Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Sebuah Ikatan Yang Mulai Terungkap


__ADS_3

Di sebuah distrik Xuanwu perbatasan Hebei, terlihat pohon-pohon berjejer di sepanjang jalan di jalanan yang sudah sangat sepi. Namun masih terlihat beberapa kios penjual makanan kaisendon, pangsit besar, taiyaki krim oranye, keju & sampel anggur dari toko Italia yang indah mulai menutup kedainya karena malam di musim dingin akan benar-benar terasa begitu dingin.


Ada sedikit pesona Eropa pada daerah ini. Banyak toko-toko menarik di sepanjang jalan dan suasana yang diberikan begitu indah. Ada juga suasana Prancis, karena ada sekolah Prancis di daerah sini. Bahkan rumah makan Prancis juga banyak dan levelnya cukup tinggi.


Tapi jika mulai memasuki gang kecil, kita masih bisa melihat suasana tradisional Tiongkok. Walaupun kotanya tidak begitu besar, tapi sangat menarik dan begitu memukau.


Seorang pemuda dengan gaya casual dan cool, dan masih lengkap dengan memakai masker serta topi hitamnya terlihat mulai melenggang dengan langkah lebar memasuki sebuah gang kecil yang sedikit menanjak yang sudah dilapisi dengan salju di musim dingin.


Tidak banyak terdapat rumah penduduk yang sudah dilalui, dan tentu saja tidak ada banyak penduduk yang pemuda itu jumpai setelah memasuki sebuah gang kecil itu.


Langkah kakinya kini mulai berhenti ketika pemuda itu sampai di depan sebuah rumah kuno yang cukup besar, namun terlihat sudah lama tidak dihuni.


Pemuda itu memastikan kembali titik lokasi itu dengan membuka kembali ponselnya. Namun disaat itu juga, ada sebuah panggilan masuk yang berasal dari nomor kak Kai.


"Hallo ..." sapa pemuda itu setelah mengangkat panggilan itu.


"Masuklah dan tinggalkan semua senjata yang kau bawa malam ini di sebuah kotak di samping pintu masuk!" perintah seorang pria dengan suara besarnya yang sedikit serak.


Pemuda bermata kebiruan itu kini menatap sebuah kotak kayu kecil di dekat pintu masuk.


"Aku tidak membawa senjata apapun saat ini!" pemuda tampan itu menyauti dengan wajah datarnya.


"Bagus! Sekarang masuklah tanpa melakukan penyerangan dan perlawanan! Jika tidak, maka aku akan memutus urat saraf manager sekaligus kakak kesayanganmu ini ..."

__ADS_1


Pemuda yang tak lain adalah Zen itu kini mengkerutkan keningnya karena bingung mendengar ucapan dari berandalan itu. Namun dia juga terus melangkah dan membuka pintu rumah tua itu, kemudian mulai memasukinya.


"Apa maksudmu?!" tandas Zen seketika.


"Gyahahaha ... apa kau benar-benar tidak mengetahui? Jika sebenarnya Luo Kai adalah kakakmu? Putra pertama dari Li Zhi, ayahmu bersama kekasihnya sebelum Li Zhi menikah dengan ibumu, Zen?"


Tuut ...


Kini panggilan itu berakhir, karena tepat berjarak kira-kira 5 meter darinya, sudah berdiri seorang pria berbadan besar dengan rambut keemasan yang disisir begitu rapi. Pria itu mengenakan sebuah kemeja berwarna toska dan sangat press body hingga tubuhnya yang begitu besar dan kekar begitu terlihat nyata.


Balutan jaz berwarna putih juga dia kenakan dipadukan dengan celana berwarna senada juga. Pria dewasa yang memiliki wajah cukup sangar itu kini terlihat mulai menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku pakaiannya.


"Apa maksud dari ucapanmu? Dan siapa kau?! Dan dimana Luo Kai?!" pertanyaan bertubi mulai Zen tandaskan dengan memasang wajah begitu serius dan garang. Kini dia juga menurunkan masker hitam yang dia pakai.


"Katakan saja padaku semuanya!" tandas Zen begitu serius dan cukup tegas.


"Hmm. Sebelum menikah dengan ibumu, Li Zhi pernah memiliki seorang kekasih bernama Luo Yixue. Dan akhirnya mereka berpisah karena Li Zhi harus menikahi ibumu, Zen! Dan disaat itulah Luo Yixue mengandung anak dari Li Zhi. Dan anak itulah yang sekarang selalu ada bersamamu sebagai managermu, Luo Kai. Luo Kai adalah kakakmu, Zen!" pernyataan dari pria dewasa yang entah siapa dia itu karena belum diketahui identitasnya sampai saat ini, membuat Zen tercengang dan membeku seketika.


Luo Kai adalah kakak dari bocah ini? Tapi bagaimana mungkin ini bisa terjadi secara kebetulan seperti ini? Bagaimana mungkin Luo Kai yang selalu berada disisi bocah ini adalah ternyata adalah kakaknya? Atau ... sebenarnya Luo Kai memang sudah mengetahui semua kebenaran ini? Dan sengaja mendekati bocah benama Li Zeyan ini ... untuk menjaganya? Atau untuk menghancurkannya? Aku masih belum bisa membaca jalan pikiran bocah berkacamata itu dengan baik.


Batin Zen yang mulai menatap sosok kak Kai yang masih terikat dan duduk di atas kursi. Pandangan kak Kai begitu nanar menatap Zen. Penuh dengan kesedihan dan kerinduan. Manik-manik indah itu terlihat sudah berkaca-kaca dibalik kaca mata beningnya.


Sementara di sisi sampingnya ada dua orang pria berambut jabrik dan pria satunya berambut sedikit pelontos. Sepertinya keduanya ditugaskan untuk menjaga dan mengawasi kak Kai.

__ADS_1


"Zen ..." gumam pria berkacamata itu begitu pelan dan tidak terdengar oleh siapapun. Namun dari gerakan bibirnya, sangat terbaca oleh Zen.


Meskipun jiwa Li Zeyan yang sekarang adalah seorang Kagami Jiro pemimpin utama dari Doragonshadou, namun rasa haru dan bahagia tentu saja juga dia rasakan saat ini.


"Lalu apa maumu sekarang dengan mengundangku kesini? Bukankah yang kau inginkan adalah aku? Kalau begitu lepaskan kakakku!" tandas Zen dengan sepasang mata elangnya yang terlihat begitu tajam menatap pria itu. "Tak perlu menggunakan kak Kai, aku juga akan datang untuk memenuhi undanganmu jika kau mau! Jadi, sekarang lepaskan kakakku!" perintahnya lagi.


"Aku akan melepaskannya jika kau bersedia untuk menggantikan dia disini! Bagaimana?" pria itu menyeringai menakutkan dan kini memegang bahu Zen lalu berjalan mengitarinya.


Untuk saat ini aku tidak boleh asal bergerak! Jika tidak, Luo Kai akan dalam bahaya karena saat ini dia sedang diawasi dan dijaga oleh dua cecunguk sampah itu!


Batin Zen yang masih mengekori setiap pergerakan dari para berandalan itu.


"Baiklah! Aku bersedia! Lepaskan dia sekarang!" perintah Zen agar dia bisa dengan leluasa bergerak tanpa mengkhawatirkan kak Kai lagi.


"Aku akan melepaskannya setelah memberikan sebuah pertunjukan untuknya." pria berjaz itu menyeringan menatap Zen. "Merusak mentalmu telah gagal dilakukan. Bagaimana jika kali ini dimulai dengan membuat rusak sedikit asetmu?" ucap pria berjaz itu sambil mengeluarkan sebuah pisau lipat, dan mulai membukanya.


"Apa kau adalah suruhan dari seseorang?"


"Tidak! Aku hanya akan melanjutkan balas dendam seseorang, karena dia tak sanggup lagi untuk melakukannya!" ucap pria itu sambil mendekatkan pisau itu ke arah wajah Zen.


Zen masih mengawasi dan menatap tajam setiap pergerakan dari pria itu.


Melanjutkan balas dendam karena seseorang seseorang itu tak bisa lagi melakukannya? Apa maksud dari perkataan pria tua ini?! Apakah itu jangan-jangan ...

__ADS_1


Batin Zen yang terlihat sedang berpikir keras, namun tiba-tiba sebuah pisau sudah sangat mendekati wajah tampannya.


__ADS_2