku ajarkan biar kakak sukses disaat malam pertama!" kini Zen mulai berjalan beberapa langkah mendekati kak Kai dan mulai merangkul kak Kai.
Lagi-lagi ucapan Zen membuat kak Kai sedikit membelalak dan begitu terkejut hingga dia sedikit melirik Zen dan mulai mengernyitkan keningnya karena melihat Zen yang begitu berbeda dan blak-blakan.
"Kau sedang bicara apa, Zen? Malam pertama?" ucap kak Kai yang masih terlihat begitu shock kerena melihat sosok Zen yang biasanya terlihat begitu polos, namun sekarang terlihat begitu ahli menakhlukkan wanita bak seorang casanova.
"Ya ya ya ... disaat malam pertama, kakak harus benar-benar mempersiapkannya dengan begitu baik. Cara kakak memulainya ... menyentuhnya ... membelainya ... mencumbunya ...dan disaat kakak mulai menusukknya ..." Zen mengatakannya dengan begitu penuh penghayatan hingga dia menggunakan bahasa tangannya dan terkadang memejamkan matanya.
PPLLUUKK ...
Tiba-tiba kak Kai mulai memukul kepala Zen dengan menggunakan sebuah majalah yang kebetulan masih dipegangnya.
"Bicaramu mulai ngelantur, Zen!" kini kak Kai mulai berjalan beberapa langkah untuk meninggalkan Zen.
"Haishh ... aku hanya berbaik hati dan ingin membantu saja lo, Kak. Karena sebenarnya ada beberapa titik-titik lemah seorang gadis. Dan tentu saja para gadis akan begitu menyukainya jika kita melakukan itu kepadanya dan memanjakannya." ucap Zen malah dengan sengaja menggoda kak Kai dengan nada bicara yang juga begitu konyol.
Kini kak Kai mulai menghentikkan langkah kakinya dan mulai berbalik kembali mendekati Zen dengan tatapan seperti seorang kakak yang sedang ingin mengintrogasi adiknya.
"Coba katakan sekali lagi pada kakak, Zen ..." ucap kai Kai yang terdengar begitu lembut dan penuh cinta, bahkan ucapannya diiringi dengan senyuman manis namun begitu penuh ancaman.
__ADS_1
Zen menatap kak Kai dengan mata birunya yang sedikit membulat waspada dan sedikit menahan senyum gemas, namun Zen tetap menjawab kak Kai kali ini, "Ada beberapa titik-titik lemah seorang gadis. Dan tentu saja para gadis akan begitu menyukainya jika kita melakukan itu kepadanya dan memanjakannya. Itu akan membuatnya terbang, melayang dan akan menyerahkan seluruh jiwa dan raganya ..."
Dengan cepat kak Kai segera menarik telinga kiri Zen, dan Zen sedikit meringis namun juga terlihat sedang menahan tawa.
"Sejak kapan kau begitu pandai akan hal seperti ini, Zen?! Katakan dan jelaskan dengan jujur pada kakak! Apa kau sering menonton film yang tidak-tidak?" ucap kak Kai mulai mengintrogasi Zen.
"Bukan menonton, tapi di masa mudaku aku memang sering bermain-main dengan para gadis ..." sahut Zen semakin sengaja membuat kak Kai kesal.
"Zen!!" tandas kak Kai begitu tajam dan penuh penekanan. "Jangan sampai kau melakukan hal bodoh yang bisa merusak reputasimu yang selama ini sudah kau perjuangkan dengan begitu susah payah. Dan jangan sampai kau mengecewakan kakek Li Feng! Kakek begitu menyayangimu!"
"Haishhh ... tentu saja Li Zeyan tak akan melakukan hal bodoh dengan bermain-main dengan para gadis. Dia adalah bocah yang baik, penurut dan memiliki etika serta sopan santun yang begitu keren yang pantas untuk kuacungi jempol." kini Zen mulai melepaskan jeweran kak Kai dan berbalik untuk menatap panorama pantai yang terbentang luas di hadapannya dengan begitu indah.
"Tenanglah, Luo Kai! Adikmu akan tetap berada di jalan yang benar. Dan kelak adikmu akan menjadi seseorang yang lebih kuat dari dirinya di masa lalu! Dan aku harap kalian bisa hidup bersama dengan rukun tanpa ada perselisihan lagi. Sayangilah selalu dia. Karena dia juga begitu menyayangimu." ucap Zen begitu lirih dan merasa sudah begitu lelah dengan dunia yang sedang dihadapinya saat ini.
Kak Kai yang mendengarkan kicauan Zen yang seakan sudah mulai tidak jelas lagi, mulai mengkerutkan keningnya kembali dan terlihat semakin kebingungan.
"Zen ... apa saat ini kau sedang mabuk?"
"Ya ... aku sedang mabuk!" jawab Zen dengan asal dan mulai menatap kak Kai dengan tersenyum samar dan begitu hangat, lalu Zen mulai menepuk bahu kak Kai beberapa kali.
"Temui, Amee! Dia akan senang jika kamu menemuinya saat ini. Hari-harinya begitu penuh dengan sepi dan sendiri. Bahkan dia selalu memendam segala sesuatu masalahnya sendiri. Kini, kau harus selalu ada bersamanya. Membantunya untuk selalu melewati setiap jalan terjal dan berliku untuk meraih mimpi bersama. Karena bunga indah yang sudah ada di hadapan mata, juga masih dikelilingi oleh banyak duri. Begitulah kehidupan ... tak selamanya bisa mulus meskipun terlihat keindahan itu berada di depan mata." ucapan Zen yang terdengar seperti ucapan seseorang yang begitu dewasa kini seakan mampu menyihir kak Kai dalam beberapa saat dan membuatnya terdiam dan termenung.
__ADS_1
...⚜⚜⚜...